BUGH!!
Satu pukulan keras menghantam wajah Hestra, membuatnya terhempas jauh ke belakang. Arga membuka matanya perlahan dan terbelalak saat melihat Bima sudah berada di depan matanya, berdiri membelakanginya dengan tangan terkepal. Bima sedikit menoleh padanya. "Kau tidak apa-apa, Ar?" tanya pemuda itu.
Mulut Arga masih menganga takjub untuk beberapa saat ketika tanpa dia duga, Bima tiba-tiba datang melindunginya. "Bima? Kenapa kau ada di sini? Bukankah harusnya kau sudah sampai di atas sana?" balas Arga masih tak percaya.
Bima menghela nafas kasar. "Saat aku sudah sampai di puncak, aku berpikir kau mungkin akan tiba sebentar lagi, aku pun memutuskan untuk menunggumu di atas sana. Setelah cukup lama berada di sana, kau tidak juga kunjung sampai. Aku khawatir sesuatu terjadi padamu di bawah sini, jadi aku memutuskan untuk kembali turun," terang Bima. Ia menatap datar pada Hestra. "Dari kejauhan, aku melihat orang itu hampir saja melukaimu," lanjut Bima sambil menunjuk Hestra dengan dagunya.
"Ah, tidak-tidak!" Arga menggeleng cepat. "I—ini tidak seperti yang kau kira, Bim. Dia—"
Belum selesai Arga berbicara, Bima lebih dulu memotongnya, "Tenang saja. Aku yang akan membereskan orang itu," ujar Bima.
Hestra yang sebelumnya terkapar di tanah akibat pukulan Bima, mulai bangkit kembali dan langsung melayangkan tatapan tajam pada Bima. Ia tidak mengatakan apapun. Pemuda itu lantas membunyikan kembali ruas tulang lehernya lalu menyeka ujung bibirnya yang terkena pukulan Bima. Ia mulai melangkahkan kakinya, berjalan ke arah Bima. Sorot matanya memancarkan aura mengerikan. Tangannya mulai terkepal kencang bersamaan dengan rahangnya yang mulai mengeras geram.
Bima tidak menunjukkan reaksi apapun. Ia masih menatap pemuda itu dengan datar. Setelah Hestra cukup dekat darinya, Bima ikut membunyikan ruas tulang lehernya dan mulai mengepalkan tangannya. Membuka kakinya selebar bahu lalu menarik sedikit kaki kanannya ke belakang dan sedikit menekuk lututnya untuk memasang kuda-kuda pertahanan. Ia lantas mengangkat kedua kepalan tangannya tepat di depan wajahnya. Kini Bima siap bertarung.
Dalam satu hentakan, Hestra melesat cepat ke arahnya dan dalam sekejap sudah ada di hadapan Bima, membuat Bima tersentak dan langsung menyilangkan kedua tangannya, membuat tameng untuk melindungi tubuhnya. Hestra kemudian melayangkan pukulan keras yang mengenai lengan Bima. Pukulannya cukup keras sampai menghasilkan daya dorong yang luar biasa. Kuda-kuda Bima tidak mampu menahan pukulan itu, ia bergeser cukup jauh dari tempatnya.
Bima menurunkan lengannya dan sedikit terkejut dengan kekuatan pukulan yang Hestra miliki. Sesaat kemudian, Bima mengiris merasakan sakit di lengannya. Rasa sakit itu tiba-tiba saja terasa. Ia lantas memandangi lengannya yang sudah bercucuran darah segar. Bima terbelalak heran. "Darah?" lirihnya. Ia memandangi darah itu lebih dekat. Matanya melebar saat melihat luka robekan di sana yang terus mengeluarkan darah. Bima segera menutup luka itu dengan tangannya untuk menghentikan aliran darah yang keluar. "Apa? Luka darimana ini?" ucapnya heran. Setahunya, pemuda di hadapannya tidak membawa apapun di tangannya, bagaimana mungkin dengan satu pukulan bisa membuat luka robekan di lengannya.
Arga yang melihat itu, lantas berteriak pada Bima, "Hati-Hati, Bim, ada duri di kepalan tangannya. Duri itu bisa merobek kulitmu dengan mudah!"
Bima menoleh cepat pada Arga, matanya kembali terangkat. "Apa? Kepalan tangannya berduri?" ujar Bima tak percaya. Ia mengalihkan pandangannya pada Hestra dan langsung memandangi kepalan tangannya, dan benar, ada duri di sana.
Hestra kembali melesat ke arahnya dan dalam sekejap mata sudah berada di hadapannya. Ia langsung melayangkan pukulan ke wajah Bima. Bima mencoba menghindar dan berlari menjauh darinya. Kembali melihat tangannya yang semakin banyak mengeluarkan darah segar. Luka robekan di lengannya cukup dalam, bahkan hampir membuat lengannya mati rasa. Dengan sekuat tenaga, Bima berusaha menahan rasa sakitnya. Bima mengeraskan rahangnya saat melihat Hestra kembali berjalan kearahnya. "Ar, siapa orang ini?!" teriak Bima.
"Dia ... Orang itu bernama Hestra, Bim!" balas Arga
"Hestra siapa?!" lontar Bima kembali dengan lantang.
"Dia dari Akademi Bachalpsee, sama seperti kita. Dia juga temanku," sahut Arga kembali.
Mendengar itu, Bima menoleh cepat ke arahnya karena terkejut. "Apa?! Orang itu temanmu?! Kau serius? Astaga! Yang benar saja, Ar! Pilihlah teman yang—"
WUSH!!
Hestra kembali melesat cepat dan tiba di hadapan Bima. Ia kembali menyerang Bima dengan pukulan bertubi-tubi. Bima mampu menghindari semua serangannya, tapi duri di tangannya membuat serangan Hestra lebih mematikan. Bima tidak bisa mengambil resiko untuk terus melakukan pertarungan jarak dekat dengannya. Dalam satu hembusan nafas, Bima melayangkan pukulan keras ke wajah Hestra, membuat pemuda itu terpental jauh ke belakang, berguling di tanah dan akhirnya membentur pohon.
Bima kembali menoleh pada Arga, "Hei, kau serius, orang itu temanmu?" tanya Bima lagi.
Arga menggaruk pipinya sembari tersenyum kaku. "Ah, I—Iya, dia temanku," sahutnya.
Bima memasang raut wajah tak percaya. "Astaga! Yang benar saja, Ar! Bagaimana bisa kau berteman dengan orang seperti itu? Dia hampir membunuhmu! Kau masih mengatakan dia temanmu, hah? Kau gila!"
"A—Aku tidak tahu. Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Bim. Awalnya tidak seperti ini," ujar Arga menjelaskan.
Bima mengernyitkan kening dan menatap heran. "Apa maksudmu?" lontarnya kembali.
"Dia bukan Hestra yang aku kenal. Tatapan mata dan tingkah lakunya berbeda. Itu bukan dia!" jelas Arga.
Bima mengangkat satu alis. "Berbeda bagaimana?"
"Begini, awalnya kami sepakat untuk bertarung dan menguji kemampuan kami masing-masing tanpa melukai satu sama lain, tapi saat pertarungan berlangsung, dia tiba-tiba saja berubah menjadi agresif dan semakin lama emosinya tak stabil. Tangannya tiba-tiba saja mengeluarkan duri tajam," terang Arga. "Aku juga sudah terkena pukulannya. Lihat ini!" ujar Arga menunjukan luka di lengannya.
Bima terbelalak tak percaya. "Tu—Tunggu dulu. Kau sepakat untuk bertarung dengannya?" lontar Bima lagi.
"Ah, iya. Saat aku merasa kelelahan tadi, aku memilih untuk beristirahat sejenak di sini dan tanpa sengaja bertemu dengannya. Kami mengobrol dan dia mengajakku untuk bertarung dengannya dengan syarat tak saling melukai satu sama lain," papar Arga membuat Bima terdiam.
"Kau melupakanku yang sudah menunggumu di atas sana dan memilih berbincang dengan orang itu? Astaga, Ar, tega sekali!" ujar Bima.
Arga tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya pelan. "Ah, maaf soal itu. Aku melupakanmu karena mengalami dehidrasi. Yang ada di pikiran hanya air minum yang segar," tuturnya. "Ah, begini saja, sebagai permohonan maafku, nanti aku belikan Teh Hijau, bagaimana?" tawar Arga mencoba merayu Bima.
Bima memutar malas kedua bola matanya seraya menghela nafas kasar. "Kau pikir aku murahan, hah?" tolak Bima dengan tegas. Tapi, dia hanya bercanda saja. Tidak mungkin dia marah hanya karena masalah sepele seperti itu. Dia mengerti keadaan Arga yang kelelahan dan mengharuskannya untuk beristirahat sejenak. Lalu tanpa sengaja, dia harus terlibat dalam pertarungan berbahaya dengan Hestra.
Raut wajah Bima kembali berubah tanpa ekspresi. "Tapi, aku merasa perubahan yang terjadi pada tubuh orang itu ada hubungannya dengan pencuri yang kita temui saat di kota, Ar. Bagaimana denganmu? Kau juga berpikir seperti itu?" lontar Bima serius.
