43. Bersimbah Darah

3145 Kata
Matanya terbelalak tak berkedip. Arga tidak mampu berkata-kata. Tubuhnya kehilangan tenaga—lemas seketika dan ambruk ke bawah. Ia berlutut pasrah—mencoba menahan tubuhnya dengan kedua lututnya. Bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, Arga masih tidak percaya apa yang ia lihat di hadapannya. Arga memejamkan matanya rapat kemudian menggeleng cepat. "Tidak, ini tidak mungkin terjadi! Aku pasti hanya bermimpi! Ini pasti hanya mimpi!" gumam Arga. Dia mulai menampar wajahnya sendiri dengan keras, berharap apa yang ia lihat hanyalah mimpi semata. "Ini pasti hanya mimpi! Aku yakin ini hanya mimpi!" ujar Arga berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang di lihatnya hanya mimpi. Arga terus menampar wajahnya sendiri sampai ia tidak menyadari darah keluar dari hidungnya. Ia merasakan perih di wajahnya tapi itu tidak menghentikannya. "Bangun, Bodoh! Bangun! Bangunlah dari mimpi buruk ini! Bangun!" pekik Arga. Pemuda itu kembali membuka matanya. Tapi pemandangan di depan matanya tidak juga berubah—masih nampak sama, seperti mimpi terburuk dalam hidupnya. Ia kembali memejamkan matanya, seolah melihat kegelapan lebih baik dari pada harus melihat kedua orang tuanya terbujur kaku di depan matanya. Arga terus menampar wajahnya sampai lebam merah terpampang di pipinya. Semakin lama, tamparan Arga kian melemah karena rasa sakit di wajahnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa ini bukanlah mimpi. Dengan mata masih terpejam, Arga berusaha untuk menahan tangisannya, hatinya tidak berhenti berharap—memohon ini hanyalah mimpi buruk semata. Ia yakin saat ini, ia masih tertidur di halaman rumah Bima. Ia terlelap tidur karena merasa kelelahan. Ya! Dia yakin dia masih tertidur, ia hanya perlu menunggu sampai Bima membangunkannya. Kini ia harusnya bernapas lega, namun kenapa hanya isak tangis yang terdengar. Bagaimana pun juga, ini bukan mimpi. Arga harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya sudah terbujur kaku di depan matanya. Setelah cukup lama menahan air matanya untuk tidak jatuh membasahi pipinya, akhirnya Arga tak kuasa lagi menahan luapan kesedihan itu mengalir membasahi wajahnya. Bak permata murni, butiran bening air mata mulai mengalir—membasahi pipinya. Ia meremas kain celana dengan kedua tangannya. "Bangunlah ... aku mohon ... aku ingin keluar dari mimpi buruk ini," lirih Arga dengan suara hampir tidak terdengar. Tangis Arga akhirnya pecah. Air matanya mengalir deras-bercampur aduk dengan merahnya darah yang terus keluar dari hidungnya. Arga kembali membuka matanya perlahan. Kini dadanya terasa terhimpit bumi—napasnya kian sesak. Arga memegang kepalanya dan mencengkram rambutnya. "Ibu! Ayah! Tidak!" teriak Arga histeris. Suaranya sangat keras, bahkan terdengar sampai luar. Bima yang sedari tadi menunggu di teras depan rumah Arga, lantas mendengar suara teriakan dari dalam. Ia tidak ikut masuk bersama Arga karena merasa kurang sopan. Ia pun memilih menunggu di teras depan—menunggu Arga mengajaknya masuk. Tapi, setelah cukup lama, Arga tak kunjung datang—dan sekarang, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam. Tanpa pikir panjang, Bima langsung mengambil langkah—menyusul Arga masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti di dekat pintu, matanya terbelalak menatap tak percaya. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Saat baru saja satu langkah di depan pintu, yang pertama kali Bima lihat adalah mayat kedua orang tua Arga yang terbaring di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Lalu beberapa langkah di dekatnya, Arga tengah menunduk-menempelkan keningnya di lantai sambil menangis. "A—Apa yang sudah terjadi?" Bima melangkah mendekati Arga. Arga yang harus menerima kenyataan bahwa orang tuanya telah mati tidak mampu berpindah dari tempatnya. Kakinya terasa berat dan kaku. Ia menangis dengan histeris seraya memukul-mukul lantai dengan tangannya. Sesekali ia menghantamkan kepalanya ke lantai sampai terdengar bunyi nyaring. Sungguh sulit diungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Arga sama belum siap menerima kenyataan pahit ini. Bima berlutut di samping Arga. "He—Hei, Ar, apa yang terjadi? Me—Mereka orang tuamu?" lontar Bima terbata-bata seraya menyentuh punggung Arga. Bima tak bisa berpikir jernih, pertama kali ia mengunjungi rumah Arga, ia harus melihat kedua orang tuanya sudah terbujur kaku di depan mata anaknya. Arga tak menjawab ucapan Bima. Yang terdengar darinya hanya isak tangis yang semakin dalam. Bima mengusap punggung Arga pelan. "Hei, Ar, tenanglah dulu! Bicarakan padaku apa yang sudah terjadi!" pinta Bima. Arga masih tak menjawab. Rasanya sangat sulit untuk berbicara. Ia terus meluapkan kesedihannya. Rasa marah, kesal, sedih, terkejut, semua bercampur menjadi satu. Bima mencoba menarik bahu Arga—mengangkat tubuhnya untuk duduk tegak. "Hei, Ar, tenangkan dirimu! Sekarang lihat aku! Masalah tidak akan—" Arga menoleh cepat—menatap Bima dengan mata sembab dan hidung berdarah. "Tenang? Kau bilang tenang, Bim?" potong Arga sambil mengernyitkan kening. Mata Bima terangkat—merasa terkejut saat melihat wajah Arga yang sangat berantakan. Tidak ada cahaya di matanya. "Apa kau tidak lihat, hah? Lihat itu!" seru Arga seraya menunjuk ke arah kedua orang tuanya yang telah terbujur kaku. "Bagaimana aku bisa tenang? Orang tuaku sudah mati, Bim! Mati! Dan kau menyuruhku untuk tenang, hah?" berondong Arga membuat Bima sedikit tersentak. Bima terdiam—tak mampu berkata-kata lagi. Ia tahu saat ini Arga sangat terpukul oleh kematian orang tuanya. Tidak seharusnya sebagai teman Arga—ia menyuruh Arga untuk tenang. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Yang harus ia lakukan adalah diam—dan biarkan Arga meluapkan kesedihannya. Arga menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa? Kenapa harus keluargaku? Kenapa?!" ujar Arga terdengar sangat frustrasi. "Siapa yang melakukan ini kepada mereka? Siapa yang tega membunuh mereka? Kenapa mereka melakukan ini?! Siapa sebenarnya 'b******n' yang telah membunuh orang tuaku!" raung Arga semakin histeris. Bima hanya diam—terduduk lesu di samping Arga tanpa mengatakan apapun. Hanya hening dan mendengarkan tangisannya. Ia menatap iba pada Arga. Baru kali ini ia melihat Arga sangat terpukul dan menangis hebat. Arga yang selalu terlihat riang dan ceria di matanya, kini sangat sedih dan hancur setelah menelan pahitnya kenyataan tentang orang tuanya. Bima kemudian mengedarkan pandangannya—menatap sekeliling ruangan. Terlihat bercak darah di seluruh tempat itu. Noda merah terlihat mengotori dinding ruangan dan beberapa barang di sana. Itu artinya, sejak awal 'orang itu' memang berniat untuk membunuh. Ia datang dengan membawa persiapan. Terlihat juga noda darah yang membentuk telapak tangan di dinding yang mengarah pada satu ruangan. Itu berarti, orang tua Arga sempat berusaha melarikan diri dari Si Pembunuh. Arga mengeraskan rahangnya dan mendengus geram. "Aku tidak bisa menerima ini! Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah membunuh keluargaku! Tidak akan! Aku akan membunuhnya! Aku bersumpah, aku akan membunuh orang itu!" ujar Arga dengan murka. Tatapan matanya berbeda—sorot mata penuh dendam dan amarah. Namun, isak tangis masih terdengar darinya. Perasaannya sangat tercabik-cabik saat ini, kesedihan dan amarahnya silih muncul bergantian. Cukup lama Arga menangisi kematian orang tuanya. Bima hanya hening di sampingnya tanpa melakukan apapun. Ia membiarkan pemuda itu meratapi kesedihannya. Karena itu merupakan hal yang harus ia lakukan. Bima bukanlah orang yang dengan seenaknya berbicara tentang perasaan orang lain. Ia cukup merasakan penderitaan Arga, karena ia juga lahir tanpa mengenal sosok kedua orang tuanya. Setelah cukup lama, suara tangisan Arga perlahan memudar, menciptakan suasana hening di sana. Sesaat kemudian, suara tangisnya tidak terdengar lagi-hanya menyisakan sedu dari mulutnya. Bima kembali menyentuh pundak Arga dengan lembut. "Kau sudah tenang sekarang, Ar?" tanya pemuda itu. Cukup lama Arga terdiam sebelum membalas ucapan Bima, "Ya," sahutnya singkat tanpa menoleh. "K—" Baru saja Bima membuka mulutnya-belum sempat sebuah kata keluar dari bibirnya, Arga kembali berkata, "Kau boleh pulang sekarang," ucapnya datar yang membuat Bima mengernyitkan kening. "Apa maksudmu, Ar? Aku tidak akan pergi dari sini! Kita harus membicarakan kejadian dan menemukan siapa orang sudah membunuh orang tuamu," balas Bima. "Tidak perlu. Kau tidak ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa keluargaku. Sekarang aku mohon padamu, tinggalkan aku sendiri!" pinta Arga lagi. "Tidak, Ar. Aku akan tetap di sini. Aku akan membantumu menemukan orang itu," sahut Bima lagi. "Kau harus pergi, Bim! Tinggalkan aku sendiri! Aku tidak butuh bantuanmu!" sambung Arga. Bima menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Ar, kau tidak bisa begini. Kau harus tegar menerima ini semua. Ayo kita cari pelaku-" "PERGI, BIMA! AKU BILANG PERGI!" bentak Arga yang membuat Bima membisu sesaat. Arga membalikkan tubuhnya-menatap Bima lalu mencengkram kerah bajunya. "Apa kau tidak dengar ucapanku, hah? Tinggalkan aku sendiri! Ada apa denganmu? Apa kau tidak bisa membiarkan aku sendiri, Bim? Kenapa kau bersikeras untuk tetap tinggal di sini?" sembur Arga dengan meledak-ledak. "Karena aku temanmu, Ar!" balas Bima yang membuat tatapan Arga terangkat. "Aku ada di sini sebagai temanmu, kau harus ingat itu! Aku akan membantumu, Ar!" sambungnya. Dengan tangan masih mencengkram kerah baju Bima, Arga kembali merapatkan giginya. "Aku tidak membutuhkan bantuanmu! Yang kubutuhkan darimu saat ini adalah kau pergilah dari sini." Arga bersikeras meminta Bima untuk pergi dari sana-meninggalkannya sendiri. "Aku tahu apa yang kau rasakan, Ar! Aku mengerti seperti apa rasanya." "Tidak! Kau sama sekali tidak tahu!" balas Arga cepat seraya mendekatkan wajahnya pada Bima dan menatapnya dengan tajam. "Aku tahu, Ar! Aku sama sepertimu. Aku hidup tanpa mengenal siapa orang tuaku." "Tutup mulutmu, Bim! Jangan pernah mengatakan itu! Kau tidak sama denganku! Kau tidak tahu apa yang aku rasakan! Kau tidak mengerti seperti apa rasanya menjadi diriku! Kau yang sejak awal tidak memiliki orang tua, tidak akan mengerti bagaimana rasanya melihat ayah ibumu mati di depan matamu!" sembur Arga tepat di depan wajah Bima. Bima diam seribu bahasa. Ucapan Arga menampar dirinya. Arga benar, mereka berdua tidak sama. Bima tidak akan bisa mengerti bagaimana perasaan Arga. Bima menghela nafas dalam. "Baiklah, jika kau tidak menginginkan kehadiranku, aku akan pergi dari sini. Aku akan memberimu waktu untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran. Nikmatilah waktumu! Tapi, satu hal yang harus kau ingat! Jika kau butuh aku, datanglah ke rumahku. Aku akan selalu ada untukmu," tutur Bima membuat Arga memalingkan wajah darinya. Bima kemudian berdiri. "Kalau begitu, aku pergi dulu," pungkas Bima kemudian berjalan ke arah pintu. Saat di bibir pintu, Bima menoleh pada Arga. Pemuda itu terlihat menunduk—matanya menatap lantai dengan tangan terkepal kuat. Air matanya nampak kembali berjatuhan membasahi lantai. Dari tempatnya berdiri, Bima dapat melihat tubuh Arga bergetar hebat. Matanya ingin terus mengeluarkan air mata, tapi mulutnya ingin berteriak meluapkan amarahnya. Setelah beberapa saat berdiri di sana, Bima pun melangkah keluar. Dia kemudian mengedarkan pandangannya-menatap keadaan sekitar. Bima mencoba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi—berusaha menemukan apapun yang bisa dijadikan sebagai petunjuk. Namun, percuma saja, Bima tidak bisa menemukan apapun di sana. Tidak ada bukti, tidak ada saksi, hanya ada kasus pembunuhan tanpa diketahui pembunuhnya. Pilihan tepat yang harus ia lakukan adalah laporkan kepada orang yang tepat (polisi). Akhirnya, Bima pun melangkah pergi dari sana. Sementara itu, dari dalam rumah, Arga terlihat menatap mayat kedua orang tuanya. Tidak ada lagi tangisan darinya, hanya tatapan merah menyala dari matanya. Rahangnya mengeras geram. Ia perlahan mengangkat tangannya yang terkepal kuat lalu membukanya. Nampak secarik kertas di telapak tangannya. Secara perlahan, Arga membukanya. Terlihatlah beberapa baris kalimat di sana. Kertas itu ia temukan di dekat mayat ayahnya. Pembunuh itu sengaja meninggalkan kertas tersebut agar Arga membacanya. Dalam kertas itu, si pencuri menulis, Jika kau menemukan kertas ini, aku harap kau dapat memahaminya dengan baik. Sampaikan salamku kepada ayah dan ibumu, karena aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan kepada mereka berdua. Dan maafkan aku karena telah membunuh kedua orang tuamu. Sebenarnya aku datang ke rumahmu untuk membunuhmu. Tapi, karena kau tidak ada, terpaksa aku membunuh mereka berdua. Mereka orang yang cukup baik. Mereka juga ramah. Mereka bahkan menyuruhku untuk masuk dan menjamuku dengan sangat baik. Tapi, aku membenci orang baik, hahaha. Lalu, jika harus kukatakan, kematian mereka itu bukanlah salahku, tapi salahmu, Arga. Jika kau ada di rumah, mungkin tragedi ini tidak akan pernah terjadi dan orang tuamu masih hidup saat ini. Sebagai seorang anak kau harusnya malu! Kaulah yang menyebabkan mereka mati. Kaulah yang membunuh mereka. Ya, kau adalah pembunuh, Arga. Dan hukuman yang pantas kau dapatkan adalah mati, seperti mereka. Jangan khawatir, kau tidak perlu repot-repot bunuh diri karena aku akan kembali ke rumahmu. Sampai saat itu tiba, persiapkanlah dirimu. Jangan buat kematianmu sia-sia. Satu pesanku, jaga dirimu baik-baik sebelum aku membunuhmu. Salam hangat dariku. Jak. Arga memindahkan pandangannya ke pojok kanan bawah kertas itu. Terlihat sebuah coretan membentuk simbol aneh di sana. Arga mengernyitkan keningnya, simbol itu terasa tidak asing baginya. Ia pernah melihatnya di suatu tempat, tapi tidak bisa mengingatnya. Tanpa ia ketahui, itu adalah simbol dari Klan Serigala. Saat sore hari datang, dua mobil polisi dan satu mobil ambulan datang ke rumah Arga. Saat polisi memasuki rumah, alangkah terkejutnya mereka saat menemukan dua mayat tergeletak di lantai. Mereka juga menemukan satu pemuda tergeletak pingsan tidak jauh dari kedua mayat tersebut. Setelah melalui proses singkat, kedua mayat itu akhirnya dibawa masuk ke dalam ambulan, sedangkan Arga dibawa masuk ke dalam mobil polisi. Beberapa jam sebelumnya, Bima mendatangi kantor polisi terdekat dan melaporkan kejadian yang terjadi di rumah Arga. Pihak polisi yang menerima laporan tersebut lantas bertanya beberapa hal kepada Bima. Akhirnya, setelah melalui proses yang cukup panjang, polisi pun segera menuju ke rumah Arga dengan membawa satu unit ambulan. Setelah itu, Bima pun langsung pulang ke rumahnya tanpa ikut serta ke rumah Arga, meskipun sempat diajak oleh pihak polisi. Dalam langkah pulangnya, Bima memandang langit malam—menatap bulan dan pecahan bintang. Langkahnya pelan bersahutan. Sepanjang perjalanan, tidak hentinya ia berharap agar Arga segera bangkit dan kembali ceria. Walaupun ia tahu, butuh waktu lama untuk kembali pada keadaan sebelumnya. Namun, ia berharap, hubungan Arga dengan dirinya segera membaik. Keesokan harinya, Bima bertemu Arga di Akademi. Arga baru saja memasuki kelas, sedangkan Bima sudah cukup lama duduk di kursinya. Bima memandangi kedatangan Arga. Wajah pemuda itu datar tanpa ekspresi sedikit pun. Tidak ada lagi keceriaan yang selalu nampak di wajahnya. Matanya yang selalu berbinar riang kini terlihat gelap dan memudar. Arga duduk di kursinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun—tidak menyapa Bima seperti yang biasa ia lakukan. Bima menghela nafas dalam. Ia tidak mempertanyakan perubahan sikap Arga. Ia tahu benar Arga masih terpukul atas kejadian yang menimpa keluarganya. Ia memilih tidak mengajaknya berbicara—memberi ruang untuknya menyendiri dan menenangkan diri. Mungkin itulah yang bisa ia lakukan saat ini. Bagaimana pun juga, Bima tidak ingin Arga terus tenggelam dalam kesedihan. Mereka berdua duduk dalam keheningan, tidak ada pembicaraan dari mereka. Karena merasa sedikit canggung, Bima memilih untuk membaca buku. "Terima kasih," ucap Arga memecah keheningan. "Terima kasih untuk apa?" sahut Bima tanpa menoleh. "Sudah memberi tahu pihak kepolisian. Mereka cukup membantu. Berkat kau, ayah dan ibuku dapat beristirahat dengan tenang sekarang," balas Arga. "Ya. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan," sambung Bima. Suasana kembali hening. Keduanya hanya duduk di kursinya tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka sampai waktu istirahat tiba. Kabar kematian orang tua Arga tidak tersebar luas sehingga banyak orang tidak mengetahui yang Arga alami. Salah satunya, Leona, perempuan yang pernah ia selamatkan. Saat di kantin Akademi, Arga duduk sendirian, sedangkan Bima entah kemana. Pada awalnya, mereka berdua berjalan bersama menuju kantin, namun di tengah perjalanan, Arga meminta Bima untuk berjalan terpisah. Ia ingin sedikit ruang untuk menenangkan dirinya tanpa campur tangan siapapun. Bima pun meng—iyakan keinginan Arga. Bima pun lantas berjalan ke arah lain, meninggalkan Arga di tempatnya. Arga pun melanjutkan langkahnya menuju kantin. Makanan sudah tersaji di depan matanya, namun mulutnya seakan enggan untuk memasukan makanan itu. Arga sama sekali tidak berselera untuk melakukan apapun, tidak ada gairah dalam dirinya, bahkan untuk makan sekali pun. Beberapa saat kemudian, Leona menghampiri Arga dan duduk di hadapannya dengan senyuman. "Hai, Ar!" sapa perempuan berwajah cantik tersebut. Arga tidak menjawab, ia masih terpaku pada makanannya—tangannya memainkan sumpit yang ia gunakan untuk mengaduk makanannya. Leona melihat sekeliling—menoleh ke kiri dan ke kanan. "Bima mana?" lanjutnya bertanya. Ia kembali menatap Arga. "Biasanya kau bersama Bima, kan? Tumben sekali kalian berdua terpisah," sambung Leona kemudian terkekeh. "Entahlah," jawab Arga singkat dan datar—tanpa ekspresi sedikit pun. Leona mengernyitkan kening, merasa ada yang berbeda dari Arga. "Kamu kenapa? Apa telah terjadi sesuatu?" lontarnya lagi. "Tidak