Beberapa Hari yang Lalu
Setelah perbincangan dengan Nix beberapa hari yang lalu, Dion kembali mengajak Nix untuk bertemu di tempat dan waktu yang sama seperti sebelumnya. Dia ingin kembali membicarakan tentang Ras Valosa. Rasa penasarannya semakin menjadi tatkala Nix mengatakan bahwa Dion adalah Ras Valosa.
Setelah menunggu beberapa saat, Nix akhirnya datang menemui Dion. Ia menyilangkan kedua lengannya dan menatap Dion dengan datar. "Ada apa? Kau masih belum puas dengan pertanyaanmu minggu lalu?" tanya Nix memecah keheningan.
Dion yang semula bersandar pada dinding lantas menegakkan tubuhnya. "Kau bilang waktu itu, aku juga Ras Valosa, bukan?" balas Dion.
"Iya, lalu?" sahut pria di hadapannya.
Dion mengangkat tangannya yang sudah terkepal lantas menatapnya sesaat. "Lalu, mengapa aku belum bisa merasakan kekuatanku sepertimu? Jangankan untuk membangkitkan kekuatanku, merubah warna mataku saja aku tidak tahu caranya," ujar Dion. Ia menatap Nix dengan serius. "Katakan padaku, bagaimana cara membangkitkan kekuatan itu! Aku ingin segera mendapatkan kekuatanku untuk menghajar seseorang," ungkap Dion kembali mengangkat kepalan tangannya.
Nix tersenyum miring. "Kau ingin menggunakan kekuatanmu hanya untuk mengalahkan anak itu? Pikiranmu dangkal sekali!" lontar Nix yang membuat Dion tersulut emosi.
"Apa maksudmu, Sialan?" sosor Dion yang mulai naik pitam.
Nix menempelkan jari telunjuknya pada kening Dion. "Kau tidak akan bisa mengalahkan anak itu bagaimana pun caranya!" cibir Nix. "Tidak akan pernah, berhentilah melakukan hal yang sia-sia," sambungnya lagi.
Dion langsung menepis tangan Nix dari keningnya. "Apa?! Kenapa kau berbicara seperti itu?" seru Dion lantang tidak menerima ucapan Nix.
Nix menghela nafas kasar. "Dengarkan aku, Bocah! Seberapa hebat pun kekuatan yang ada dalam dirimu, kemampuan anak itu berada jauh di atasmu. Dia adalah KLAN HARIMAU," ucap Nix dengan penekanan. Ia lantas memalingkan pandangannya, menatap lurus ke depan. "Satu-satunya cara agar kau bisa mengalahkannya, yaitu kau juga harus berasal dari Klan Harimau. Tapi, lupakan saja, itu tidak mungkin terjadi. Dari sorot matamu saja aku sudah bisa menebak kemampuanmu. Dan dapat kusimpulkan, kau hanyalah anak lemah yang banyak gaya!" cemooh Nix.
Dion semakin naik pitam, ia menggertakkan giginya geram. "Apa yang kau katakan, Sialan? Kau bilang aku lemah, hah?" Dion langsung melayangkan pukulan keras ke wajah Nix, tapi pria itu dapat menghindarinya dengan sangat mudah.
Nix lantas senyum menyeringai. "Lihat, kan? Kau bahkan tidak bisa memukul pria tua sepertiku. Pukulanmu itu sangat lambat, kau harus tahu itu!" ejek Nix lagi.
Dion mendengus kesal. "Cepat katakan saja! Bagaimana cara membangkitkan kekuatan Valosa?" desak Dion pada Nix.
Nix kembali tersenyum miring dan menatap remeh pada Dion. "Untuk apa aku memberitahumu hal itu? Tidak ada untungnya bagiku," balas Nix dengan santai.
Dion semakin geram. Ia lantas mencengkram kerah baju Nix yang membuat pria itu mendengus remeh. "Jika kau tidak mau memberitahuku, aku akan menghajarmu, Sialan!" gertak Dion sembari menarik kerah bajunya, mendekatkan wajah mereka dan menatapnya penuh amarah.