Arga terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali kejadian dulu. "Ah, benar juga. Mungkin saja ini ada hubungannya dengan pencuri itu. Apa jangan-jangan, Hestra juga Ras— Awas!" pekik Arga tiba-tiba saat Hestra kembali melesat ke arah Bima.
Hestra kembali melesat ke arahnya dan langsung melayangkan pukulannya kembali. Gerakannya lebih cepat dari sebelumnya. Bima berhasil menghindari serangannya, tapi Hestra tidak membiarkannya lolos. Hestra kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi. Bima melompat ke belakang, membuat jarak darinya. "Sepertinya tidak cara lain. Mau tidak mau, aku harus melumpuhkan orang itu dengan segala cara!" gumam Bima. Ia melihat duri di lengan Hestra sesaat lalu kembali menghela nafas. "Tapi, duri di tangannya sangat mematikan, ditambah gerakan orang itu sangat cepat. Aku tidak bisa bertindak gegabah. Orang itu sama berbahayanya dengan pencuri waktu itu," batin Bima merasa ragu.
Hestra masih terpaku pada Bima, ia kembali melesat ke arahnya. Bima tidak bisa terus-terusan menghindar darinya. Dia harus segera melumpuhkan Hestra bagaimana pun caranya. Bima pun memutuskan untuk melakukan pertarungan jarak dekat dengan Hestra sembari mencari titik lemahnya. Ia melesat ke arah Hestra yang juga tengah bergerak ke arahnya dan akhirnya terjadilah adu serang di antara mereka.
Pertarungan itu sengit dan rapat. Gerakan mereka sangat cepat, bahkan dalam hitungan detik, keduanya sudah berpindah ke beberapa tempat. Beberapa kali Bima mencoba menyerang titik vital Hestra, ulu hati, dagu, pelipis, dan tulang hidungnya, tapi Hestra menggunakan duri di tangannya sebagai tameng untuk melindungi tubuhnya. Hestra kembali melayang pukulan bertubi-tubi, membuat Bima tidak punya pilihan lain, ia terpaksa melompat ke belakang untuk kembali membuat jarak darinya. Sangat berbahaya jika terus-menerus melakukan pertarungan jarak dekat dengannya. Lengah sedikit saja, akan ada luka lain di tubuh Bima.
Bima mengatur ritme nafasnya yang tidak stabil. "Gerakannya cepat sekali. Aku tidak akan bisa melumpuhkannya jika duri itu masih ada di tangannya. Tapi, bagaimana caranya? Jika aku adukan pukulan tangan dengannya pun, sudah pasti tanganku yang akan terluka," ujar Bima mencoba memikirkan cara untuk melumpuhkan Hestra.
"Bim! Sepertinya aku tahu kelemahannya!" teriak Arga dari tempatnya, membuat Bima menoleh cepat ke arahnya. "Duri di tangannya! Itu senjata utamanya. Kunci dan jangan biarkan dia menggunakan itu!" seru Arga memberi saran pada Bima.
Bima berpikir sejenak. "Tangannya?" gumamnya. Matanya kembali berpendar ke segala arah. Tiba-tiba matanya terangkat naik dan sinar matanya berubah. Kini, ia tahu apa yang harus dia lakukan. Dia menghela nafas dalam lalu berlari cepat ke arah Hestra. Hestra yang melihat itu langsung melayangkan pukulan yang sama. Bima tidak membuat gerakan sedikit pun. Matanya hanya menatap datar mata Hestra. Ia terlihat akan membiarkan pukulan Hestra mengenai wajahnya, saat keduanya hanya berjarak beberapa kaki, Hestra langsung menghujamkan pukulannya ke wajah Bima.
CRATT!!
Darah segar menyembur mengenai wajah keduanya. Arga membelalakan mata menyaksikan darah segar menyembur deras dari lengan temannya. Bima menangkap pukulan berduri Hestra dengan kepalan tangannya sampai duri dari tangan Hestra menembus telapak tangannya. Bima mengeraskan rahangnya, mencoba menahan rasa sakit di tangannya. Tidak ada waktu untuknya meringis kesakitan.
Hestra berusaha menarik lengannya tapi Bima mencengkramnya dengan kuat. Hestra kemudian melayangkan pukulan menggunakan lengan satunya yang bebas. Bima yang sudah menduga hal itu langsung menepis pergelangan tangannya dan langsung melayangkan pukulan keras tepat mengenai ulu hati Hestra, membuat darah segar menyembur dari mulutnya.
