Seorang pemuda berdiri di depan gedung Akademi. Mendongakkan kepalanya, menatap dari bawah sampai atas. Pemuda itu bernama Arga. Ini hari pertama ia masuk Akademi. Ia menelan ludahnya beberapa kali, merasa ragu untuk melangkahkan kakinya.
Sebenarnya, bersekolah di Akademi Bachalpsee bukan keinginannya, melainkan permintaan kedua orang tuanya yang menginginkan Arga menjadi pemuda tangguh dan memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni. Kedua orang tuanya berharap dengan Arga bersekolah di Akademi Bachalpsee dan mengikuti Bidang Keahlian Beladiri, ia mampu menjaga dirinya. Karena rasa sayang yang besar itulah yang membuat mereka meminta Arga untuk menuruni keinginan mereka. Arga yang mendengar alasan kedua orang tuanya tidak bisa menolak. Mau tidak mau ia harus bersekolah di Akademi Bachalpsee dan mengikuti Bidang Keahlian Beladiri demi menyenangkan hati kedua orang tuanya.
Beberapa anak sebayanya terlihat melangkah melewatinya, tapi Arga tidak juga berpindah dari tempatnya. Setelah cukup lama hanya berdiri di sana, akhirnya Arga meneguhkan hatinya untuk semakin yakin bahwa pilihan kedua orang tuanya adalah yang terbaik. Ia menghela nafas dalam lalu mencoba menarik bibirnya untuk tersenyum agar rasa gugupnya sedikit berkurang.
Baru saja ia hendak melangkah, seseorang mendorong tubuhnya dari belakang sampai ia jatuh tersungkur. Ia menengok ke belakang dan melihat tiga pemuda sedang berdiri menatapnya.
"Apa kau lihat-lihat? Kau tidak pernah diajarkan sopan santun oleh orang tuamu, hah?" tanya salah satu pemuda.
Arga hanya diam, hatinya marah, namun ia tidak punya cukup keberanian. Ia perlahan mengalihkan pandangannya ke bawah.
Ketiga pemuda itu menertawakannya. "Menyingkirlah, Sialan!" bentak pemuda itu kemudian berlalu dari sana, meninggalkan Arga yang masih tersungkur di tanah.
Arga menatap kepergian mereka. Setelah itu, ia mencoba berdiri dan membersihkan pakaiannya dari debu tanah yang menempel. Ia kembali terdiam dan tidak percaya apa yang baru saja ia alami. Baru saja ia datang ke Akademi, sebuah masalah sudah menghampirinya. Entah apa lagi yang akan ia dapatkan nanti. Tapi, secercah harapan muncul di hatinya, semoga dengan dia mengikuti Bidang Keahlian Beladiri dan meningkatkan kemampuannya, ia tidak akan tinggal diam jika suatu saat seseorang berlaku seenaknya padanya.
Arga pun kembali menghela nafas sesaat sebelum melangkahkan kakinya. Langkah kakinya tidak secepat anak lainnya, ia berjalan di koridor dengan ragu sambil melihat keadaan sekeliling. Dari arah depan, terlihat orang-orang tengah berkerumun. Arga mempercepat langkah dan mendekati kerumunan itu. Ternyata mereka sedang membaca beberapa lembar kertas yang menempel di dinding. Kertas itu berisi daftar nama siswa baru Akademi Bachalpsee dan kelas yang akan mereka tempati.
Arga mencoba menerobos kerumunan itu tapi mereka terlalu banyak. Tubuh Arga terlalu lemah untuk menahan desakan demi desakan mereka. Akhirnya ia pun memilih menunggu di belakang kerumunan itu. Setelah cukup lama, kerumunan itu tidak kunjung berkurang, malah semakin ramai saja orang yang datang untuk melihat daftar nama itu. Arga tidak bisa terus menunggu. Ia pun mencoba menerobos kerumunan itu sekali lagi, tapi ia malah terjatuh karena dorongan dari belakangan, ia mencoba merangkak keluar, beberapa kali tubuhnya terinjak orang-orang di sana. Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya ia pun berhasil keluar dari sana.