ada," balasnya dingin. Lagi-lagi Arga menjawab tanpa memalingkan wajahnya—tatapannya masih terpaku pada makanan di hadapannya. Leona mulai merasa canggung, ia menjadi ragu untuk mengajak Arga berbicara. Mungkin perasaan hati Arga sedang tidak baik saat ini, pilihan terbaik untuknya saat ini adalah membiarkan Arga sendiri. "Mm ... Apa kau—" Belum selesai Leona berbicara, Arga mengangkat pandangannya dan menatapnya dengan datar. "Leo, bisa kau tinggalkan aku sendiri?" pintanya terdengar dingin. Leona cukup terkejut mendengar permintaan Arga. "Ba—Baiklah." Dia pun akhirnya pergi dari hadapan Arga—meninggalkannya dengan perasaan bingung. Beberapa saat kemudian, Arga pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Namun, ternyata di dalam sana ada gerombolan anjing liar yang tengah melakukan kebiasaannya—bolos sekolah dan merokok. Mereka adalah Dion dan kedua temannya. Arga melangkah masuk. Saat di bibir pintu, ia melirik sesaat pada Dion dan kedua temannya, lalu berjalan dengan wajah datar menuju salah satu westafel di sana. Dion yang melihat ekspresi datar Arga menjadi kesal. Ia pun bangkit dan melangkah menghampiri Arga seraya terkekeh—membuat intimidasi kepada Arga. Kedua temannya menyusul bangun dan berjalan di belakang Dion. "Hei—Hei—Hei, siapa ini?" ujar Dion seraya bertepuk tangan. Arga masih diam dan mengacuhkannya. Ia terus membasuh wajahnya dengan tenang tanpa terganggu sedikit pun, seolah tidak menganggap kehadiran Dion. "Tumben sekali kau seorang diri. Kemana anak yang selalu bersamamu, hah? Bukankah kau biasanya bersembunyi di balik ketiaknya?" sindir Dion lalu terkekeh. "Ah, bukan! Mungkin harus kukatakan dia pacarmu? Kemana dia? Apa kalian baru saja putus?" tambahnya lagi disusul tawa keras kedua temannya. Arga mengangkat kepalanya dan menatap mereka dengan dingin lewat pantulan cermin di depannya. "Pergilah," ucapnya dengan datar. "Ha? Apa kau bilang? Pergi? Apa aku tidak salah dengar?" balas Dion sambil mengorek kedua telinganya dengan maksud meledek. "Ah, apa mungkin sekarang kau jadi anak pemberani seperti pacarmu itu, hah? Wah, kalian pasangan serasi ya?" ejek Dion lagi lalu terkekeh. "Apa dia sudah mengajari cara bertarung? Ah, maaf, maksudku menari. Pacarmu sudah mengajari cara menari?" lanjutnya dibalas tawa keras kedua temannya. Arga masih nampak dingin dan tenang. Tatapannya datar tanpa ekspresi—menusuk harga diri Dion. Emosi pemuda itu semakin memuncak. Dion langsung menjambak rambut Arga lalu menariknya—membuat Arga mendongak menatapnya. "Hei, Sialan! Apa kau mendengarkan aku?" lontar Dion terlihat geram. Tidak berubah, Arga masih diam. Tenang dan datar. Tidak terlihat sedikit pun ketakutan di wajahnya. Dion kembali terkekeh. "Sialan! Rupanya kau minta dihajar!" ujar Dion langsung menghempaskan kepala Arga. Arga membalikkan badannya dan menatap Dion dengan tatapan yang sama—datar dan dingin. "Pergilah," pintanya lagi tidak berubah. Dion mendengus remeh. "Sial*n! Kau meremehkanku rupanya. Kalau aku tidak mau pergi bagaimana?" tantang Dion. "Aku akan membunuhmu," balas Arga membuat suasana menjadi hening sesaat. Sesaat kemudian, Dion tertawa keras. Dia menoleh pada kedua temannya. "Kalian mendengarnya? Dia mau membunuhku katanya?" Kedua teman Dion mulai ikut tertawa. Dion kembali menatap Arga. "Hei, Sial*n! Apa kau pikir kau bisa mengalahkanku, hah? Kau hanyalah anak culun tanpa kehadiran Si Kutu Buku (Bima) itu! Mari bertarung dan kita lihat siapa yang mati duluan." Arga menarik sebelah sudut bibirnya. "Sepertinya menyenangkan, Brengs*k!" balas Arga sambil menyeringai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN