38. Hestra VS Arga

1061 Kata
Keduanya menatap satu sama lain. Suasana mulai terasa mendebarkan. Tatapan Arga tidak terlihat takut sedikit pun, Hestra tersenyum melihat itu. Postur tubuhnya jauh lebih tegak dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. "Kau siap, Ar?" seru Hestra lantang. "Tentu saja. Aku selalu siap kapanpun kau siap!" balas Arga. Hestra memiringkan bibirnya. "Ternyata bukan fisikmu saja yang berkembang, rasa percaya dirimu juga jauh meningkat. Baiklah, aku mulai duluan!" Hestra berlari cepat ke arah Arga. Setelah jarak mereka hanya tiga langkah, Hestra melompat dan langsung melayangkan pukulan kerasnya. Arga masih terlihat tenang, saat pukulan itu tinggal beberapa inci dari wajahnya, Arga tersenyum sesaat sebelum menghindari pukulan itu. Ia menyampingkan tubuhnya dengan tenang sehingga pukulan Hestra hanya melesat di depan matanya saja. Saat kaki Hestra sudah mendarat sempurna, Arga menarik lengannya dan langsung menghujamkan pukulannya ke d**a Hestra sampai ia terhempas beberapa langkah ke belakang. Pukulan itu membuat Hestra merasakan sesak di dadanya, ia terbatuk beberapa kali. Pukulan Arga sangat mengejutkannya. Bekas pukulan Arga meninggalkan rasa nyeri di dadanya, tapi ini baru mulai. Hestra bahkan belum mengeluarkan kemampuannya. Ia menyentuh titik bekas pukulan Arga lalu menatapnya. "Hei, pukulanmu boleh juga. Kukira pukulan tidak akan sekeras ini. Kau pasti sudah lama melatihnya, 'kan?" ujar Hestra dengan tarikan senyum di bibirnya. Arga terkekeh. "Tidak juga. Pukulan tadi bukan apa-apa. Aku masih mencoba meningkatkan daya hancurnya. Aku baru saja berlatih pukulan selama satu bulan. Masih banyak yang harua kupelajari," balas Arga. "Satu bulan?" Hestra sedikit terkejut. "Wah, baru satu bulan pukulanmu sudah sekeras ini?" decak Hestra kagum. "Rupanya temanmu itu sudah mengajarimu dengan baik ya? Kau pasti berlatih sangat keras. Aku tidak bisa membayangkan seberapa kuat temanmu itu," ucap Hestra. Ia lantas membunyikan ruas tulang lehernya. "Baiklah, kali ini aku akan serius, bersiaplah!" Hestra kembali melesat ke arah Arga. Kali ini gerakannya lebih cepat. Arga sedikit tersentak melihat kecepatan Hestra. Pemuda itu melesat ke segala arah, berniat mengecoh Arga. Dalam sekejap, Hestra sudah berada di hadapan Arga, ia langsung melayangkan serangan bertubi-tubinya. Namun, Arga mampu menghindari semua serangannya. Meskipun gerakan Hestra sangat cepat, kecepatan reflek Arga mampu menyainginya. Gerakan Hestra mulai melambat, Arga langsung melayangkan pukulan keras ke arahnya. Hestra langsung melompat ke belakang, membuat jarak darinya. Hestra terkekeh. "Tidak kusangka, kemampuanmu jauh lebih hebat dari dugaanku. Sepertinya pertarungan ini akan berlangsung lama," ujar Hestra. Arga tersenyum. "Maaf saja, tapi sepertinya pertarungan ini tidak akan berlangsung lama, karena aku akan membuatnya jadi singkat." Kini giliran Arga yang membunyikan ruas tulang lehernya. "Kau bersiaplah! Kini, giliranku yang akan menyerangmu!" ujar Arga. Arga melesat cepat ke arah Hestra dan langsung melayangkan pukulan keras, membuat pemuda itu terhempas jauh ke belakang. Arga tidak memberinya kesempatan, ia kembali melesat dan melayangkan serangan bertubi-tubi. Merasa terpojok, Hestra berusaha membuat jarak dari Arga, tapi Arga tidak memberikan ruang. Ia terus menghimpitnya dan terus memborbardirnya dengan pukulan demi pukulan. Hestra mencoba membuat pertahanan dengan tangannya, tapi itu tidak cukup. Masih banyak titik untuk Arga menyerang. Tiba-tiba, Hestra mendorong tubuh Arga dengan kuat, membuatnya terpental beberapa langkah ke belakang. Arga terkekeh. "Kau masih belum serius rupanya. Masih menyembunyikan kekuatan, hah?" lontar Arga. Hestra masih menundukkan kepalanya, sesaat kemudian, ia mengangkat kepalanya dan melayang tatapan tajam pada Arga. Cahaya matanya