Kehadiran Hestra di sana mengalihkan perhatian Arga. Ia terdiam sejenak, berpikir untuk melanjutkan naik ke puncak gunung menyusul Bima atau menghampiri Hestra. Akhirnya, setelah beberapa saat berpikir, Arga memilih menghampirinya sembari memulihkan kembali stamina. Hanya duduk sebentar, mungkin tidak akan lama. Bima pasti akan berpikir ia kelelahan, pikirnya.
"Hestra, kau sedang apa di sini?" tegur Arga. Ia mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang lain di tempat itu. "Kau sendirian saja?" lanjut Arga bertanya.
"Hai," sapa Hestra sambil melambaikan tangan singkat. "Ya, seperti yang kau lihat, aku sendirian," jawabnya.
Arga melangkah mendekat. "Kau sedang apa di sini sendirian?" lontar Arga.
"Tidak ada. Aku hanya sedang menenangkan diri di sini. Sebenarnya, hampir setiap hari aku ke sini," ucapnya lalu terkekeh. "Aku tidak suka keramaian dan sepertinya tempat ini cocok untukku, alhasil aku selalu menikmati waktuku di sini," lanjutnya. Hestra menatap Arga penasaran. "Kalau kau, sedang apa di tempat seperti ini?" baliknya bertanya. Hestra yang menyadari nafas Arga terengah-engah lantas menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.
"Ah, iya." Arga melangkah dan mendudukkan dirinya di sebelah Hestra, bersandar pada pohon di belakangnya. Arga menghela nafas dalam sembari memejamkan matanya. Sangat nyaman ia rasakan, kesejukan dan ketenangan di tempat itu sangat terasa.
Hestra menoleh padanya. "Kau terlihat sangat kelelahan, sebenarnya apa yang kau lakukan di tempat ini?" tanya Hestra.
"Ah, aku sedang latihan," jawab Arga tanpa menoleh.
Hestra sedikit terkejut. "Latihan? Kau serius?" lontarnya lagi.
Arga menoleh. "Ah, sebenarnya bukan latihan, sih. Bima mengajakku lomba lari di tempat ini. Kami akan berlari sampai puncak gunung, sekalian melatih otot kaki kami. Bima ingin menguji kecepatan lariku. Aku dan Bima memang sudah sering latihan bersama," terangnya.
Hestra mengedarkan pandangannya, menoleh ke kanan dan ke kiri. "Dimana dia? Aku tidak melihatnya," celetuknya. "Katamu kau latihan bersama dia? Kenapa dia tidak bersamamu?" sambungnya.
"Ah, dia mungkin sudah sampai di atas sana," ucapnya. "Aku tadi berhenti sejenak karena kelelahan, sedangkan Bima terus berlari ke atas sana. Hah ... dia sangat cepat, staminanya tidak terkalahkan," lanjutnya.
Hestra mengangguk paham. "Begitu rupanya." Hestra kembali menyandarkan punggungnya. "Kalian sering latihan bersama ya? Pantas saja kalian sangat dekat," ungkap Hestra.
Arga ikut menyandarkan punggungnya. "Bagaimana denganmu? Aku jarang melihatmu saat di Akademi. Kau biasanya kemana?"
Hestra menarik bibirnya, tersenyum tipis. "Kemana pun yang aku mau. Tidak peduli dimana pun itu, saat aku merasakan ketenangan, aku akan menikmati waktuku di sana," terangnya. "Seperti tempat ini, di sini sangat tenang dan sejuk. Sangat cocok untuk menenangkan diri. Dan sepertinya, medan terjalnya juga cocok untuk dijadikan tempat latihan, seperti yang kau lakukan dengan temanmu," sambungnya.
"Ah, benar. Tempat seperti ini memang cocok untuk orang yang suka ketenangan. Tapi, kau ... selalu sendiri?" lontar Arga.
Hestra terkekeh. "Ya, sebenarnya aku lebih nyaman menikmati waktuku seorang diri. Tidak ada orang, tidak ada masalah, hanya aku dan semua ketenangan ini," balasnya.
"Wah, kau aneh sekali," cibirnya. "Aku sering merasa bosan saat sendirian dan tidak tahu harus melakukan apa saat sendiri. Kehidupanku hanya dipenuhi rasa bosan dan jenuh saat sendirian," tuturnya.