Karena beberapa kali terinjak, rasa nyeri mulai terasa di sekujur tubuhnya. Sepertinya tidak ada pilihan lain, Arga harus menunggu sampai semua orang itu pergi atau paling tidak sampai kerumunannya sedikit berkurang. Arga memijat bagian tubuhnya yang merasa nyeri, ia menyibakan lengan bajunya dan terlihat lebam biru di sana. Arga mengiris saat menyentuh lebam itu. Beberapa pemuda yang baru datang, menabrak tubuhnya sampai ia hampir jatuh tersungkur. Arga berjalan ke sisi lain, sedikit menjaga jarak dari kerumunan itu.
Lalu,beberapa saat kemudian, seorang pemuda yang baru saja datang berdiri di sampingnya. Arga menoleh padanya. Pemuda itu memasang tatapan datar tanpa ekspresi, kedua tangannya menyilang. Ia hanya diam di sana menatap ke arah kerumunanan. Pemuda itu adalah Bima. Ia dan Arga belum saling mengenal waktu itu.
"Ah, sepertinya kita harus menunggu kerumunan itu berkurang," ucap Arga sembari melayangkan senyum canggungnya.
Bima melirik singkat padanya tanpa menjawab, lalu pergi dari sana tanpa sepatah kata pun. Arga hanya terdiam sambil menatap kepergiannya. Pemuda itu sangat dingin, bahkan terlihat dari tatapan matanya, tajam dan mencekam.
Setelah beberapa saat, kerumunan itu mulai berkurang. Arga kembali menerobos masuk dan melihat daftar nama di sana. Namanya tertera pada satu lembar kertas yang terdapat daftar anak yang duduk di kelas 1-5. Setelah memastikan sekali lagi, ia pun pergi dari sana, mencari kelas 1-5.
Arga berjalan perlahan melewati koridor sambil mencari kelasnya. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia sampai di depan kelasnya. Arga menghela nafas dalam terlebih dahulu. Dengan ragu, ia melangkah masuk. Arga berdiri di depan pintu sesaat sambil mengedarkan pandangannya. Terlihat beberapa anak sudah ada di sana. Arga sedikit terkejut saat melihat pemuda yang mendorongnya juga ada di sana. Pemuda itu adalah Dion. Sejak awal masuk, ia memang sudah nakal dan sering mengganggu anak lain.
Ia pun terpaku pada kursi kosong yang tak jauh dari tempat duduk Dion, ia pun mulai melangkah menuju kursi itu. Dari tempatnya, Dion terus menatap Arga dengan senyum sinis di bibirnya. Saat Arga berjalan melewatinya, ia menjulurkan kakinya sampai Arga tersandung dan jatuh tersungkur. Seisi kelas menertawakannya, kecuali satu perempuan yang duduk tak jauh dari sana, ia adalah Leona. Leona hanya menatapnya dengan rasa iba. Ingin sekali ia membantu Arga, namun keberadaan Dion di sana membuatnya ragu.
Arga menatap mereka sesaat kemudian mencoba berdiri dan melangkah ke kursi dengan langkah gontai. Ia kembali mengedarkan pandangan. Semua orang di kelas duduk berpasangan, hanya dirinya yang duduk sendiri. Arga menghela nafas kasar dan mencoba mengerti keadaannya. Senyum terpaksa tergambar di bibirnya, seolah dia berkata, siapa juga yang mau duduk dengan anak lemah sepertiku?