Nix menyeringai menikmati ekspresi Dion yang terlihat sangat marah, sinar matanya berniat membunuh. "Coba saja, Bocah!" tantang Nix dengan tenangnya. Sesaat kemudian, bola matanya berubah warna dan taring runcing mulai menyembul dari mulutnya.
Mata Dion melebar dan langsung gelagapan. Ia menelan ludahnya seraya melepaskan cengkramannya dari kerah baju Nix. Sinar di matanya mulai pudar dan hanya terlihat rasa takut di wajahnya. Nyalinya hanya sebatas ancaman saja. "Ah, sepertinya pertarungan tidak akan menyelesaikan apapun," ujar Dion beralibi. "Lebih baik kita bicarakan ini dengan tenang dan dengan kepala dingin. Bagaimana?" tawar Dion. Sikapnya langsung berubah drastis dari sebelumnya. Dia yang berapi-api sebelumnya, sekarang bersikap seperti bocah culun yang cinta kedamaian.
Sesaat kemudian, wajah Nix kembali normal, membuat Dion sedikit bernafas lega. Jujur saja, ia tidak mengira sosok Nix akan terlihat sangat menakutkan jika dilihat dari dekat. Nix menyilangkan lengannya seraya berhembus kasar. "Tidak. Aku tidak mau!" tolak Nix tanpa banyak berpikir. "Aku tidak akan melakukan sesuatu jika hal itu tidak ada untungnya untukku. Lagipula, apa yang akan kau berikan padaku jika aku memberitahumu hal itu?" tanya Nix.
Dion berpikir sejenak. "A-Aku akan membayarmu, ya, aku akan membayarmu. Aku akan memberikan uang sebanyak yang kau mau. Bagaimana, sekarang kau tertarik?" lontar Dion sembari tersenyum miring.
Raut wajah Dion yang terlihat memandangnya rendah lantas membuat Nix hilang kesabaran. Ia langsung mencekik Dion lalu mendorongnya ke tembok, membuat ia terkunci di sana. Nix perlahan mengangkat tubuh Dion, membuat pemuda itu gelagapan seraya membuka mulutnya lebar-lebar. Nafasnya tercekat, ia terlihat seperti seekor ikan yang kehabisan nafas. "Benarkah yang kau katakan itu, Bocah? Kau akan membayar berapa pun yang aku minta?" tanya Nix sekali lagi.
Dengan napas tercekat, Dion mencoba berbicara dengan susah payah, "I-Iya, a-aku akan membayarmu. Aku janji! Se-Sekarang lepaskan tanganmu! Aku tidak bisa bernafas," pinta Dion dengan wajah yang perlahan memerah. Kakinya mulai meronta-ronta karena kehabisan nafas.
Nix melepaskan cengkramannya, membuat Dion ambruk dan terduduk lemah di lantai. Pemuda itu terbatuk hebat seraya memegangi lehernya. "Kau gila, hah? Apa kau berniat membunuhku, Sialan?" bentak Dion yang hampir saja mati kehabisan nafas.
Nix melirik tajam. "Dengar, Bocah! Aku bisa saja membunuh saat ini juga kalau aku mau. Jika saja kau bukan dari keluarga elit, tubuhmu sudah jadi bangkai sekarang. Kau harus bersyukur karena dilahirkan dari keluarga penguasa. Jika saja takdirmu berbeda, tubuhmu mungkin sudah menjadi tulang-belulang saat ini karena sudah lama kubunuh," berondong Nix yang membuat tubuh Dion gemetar hebat.
Dion menelan ludahnya saat mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Nix. "Ba-Baiklah, apa kita bisa membicarakannya sekarang?" lontar Dion gugup. Ia sebenarnya tidak memiliki cukup keberanian saat ini. Tapi, karena Nix mengatakan tentang keluarganya, ia merasa sedikit lega karena Nix tidak berani melukainya.
Nix menyilangkan kedua lengannya seraya berhembus kasar. "Dengarkan penjelasan ku dengan benar! Jangan pernah memotong perkataan ku! Jika kau melakukan itu, aku akan mengoyak lehermu dan membuang bangkai mu di hutan," gertak Nix yang membuat keringat dingin mengucur dari pelipis Dion.
Dengan lidah kaku, Dion mencoba berbicara, "Ba-Baiklah, berhentilah berbicara omong kosong," balasnya yang seakan-akan masih memiliki keberanian.
Nix mendengus remeh mendengar ucapan Dion. "Untuk membangkitkan kekuatan Valosa, sebenarnya kau tidak perlu bersusah payah. Kau hanya harus melatih tubuhmu terus-menerus hingga semakin kuat. Kekuatan itu membutuhkan wadah yang layak untuk tempat tinggalnya. Jika tubuhmu sudah layak untuk menampung kekuatan itu, dia akan keluar dengan sendirinya tanpa kau minta," papar Nix yang dibalas anggukan berkali-kali oleh Dion. "Tapi, jika kau ingin segera membangkitkan kekuatan Valosa-mu, ada satu cara yang aku tahu, yaitu TEMUKAN KEKUATAN ITU DI DALAM TUBUHMU!" jelas Nix dengan lantang di akhir kalimat.
Dion mengernyitkan dahi karena kurang mengerti. "Temukan kekuatanku? Maksudmu?" lontarnya.
Nix menghela nafas kasar, merasa penjelasan panjang lebarnya tidak berguna pada bocah yang ada di hadapannya saat ini. "Kekuatan itu bersemayam dalam tubuhmu, Bocah! Yang harus kau lakukan adalah membangunkannya! Kau ingin kekuatan itu segera muncul, bukan? Maka, bangunkan kekuatan itu!" ujar Nix.
Dion mengangguk paham dengan penjelasan Nix kali ini, tapi satu lagi yang dia ingin tahu, "Bagaimana caranya membangunkan kekuatan itu?" sambungnya bertanya.
"Berlatih bermeditasi! Kau harus bisa masuk ke dalam alam bawah sadar mu sendiri. Tapi, itu hanya dapat dilalukan dalam keadaan tenang. Sebelum kau mulai bermeditasi, carilah tempat yang sunyi dan tenang. Setelah itu, duduk bersila dan atur nafas mu dalam ritme yang stabil. Kosongkan pikiranmu, jangan membayangkan apapun dalam kepalamu. Saat kau hanya melihat kegelapan, bertahan di sana sampai menemukan titik terang. Itu adalah pikiran jernih mu, masuk ke sana dan cari kekuatanmu. Jika kau beruntung, kau bisa berbicara langsung dengan kekuatanmu sendiri. Setelah itu, kau akan merasakan energi luar biasa mengalir di dalam tubuhmu. Setelah itu, kau sudah bisa membuka matamu. Rasakan kekuatan itu dan cobalah menggunakannya dalam pertarungan!" papar Nix dengan sangat rinci, membuat Dion menganga takjub mendengarkan setiap penjelasan yang Nix sampaikan.
Dion menutup mulutnya yang terasa kering karena terlalu lama terbuka "Itu saja? Kedengarannya tidak terlalu sulit, sepertinya aku bisa melakukannya. Baiklah, aku akan mencobanya malam nanti," balas Dion dengan yakin. Setelah mendengar penjelasan dari Nix, Dion semakin penasaran dan ingin segera mencoba membangunkan kekuatannya dengan cara bermeditasi seperti yang Nix katakan.
"Tapi, ingatlah satu hal! Jika kekuatan itu sudah bangun, kau harus bisa mengendalikan sepenuhnya. Jangan biarkan kekuatan itu lebih kuat dari alam bawah sadar mu," ujar Nix kembali membuat perhatian Dion tertuju padanya.
"A-Apa yang akan terjadi jika aku tidak bisa mengendalikan kekuatan itu?" lontar Dion. Entah mengapa, Dion menjadi ragu setelah mendengar itu.
"Kekuatan itu akan mengambil alih tubuhmu dan kau akan terjebak di alam bawah sadar mu sampai kekuatan itu kembali tertidur," balas Nix.
Dion menelan ludahnya. Ternyata membangun 'kan kekuatan itu tidak semudah yang dia pikir. Ada resiko yang harus Dion terima jika ternyata ia tidak bisa mengendalikan kekuatannya.