berubah, kini nampak amarah di sana. Napasnya memburu dan rahangnya mengeras. Ia melangkah mendekat, tangannya sudah terkepal keras. "He—Hei, kau kenapa? Apa kau—" Arga membisu saat melihat ke arah kepalan tangan Hestra. Muncul duri-duri tajam di sana. Arga menelan ludahnya, lalu melangkah mundur, mencoba membuat jarak dari Hestra yang nampak berbeda. "He—Hei! Ada apa denganmu? Bukankah kau bilang ini hanya, Agh!" Arga tersentak kaget saat lengannya tiba-tiba merasakan perih yang luar biasa. Matanya membelalak saat melihat lengannya sudah bercucuran darah. Ia melihatnya lebih dekat. "A—Apa? Luka ini ...." Matanya semakin melebar saat mengetahui luka itu diakibatkan oleh dorongan Hestra sebelumnya. Sebelumnya, saat ia pertama kali mendapat luka itu, ia tidak merasakan sakit sama sekali. Hal itu dikarenakan tingkat adrenalinnya masih tinggi. Saat adrenalinnya menurun, sakit itu mulai terasa. Hestra sudah semakin dekat di hadapannya. Arga terus melangkah mundur, terus mencoba membuat jarak darinya. Ia masih tidak tahu apa yang terjadi dengan Hestra. "He—Hei, Hestra! Kau kenapa? Sadarlah!" teriak Arga. Seolah tidak mendengar ucapannya, Hestra masih terus berjalan kearahnya dengan tatapan membunuh. Pancaran matanya sangat berbeda, seperti bukan Hestra yang ia kenal. "Hei, bukankah katamu ini hanya pertarungan antar teman? Kenapa kau serius sekarang? Kau terbawa emosi atau bagaimana? Ji—Jika aku membuatmu marah, aku minta maaf, Tapi, berhentilah menatapku seperti itu, Hestra!" seru Arga lagi. Tetap saja, Hestra seolah tidak mendengarnya. Dalam sekejap, Hestra kembali menyerang Arga dengan tangan berdurinya. Arga berusaha menghindarinya, sangat berbahaya jika sampai terkena serangan Hestra. Intensitas serangan Hestra semakin meningkat, kekuatan dan kecepatan pukulannya jauh lebih mematikan, ditambah duri tajam yang menempel di sana. Jika sampai mengenai kulitnya, itu bisa menyebabkan luka robek yang sangat dalam. Beberapa kali pukulan Hestra melesat tipis dari tubuh Arga. Goresan demi goresan mulai terpahat di kulit Arga. Wajahnya mulai tergores dan mengeluarkan darah, membuatnya semakin tertekan. "Hei! Hentikan! Kau terlalu serius!" teriak Arga lagi. Arga mencoba menyerang balik, tapi Hestra mampu menepisnya dengan tangan berdurinya, membuatnya tidak punya kesempatan untuk menyerang balik. Arga lantas melompat ke belakang, membuat jarak darinya. Tapi, Hestra tidak memberinya kesempatan untuk menghindar. Ia kembali melesat dengan cepat dan melayangkan serangan bertubi-tubi. Hestra melayangkan pukulan samping mengarah ke wajah Arga, membuat Arga terpaksa menunduk untuk menghindarinya, tapi dalam satu gerakan cepat, satu tendangan lutut mengenai rahangnya, membuat Arga terpental jauh dan membentur pohon. Ia ambruk di tanah. Arga mencoba bangun tapi tubuhnya sangat lemas, pandangannya tiba-tiba kabur. Ia berusaha mengembalikkan fokusnya. Menggelengkan kepalanya dengan cepat. Secara perlahan, pandangannya kembali jernih. Tapi, saat ia sadar, Hestra tengah melesat kearahnya dengan cepat sambil melayangkan pukulan berdurinya. Dalam jarak dan waktu seperti ini, Arga tidak mungkin bisa menghindar Ia langsung menutup matanya dan menyilangkan lengan di depan wajahnya. Arga tahu itu sama sekali tidak berguna, tapi paling tidak, matanya masih bisa diselamatkan walaupun tubuhnya akan terkoyak pukulan Hestra. Arga meringis, mencoba menahan rasa sakit yang akan ia terima. BUGH!! Suara pukulan keras terdengar sangat nyaring. Tapi, Arga tidak merasakan apapun di tubuhnya. Ia mencoba membuka matanya dan melihat seorang pemuda tengah berdiri membelakanginya. Tidak salah lagi, itu Bima. "Kau baik-baik saja, Ar?" tanya Bima. "I-Iya Bim. Aku baik-baik saja. Tapi, ini tidak seperti yang kau pikirkan, dia—" "Tidak apa, biar aku yang membereskannya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN