Beberapa saat kemudian, Destry merasakan bibirnya telah bersentuhan dengan bibir pemuda di hadapannya. Ia perlahan memejamkan matanya—merasakan setiap sentuhan antar bibir mereka. Hal itu membuat jantung Destry tidak mampu lagi berpacu dengan pelan. Aliran darahnya mendesir cepat.
Setelah cukup lama terpejam, Destry perlahan membuka kelopak matanya. Matanya terbuka lebar saat melihat Bima tengah menatapnya dengan datar tepat di depan matanya. Jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
Kejadian sebelumnya ternyata hanyalah khayalannya saja. Cukup lama Destry menatap Bima dengan mata lebarnya. "Eh?!" Destry segera menegakkan tubuhnya, tapi posisinya saat ini tidak memungkinkannya untuk berdiri tanpa sebuah pegangan. Ia menggapai bahu Bima dan langsung menegakkan tubuhnya. Suasana menjadi canggung dan terjadi keheningan sesaat.
"Berhati—hatilah," ujar Bima memecah keheningan. Dia masih terlihat tenang dengan wajah datar tanpa ekspresinya. Berbeda dengan perempuan di hadapannya yang saat ini tengah merasakan kecanggungan yang luar biasa.
Destry masih terdiam dengan kepala tertunduk. Suasana hatinya tidak menentu. Entah apa yang dipikirkan oleh Bima saat melihat dirinya tiba—tiba memejamkan matanya. Perempuan itu juga tidak habis pikir pada dirinya sendiri, kenapa pikiran itu harus terlintas di kepalanya, kenapa ia harus membayangkan dirinya dan Bima melakukan itu. Dalam waktu yang singkat, pikiran Destry sudah melayang kemana—mana.
Dengan kepala yang masih tertunduk, tatapan Destry kembali melebar. Apa mungkin ia punya perasaan khusus terhadap Bima, pikirnya. Tidak mungkin juga pikiran itu tiba—tiba saja datang tanpa sebab. Tapi, apa mungkin ia langsung menyukai pemuda yang baru saja ia temui? Padahal ia tidak mengetahui apapun tentang Bima. Pikirannya kembali menjalar kemana—mana. Ia tidak bisa berhenti menerka pikiran Bima saat melihat dirinya memejamkan mata. Dia sangat malu, entah dia masih berani menatap mata Bima atau tidak.
Sebenarnya, sah—sah saja jika Destry langsung menyukai Bima saat pertama kali bertemu. Bagaimana tidak, perawakan Bima yang mendekati sempurna membuat perempuan manapun akan terpesona. Bayangkan saja, wajahnya yang tampan dengan tatapan dinginnya, serta postur tubuhnya yang tinggi dengan d**a bidang dan tubuh atletis, sangat proporsional. Ditambah, kemampuan beladiri Bima yang sangat mumpuni, membuatnya seakan tidak memiliki kekurangan apapun.
Bahkan, saat pertama kali ia memasuki Akademi, banyak perempuan sebayanya yang langsung terpana saat melihatnya. Mereka selalu mencari perhatian dari Bima. Namun, Bima tidak pernah menggubris satu pun di antara mereka. Menurut Bima, perempuan—perempuan itu sangat menjengkelkan dan selalu mengganggu waktunya. Karena itu, ia selalu berusaha untuk tidak terlihat mencolok saat di Akademi agar semakin sedikit yang mengenalnya dan sedikit pula yang mengganggu waktunya. Tapi, karena keputusannya itu, Bima hanya mempunyai sedikit teman saat di Akademi. Tapi, itu tidak pernah menjadi masalah untuknya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Bima kembali memecah keheningan.
Destry mengangkat pandangannya cepat lalu menatap Bima, ia terdiam sesaat. "Ah, iya. A—Aku tidak apa-apa." Destry menundukkan kepalanya singkat. "Terima kasih sudah membantuku." Ia kembali menatap Bima lalu melayangkan senyum canggungnya. "Maaf, aku kehilangan keseimbangan tadi," tuturnya.
"Tidak apa," balas Bima. "Apa ada yang sakit?" lontar Bima lagi.
Bagai disambar kilat, setitik perhatian dari Bima membuatnya kembali terdiam sesaat. Ucapannya yang bahkan terdengar dingin itu mampu membuat tubuhnya mematung sejenak. "Ti—Tidak. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut saja tadi," balas Destry sambil tersenyum. Tidak ada yang tahu bahwa saat ini jantung Destry berdegup sangat cepat. Mungkin, jika tidak ada Bima, ia akan segera berlari ke kamar dan menenggelamkan wajahnya ke bantal.
Bima memindahkan pandangannya ke bawah, tepat di belakang kaki Destry. Pecahan gelas berserakan di sana. Bima melangkah mendekat lalu berjongkok di sebelah Destry, berniat mengambil pecahan gelas tersebut.
Saat tangannya terulur, hendak mengambil pecahan gelas itu, sebuah tangan menahan lengannya. Bima terdiam sesaat lalu mengangkat pandangannya pada perempuan di hadapannya, Destry, yang juga tengah menatapnya sambil merapatkan bibir.
"Jangan! Biar aku saja yang membersihkan ini. Ini kesalahanku, kamu tidak harus membersihkannya," tutur Destry.
Bima menghela nafas sesaat. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada pecahan gelas di bawah. "Tidak apa. Aku akan membantumu," ucap Bima. Tangannya mengambil satu keping pecahan gelas.
Destry segera mengambil pecahan itu dari tangan Bima. "Tidak apa. Aku akan melakukannya sendiri. Kamu masuklah ke dalam, sepertinya Arga sudah selesai. Katamu, kamu mau mandi, 'kan?" lontar Destry lagi.
Bima kembali menghela nafas. Mengangkat pandangannya pada Destry. "Tidak apa. Aku akan masuk ke dalam setelah membereskan ini. Kamu—"
"Hei! Kalian berdua sedang apa?" teriak Arga dari belakang memotong perkataan Bima.
Bima dan Destry langsung menoleh bersamaan kepadanya. Terlihat pemuda itu tengah berdiri di bibir pintu dengan bertelanjang d**a. Ia berdiri di sana sambil mengacak-acak rambutnya supaya cepat kering.
"Hei, Bim! Kau sedang apa? Aku sudah selesai mandi. Giliranmu sekarang! Aku sengaja mandi cepat agar kau tidak menunggu lama," seru Arga lagi.
Arga tidak menyadari bahwa seorang perempuan di hadapannya tengah menatapnya dengan mata terbelalak. Dengan cepat, Destry segera menutup wajah dengan kedua telapak tangannya lalu memalingkan pandangannya. "Astaga! Arga! Pakai bajumu dulu!" ujar Destry.
"Eh? Kenapa Destry menutup wajahnya?" gumam Arga merasa heran.
Bima melirik Destry sesaat dan menyadari wajah perempuan itu perlahan memerah karena menahan malu. Ia menatap Arga. "Ar! Apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat, hah?" teriak Bima.
Arga mengernyitkan kening, satu alisnya terangkat. "Apa yang kulakukan? Tentu saja aku baru selesai mandi, Bim. Kau tidak lihat?" balas Arga.
"Bukan itu maksudku. Kemana bajumu? Kenapa kau tidak memakai baju?" seru Bima lagi.
Arga segera melingkarkan tangan ke tubuhnya. Ia menurunkan pandangan, menatap tubuhnya yang hanya berbalut celana pendek saja. "Apa yang aneh? Aku 'kan baru selesai mandi. Memangnya kenapa?" balas Arga lagi.
Bima menghela napas. "Di sini ada perempuan, Ar!" seru Bima.
"Ah, benar juga. Baiklah, aku akan memakai bajuku." Arga langsung berlari masuk. Membiarkan bibir pintu terbuka.
Beberapa saat kemudian, Destry membuka lengan yang menutupi wajahnya. "Apa Arga sudah masuk?" tanyanya.
"Iya, dia sudah masuk," balas Bima.
Destry menghela nafas lega sambil memegang dadanya. Merah di wajahnya perlahan memudar.
Bima mulai berdiri. Ia kembali menatap Destry "Kau serius tidak butuh bantuanku?" tanya Bima.
Destry mengangkat pandangannya. "Iya, tidak apa. Biar aku saja," balas Destry. Ia sebenarnya membutuhkan bantuan Bima untuk memungut semua pecahan itu, tapi, perempuan itu merasa tidak enak hati.
"Kalau begitu, aku akan masuk duluan," ujar Bima. Ia mulai melangkah masuk.
Beberapa saat kemudian, Destry yang sudah selesai membereskan pecahan gelas di luar menyusul masuk ke dalam rumah.
Malam semakin larut, Arga dan Bima tengah duduk di ruang tengah sambil membicarakan rencana esok hari. Kemudian, Destry ikut duduk bersama mereka sambil membawa tiga cangkir berisi teh hijau yang sudah ia buat kembali.
Ia menatap Arga. "Aku sepertinya tahu beberapa toko yang menjual barang-barang bagus di daerah ini. Jika kamu mau, aku bisa mengantarmu, Ar?" ujar Destry.
"Benarkah? Bagus kalau begitu. Kau bisa mengantarku besok pagi," ucap Destry.
"Besok pagi?" Destry sedikit terkejut. "Mm ... sepertinya kalau pagi aku tidak bisa. Aku harus pergi ke sekolah," tuturnya.
"Ah, begitu ya. Ya sudah tidak apa-apa. Biar Bima dan aku saja yang mencari langsung tokonya," ujar Arga.
"Tapi, sepertinya aku juga bisa. Kita bisa pergi bersama. Aku bisa mengantar sembari berangkat sekolah." ucap Destry.
"Tidak apa. Jangan merepotkan dirimu. Biar kami saja yang pergi. Kamu fokuslah pada sekolahmu. Kami tidak akan tersesat." ujar Arga
"Ah, baiklah kalau begitu." Destry hening sesaat. "Aku punya mie, apa kalian lapar?" tanya Destry
***
Malam berlalu dan pagi akan segera datang. Fajar mulai terlukis diufuk timur namun mentari belum menampakkan sinarnya, Bima sudah terjaga sejak tadi, sebenarnya dia tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan kejadian tadi malam saat pertarungannya dengan pencuri.
