Kenapa aku harus mengawasi anak bernama "Bima" itu? Memangnya siapa dia?" lontar Disty pada pria di hadapannya.
Dia adalah Master Yen, guru dan juga orang tua bagi Adisty. Dia yang sudah membesarkan Adisty sejak masih bayi sampai menjadi seorang gadis. Master Yen dan Adisty hidup di sebuah rumah kecil di tengah hutan. Tempat tinggal mereka yang jauh dari keramaian membuat mereka hidup dengan tenang. Master Yen pula yang telah menyuruh Adisty untuk pergi ke suatu desa di Wilayah Timur dengan tujuan untuk mengawasi seorang pemuda bernama Bima.
Master Yen menyentuh dagunya dan mencoba mengingat. "Bima? Sebentar, biar aku ingat-ingat dulu," ujarnya membuat Adisty memasang tatapan malas. "Ah benar, Bima! Aku ingat anak itu! Aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi, sebelum itu, aku ingin bertanya satu hal padamu."
"Apa yang ingin kau tanyakan, Pak Tua?"
"Apa kau pernah bertemu dengannya? Bagaimana dia menurutmu? Wajahnya tampan, 'kan?"
"Tidak ada yang istimewa darinya. Wajahnya biasa saja. Sikapnya juga menyebalkan," ujar Adisty dingin.
Master Yen terkekeh. "Aku menyuruhmu untuk selalu mengawasinya agar dia tetap aman dari ancaman. Aku harus berjaga-jaga jikalau ada yang mencoba mencelakainya. Itulah alasan aku menyuruhmu untuk mengawasinya."
Disty mengernyitkan dahi, merasa alasan Master Yen tidak masuk akal. "Dengar, Master! Dia itu laki-laki, dia juga bisa bela diri. Kemampuannya tidak terlalu buruk. Kenapa aku harus mengawasinya? Dia 'kan bisa menjaga dirinya sendiri. Dan kenapa harus aku yang melakukan ini? Apa kau tidak bisa menyuruh orang lain?"
Master Yen menghela nafas panjang dan berhembus pelan." Dengarkan aku Disty, ini lebih rumit dari yang bayangkan."
" Maksudmu?"
"Anak yang bernama Bima itu adalah satu-satunya Klan Harimau yang tersisa. Kita harus selalu menjamin keselamatannya."
"Apa?" Adisty terkejut. "Klan Harimau? Bukankah mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini?"
Master Yen membalikkan tubuhnya dan melangkah pelan. "Dunia berfikir seperti itu, begitu pun kita. Aku, kau, dan semua Ras Valosa yang tersisa, kita enggan menampakkan jati diri kita yang sesungguhnya pada dunia. Sama halnya dengan kita, dunia menganggap kita sudah tidak ada. Meskipun sebenarnya Ras Valosa masih ada, mereka enggan menampakkan dirinya."
"Kenapa?" tanyanya penasaran
"Ancaman Klan Serigala." balas Master Yen.
"Klan Serigala?"
"Ya. Klan Harimau adalah musuh abadi Klan Serigala. Jika sampai terdengar oleh mereka bahwa ada satu orang dari Klan Harimau yang masih hidup, mereka tidak akan segan-segan untuk langsung membunuhnya." jelas Master Yen.
"A—Apa? Jadi Klan Serigala, mereka ...,"
"Ya, mereka masih berkuasa di dunia ini, di setiap bagian wilayah, terdapat kekuasaan Klan Serigala." sela Master Yen menjelaskan.
"Ta-Tapi, kenapa kita harus terlibat? Bukankah itu urusan mereka?" ujar Adisty masih belum mengerti apa urusan mereka dengan anak dari Klan Harimau itu.
"Kau tidak mengerti, hanya dia yang mampu mengalahkan Klan Serigala."
"Tapi bagaimana caranya, Master?"
"Suatu saat nanti, dia pasti mampu menyatukan kekuatan seluruh Klan."
***
Adisty melompat dari dahan ke dahan. Kemampuannya yang dapat meringankan tubuh membuatnya dapat melompat dengan jauh dan tinggi. Dia sedang mencari rusa untuk makan malam bersama Master Yen.
"Menyatukan semua Klan katanya? Yang benar saja! Orang dingin seperti dia mana mungkin bisa melakukan itu. Tidak ada yang mau diperintah oleh orang angkuh seperti itu." Adisty menggerutu kesal.