"Hei! Kau bisa menjelajah sepertiku," saran Hestra. "Cobalah pergi ke suatu tempat yang sunyi dan tenangkan dirimu di sana. Kau pasti tidak akan pernah merasa jenuh," bebernya. "Hah ... itu sangat menyenangkan bagiku," lanjutnya berhembus.
Arga menghela nafas. "Ah begitu ya? Aku rasa kita berbeda. Kau suka menyendiri, sedangkan aku tidak suka. Aku lebih senang menghabiskan waktuku bersama seorang teman. Tapi itu tidak masalah, seseorang berhak menjalani hidup yang dia suka, 'kan?" lontar Arga.
Hestra kembali terkekeh. "Ya, kau benar. Tapi, apa kau tahu, seseorang yang suka menyendiri sepertiku terkadang juga merasa sangat kesepian," ungkapnya.
"Eh? Kenapa? Bukannya kau suka menyendiri?" decak Arga heran.
"Ya, aku memang suka menyendiri, tapi aku benci kesendirian. Itu adalah hal berbeda. Kau tahu itu, 'kan?" balas Hestra.
Arga menggeleng, keningnya sedikit mengernyit. "Aku kurang mengerti maksudmu. Bukankah kedua hal itu sama aja?"
Hestra tersenyum tipis. "Tidak, kedua hal itu berbeda," sanggahnya. "Saat kau memilih menyendiri, kau merasakan ketenangan, karena hanya ada kau di tempat itu. Tapi, jika kau menyendiri di tengah keramaian, kau akan merasa sangat kesepian. Kau seperti orang asing di sana. Kau paham sekarang, Ar?" lanjut Hestra menoleh pada Arga.
Arga terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan Hestra. "Ah, begitu. Iya, aku paham," ucapnya.
***
Sementara itu, Bima yang terus berlari ke puncak gunung, tidak menoleh sedikit pun ke belakang. Tanpa ia ketahui, temannya, Arga, sudah tertinggal jauh di bawah sana. Setelah menempuh waktu beberapa menit, Bima sudah mencapai puncak gunung. Ia melompat dan berteriak kegirangan di sana. "YA! AKU MENANG!" teriaknya dengan lantang.
Suaranya menggelegar di atas sana. Ia tersenyum lebar karena berhasil mengalah Arga dalam perlombaan itu. Ia lantas membalikkan tubuhnya, Arga belum juga sampai ke atas sana. Bima melangkah kakinya, melihat tanah miring, mencoba melihat Arga di bawah sana, tapi batang hidungnya sama sekali belum terlihat.
Bima itu tidak mengetahui bahwa Arga sudah tidak berlari sejak tadi. Merasa Arga akan tiba sebentar lagi, Bima pun memilih menunggu di atas sana. Ia merebahkan tubuhnya, berbaring di atas bebatuan kecil, menatap langit biru sambil menunggu Arga sampai ke atas sana menyusulnya.
***
Semakin lama berbincang dengan Hestra, Arga semakin lupa tujuan awalnya berada di sana. Ia terlalu nyaman dengan posisinya saat ini, bersandar pada sebuah pohon ditemani hembusan angin sejuk yang menerpa wajahnya.
Arga kembali menoleh pada Hestra. "Ah iya, bagaimana keadaan tubuhmu setelah pertarungan waktu itu?" lontar Arga.
"Aku baik-baik saja. Bahkan, sekarang tubuhku terasa lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Mungkin akhir-akhir ini tidurku cukup dan juga aku sering bermeditasi sekarang," terangnya.
"Meditasi? Wah, aku selalu ingin melakukan itu, tapi tidak pernah tahu caranya," ujar Arga.
Hestra terkekeh. "Teruslah berlatih! Suatu saat kau pasti bisa melakukannya. Meditasi itu baik untuk kesehatan dan juga untuk daya tahan tubuhmu. Ah iya, kau juga bisa merasakan aliran tenaga dalam di tubuhmu jika sering bermeditasi," tuturnya.
Arga berdecak kagum.b"Benarkah? Sepertinya aku harus meminta Bima mengajariku. Ah bukan, Nenek Bima, aku sering melihatnya duduk bersila di teras depan. Mungkin nanti aku akan minta diajari," ucapnya.
***
Sementara itu, Bima yang merebahkan tubuhnya di puncak gunung mulai membuka matanya."Kenapa Arga lama sekali?" gumamnya. Ia lantas mendudukkan tubuhnya. Mengedarkan pandangan, menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapapun di sana, hanya dia sendiri. Ia kembali berdiri, lalu berjalan ke tepi, melayangkan pandangan pada tanah miring di bawah sana. Arga belum juga terlihat. Kemana dia sebenarnya?
Tidak mungkin jika Arga jatuh pingsan di bawah sana karena stamina dan kekuatan tubuhnya sudah jauh meningkat dari pada sebelumnya. Tidak mungkin juga jika Arga kembali turun tanpa alasan yang jelas. Lantas apa alasan dia belum juga sampai ke atas sini? Harusnya dia sudah sampai saat ini? Pertanyaan itu mulai berputar di kepala Bima
"Apa mungkin Arga di serang hewan buas?" pikirnya lagi. Hutan di sekitar gunung memang terbilang masih lebat dan asri, sehingga sangat mungkin hewan-hewan buas masih hidup dan berkeliaran di sana. Bima mulai gelisah dan mengkhawatirkan keadaan Arga. Akhirnya, ia pun kembali turun ke bawah sana untuk menyusul Arga.
***
Sementara itu, di tempat Arga, ia masih duduk dengan santai di sana. Rasa nyaman semakin ia rasakan tatkala matanya mulai terasa berat.
"Ah iya, tadi kau bilang sering latihan bersama Bima, kan? Bagaimana kemampuanmu sekarang?" lontar Hestra membuat Arga terkejut.
Arga tersentak kaget. Rasa kantuknya hilang seketika. "Ya ... sebulan terakhir ini, aku sering melakukan latihan bersama Bima. Sepertinya latihan ini cukup membuat perbedaan pada kemampuanku. Tubuhku sekarang jauh lebih bertenaga dari sebelumnya dan rasa takutku kini sudah sepenuhnya hilang," jelas Arga.
"Wah benarkah? Keren sekali." Hestra berdecak kagum. Ia kembali menoleh pada Arga. "Aku juga melihat tubuhmu lebih berisi sekarang." Hestra memegang lengan atas Arga. Matanya membelalak. "Wah, lihat ini, otot tanganmu besar sekali. Kau menjalani latihan apa saja?" lontarnya kemudian.
"Tidak banyak. Bima hanya menyuruhku untuk selalu melakukan latihan inti, seperti Push up 100 kali sehari, Sit up 100 kali sehari, Pull up 50 kali sehari, dan terakhir, lari paling sedikit 10 km per hari. Dia juga menyarankan untuk selalu menjaga pola makan dan pola tidur. Hanya itu saja, tidak lebih," papar Arga yang membuat Hestra menganga lebar.
Hestra menelan liurnya. "Kau bilang "itu saja"? Astaga berat sekali latihanmu!" Hestra menyibakkan lengan baju Arga. "Sudah kuduga, otot tanganmu bahkan lebih besar dari punyaku. Seingatku, sebulan yang lalu, otot tanganmu tidak sebesar ini," ungkap Hestra.
Arga segera menurunkan lengan bajunya, menutupi otot lengannya. "Ah, ini bukan apa-apa." Arga tersenyum canggung. "Otot lengan Bima bahkan lebih besar dari punyaku. Kemampuanku masih jauh di bawahnya, karena itu, aku harus terus melatih kemampuanku," imbuhnya.
"Kau benar juga, meskipun otot tanganmu lebih besar dari punyaku, tapi sepertinya kemampuan bertarungku masih lebih hebat darimu. Kau mau coba bertarung denganku, Ar?" tawar Hestra dengan tarikan senyum di bibirnya.
Arga terdiam sesaat. "Sepertinya menarik. Mari lakukan!" sahut Arga membalas senyuman Hestra.
Keduanya langsung berdiri dan membuat jarak. "Hei, jangan berlebihan ya! Kita hanya menguji kemampuan masing-masing, jangan saling melukai!" seru Hestra.
"Ya, aku mengerti," balas Arga.
"Jika kau sudah tidak kuat, menyerahlah! Aku takut kau pingsan seperti waktu itu," teriak Hestra lagi lalu terkekeh.
Arga memiringkan bibirnya. "Tidak akan! Kemampuanku sekarang jauh berbeda dengan waktu itu. Justru kaulah yang harus berhati-hati, Hestra!" tantang Arga.
Hestra tertawa lebar. "Baiklah, Ar, mari kita lihat kemampuanmu!"