44. Arga VS Dion

3626 Kata
Dion menarik sebelah sudut bibirnya—menatap Arga dengan remeh. Sesaat kemudian, Dion langsung melayangkan pukulan keras ke wajahnya—Arga menunduk dan mampu menghindar. Sekejap kemudian, Dion langsung membalikkan tubuhnya dan memeluk Arga dari belakang—mengunci tubuh pemuda itu dengan kedua tangannya. Dion menatap kedua temannya. "Hei kalian, serang dia!" serunya pada mereka. Kedua orang itu mengangguk singkat sebelum berjalan mendekati Arga. Arga diam sejenak—tidak melakukan gerakan apapun dan hanya menunggu kedua orang itu mendekat. Setelah tinggal beberapa kaki di depannya, Arga langsung melompat dan menendang kedua pemuda itu dengan kakinya. Mereka berdua terjengkang jauh ke belakang. Melihat itu, Dion mendengus kesal. "Tidak berguna!" umpatnya. Arga melirik singkat pada Dion. Tanpa peringatan, ia langsung menyerang Dion—melayangkan sikutan tepat di rusuk kanannya. Cengkraman Dion langsung terlepas dari tubuh Arga. Dion mundur beberapa langkah—membuat jarak dari Arga seraya memegangi rusuk kanannya. Raut wajahnya terlihat menahan sakit—wajahnya memerah dan nafasnya terasa sesak. Dion menghela dan menghembuskan nafas dengan susah payah. Nafasnya tersendat di tenggorokan, membuat Dion terbatuk hebat dengan wajah yang semakin memerah. Arga hanya berdiri di sana tanpa membuat gerakan apapun. Hanya datar dan ketenangan yang nampak darinya. Dion kembali mendengus kesal. Dengan nafas tersengal, dia mencoba berbicara—menyuruh kedua temannya untuk kembali menyerang Arga. Namun, rasa sakit di rusuk kanannya mulai menjalar ke bagian da.da nya. Ia semakin kesulitan bernafas. Dengan tenang, Dion berusaha mengatur ritme nafasnya kembali stabil. Setelah beberapa saat, Dion merasakan nafasnya mulai terasa ringan, namun rasa sakit itu masih membekas. Ia memegang rusuk kanannya seraya mendengus kesal. "Sial*n! Kau langsung menyerang titik vital-ku rupanya," lontar Dion yang membuat kedua temannya menatap ke arahnya dengan raut wajah shock. Mereka berdua menelan ludahnya berkali—kali saat melihat efek dari sikutan Arga yang mengenai rusuk kanan Dion. Sangat merusak dan terlihat sangat menyakitkan. Dion melihat ke arah mereka berdua. "Hei, kalian! Kenapa diam saja? Cepat serang dia, Sial*n!" seru Dion lagi. Mendengar itu, kedua teman Dion saling menatap satu sama lain sebelum mengalihkan pandangan pada Arga. Dengan langkah kaku, mereka berjalan mendekati Arga. Arga hanya memandangi kedatangan mereka dengan tatapan datar—tanpa pergerakan sedikit pun. Setelah keduanya cukup dekat dengan Arga, mereka terlihat ragu—tangan dan kakinya bergetar hebat. Dion yang melihat itu lantas mendengus kesal. "Serang dia, Bodoh!" teriaknya lagi dengan lantang. Tanpa pikir panjang, mereka berdua langsung menyerang Arga—melayangkan pukulan yang tidak terarah padanya. Arga menghindari pukulan mereka dengan mudah, bahkan tanpa berpindah tempat dan hanya satu gerakan saja. Rasa gentar yang menyelimuti mereka, membuat aliran energi dalam tubuhnya tidak stabil—kacau dan saling beradu. Hal itu membuat kemampuan keduanya melemah. Kekuatan dan kecepatan mereka menurun, bahkan sangat sulit untuk mengendalikan arah serang pukulannya. Kedua teman Dion terkejut—sebegitu mudahnya Arga menghindari pukulan mereka berdua. Mereka berdua kembali saling menatap satu sama lain. "Sepertinya kita harus menyerangnya bergantian. Kalau begini terus, kita berdua akan kehabisan tenaga," ujar salah satunya memberi saran. "Kau benar! Kalau begitu, kau duluan serang dia. Setelah kau, baru aku," balas satunya. "Apa? Kenapa aku? Kau saja!" tolak temannya dengan tegas. Percakapan mereka masih berlanjut sampai Arga yang berdiri di hadapan mereka menghela napas kasar. Dia tidak habis pikir, kedua orang itu masih sempat melakukan diskusi. Dia tidak punya waktu untuk terus mendengarkan ocehan tidak berguna kedua orang itu. Arga tidak mau terus membuang waktunya di tempat kotor bersama