Beberapa saat kemudian, seorang pria dewasa masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi depan, menghadap seisi kelas. Ia adalah Chayton, salah satu Pembimbing di Akademi yang mengajar di Bidang Keahlian Beladiri. Chayton memperkenalkan dirinya sesaat lalu memberikan sedikit sejarah tentang berdirinya Akademi Bachalpsee, membuat beberapa anak menguap mendengarnya. Chayton yang menyadari itu langsung melangkah keluar kelas tanpa sepatah kata pun. Saat di bibir pintu, seorang pemuda berpapasan dengannya. Ia adalah Bima. Chayton menatapnya sesaat lalu melanjutkan langkahnya.
Bima masih berdiri di ambang pintu, mengedarkan pandangannya pada seisi kelas. Pandangannya berhenti pada Arga. Setelah itu, ia melangkah menghampirinya. Saat ia berjalan melewati Dion, pemuda itu lagi-lagi menjulurkan kakinya, hendak membuat Bima tersandung.
Bima melirik singkat padanya dan menyadari kaki di depannya. Ia mengetahui niat jahil Dion. Dengan langkah tegas, ia menginjak kaki Dion sampai Dion tersentak kesakitan. Ia ingin berteriak tapi harga dirinya lebih penting dari pada rasa sakitnya.
Bima pun menarik kursi kosong di sebelah Arga dan duduk di sana. Merogoh tasnya dan mengambil satu buku lantas membacanya. Arga menoleh padanya dan menyadari ia adalah pemuda dingin yang sebelumnya ia temui. Dengan ragu, Arga mencoba menyapanya, "Kau di kelas ini juga?"
Bima hanya melirik singkat padanya. Tidak menjawab pertanyaan dari Arga. Bagi Bima pertanyaan itu sangat konyol. Bagaimana mungkin dia masih bertanya seperti itu sementara ia sudah duduk di sampingnya. Tentu saja ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya. Bima masih diam dan fokus pada bukunya.
Arga merasa canggung. Ia menyadari pertanyaannya sangat konyol. Ia terdiam beberapa saat, memikirkan pertanyaan yang akan ia layangkan pada Bima. Benar, nama! pikirnya.
Arga kembali menoleh pada Bima. "Namaku Arga. Sebagai teman sekelas, kita seharusnya saling mengenal bukan? Kalau kau tidak keberatan, namamu siapa?" tanya Arga.
Bima menghentikan kegiatannya sesaat. "Kau bisa memanggilku Bima," balas Bima. Ia kembali membaca bukunya.
"Ah, Bima ya? Senang berkenalan denganmu," tutur Arga lagi. Setelah itu hening, suasana kembali canggung. Apalagi yang akan ia bicarakan?
Sebelum Arga selesai berpikir, seorang pemuda berjalan menghampiri keduanya dan berdiri di hadapan mereka. Ia adalah Dion. Raut wajahnya terlihat kesal. Ia menggebrak meja dengan keras. Membuat Bima menutup bukunya dan menatap ke arahnya. Tatapannya datar tanpa ekspresi. Ia hanya diam menatapnya.
Dion mendengus remeh. "Cih! Tatapanmu membuatku muak!" ucapnya. Dion mendekatkan wajahnya, menatap Bima lebih dekat. "Dengar, Sialan! Kau sudah menginjak kakiku! Sebagai ganti rugi, kau harus memberikan semua uangmu padaku!" titahnya.
Bima tak menjawab ataupun menggubris, ia masih diam dengan tatapan datar masih terpaku pada Dion. "Hei, b******k! Kenapa kau tidak menjawab, hah? Kau tidak punya uang? Baiklah, tidak apa. Aku akan memberimu waktu sampai besok, jika besok kau tidak membayar utangmu, lihat saja, kehidupanmu di sini tidak akan tenang. Kau mengerti?"
"Pergilah." balas Bima dengan dingin. Ia kemudian bukunya lantas kembali membacanya.
Dion membelalak tidak percaya. Gertakan darinya seolah tidak membuat Bima takut sedikit pun. Ia merapatkan giginya dan kembali menggebrak meja. Tangannya mencengkram kerah baju Bima. "Rupanya kau menantangku, lihat saja, aku—"
"Ini ambillah uangku, jangan ganggu dia," ujar Arga cepat sembari menyerahkan semua uang sakunya pada Dion.
Dion melepaskan kerah baju Bima dan mengambil uang di lengan Arga lalu mulai menghitungnya, senyum lebar terkembang di wajahnya. "Anak pintar," ucap Dion sembari menepuk pipi Arga beberapa kali.
Setelah itu, Dion pun melangkah kembali ke kursinya setelah mendapatkan uang Arga. Ia membicarakan itu pada kedua temannya. Mereka bertiga terdengar tertawa keras sebelum akhirnya ketiganya melangkah keluar dari kelas. Sudah dapat ditebak, mereka pasti akan bolos pelajaran dan pergi merokok.
***
Waktu istirahat tiba. Saat semua orang keluar dari kelas untuk beristirahat, Dion dan kedua temannya melangkah memasuki kelas. Ketiganya hendak menjaili Bima dengan menyembunyikan tasnya di suatu tempat. Mereka pun diam-diam mengambil tasnya dan hendak kembali keluar dari kelas. Tapi, Arga yang baru saja memasuki kelas, melihat mereka membawa tas teman sebangkunya. Dia pun lantas berusaha merebutnya dari mereka. Terjadilah tarik menarik di antara mereka. Arga bersikeras mempertahankan tas Bima. Dion yang merasa kesal lantas melepaskan tas Bima sehingga membuat Arga terjengkang ke belakang dan membentur meja. Dion dan kedua temannya langsung menghajar Arga tanpa ampun sampai wajahnya tanpa ampun. Beberapa kali pukulan mendarat di wajah Arga. Pemuda itu sama sekali tidak melindungi wajahnya melainkan terus memegang erat tas Bima di pelukannya.
Dan, Bima yang baru saja tiba di kelas langsung melihat mereka. Membuat Dion dan kedua temannya menghentikan kegiatan mereka. Bima hanya melayangkan tatapan datarnya tanpa mengatakan apapun. Dion dan temannya lantas berjalan menghampirinya, menatapnya sesaat dan melayangkan senyum remeh. Mereka berjalan melewatinya dan keluar dari kelas.
Beberapa saat kemudian, Bima berjalan menghampiri Arga dan melihatnya sudah terbaring lemas di lantai sambil memeluk tasnya. Bima menghela nafas, ia tidak habis pikir pada Arga. Kenapa dia sangat bersikeras mempertahankan barang yang bukan miliknya. Bahkan, itu adalah barang orang yang baru saja ia temui.
Bima pun segera membawa Arga ke Ruang Penyembuhan Akademi. Beberapa saat terbaring lemas dan tidak sadarkan diri, Arga pun membuka matanya dan melibat Bima sedang duduk sambil menatap datar ke arahnya. Arga melayangkan senyum canggung, "Ada apa? Apa aku pingsan?"
"Kenapa kau melakukan itu?" tanya Bima.
Arga sedikit bingung. "Eh? Maksudmu? A—Aku tidak mengerti."
"Kenapa kau membantuku? Kenapa kau terus terlibat dalam masalah yang bukan urusanmu. Kau tidak harus melakukan itu. Berhentilah melukai dirimu sendiri dan berhentilah membantuku. Aku tidak membutuhkan bantuanmu sedikit pun," tutur Bima.
Mendengar itu, Arga melayangkan senyum tulus. "Ya, aku tahu." balas Arga, membuat Bima mengernyitkan keningnya. "Aku tahu kau sama sekali tidak membutuhkan bantuanku. Aku tahu itu, tapi ... bukankah untuk menolong orang lain kita seharusnya tidak banyak berpikir? Tidak peduli kau membutuhkan bantuanku atau tidak, setidaknya, aku hanya ingin melakukan hal baik. Tidak peduli dihargai atau tidak, setidaknya aku bisa menghargai diriku sendiri dengan membantu orang lain. Tidak apa, jika kau tidak membutuhkan bantuanku. Tapi, aku akan membantumu tanpa menunggumu membutuhkan bantuanku," tutur Arga membuat Bima membelalak, tidak mampu membalas perkataannya. Mulutnya bungkam.
Bima menghela nafas kasar. Bibirnya sedikit tertarik. Matanya kini memancarkan ketulusan." Baiklah, Arga. Aku tahu kau orang baik. Jadi, mari berteman."
Arga membalas senyuman Bima. "Ya, mari berteman." Dan sejak saat itulah, Arga dan Bima saling mengenal dan memutuskan untuk berteman, sampai hubungan keduanya sangat dekat bahkan layaknya saudara kandung.
Ling mengangguk paham sepanjang cerita. Ia tidak menyangka sikap dingin cucunya akan luntur dengan kebaikan Arga. Ling memiringkan bibirnya. "Jadi begitu ceritanya. Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan dia, Thera pasti akan melindungimu, Arka." ujar Ling
Arga tersenyum tulus dan mengiyakannya."Baik, Nek. Tapi ... namaku bukan Arka, tapi Ar—"
"Ar, apa yang kalian bicarakan?" tanya Bima yang baru saja datang.
Arga menoleh. "Ah, kami baru saja membicarakanmu, Bim," balasnya.
"Membicarakanku?" tanya Bima. "Tentang apa?" sambungnya.
"Tentang sikapmu saat di Akademi yang pendiam," ujar Arga lantas tertawa lebar.
Bima menoleh pada Ling. "Apa itu benar, Nek? Kalian membicarakan—"
Belum selesai Bima berbicara, Ling segera berdiri. "Sebentar, Nenek mau masuk dulu ke dalam. Kalian bermainlah berdua." Selesai berucap, Ling melangkah masuk, meninggalkan keduanya. Saat di ambang pintu langkahnya terhenti saat Bima memanggilnya. Ia berdiri tanpa menoleh, menunggu Bima berbicara.
"Apa nenek tahu soal Ras Valosa dan Klan Harimau?" lontar Bima.
Ling sedikit tersentak, matanya membelalak. Ia langsung menoleh pada Bima. "Darimana kau mendapat pertanyaan itu?" balik Ling dengan tatapan menyelidik. Ia tidak percaya Bima baru saja melayangkan pertanyaan tentang sesuatu yang berusaha ia tutupi dari cucunya itu.
Bima mengernyit kening. "Ada apa, Nek? Apa Nenek mengetahui sesuatu?" tanya Bima lagi.
Ling menggeleng cepat. "Tidak, Nenek hanya tidak mengerti maksud ucapanmu. Yang kau tanyakan itu sangat aneh, Thera. Nenek tidak tahu apa artinya itu," ujar Ling.
"Ah, begitu," Bima mengangguk paham. Tapi tatapannya menggambarkan kecurigaan pada Ling. Reaksi Ling sepertinya sangat berlebihan, tidak biasanya ia seperti itu. Bima menaruh kecurigaan padanya.
"Darimana kau dapat pertanyaan itu, Thera?" Ling kembali melayangkan pertanyaan sebelumnya. Ia tidak tahu dari mana Bima mendapat pertanyaan itu. Apa seseorang sudah memberitahunya tentang Ras Valosa.
Akhirnya Bima menceritakan kejadian di kota saat dirinya dan Arga bertemu dan bertarung dengan seorang pencuri di sana. Menceritakan hal yang dia ucapkan dan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Ling beberapa kali menelan salivanya. Ia tidak menyangka, Bima akan bertemu Ras Valosa secepat ini. Belum saatnya ia mengetahui tentang jati dirinya.
Setelah mendengar cerita Bima, Ling langsung melangkah masuk tanpa sepatah kata pun. Raut wajahnya terlihat gelisah. Bima termenung sesaat, ada apa dengan sikap neneknya? Apa dia tahu sesuatu? Pertanyaan itu mulai bergelayut di kepalanya.