Tidak sampai di situ, Bima kembali melayangkan pukulan keras menghujam ke atas, tepat mengenai dagu Hestra, membuat pemuda mendongak ke atas dengan mata terbelalak, pukulan itu membuatnya tidak sadarkan diri sesaat dan membuatnya tubuhnya lemas seketika. Bima tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera melepaskan cengkramannya dan melayangkan tendangan keras tepat mengenai leher Hestra, membuat pemuda itu kembali terpental jauh ke samping, berguling-guling di tanah dan akhirnya membentur pohon dengan kuat sampai meninggalkan bekas di batangnya. Ia terkapar di tanah, meringis kesakitan sambil memegangi ulu hatinya.
Bima tertunduk lemas sambil memegangi lengannya yang terluka parah. Bima terduduk di tanah bertumpu pada satu lututnya. Ia memandangi Hestra di depan sana yang terdengar merintih menahan sakit.
Arga mencoba untuk bangkit dan melangkah menghampiri Bima, "Kau tidak apa-apa, Bim?" lontarnya.
Bima menatapnya dengan malas. "Kau masih tanya keadaanku, Ar?" balas Bima yang membuat Arga terkekeh.
Arga mengulurkan lengannya untuk membantu Bima berdiri. "Kau masih bisa berjalan, Bim?" tanya Arga.
"Hei, aku ini kuat! Luka seperti ini tidak akan membuatku lumpuh," sahut Bima.
Arga terkekeh. "Yasudah kalau begitu. Ayo kita hampiri dia," ujar Arga menunjuk Hestra dengan dagunya.
Mereka berdua melangkah mendekati Hestra. Keduanya memandangi Hestra yang masih terkapar di tanah. Tidak terdengar lagi rintihan darinya.
"Ayo bangunkan dia!" ajak Arga pada Bima. Akhirnya mereka berdua mencoba mendudukkan tubuh Hestra dan menyandarkannya pada pohon terdekat yang menyisakan bekas benturan tubuh Hestra.
Setelah beberapa saat, Hestra mulai membuka matanya dan langsung memegangi ulu hatinya. "Agh! Sakit sekali ...," rintihnya.
Lalu secara ajaib, duri di lengan Hestra perlahan mulai menelusup masuk ke dalam kulitnya dan hanya menyisakan luka kecil di sana, membuat Bima dan Arga menatap satu sama lain dengan heran.
Hestra yang masih memegangi ulu hatinya lantas mengangkat pandangannya dan melihat dua pemuda tengah menatapnya. "A—Apa yang sudah terjadi?" tanyanya lirih.
Mendengar itu, Arga dan Bima kembali menatap satu sama lain dengan bingung. "Dia tidak ingat apapun?" lontar Arga.
Bima menggidigkan bahunya. "Entahlah. Coba tanya dia!" sahutnya.
Arga menyentuh lengan Hestra. "Kau tidak ingat apapun?" tanya pemuda itu.
Hestra menggelengkan kepalanya pelan, membuat Arga kembali menatap Bima. "Kenapa kau melihatku? Tanya dia lagi!" sosor Bima membuat Arga kembali melihat Hestra.
"Apa kau bisa mengingat sedikit saja kejadian sebelumnya?" lontar Arga lagi. Jawabannya Hestra masih sama, ia menggelengkan kepalanya.
"Pertarungan tadi? Apa kau mengingatnya?" tanya Arga lagi masih penasaran.
Hestra termenung sesaat. "Sepertinya aku mulai mengingatnya, tadi— Agh!" Hestra langsung memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"He—Hei, kau kenapa?" tanya Arga cemas.
"Tidak—Tidak, aku tidak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit sakit." Hestra kembali termenung. "Aku hanya mengingat pertarungan denganmu, Ar. Saat aku terkena pukulanmu, tiba-tiba aku hanya melihat kegelapan saja. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi," terang Hestra dengan lirih.
Hestra terbelalak saat melihat darah segar terus mengucur dari lengan Bima." Hei, lenganmu berdarah!" ujar Hestra seraya menunjuk lengan Bima.
Bima segera menyembunyikan lengannya ke samping tubuhnya. "Ini bukan apa-apa, hanya luka kecil. Sebaiknya kau lebih memperdulikan keadaanmu," balas Bima datar.
Hestra menatap keduanya bergantian dengan bingung. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi?!" tanya pemuda itu dengan raut wajah bingung.
Arga menyentuh bahu Hestra seraya menghela nafas. "Kau lepas kendali dan menyerang kami."