Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian itu. Bima dan Arga kembali menjalani aktivitasnya dengan normal dan seperti biasanya. Setiap pulang Akademi, keduanya selalu berlatih bersama di kediaman Bima. Dari sore hingga petang mereka terus melatih otot-otot di tubuhnya dan terus meningkatkan kemampuan mereka. Latihan yang mereka jalani pun semakin berat. Namun, dengan begitu, mereka dapat berkembang dengan cepat dan kemampuan mereka pun semakin meningkat.
Sore itu, mereka berdua baru saja selesai latihan. Peluh keringat membasahi tubuh keduanya. Mereka berdua merebahkan tubuhnya di halaman belakang rumah Bima, menatap langit yang mulai menghitam. Remang bintang mulai terlihat menghiasi hari yang akan menjelang malam.
Setelah cukup lama berbaring sembari melemaskan otot tubuh yang tegang, Bima lantas mendudukkan tubuhnya. "Bagaimana latihan ini? Kau masih sanggup melakukannya besok?" lontar Bima yang membuat Arga terkekeh.
"Tentu saja aku sanggup. Jangan meremehkanku ya! Aku ingin terus bertambah kuat!" balas Arga.
Bima mengangkat pandangan, menatap langit. "Hari sudah gelap, kau mau menginap?" tanya Bima.
Arga berpikir sejenak lalu mendudukkan tubuhnya. "Sepertinya tidak untuk hari ini. Aku tiba-tiba rindu rumahku. Sepertinya aku terlalu sering menginap di sini, aku jadi tidak enak pada nenekmu," tutur Arga.
"Tidak apa. Nenekmu sama sekali tidak keberatan. Jadi, bagaimana? Mau menginap atau pulang?" tanya Bima lagi.
"Aku mau pulang saja. Aku rindu suasana kamarku," balas Arga.
"Baiklah kalau begitu. Mandilah dulu di sini. Setelah itu, kita berangkat ke rumahmu." ujar Bima.
"Kita?" lontar Arga.
"Ya, aku akan mengantar sampai ke rumahmu," ucap Bima.
Arga terkekeh. "Hei, tumben sekali kau menawarkan diri. Tidak apa, kau tidak perlu mengantarku. Aku berani pulang sendiri. Tidak ada yang kutakutkan saat ini. Aku akan melawan jika bertemu dengan bahaya."
"Bukan itu. Aku mengantarmu karena ingin mengunjungi rumahmu. Aku belum berkunjung ke rumahmu sekalipun," ujar Bima.
"Ah, bagus kalau begitu. Kau bisa menginap di rumahku. Kita bisa begadang semalaman."
"Tidak. Aku tidak akan menginap, aku hanya akan mengantar sampai depan rumahmu saja, setelah itu pulang. Mungkin, lain kali saja aku menginap di rumahmu." ujar Bima.
"Bagus. Ayah ibuku pasti senang bertemu denganmu. Mereka selalu bertanya siapa yang melatihku. Keinginan mereka akhirnya terpenuhi, aku bisa menjadi kuat dan kemampuan bela diriku juga cukup mumpuni, ini semua berkat bantuanmu, Bim. Terima kasih." ucap Bima.
"Dan juga berkat usahamu, Ar." balas Bima.
"Bagus. Ayo kita berangkat! Aku tidak sabar mengenalkanmu pada orangtuaku." ujar Arga.
"Hei, kau tidak mandi dulu? Badanmu baunya tidak enak!" ledek Bima.
Arga mencium tubuhnya. "Ah iya, sepertinya ini karena keringat. Baiklah, sepertinya lebih baik aku mandi dulu." ujar Arga.
Setelah selesai mandi, mereka berdua pun melangkahkan kakinya menuju rumah Arga.
***
Sementara itu, seorang pria yang entah darimana asalnya tiba-tiba mendarat di depan pintu rumah Arga. Ia mengetuknya beberapa kali. Beberapa saat kemudian, seorang wanita membukakan pintu untuknya. Dia adalah Ibu Arga. Wanita itu mengernyitkan keningnya. "Ada yang bisa kubantu?" tanya Ibu Arga.
"Ya, aku mencari seseorang."
"Seseorang? Siapa?"
"Arga."
"Arga? Boleh aku tahu kau siapa?"
"Aku ... temannya Arga."
"Ah, kau rupanya yang sering Arga ceritakan. Kau yang sudah melatihnya, 'kan?"
"Mm ... iya. Bisa panggilkan dia?"
"Ah, Arga belum pulang dari Akademi. Biasanya, dia mampir ke rumah temannya dulu untuk berlatih. Ah, ternyata dia memiliki banyak teman."
"Kapan biasanya dia pulang?"
"Ah, aku kurang tahu. Biasanya dia pulang menjelang malam. Terkadang, dia tidak pulang. Dia sering menginap di rumah temannya."
"Kau tahu dimana dia saat ini?"
"Aku tidak tahu. Arga hanya bilang dia sering berkunjung ke rumah temannya di desa sebelah. Tapi, aku tidak tahu dimana rumah temannya."
"Baiklah kalau begitu, boleh aku menunggunya dia pulang di sini?"
"Ah, i—iya, tunggu saja dia sini. Mungkin dia akan pulang sebentar lagi,"
"Baiklah,"
"Kalau begitu, aku akan masuk dulu ke dalam."
"Ada siapa saja di dalam?"
"Hanya aku dan suamiku,"
Pria itu hanya menatap datar membuat ibu Arga merinding ketakutan, ia lantas melangkah masuk ke dalam, menemui suaminya, Ayah Arga, yang tengah membaca buku sambil menikmati secangkir teh hangat. "Ada tamu?"
"Ah, iya. Ada seseorang di teras depan. Dia mengaku teman Arga tapi gerak-geriknya mencurigakan, aku jadi takut."
"Kalau dia teman anak kita, dia pasti orang baik. Arga akan selektif dalam memilih teman. Suruh dia masuk ke dalam."
"Sepertinya lebih baik dia menunggu Arga di luar saja, perasaanku tidak enak. Aku merasakan sesuatu yang aneh dari orang itu."
Ayah Arga terkekeh. "Itu hanya perasaanmu saja. Sudah, tidak usah khawatir. Suruh dia masuk, aku akan mengobrol dengannya. Aku ingin melihat wajah teman Arga,"
"Papa yakin?"
"Iya, tidak apa-apa. Percayalah."
"Yasudah kalau begitu, aku akan menyuruh orang itu masuk."
Ibu Arga kembali ke teras depan dan menyuruh orang itu untuk menunggu Arga di dalam rumah. Dengan senang hati, pria itu pun menerimanya.
Dengan perasaan yang tak menentu, Ibu Arga melangkah masuk duluan. Pria itu mengedarkan pandangan pada sekeliling, terlihat mengamati situasi. Setelah itu, ia pun melangkah masuk dan menutup pintu rumah dengan rapat. Beberapa saat kemudian, terdengar jeritan dari dalam rumah disertai bunyi barang-barang pecah. Sesaat kemudian, jeritan itu hilang dan hanya menyisakan keheningan.
***
Di tengah perjalanan, Arga tiba-tiba merasa tidak enak hati, seolah mendapat firasat buruk. Ia lantas memegang d**a sebelah kirinya, merasakan jantungnya yang mulai berdebar tak menentu.
Bima yang melihat raut wajah Arga yang gelisah lantas memegang bahunya. "Kau baik-baik saja, Ar? Apa kau kelelahan?"
"Bukan, Bim. Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku sepertinya mendapat firasat buruk. Aku tiba-tiba khawatir pada ayah ibuku. Sebaiknya kita harus segera sampai ke rumahku." Arga lantas berlari cepat di susul Bima di belakangnya.
Setelah menempuh waktu beberapa menit, mereka sampai di depan rumah Bima. Arga terdiam sejenak di teras depan, merasakan keheningan yang tidak biasanya. Rumahnya tidak pernah sesunyi ini. Pintu rumahnya sedikit terbuka. Perasaannya semakin tidak menentu. Arga membuka pintu perlahan dan dengan langkah gontai, ia melangkah masuk.
Baru saja satu langkah, pemuda itu tercekat di dekat pintu dengan mata membelalak. Sekujur tubuhnya mendadak kaku, tangan dan kakinya bergetar hebat, seluruh bulu kuduknya berdiri saat melihat sesuatu yang membuktikan firasatnya.
Tepat didepan matanya, kedua orang tuanya terbaring dilantai dengan tubuh bersimbah darah yang mulai memenuhi lantai rumahnya. Mata mereka terbuka dan raut wajahnya ketakutan.
"A—Apa yang telah terjadi?" ucap Arga tak percaya dengan tatapan kosong terpaku pada kedua orang tuanya yang bersimbah darah.