"Hei, kenapa kau melamun? Sedang memikirkan sesuatu?" tanya Arga sedari tadi melihat raut wajah Bima yang terlihat bingung dengan tatapan kosong menatap entah kemana.
Bima sedikit tersentak. "Ah, tidak. Aku hanya sedang memikirkan akan melakukan latihan apa?" ucapnya.
"Ah begitu rupanya." Arga kembali merebahkan tubuhnya di teras lalu memejamkan matanya.
"Kau mau latihan apa hari ini?" tanya Bima menoleh padanya.
"Tidak tahu. Aku sedang malas latihan hari ini. Kau saja sendiri, Bim," ucap Arga.
"Hei, kenapa kau malas latihan? Tidak seperti biasanya. Ayo, temani aku latihan," ajak Bima.
"Tidak mau. Kau saja sendiri," tolak Arga.
"Hei, apa kau mau staminamu luntur? Katamu kau mau menjadi semakin kuat. Bagaimana bisa jika kau bermalas-malasan seperti itu. Ayo, latihan lagi!" ajak Bima lagi.
Arga terdiam sesaat lalu menghela nafas kasar dan mulai membuka matanya. Ia menatap Bima sesaat sebelum mendudukkan dirinya." Baiklah-Baiklah, kita akan latihan apa hari ini?" tanya Arga dengan malas.
Bima menyentuh dagunya, berpikir sejenak. Ia mengalihkan pandangannya lurus lalu menunjuk ke depan. "Mau latihan menaiki gunung?" tanyanya.
Arga terperanjat kaget. "Menaiki gunung? Kau gila? Aku sedang malas, kau malah mengajakku naik gunung," ujarnya dengan nada tinggi.
Bima menarik bibirnya. "Hei, ini akan menyenangkan tahu! Mari melakukan perlombaan. Siapa yang lebih dulu mencapai puncak, dia yang menang. Bagaimana, kau tertarik?"
Arga menghela nafas kasar. "Baiklah, ayo lakukan. Sepertinya menyenangkan."
***
Mereka berdua sudah sampai di kaki gunung. Arga melihat ke arah puncak. "Hei, tingginya berapa? Kau yakin kita akan berlomba sampai ke puncak. Aku ragu kita bisa sampai ke sana," ujarnya.
"Tenang aja, aku yakin kita bisa. Tinggi gunung ini hanya 1600 meter," ujar Bima.
Arga membelalak lalu menelan ludahnya. "Be—Berapa? 1600 meter? Astaga! Kau yakin, Bim?"
"Ya, kalau tidak salah tingginya segitu."
"Bukan! Maksudku, kau yakin ingin lomba lari sampai puncak? Kau bawa air tidak? Bagaimana kalau aku kehausan di atas sana?"
Bima tertawa lepas. "Kau ini aneh sekali. Di atas sana ada mata air yang mengalirkan air jernih. Kau bisa minum sepuasnya,"
Arga kembali menelan ludahnya lalu menghela nafas. "Baiklah, ayo mulai,"
Mereka berdua memasang posisi siap, dalam sesaat keduanya melesat cepat menaiki tanah yang miring itu. Pada awalnya keduanya seimbang, mereka tertawa beberapa saat dan saling mendahului. Beberapa menit berlalu, nafas Arga mulai terasa berat sehingga kecepatan larinya menurun. Akhirnya ia pun tertinggal oleh Bima yang terus berlari ke atas sana.
Arga berhenti sejenak, mencoba mengatur nafasnya. Setelah di rasa ringan, ia pun kembali berlari. Beberapa langkah berlari, ia terhenti saat seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan mencari darimana suara itu berasal. Pandangannya berhenti pada seorang pemuda yang sedang duduk bersandar pada sebuah pohon. Arga mengernyitkan kening. "Kau?" tanyanya dengan tatapan heran.
"Hai, Kawan, kau sedang apa?" tanya Hestra sembari melambaikan tangannya.