"Rasa simpatinya pun tidak ada. Bahkan, sepertinya dia tidak punya rasa kasihan. Bagaimana caranya dia menyatukan seluruh kekuatan klan. Pak Rua itu sepertinya terlalu banyak mabuk. Mimpi anehnya terbawa sampai dunia nyata."
***
Di suatu tempat yang berada di Wilayah Timur, seorang pemuda berwajah dingin terlihat sedang memainkan pisau kecil di tangannya. Selang beberapa saat, seorang pria yang merupakan bawahannya datang untuk menyampaikan kabar.
"Apa yang kau bawa hari ini?" lontar pemuda itu tanpa berbalik.
"Aku menemukan anak itu," sahut pria di belakangnya.
"Siapa yang kau maksud?" tanya pemuda itu lagi.
"Klan Harimau," sahutnya membuat pemuda di hadapannya menyeringai mengerikan.
Pemuda itu terkekeh. "Kau yakin dia Klan Harimau? Bagaimana jika dugaanmu itu salah?" tanya pemuda itu masih membelakangi pria di belakangnya.
"Tidak. Aku yakin dia Klan Harimau. Aki bisa melihat itu dari sorot matanya. Dia terlihat berbeda dari pemuda lainnya."
Pemuda itu berbalik seraya tertawa lebar, membuat suasana di sana semakin mencekam. "Kerja bagus! Akhirnya setelah cukup lama, aku bisa kembali menikmati darah Klan Harimau. Siapa dia?"
"Anak itu bernama Bima. Dia bersekolah di Akademi Bachalpsee dan tinggal di Desa Nara."
Pemuda itu kembali tertawa keras. "Kerja bagus, Jak, kerja bagus. Tidak sia-sia aku menjadikanmu sebagai tanganku."
"Apa yang harus aku lakukan selanjut? Apa aku harus membunuh anak itu?" tanya pria bernama Jak itu.
"Jangan! Jangan berani-berani menyentuhnya! Yang boleh membunuhnya hanya aku! Tapi, aku ingin menikmati pertarunganku dengannya sebelum aku membunuhnya."
"Baiklah, lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Awasi saja dia! Jangan sampai melukainya, apalagi membunuhnya! Aku akan sangat menikmati saat-saat membunuhnya."
"Tapi, aku melihat potensi dalam dirinya. Saat ini, kemampuannya sudah jauh lebih hebat dari pemuda lainnya, bahkan mungkin lebih hebat dari kekuatan setengah anggota kita. Jika kita membiarkannya hidup lebih lama, dia akan semakin kuat dan semakin sulit untuk dikalahkan!"
Raut wajah pemuda itu berubah. Ia berjalan ke arah Jak. "Apa kau meremehkanku, Jak? Apa maksudmu aku tidak akan bisa membunuh anak itu?" pemuda itu terus berjalan sampai cukup dekat dengan Jak. Ia menggores halus wajah Jak dengan kuku runcingnya, membuat Jak menelan ludahnya.
"Bukan itu maksudku. Aku rasa kita harus segera membunuhnya agar tidak ada yang bisa mengusik kekuasan kita. Mengingat kekuatan yang dimiliki oleh Klan Harimau, itu akan sangat merepotkan jika dia semakin kuat."
"Benar juga katamu. Kalau begitu, buat dia semakin kuat!"
Jak melebarkan matanya sesaat. "Apa maksudmu?"
"Aku ingin menikmati saat-saat terakhirnya. Tidak akan asik jika dia langsung kubunuh. Dia harus melawanku dengan kekuatan penuhnya."
"Lalu, apa rencanamu?"
"Kekuatan seseorang akan meningkat drastis saat amarahnya tak terkontrol. Jadi, aku mau kau untuk membuatnya marah!"
"Apa yang harus kulakukan untuk membuat anak itu marah?"
"Entahlah. Lakukan sesuka hatimu. Kau bisa membunuh kekasihnya, teman dekatnya atau keluarganya. Kau hanya harus membuatnya marah tanpa menyentuhnya."
"Baiklah, aku mengerti."
"Bagus, kau memang dapat diandalkan. Sebelum kau pergi, aku ingin mendengar rencanamu!"
"Aku sering melihat anak itu selalu bersama seorang anak bernama Arga. Mereka terlihat sangat akrab. Sepertinya dia adalah orang yang sangat penting dalam hidupnya. Aku akan membunuh anak itu terlebih dulu."