Bima mulai melangkah dari sana. Ia mencoba berjalan perlahan ke sisi lain. Dugaannya benar, seseorang sedang mengikutinya dari belakang. Bima dapat mendengar langkah kakinya. Ia mencoba mengelilingi ruangan itu, berjalan di antara rak-rak di sana. Langkah itu masih terdengar. Bima semakin yakin, ada orang lain di belakang yang terus mengikutinya.
Ia menghentikan langkah tepat di sudut ruangan. Tubuhnya berdiri menghadap satu rak. Sesaat kemudian, Bima membalikkan tubuhnya dengan cepat untuk melihat orang yang terus mengikutinya dari tadi. Bima mengernyitkan kening dan memicingkan matanya. "Arga? Kenapa kau di sini?" lontar Bima.
Entah apa yang terjadi. Orang yang sejak tadi mengikuti Bima ialah Arga. Bima menatap tidak percaya. Dia yakin, orang itu bukanlah Arga. Tapi, kemana orang itu? Kenapa malah Arga yang ada di hadapannya sekarang.
Arga balik mengerutkan kening. "Ha? Apa maksudmu, Bim? Tentu saja aku sedang mencari barang yang akan kubeli," balas Arga. Ia menggeser tubuh Bima ke samping. "Minggir, aku akan cek rak di belakangmu!" ujarnya lagi. Arga melihat-lihat barang yang berjajar di rak, lalu mengambil satu barang di sana. "Nah, ini dia barang yang aku cari. Pantas saja aku tidak menemukannya dimana pun, ternyata kau di sini!" ujar Arga antusias.
Setelah lama berjalan mengelilingi ruangan toko, menyusuri setiap sudut, dan melihat setiap rak di sana, Arga tidak juga menemukan barang yang ia butuhkan. Akhirnya, setelah mencari ke setiap sudut, Arga berhasil menemukan barang itu, tepat di belakang Bima.
Arga menoleh singkat pada Bima lalu kembali terpaku pada barang di tangannya. "Kau sedang mencari apa, Bim? Kenapa wajahmu terkejut begitu? Apa ada sesuatu?" tanya Arga.
Bima menoleh sesaat pada Arga, lalu kembali menatap lurus, matanya melirik ke segala arah. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Pertanyaan terus muncul di kepalanya. Siapa orang yang mengikutinya tadi? Dan kemana dia? Kenapa tiba-tiba orang itu menghilang dan malah Arga yang ada di hadapannya.
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, sampai sentuhan di bahu membuyarkan lamunannya. "Hei? Kau kenapa?" ucap Arga. Ia menatap Bima heran. "Kau sedang mencari sesuatu?" sambung Arga.
Bima mengedarkan pandangannya sesaat sebelum menoleh pada Arga. "Bukan. Aku merasa ada yang tidak beres di sini. Seseorang sepertinya mengikuti kita. Dia berjalan di belakangku tadi," balas Bima.
Arga melebarkan matanya. "Benarkah? Siapa?" Arga mulai mengedarkan pandangannya beberapa saat lalu kembali menatap Bima. "Kau yakin ada seseorang yang mengikuti kita?" tanya Arga lagi.
"Ya, sepertinya begitu. Tapi, aku tidak tahu siapa orangnya. Dia menghilang begitu saja, padahal aku yakin dia berjalan di belakangku sebelumnya," balas Bima. "Sepertinya kita harus segera pergi dari sana. Firasatku tidak enak." Pandangan Bima beralih pada barang yang berada di tangan Arga. "Yang ada di tanganmu itu apa?" tanya Bima penasaran.
"Ah, ini barang yang aku butuhkan. Dari tadi aku terus mencarinya tapi tidak menemukannya, ternyata barangnya ada di sini," balas Arga.
"Hanya itu?" Bima menunjuk barang itu.
"Ya, hanya ini," balas Arga tersenyum canggung. "Kau mau membeli sesuatu di sini?" balik Arga.
"Tidak ada. Jika kau sudah mendapatkan barang yang kau butuhkan, sebaiknya kita segera pulang," ujar Bima.
"Baiklah. Aku akan membayar ini dulu, kau keluarlah duluan, nanti aku menyusul," ucap Arga.
"Ya." Bima berjalan menuju pintu keluar. Tatapannya masih melirik ke segala arah. Pertanyaan sebelumnya masih belum hilang di kepalanya. Siapa orang yang mengikutinya? Namun, keberadaan orang itu kini tidak Bima rasakan. Ia pun akhirnya berjalan melewati pintu, disusul oleh Arga beberapa saat kemudian.
Tapi, nampaknya dugaan Bima benar. Seseorang tengah menatapnya dengan sinis dari dalam toko. Dia adalah pria yang pernah Bima temui di halaman belakang rumahnya. Entah apa tujuannya, yang jelas sorot matanya menggambarkan kebencian pada Bima. Dia juga yang sebelumnya berjalan di belakang Bima, tapi saat Bima berbalik, orang itu sudah berpindah tempat dengan cepat.
Arga dan Bima sudah berjalan memasuki jalur hutan menuju desanya. Mereka berjalan santai beriringan. Bima terpaku dengan bukunya, sedangkan Arga sibuk memainkan barang yang telah ia beli.
Arga menoleh pada Bima sesaat, "Hei, kau ingat perempuan yang kita temui di desa?" tanya Arga.
"Ya," jawab Bima singkat tanpa menoleh.
"Kau ingat namanya? Aku lupa," lontar Arga lagi.
Bima melirik singkat pada Arga, ia tahu agar punya maksud lain. "Destry," balasnya.
Arga tertawa kecil, "Wah, kau bahkan sampai ingat namanya," goda Arga.
Bima menghela napas. Ia tahu Arga hanya menggodanya saja. "Kita baru saja bertemu dengannya, Ar. Tidak mungkin kau lupa namanya. Sudahlah, mainkan saja barangmu, aku sedang membaca buku," tutur Bima. Raut wajahnya terlihat kesal.
Arga diam sesaat. "Hei, Bim, Destry cantik ya?" tanya Arga lagi.
Bima kembali melirik singat. Ia hanya menghela napas kasar dan mengabaikan ucapan Arga.
"Aku suka sifatnya, dia baik, ramah, dan juga polos. Kau bagaimana?" tanya Arga lagi.
Bima kembali menghela napas, jengkel dengan pertanyaan yang terus Arga layangkan. "Bagaimana apanya?" balik Bima bertanya, tatapannya masih terpaku pada buka di tangannya.
"Kau suka padanya?" lontar Arga.
"Tidak," balas Bima cepat tanpa ekspresi.
Arga menarik bibirnya, tersenyum jenaka pada Bima. "Tapi sepertinya, dia suka padamu, Bim," ujar Arga lalu tersenyum malu.
"Diamlah, aku sedang fokus membaca," balas Bima terlihat kesal.
Arga hanya tertawa kecil menanggapi kekesalan temannya. "Ah iya, sebenarnya apa yang terjadi saat di kamar mandi tadi, Bim? Kenapa kalian berdua ada di dalamnya?" goda Arga lagi.
Bima menurunkan buku dari pandangannya lalu menoleh pada Arga. "Hei, berhentilah membahas itu. Sudah kubilang itu hanya kesalahpahaman saja. Sudahlah, jangan berpikir macam-macam, Ar!" ujar Bima.
Arga melirik Bima curiga. "Ah ... Jangan-Jangan kalian—"
TUK!
Bima memukul kening Arga dengan bukunya. "Kalau kau membahas itu lagi, aku akan melempar buku ini ke wajahmu!" gertak Bima.
Arga mengusap keningnya sesaat lalu kembali memicingkan matanya dan menatap Bima. "Jangan—Jangan, kalian ..."
Bima langsung berpindah ke belakang Arga lalu menutup mulutnya. "Diam tidak, hah?"
Arga menurunkan lengan Bima dari mulutnya lalu tertawa lebar. "Baiklah—Baiklah. Aku diam, aku diam,"
Bima melepaskan tangannya dari dagu Arga, sesaat kemudian Arga berlari cepat meninggalkannya, ia membalikkan badannya lalu berteriak dengan keras. "Jangan—Jangan kalian pacaran ya? Pasti kalian sudah ciuman di kamar mandi ya?" teriak Arga lalu kembali tertawa lepas.
Bima mencengkram erat buku di lengannya. Matanya memancarkan sinar amarah. "Kau menantangku ya, Ar? Baiklah, berlarilah sekarang! Atau kau akan tertangkap olehku." Sesaat kemudian Bima melesat cepat mengejar Arga.
Mata Arga melebar sesaat. "Wow—Wow!" Ia menelan ludahnya saat melihat Bima melesat cepat ke arahnya. Ia langsung lari terbirit-b***t. Mencoba kabur dari Bima, tapi ia tidak bisa berlari lebih cepat dari Bima dan akhirnya Bima berhasil menangkapnya dan langsung menutup wajah Arga.
"Kau menantangku, Ar?" Bima mengacak-ngacak wajah Arga.
"He—Hei, hentikan!" pinta Arga sambil berusaha melepaskan lengan Bima dari wajahnya.
Tapi, Bima yang sudah gemas padanya tidak menuruti ucapannya. Ia masih memainkan wajah Arga dengan gemas sampai merasakan kebas di seluruh wajahnya.
"Baiklah—Baiklah. Aku menyerah! Lepaskan aku, Bim! Wajahku sakit semua!" mohon Arga lagi.
"Tidak! Jika aku lepaskan, kau akan mengoceh lagi," tolak Bima.
"Tidak, aku serius-aku serius." Arga mengacungkan dua jari tangannya tanda keseriusan ucapannya.
"Berjanjilah!" pinta Bima. Ia mulai meremas kedua pipi Arga sampai bibirnya berbentuk kerucut.
"Aku berjanji, aku berjanji. Sudah, Bim! Nanti wajahku jadi jelek," ujar Arga.
Bima akhirnya melepaskan lengannya dari wajah Arga. Pemuda itu menggoyang-goyangkan mulutnya. "Agh ... mulutku kebas semua. Dasar kau!" ucap Arga.
"Sudah kubilang untuk berhenti mengoceh! Kau malah semakin menjadi-jadi, terimalah akibatnya," balas Bima.
"Larimu semakin cepat saja, Bim."
***
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka. Langkah kaki mereka beriringan, menyusuri jalan setapak di tengah hutan menuju desa.
"Hei, Bim, aku ikut ke rumahmu ya?" pinta Arga.
Bima menoleh singkat. "Boleh saja. Memangnya kau mau apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin main saja ke rumahmu. Aku selalu bosan diam di rumah. Saat libur sekolah pun aku selalu berdiam diri di rumah, tidak ada yang kulakukan," tutur Arga.
"Baiklah kalau begitu," ujar Bima.
Setelah menempuh waktu beberapa menit, mereka pun sampai di halaman depan rumah Bima. Terlihat nenek Bima, Ling sedang duduk bersila di teras depan. Ia menatap kedatangan keduanya dengan tatapan datar. Arga melayangkan senyum canggung pada Ling. Nenek Bima hanya diam menatapnya, membuat Arga semakin canggung.
Bima masuk duluan ke dalam rumah dan Arga menyusul di belakangnya. Dengan langkah ragu, Arga melangkah masuk.
"Kau tunggulah di teras belakang, Ar. Aku mau ke kamarku dulu," ujar Bima.
Arga pun melangkah menuju teras depan lalu merebahkan tubuhnya di sana. Beberapa saat kemudian, Ling menghampirinya, membuat pemuda itu langsung mendudukkan dirinya, raut wajahnya terlihat tegang.
Ling mulai duduk bersila di sampingnya. Ia kemudian memejamkan matanya. Arga yang duduk di sana tidak tahu harus melakukan apa. Entah harus menunggu Ling berbicara atau dia yang mengajaknya berbicara duluan.
Beberapa saat terjadi keheningan, Ling pun membuka matanya. "Namamu Arka?" tanya Ling memecah kesunyian.
Arga sedikit terkejut. "Arga, Nek," jawab Arga.
"Kau temannya Bima?" tanya Ling lagi.
"I—Iya, Nek," jawab Arga ragu.
Ling mengangguk pelan beberapa kali. "Kau tahu bagaimana keseharian Bima saat di Akademi?"
"Se—Sedikit, Nek."
"Bagaimana dia di sana? Apa saja yang dia lakukan?"
"Bima itu pendiam, Nek. Dia terlalu mencolok saat di Akademi," tutur Arga.
Ling kembali mengangguk. "Aku tahu Thera adalah anak yang dingin. Dia tidak mudah terhubung dengan orang lain. Bagaimana kalian berdua bisa berteman?"
Mata Arga melebar sesaat. "Ah itu ..., ceritanya panjang, Nek. Itu sudah lama sekali."
"Tidak apa. Ceritakanlah! Aku ingin mendengarnya."
Arga terdiam sesaat. Bibirnya sedikit tersenyum mengingat bagaimana awal mula dia dan Bima saling mengenal. "Pada awalnya, kami tidak saling mengenal. Lalu, aku melihatnya ...."