Tapi bukan pertarungan yang ada dikepalanya, ada hal lain yang terus melayang dipikirannya, siapa pencuri itu dan mahluk apa dia? Kenapa dia bisa merubah dirinya saat dia bilang dia adalah Klan Badak.
Lalu, perkataan pencuri tentang Klan Harimau, dimana dia mengatakan bahwa Bima adalah Klan Harimau. Lalu soal perkataan pencuri tentang matanya.
Ia pun penasaran, dia ingin mencoba melihat matanya dan kebetulan di kediaman Destry terdapat cermin kecil yang berada di kamar mandinya. Bima pun masuk ke kamar mandi lalu bercermin.
Tapi matanya nampak biasa saja, tidak ada yang aneh. Ia pun menghela nafas lega dan berpikir mungkin pencuri itu mabuk saat berbicara seperti itu. Walaupun Bima tahu bahwa ia melihat dengan jelas bahwa pencuri itu bisa berubah menjadi mahluk mengerikan.
Bima menatap wajahnya beberapa saat kemudian berpaling darinya untuk keluar dari kamar mandi.
Satu ia melangkah terdengar suara dari belakangnya. "PANTHERA ...." Suara itu terdengar menggema memenuhi ruangan.
Bima berbalik cepat mencari asal suara namun ia tidak menemukan apa-apa.
"HARIMAU YANG TERSISA! " Suara itu muncul lagi.
Bima tahu persis suara itu berasal dari cermin yang ada dihadapannya, ia menatap dalam cermin itu dan tiba-tiba muncul sosok Harimau besar di dalam cermin itu.
Bima hanya hening, terdiam menatap kosong, terkejut dengan yang baru ia lihat.
"TAKDIR DUNIA INI ADA DITANGANMU, PANTHERA!"
Sesudah itu, sosok harimau itu hilang begitu saja dari dalam cermin. Bima langsung tersadar dan langsung mencuci wajahnya beberapa kali dan menepuk-nepuk pipinya,
"Apa itu? Apa yang barus aja terjadi?" Bima mencoba memastikan apakah ia baru saja bermimpi atau ia berhalusinasi sebelumnya.
Dan ia pun menyadari bahwa ia tidak sedang bermimpi atau pum berhalusinasi. Ia tersadar dan yang dia lihat itu asli, dia sangat yakin namun dia tidak tahu itu apa.
"Harimau? Kenapa harimau? Apa ini ada hubungannya dengan yang pencuri itu katakan?"
Bima masih termenung di depan cermin sambil mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia tidak menyadari bahwa Destry baru saja masuk ke kamar mandi tanpa menyadari keberadaannya.
Destry berniat mandi pagi karena dia akan berangkat sekolah. Ia mulai membuka kain di pakaiannya satu persatu. Matanya masih setengah terpejam dan ia masih merasa ngantuk sehingga dia tidak menyadari seseorang sedang termenung di dalam kamar mandi itu, tepat di hadapannya.
Kini Destry hanya memakai celana pendek setengah paha dan kaos tipis yang hanya menutupi bagian atas tubuhnya saja dengan pusar terlihat. Destry mengambil sikat gigi yang terletak di dudukan tembok lalu mengikat rambutnya dengan diputar putar, sangat cantik.
Destry melangkah ke arah cermin yang ada Bima di depannya.
"Hei, bisa minggir sebentar," pintanya seraya menepuk pelan bahu Bima.
Bima yang masih terlarut dalam lamunannya—pikirannya masih kosong belum menyadari keberadaan Destry yang berada dalam satu ruangan sempit bersamanya. Bima hanya menyingkir—melangkah mundur begitu saja. Ia berdiri di belakang Destry. Tatapan matanya masih kosong, sepersekian detik kemudian, ia memindahkan pandangannya pada cermin yang berada di depan Destry. Ia melihat perempuan itu mulai membasuh wajahnya dengan tenang. Destry yang merasakan dinginnya air mengenai wajahnya, perlahan mulai menyadari sesuatu yang aneh. Ia melirik tipis pada Bima lewat cermin di hadapannya. Mata keduanya bertemu dan terjadi kontak mata untuk beberapa saat.
Detik selanjutnya, mata mereka terbuka sangat lebar. Kedua orang itu akhirnya menyadari sesuatu yang janggal sedang terjadi. Kenapa mereka berdua bisa berada di dalam kamar mandi? Pikiran keduanya berangsur jernih.
"K—Kau?" ucap Bima terbata-bata. Raut wajahnya terkejut setengah mati.
"Bi—Bima?" sahut Destry tak kalah terkejut.
"AAAA!!" Keduanya berteriak keras saking terkejutnya. Teriakan mereka membuat seisi kamar mandi bergetar hebat. Bahkan, sampau terdengar ke halaman depan.