Teriakan keduanya terasa memekakkan telinga. Bima langsung menutup kedua telinganya karena tidak kuat menahan kerasnya jeritan Destry, sedangkan Destry reflek menutupi tubuhnya—tangannya melingkar menutupi bagian da.danya, dia kemudian membalikkan badannya—membelakangi Bima.
"Bi—Bima! Ke—Kenapa kamu bisa ada di sini?" lontar Destry gelagapan. Ia tidak tahu bagaimana awal mula dirinya bisa berada di dalam kamar mandi bersama Bima. Seingatnya ia tidak punya riwayat pikun. Mengapa dia tidak ingat apapun?
Bima yang biasanya terlihat datar dan dingin, sekarang nampak gugup dan canggung. Wajahnya menjadi merah karena menahan malu, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkannya.
Bima langsung memalingkan pandangannya dari Destry. "Begini, Destry. Tolong jangan berpikir macam-macam! Saat aku sedang bercermin di sini, kau tiba-tiba masuk dan menepuk bahuku. Setelah itu kau langsung mencuci muka dan ...," Bima menjelaskan kejadian sebenarnya secara rinci. Ia tidak ingin Destry berpikir aneh-aneh tentangnya.
Mata Destry terangkat naik. "Jadi maksudmu ... kamu lebih dulu masuk ke dalam sini?" lontar Destry dengan raut wajah tak terpercaya.
"Ya. Itu benar," balas Bima. Syukurlah Destry bisa memahami maksud ucapannya. Bima sedikit bernafas lega. Namun, sekujur tubuhnya masih terasa kaki. Ini kali pertamanya ia berdiri sangat dekat dengan perempuan, apalagi Destry tengah memakai pakaian terbuka yang menunjukkan lekuk tubuhnya, membuat kepala Bima hampir saja meledak.
"A—Aku ...," Destry gelagapan, wajahnya memerah. "Maafkan aku!" Destry berlari melewati Bima sembari menutupi wajah dengan kedua lengannya. Ia melangkah menuju pintu.
Bima menghela napas seraya melangkah maju mendekati cermin. Ia menatap bayangannya sendiri. "Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi? Sangat memalukan!" ucapnya sambil menutupi wajah dengan sebelah tangannya.
Destry yang tidak mampu lagi menahan rasa malunya, ingin segera keluar dari sana. Dia segera menggapai handuk yang tergantung di pintu kamar mandi dan langsung melilitkan ke tubuh mungilnya. Destry membuka pintu kamar mandi dengan cepat dan langsung melangkah keluar dengan tergesa-gesa.
Namun, di luar kamar mandi—tepat di depan pintu, Arga tengah berdiri di sana karena mendengar suara jeritan dari dalam kamar mandi. Ia pun memutuskan untuk memeriksanya langsung.
Bersamaan dengan Destry yang melangkah keluar, Arga hendak melangkah masuk—dan pada akhirnya terjadilah benturan kening diantara mereka sampai keduanya jatuh terjengkang ke belakang.
***
Beberapa menit sebelumnya, teriakan keras Bima dan Destry berhasil membangunkan tidur nyenyak Arga. Pemuda itu terperanjat bangun—langsung mendudukkan tubuhnya. Ia memegang da.danya yang kembang kempis karena terkena serangan jantung singkat. Nafasnya terdengar memburu. Arga menelan ludahnya sebelum mengedarkan pandangannya.
Suara keras apa yang berhasil mengacaukan mimpi indahnya? Matanya tertuju pada sebuah ruangan yang tertutup rapat, yang tak lain adalah kamar mandi. Ia segera bangkit dan berjalan mendekati pintu kamar mandi. Karena penasaran, ia menempelkan telinganya pada pintu dan mencoba mendengar suara dari dalam. "Aneh! Kenapa sekarang jadi hening?" gumamnya seraya melepaskan telinganya dari daun pintu itu.
Karena rasa penasarannya semakin memuncak, ia pun memutuskan untuk melihat keadaan di dalam kamar mandi. Arga tidak mengetahui ada orang di dalam sana, karena pintu kamar mandi selalu tertutup, mau ada ataupun tidak adanya orang di dalamnya.
Arga mendorong pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci, pikirnya. Padahal Destry—yang berada di balik pintu tengah menariknya dengan cepat.
Sesaat sebelum kening mereka beradu, mereka sempat melihat satu sama lain, namun karena langkah Destry sangat cepat dan tidak bisa dihentikan maka kening mereka yang menjadi korban.
"Destry?" — "Arga?" ujar keduanya bersamaan. Keduanya sama-sama mengusap kening mereka seraya meringis kesakitan.
"Sedang apa kamu?" lontar keduanya lagi seirama.
Keduanya kembali terdiam dan saling menatap satu sama lain sambil mengerutkan kening.
"Apa yang terjadi di dalam sana?" tanya Arga kemudian.
"Itu ...," Destry ragu menceritakannya pada Arga. "Bagaimana kamu bisa tiba-tiba ada di depan pintu? Aku sampai terkejut, tahu!" ujar Destry mengganti topik pembicaraan.
"Ah itu, aku mendengar suara teriakan tadi. Karena aku pikir suaranya berasal dari sini, aku pun mencoba mengeceknya ke dalam. Tapi, tiba-tiba kamu muncul dari balik pintu," tutur Arga. "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Arga kembali ke pertanyaan awalnya. Destry kembali gugup—diam seribu bahasa.
Arga mengernyitkan keningnya saat melihat Destry mengabaikan ucapannya. Perempuan itu malah menundukkan kepalanya. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi? Apa aku melewatkan sesuatu? pikir Arga berkecambuk. Tapi selain itu, ada satu hal lagi yang mengganjal di pikirannya, yaitu Bima. Dia tidak melihatnya dimana pun.
"Ah iya, Ngomong-Ngomong, apa kau melihat Bima? Aku tidak melihatnya dimana pun." tanya Arga membuat Destry mengangkat pandangannya—kembali menatap pada Arga.
"Sebenarnya, dia ada—"
Destry menghentikan ucapannya saat arah pandang Arga berubah. Mata pemuda itu nampak melebar dan tatapan matanya mengarah ke arah belakangnya, dia seperti sedang melihat sesuatu. Destry langsung menoleh ke belakang—mengikuti arah pandangan Arga.
Matanya melebar saat melihat Bima sedang berdiri di bibir pintu kamar mandi dengan tatapan datar dan raut wajah tanpa ekspresinya.
"Bi—"
"Bima!" lontar Arga menyela ucapan Destry. Pemuda itu mengernyitkan kening seraya melayangkan tatapan menyelidik pada Bima. "Sedang apa kau di dalam sana?" tanya Arga.
Bima menatap Arga sesaat lalu berpindah menatap Destry. "Destry, bisa beri jalan untukku?" pinta Bima dengan lembut.
"I—iya baiklah." Destry segera menggeser tubuhnya—masih dalam posisi duduk di lantai.
"Kenapa kau bisa ada di dalam sana?" tanya Arga. Sedetik kemudian mata pemuda itu melebar. "Ah, barusan Destry juga keluar dari kamar mandi. Itu artinya kalian berada di dalam kamar mandi bersama. Astaga! Kalian—"
"Jangan salah paham. Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Ar. Berhentilah berpikir konyol!" sela Bima sambil melangkahkan kakinya—melewati Destry.
Arga menyeringai, matanya menatap Bima penuh curiga. "Ucapanmu meragukan, Bim. Aku yakin kalian ...."
"Ti—Tidak. Ini tidak seperti dugaanmu. Kami hanya tidak sengaja masuk bersamaan," potong Destry gelagapan. Raut wajahnya gugup.
"Dia benar. Sudahlah, jangan berpikir hal konyol, Ar. Ini masih malam, kembalilah tidur! Besok kita harus bangun pagi," ujar Bima mengakhiri perbincangan mereka.
***
Cahaya fajar mulai pudar. Mentari perlahan memancarkan sinarnya, memberi kehangatan saat menyentuh kulit. Udara pagi terasa segar mengisi rongga paru-paru. Jalanan mulai ramai dilalui orang-orang dan kendaraan mulai terlihat berlalu lalang. Bima dan Arga telah berdiri di depan pintu rumah Destry, bersiap untuk pergi ke Pusat Kota, mencari toko dan membeli beberapa barang yang Arga butuhkan.
Arga tersenyum tipis, senyum yang terkesan canggung. "Terimakasih telah mengizinkan kami menginap di sini, Destry. Jika tanpa bantuanmu, mungkin kami sudah tidur di jalanan sekarang. Kami sangat tertolong," tutur Arga kemudian merapatkan bibirnya sejenak. "Maaf, telah merepotkanmu," sambung Arga.
Destry tersenyum ramah, sangat manis dan penuh kelembutan. "Tidak apa-apa, Ar. Kamu tidak perlu meminta maaf. Aku sangat senang bisa membantu kalian berdua. Justru akulah yang harus berterima kasih pada kalian. Jika tidak ada kalian, hidupku pasti berantakan. Aku tidak tahu harus membalas kalian dengan apa," balas Destry terdengar tulus.
"Jangan dipikirkan, Destry. Kamu sudah sangat membantu kami. Terima kasih karena telah membantu kami," sambung Bima yang membuat Destry mengangguk singkat.
"Ah, Iya! Ngomong-Ngomong, kau berangkat sekolah pukul berapa, Des?" Arga mendongak—menatap langit biru yang mulai terasa menyilaukan mata. "Sepertinya hari mulai siang," lanjutnya.
Destry memutar sedikit badannya lalu menoleh ke belakang—melihat jam dinding yang tergantung di sudut ruangan. Sesaat kemudian, ia kembali berbalik—menatap Arga. "Ini masih sangat pagi, Ar. Aku biasa bersih-bersih rumah dulu sebelum berangkat ke sekolah," balas Destry.
"Ah, Baiklah kalau begitu," sambung Arga mengangguk paham.
"Destry ...," panggil Bima singkat yang membuat Destry menatap padanya. Pemuda yang berdiri di sebelahnya pun menoleh ke arahnya.
"Iya, Bim?" sahut Destry.
"Berhati-hatilah! Usahakan jangan pulang terlalu malam! Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi padamu," tutur Bima terdengar peduli.
Mendengar itu, mata Destry terangkat naik disertai rona merah yang mulai terlihat di pipinya. "I—Iya." Destry mengangguk cepat. "Aku akan pulang lebih awal mulai sekarang. Aku juga akan lebih berhati-hati. Terima kasih sudah mengingatkan," balas Destry terdengar antusias.
Arga menatap mereka berdua bergantian lalu menarik garis bibirnya—tersenyum menyeringai penuh maksud. "Hm ... sepertinya tercium aroma cin—"
Sebelum Arga menyelesaikan ucapannya, Bima segera menutup rapat mulut Arga dengan telapak tangannya. "Jangan aneh-aneh!" sosor Bima.
Arga menarik telapak tangan Bima dari mulutnya. "Jangan aneh-aneh apa, Bim? Memangnya aku bilang apa? Kenapa kau sensitif sekali hari ini?" lontar Arga.
"Aku bisa menebak apa yang akan kau ucapkan, Ar!" balas Arga sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Apa? Aku tidak akan mengatakan hal aneh! Kau salah paham, aku tadi mau bilang, sepertinya tercium asap kendaraan. Aku akan bilang itu tadi, kenapa kau tiba-tiba marah? Aneh sekali!" dengus Arga beralibi.
"Kau kira aku tidak tahu pikiranmu, hah?" sembur Bima lagi.
"Apa? Pikiranku baik-baik saja. Kau saja yang selalu berburuk sangka," ujar Arga menggelengkan kepalanya seraya berdecak.
Destry yang berdiri di hadapan mereka hanya terkekeh sambil menutup mulutnya saat melihat tingkah mereka berdua yang seperti kucing dan anjing. Tidak pernah akur.
Beberapa saat beradu ego, akhirnya mereka pun berhenti berdebat. Arga memalingkan pandangannya pada Destry. "Baiklah, kami pergi dulu, Destry. Sampai jumpa lagi," pamit Arga.
"Iya, semoga kita bertemu lagi," balas Destry sambil tersenyum lembut.
Bima dan Arga pun melangkah pergi—meninggalkan Destry yang berdiri di depan pintu seraya melambaikan tangannya—bergerak ke kanan dan ke kiri. Pertemuan singkat itu terasa sangat berkesan dan tidak akan mereka lupakan.
***
Arga dan Bima kembali menyusuri sudut kota. Melewati beberapa tempat yang sudah mereka singgahi sebelumnya saat malam hari. Taman kecil tempat mereka beristirahat saat malam hari terlihat ramai saat pagi hari. Para orang tua membawa anak-anak mereka bermain di sana.
Beberapa saat melangkah, mereka kembali melewati gang kecil tempat mereka bertarung dengan orang aneh yang sangat mengerikan. Pengalaman bertarung itu terkadang masih terbayang di kepala mereka, menyisakan hal-hal aneh yang tidak mereka ketahui. Gang itu nampak lebih bercahaya saat pagi hari karena terkena pantulan cahaya matahari. Intinya, semuanya tampak berbeda saat langit sudah terang.
Tujuan mereka saat ini pergi ke toko yang sempat mereka datangi kemarin. Berharap mereka tidak datang terlalu pagi dan toko itu sudah buka.
Setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan sebuah toko. Arga bernafas lega karena toko itu sudah buka. Terlihat orang-orang sudah berlalu-lalang, berjalan keluar dan masuk toko.
Mereka pun melangkah masuk. Berhenti di depan pintu masuk dan mengedarkan pandangannya sesaat. Pemandangan yang belum pernah mereka lihat. Berbagai jenis barang ada di sana. Dari yang kecil sampai besar, semuanya berkilauan. Terlihat rak-rak besar berjajar di setiap sudut ruangan.
Orang-orang terlihat berkerumuan dan melihat-lihat barang yang akan mereka beli. Meskipun keadaan masih sangat pagi, tapi orang-orang sudah sibuk berbelanja. Kehidupan di sini sangat berbeda dengan di desa. Orang-orang di desa biasanya masih berada di rumah saat pagi hari, meminum teh dan duduk di teras depan. Berjemur dan menghirup oksigen bersih sepuasnya. Saat terik matahari mulai terasa panas, mereka akan pergi ke kebun dan ladang untuk bekerja.
"Bim, aku akan pergi ke sana," ujar Arga seraya menunjuk ke sisi kanan ruangan toko. "Kau bagaimana?" tanya Arga menoleh singkat pada Bima.
Bima mengedarkan pandangannya singkat—memandangi sudut demi sudut ruangan. "Aku akan melihat-lihat ke sebelah sana," balas Bima menunjuk ke sisi kiri.
Arga mengangguk singkat. "Baiklah kalau begitu. Kau berkelilinglah! Nanti kita bertemu lagi di sini," ujar Arga.
"Kau mencari apa? Biar aku carikan barang yang kau butuhkan," tawar Bima dengan sukarela.
Arga terkekeh singkat. "Tidak perlu, Bim. Aku akan mencarinya sendiri. Kau lihat-lihat saja sana!" jawab Arga. Ia mulai melangkahkan kakinya ke sisi kanan—menyusuri rak-rak yang berisi berbagai macam barang unik di sana, sedangkan Bima pergi ke sisi lain untuk melihat-lihat.
Arga cukup kesulitan mencari barang yang ia butuhkan. Ia menyusuri setiap rak di sana. Berbeda dengan Arga, Bima yang hanya sekedar melihat-lihat, merasa kagum sekaligus bingung saat melihat barang-barang yang dijual di sana. Mereka menjual barang-barang yang belum pernah Bima lihat seumur hidupnya. Ia menatap aneh setiap barang yang ia temui.
Bima mengambil satu barang di sana dan menatapnya dengan aneh. "Barang ini aneh sekali," ujarnya. Ia memutar-mutar barang itu sambil terus melihat setiap detailnya. "Bagaimana cara menggunakannya? gerutu Bima masih tidak tahu nama barang yang sedang ia pegang.
Saat Bima tengah asyik melihat-lihat, seseorang dari kejauhan tengah memperhatikannya. Bima menyadari itu sejak awal masuk. Hawa yang ia rasakan berbeda. Namun, ia mencoba mengabaikannya.
Bima mulai melangkah, pergi ke sisi lain. Pria misterius itu kini berjalan di belakangnya. Bima melirik singkat ke samping, namun tidak sampai menoleh. Ia dapat mendengar langkah kaki orang itu berjalan di belakangnya. Bima menghentikan langkahnya kemudian berbalik cepat menatap pria itu.
Pria di belakang Bima terkejut,begitu pun dengan Bima.
"Kau?" ucap Bima terkejut.