"Bagaimana? Kau yakin ingin membangunkan kekuatanmu?" tanya Nix dengan senyum miringnya melihat raut wajah Dion yang terlihat gugup.
Dion menelan ludahnya. "Untuk menjadi kuat, aku harus menerima apapun risikonya. Aku tidak akan mundur begitu saja, aku akan mengalahkan kekuatanku sendiri dan mengendalikannya," ujar Dion dengan tatapan serius.
***
Ucapan Arga membuat matanya terbelalak tak berkedip. Ia tidak menyangka luka di tangan Bima disebabkan oleh dirinya. "A-Aku lepas kendali? Ba-Bagaimana mungkin?" ujar Hestra masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Lukaku ini bukan apa-apa. Sebaiknya kau lebih memikirkan keadaanmu sendiri," ucap Bima datar. Dia sebenarnya tidak terlalu memperdulikan luka di tangannya karena itu akan sembuh dengan sendirinya, namun ada yang terus menggelayut dalam pikirannya, darimana Hestra mendapat kekuatan itu?
Hestra menundukkan kepalanya." Aku sungguh minta maaf karena sudah membuatmu terluka," Hestra mengangkat kepalanya lalu menatap Arga. "Aku juga minta maaf padamu, Ar. Aku tidak tahu akan berakhir seperti ini," tuturnya terdengar menyesal. Matanya tak sengaja melihat luka di lengan Arga, dia seketika tahu luka itu pasti karena ulahnya. Ia kembali menunduk lalu menggeleng lesu. "Seharusnya aku tidak mengajakmu bertarung, Ar," sambungnya lagi.
"He-Hei, sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan! Kami berdua baik-baik saja. Justru aku lebih khawatir pada keadaanmu," tutur Arga mencoba menenangkan Hestra.
Hestra kembali mengangkat pandangannya, menatap Arga. "Bagaimana itu terjadi? Kau bisa menceritakannya kepadaku?" pinta Hestra. Ia sama sekali tidak mengingat awal mula dirinya lepas kendali. Bahkan, ia tidak mengingat pertarungannya dengan dua pemuda di hadapannya.
"Ah, itu ... tiba-tiba saja terjadi. Saat kau terkena pukulan ku, aku melihat sorot matamu berubah," tutur Arga membuat Hestra terbelalak tak percaya. "Setelah itu, kau menyerang 'ku dengan membabi buta. Kau terus menyerang' ku dan tatapan mu seperti berniat membunuhku," sambung Arga.
"Ti-Tidak mungkin," sahut Hestra membuat Arga merapatkan bibirnya. Sepertinya ia terlalu jujur. Harusnya ia tidak bercerita terlalu banyak, atau paling tidak dia bisa memperhalus bahasanya dan menghilangkan kata "membunuh" di sana.
Suasana mulai hening, hanya terdengar suara dedaunan yang diterpa angin. Tidak ada pembicaraan diantara mereka untuk beberapa saat sampai ucapan Bima memecah keheningan, "Hei, kau!" panggilnya membuat Hestra melihat kearahnya. "Darimana kau dapat kekuatan itu?" lanjutnya bertanya.
Hestra menggeleng. "Aku sungguh tidak tahu. Aku tidak pernah tahu tubuhku memiliki kekuatan ini," balas Hestra membuat Arga dan Bima mengernyitkan keningnya.
Arga menoleh pada Bima. "Hei, Bim!" panggilnya membuat Bima menoleh. "Kau ingat kejadian di kota saat kita bertemu dengan pencuri itu?" lontarnya.
"Ya," balas Bima.
Arga memalingkan pandangannya pada Hestra. "Sepertinya hal yang terjadi pada tubuh Hestra serupa dengan pencuri itu," ucapnya.
Bima terdiam sejenak, memandangi luka di lengan Hestra. "Ya, aku juga berfikir seperti itu," balas Bima. "Tapi, ada yang berbeda," sambungnya membuat Arga mengerutkan kening. "Saat pencuri itu berubah menjadi sosok yang menyeramkan, dia masih memiliki kesadaran dan dapat menganalisa keadaan, sedangkan dia tidak berpikir apapun dan menyerang dengan membabi buta. Setelah itu, ia tidak ingat apapun. Hal itulah yang membedakannya, tapi kenapa seperti itu?" jelas Bima masih belum menemukan kesimpulan dari kejadian yang baru saja terjadi.
Arga kembali menoleh pada Hestra. "Kau ... sama sekali tidak mengetahui tentang kekuatanmu, Hestra?" tanyanya.
Hestra kembali menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak mengetahui apapun tentang kekuatan ini," balasnya. Ia diam sejenak, sorot matanya terlihat sedang mencoba mengingat sesuatu. "Tapi, beberapa hari yang lalu, aku mengalami sesuatu yang cukup aneh," sambungnya membuat perhatian kedua pemuda di hadapannya tertuju padanya.
"Saat itu, aku sedang bersantai di suatu tempat, duduk sambil bersandar pada sebuah pohon besar. Aku mencoba melatih pernafasan 'ku di sana, karena terlalu fokus, aku tidak sengaja masuk ke dalam pikiranku, itu semacam ruangan besar tak terbatas. Lalu, aku mendengar suara seseorang di sana, suara itu sangat jelas dan aku tahu itu bukan khayalanku," tutur Hestra.
"Bisa kau jelaskan seperti apa suaranya?" tanya Arga penasaran.
"Aku tidak bisa mengingatnya, suara itu terdengar aneh dan asing. Aku juga tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Setelah suara itu menghilang, aku pun kembali membuka mataku," balas Hestra.
Mereka kembali hening. Kejadian itu semakin membingungkan. Mereka sama sekali tidak menemukan titik terang dan masih belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Hestra memandangi luka di lengannya yang mulai pulih dengan sendirinya. Ia kemudian menatap Arga. "Saat aku lepas kendali, apa kau yang membuatku tersadar, Ar? tanya Hestra.
"Ah, bukan aku. Yang membuatmu tersadar adalah Bima," balas Arga seraya memegang bahu Bima. "Dia yang sudah menyelamatkan kau dan aku. Bima bertarung-"
"Sudahlah, jangan berlebihan!" sela Bima membuat Arga terkekeh.
Hestra mengalihkan pandangan pada Bima. "Jadi kau yang bernama Bima? Terima kasih karena telah membuatku tersadar," ucap Hestra seraya tersenyum.
"Sudahlah, itu bukan apa-apa," balas Bima dingin. Dia tidak ingin seseorang bersikap terlalu berlebihan saat berterima kasih padanya ataupun saat memujinya. Ia tidak terlalu suka itu karena bisa membuatnya besar kepala dan merasa lebih baik dari siapapun.
"Sekarang aku sudah tahu kenapa Arga menjadi kuat dengan sangat cepat, ternyata kau penyebabnya. Yah ... itu wajar saja, mengingat kau melatihnya dengan kemampuan yang kau miliki," puji Hestra.
"Tidak juga. Itu semua murni dari usaha dan kemauan Arga sendiri," balas Bima seraya memegang bahu Arga. "Aku hanya mengarahkannya saja," lanjut Bima lagi dengan datar membuat Arga tersenyum canggung.
"Ah, sudahlah! Aku belum sehebat itu. Aku harus lebih banyak belajar dan berlatih lagi!" terang Arga membuat Hestra tersenyum, merasa takjub pada pertemanan mereka.
Tiba-tiba, Hestra merasakan sakit yang luar biasa tepat di ulu hatinya. Ia langsung meringis seraya memegangi perutnya. "Agh! Perutku terasa melilit," rintihnya.
"Itu masih terasa sakit, Hes?" lontar Arga.
"Tidak-Tidak, ini hanya sedikit perih. Aku rasa akan sembuh dengan Buang Air Besar," kelakar Hestra lalu terkekeh.
Bima mengulurkan lengannya, membuat Hestra melihat kearahnya. "Maaf, sepertinya aku memukulmu terlalu keras," tutur Bima.
Hestra tersenyum lalu meraih lengan Bima, "Tidak apa, Kawan. Itu memang harus dilakukan. Jika kau tidak memukulku, entah apa yang terjadi padaku saat ini," balas Hestra.
Bima mengangguk sesaat lalu menarik lengan Hestra untuk bangkit. Hestra sedikit tergopoh-gopoh, membuat Bima menahan tubuhnya. "Kau yakin bisa berdiri?" tanya Bima.
"Hei, aku ini tidak selemah yang kau kira, Kawan. Aku bahkan masih bisa berlari-Agh!" Hestra kembali meringis kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Hm ... terdengar meragukan," celetuk Arga membuat Hestra terkekeh.
Hestra mencoba menegakkan tubuhnya perlahan. "Lihat, 'kan? Aku masih bisa berdiri," ujar Hestra.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Bima seraya menyilangkan kedua lengannya.
"Sepertinya aku akan kembali ke rumahku. Aku akan memulihkan lukaku dulu. Jika ada kesempatan, mari bertemu lagi," jawab Hestra yang dibalas anggukan oleh kedua pemuda di hadapannya. "Baiklah, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi," pungkas Hestra mengakhiri pertemuan mereka.
Hestra pun melangkah kakinya pergi dari sana sambil memegangi perutnya. Ada sedikit rasa bersalah di hati Bima saat melihat pemuda itu kesakitan, tapi dia tidak punya pilihan lain. Mau tidak mau dia harus melakukan itu.
Berkali-kali Bima menghela nafas kasar, mencoba menghilangkan rasa sesal di hatinya karena telah melukai pemuda bernama Hestra itu. Bima tahu Hestra adalah pemuda berhati baik.
Saat jarak mereka sudah cukup jauh, Arga berteriak seraya melambaikan tangan, "Hei, berhati-hatilah!"
Hestra yang mendengar itu lantas menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat mereka berdua, ia terlihat tersenyum seraya membalas lambaian tangan dari Arga. "Ya!" teriaknya. Setelah beberapa saat, ia masih diam di sana. "Hei, Bima!" serunya dari sana membuat Bima menarik sedikit bibirnya. "Lain kali, aku ingin bertarung denganmu!" sambungnya dengan lantang. Setelah mengetakan itu, Hestra kembali melangkah pergi dari sana sampai bayangan tubuhnya tak terlihat lagi.
Bima yang sedari tadi memandangi kepergian Hestra sedikit terkejut saat Arga menyentuh bahunya. "Tadi hampir saja ya, Bim," ujarnya membuat Bima mengerutkan kening.
"Hampir saja apa?" lontarnya.
"Hampir saja kita celaka," balas Arga.
"Ya, itu hampir saja."
Arga menoleh pada Bima, "Lalu, setelah ini apa yang harus kita lakukan? Apa kita lanjutkan perlombaan kita," tanya Arga.
"Kau saja sendiri! Aku sudah berlari sampai ke atas sana. Sekarang giliranmu! sosor Bima terdengar kesal kemudian pergi dari sana.
"He—Hei, kau mau kemana, Bim?" teriak Arga berlari menyusul Bima.
"Aku akan pulang. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan nenekku," balas Bima.
Mereka berdua pun melangkah pergi dari sana, berjalan ke arah sebaliknya dari Hestra.
Sementara itu, di tengah perjalanannya, Hestra tersenyum mengingat kejadian sebelumnya."Bima, ya? Dia sangat rendah hati meskipun kemampuannya sangat hebat, berbeda dengan pemuda yang bertingkah jagoan padahal kemampuannya tidak seberapa," gumamnya.
Tiba-tiba, ulu hatinya kembali terasa sakit. "Agh! Ulu hatiku!" rintihnya seraya menekan perutnya agar rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Rasa sakit ini hampir sama dengan rasa sakit di tanganku waktu itu. Saat itu, aku sedang bersama perempuan aneh. Eh! Kenapa aku tiba-tiba teringat perempuan itu ya? Aneh sekali," gerutu Hestra.
***
Sementara itu, di suatu tempat yang cukup jauh dari tempat Hestra berada, seorang perempuan berkulit putih terlihat sedang berlatih tendangan pada sebuah pohon besar. Tendangan demi tendangan yang dia lancarkan pada pohon itu, membuat kulit luarnya mengelupas dan hanya menyisakan daging dalamnya saja. Hal yang sama terlihat pada pohon yang ada di sekitarnya. Penampakan semua pohon itu terlihat sama, kulit luarnya sudah mengelupas dan hanya terlihat bagian dalamnya saja yang mulai menghitam seiring waktu. Perempuan bernama Adisty itu hampir setiap hari melatih tendangannya pada sebatang pohon sampai kulit kerasnya mengelupas.
Keringat bening mulai membasahi tubuhnya. Karena merasa kehausan, ia pun memilih untuk beristirahat sejenak. Meneguk air minum dan mengatur ritme nafasnya.
Setelah selesai latihan, Adisty pergi menemui gurunya, Master Yen. Dia adalah seorang pria berkulit putih dan berperawakan sederhana. Bibirnya selalu mengembangkan senyuman dan tubuhnya selalu terlihat lemas tak bertenaga. Meskipun begitu, Master Yen memiliki kemampuan yang tidak terduga, itulah sebabnya ia dipanggil "Master".
Adisty mengedarkan pandanganya, mencari keberadaan Master Yen. Tapi, ia tidak menemukannya dimana pun. Setelah berkeliling beberapa saat, Adisty melihatnya tengah duduk bersila di atas batu besar dengan mata terpejam. Disty menghela napas kasar. "Rupanya dia di sini. Huh ... Bikin kesal saja!" gumam Disty geram.
"Hei, Pak Tua! Mau makan apa hari ini!" teriak Disty yang membuat Master Yen terperanjat kaget sampai jatuh tersungkur bawah.
"Aw!" rintih Master Yen sambil mengusap bokongnya. "Kau tidak bisa berteriak pelan, Anak Muda!" bentak Master Yen pada Adisty.
Disty terkekeh. "Yang namanya berteriak itu pasti keras, Pak Tua!" balasnya membuat Master Yen berpikir sejenak.
"Ah, kau benar juga," sahut Master Yen tersenyum kikuk.
"Hari ini Master mau makan apa?" tanya Adisty.
Dalam satu hentakan, Master Yen melompat dan dalam seketika sudah berdiri tegak. "Sepertinya Kambing Panggang enak juga," tuturnya.
"Daging kambing harganya mahal, aku tidak punya cukup uang. Bagaimana kalau daging rusa atau babi hutan?" tawar Adisty memberi pilihan lain.
Master Yen berpikir sejenak. "Hm ... sepertinya daging rusa boleh juga. Tapi, dimana kau akan membelinya? Setahuku daging rusa tidak dijual di pasar," lontar Master Yen.
Disty terkekeh. "Aku akan memburunya. Saat sedang latihan tadi, aku melihat seekor rusa dan babi hutan berkeliaran di sekitar sana," balas Adisty.
Master Yen memasang tatapan ragu. "Kau yakin bisa menangkapnya? Aku sedikit ragu," ujarnya yang membuat Adisty sedikit tersinggung.
"Apa maksudmu, Pak Tua? Kau pikir kemampuanku tidak cukup hebat untuk menangkap seekor rusa, hah?" berondong Adisty yang membuat Master Yen menciut.
"Bu-Bukan begitu, maksudku aku ragu hewan itu bisa melarikan diri darimu, kau 'kan sangat berburu," ujar Master Yen beralibi.
Adisty mengangguk polos mempercayai alibi gurunya. "Oh, begitu rupanya. Yasudah, kalau begitu, aku akan pergi untuk memburu rusa dulu," ucap Adisty.
"Baiklah, berhati-hatilah, Disty," balas Master Yen.
Adisty membalikkan tubuhnya lagi sebelum melangkah. "Tapi, sebelum aku pergi, aku ingin bertanya satu hal padamu, kapan kau akan menjawab pertanyaan ku, Master?" lontar Adisty membuat Master Yen mengernyitkan kening.
"Pertanyaan? Pertanyaan apa?" balas Master Yen bingung.
"Pertanyaan ku waktu itu, aku ingin kau menjawabnya sekarang!" ujar Disty.
"Baiklah, apa pertanyaanmu?" balas Master Yen.
"Kenapa aku harus terus mengawasi anak bernama Bima itu?"