orang—orang tidak berguna ini. Dia sebaiknya segera pergi dari sana. "Kalian teruslah mengoceh, aku akan pergi dari sini," celetuk Arga membuat kedua orang di hadapannya menoleh padanya. Arga melangkah pergi dari sana, tapi satu teman Dion menahannya—mendorong da.danya. Arga memandangi baju bagian depan yang terkena sentuhan orang itu. "Kenapa kau menyentuhku?" lontar Arga dingin dengan tatapan datar. "Ka—Kau tidak boleh pergi dari sini sebelum kami menghajarmu," balasnya dengan terbata—bata. Dengan ketakutan yang menyelimutinya, pemuda itu masih mampu berkata seperti itu. Seharusnya ia memikirkan dahulu dan memilih kata—kata yang akan keluar dari mulutnya. Karena dia tidak akan tahu akibat dari ucapannya sendiri. Seperti pepatah, "MULUTMU HARIMAUMU". Hal apa yang keluar dari mulutmu, hal itu pula yang akan kau terima. Dan kini, ia harus mempertanggungkan ucapannya. Arga menatapnya dengan datar tanpa ekspresi, tapi sinar matanya memancarkan aura pembunuh-membuat siapa saja yang menatapnya menjadi gentar. "Menghajarku? Kau yakin?" lontar Arga membuat suasana di sana semakin mencekam. "Kalau begitu, ayo selesaikan ini dengan cepat! Aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan para pengecut seperti kalian!" sambung Arga. Dengan tubuh yang masih kaku, pemuda itu melayangkan pukulan pada Arga seraya berteriak lantang. Pukulannya kali ini terarah—mengarah langsung ke pelipis Arga. Namun, pukulan itu tidak bertenaga. Bagaimana pun juga, hebatnya pukulan seseorang dilihat dari daya hancur yang dihasilkan. Arga hanya diam—tidak mengelak ataupun menghindar. Pukulan itu tepat mengenai pelipis kirinya. Dua orang lainnya yang melihat itu—Dion dan satu temannya tersenyum lebar saat melihat Arga terkena pukulan. Namun, senyum lebar itu sepersekian detik berubah—mulut keduanya menganga lebar saat melihat apa yang terjadi. Memang benar, pukulan orang itu mengenainya, tapi Arga tak bergeming dari tempatnya, bahkan tidak bergerak sedikit pun. Seolah pukulan yang baru diterimanya hanyalah hinggapan nyamuk semata. Dalam sekejap, Arga langsung mencengkram lengan pemuda itu dengan kuat sampai ia meringis kesakitan. Pemuda tersebut berusaha menarik lengannya—melepaskan diri dari cengkraman Arga. Namun, tenaganya tidak mampu menyaingi kekuatan Arga. Ia terkunci di sana tanpa bisa berbuat apa- —apa. Pemuda itu langsung menoleh ke arah temannya. "Hei, kenapa kau diam saja? Ayo serang dia! Ini giliranmu!" serunya pada pemuda yang berdiri di sampingnya. Dia hanya diam di tempatnya tanpa melakukan apapun. Hanya menonton dan hening. Pemuda itu langsung menoleh cepat, ia gelagapan sesaat—tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sesaat kemudian, pemuda tersebut langsung berlari dan menyerang Arga—melayangkan pukulan kerasnya. Arga terbelalak sesaat ketika pukulan itu datang. Pukulan orang itu sangat cepat dan keras. Tapi, Arga tidak terlalu khawatir, karena pukulan itu tidak terarah. Itu hanya melenceng di depan hidung Arga. Tanpa melakukan gerakan apapun, Arga mampu menghindari pukulan. Dalam sekejap mata, Arga langsung mencengkram lengan pemuda tersebut. Kini, lengannya mengunci tangan kedua pemuda di hadapannya. Mereka berdua terlihat gelisah, terlihat dari raut wajahnya yang gusar. Keduanya langsung menarik paksa lengannya—berontak dan mencoba melepaskan diri dari cengkraman Arga. Namun, percuma saja. Kedua pemuda itu tidak mampu menyaingi kekuatan Arga. Bahkan, jika kekuatan mereka digabungkan, itu belum cukup untuk menyamai kekuatan Arga. Kini tubuh Arga jauh lebih kuat, lebih cepat, bahkan lebih segalanya dibandingkan tiga orang yang ada di sana. Kedua pemuda itu terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Arga. Bukannya terlepas, mereka malah berjalan mundur di tempatnya, sedangkan Arga hanya berdiri tegak tanpa bergeser sedikit pun. Setelah cukup lama membiarkan mereka berusaha, Arga langsung menarik lengan mereka—menghempaskan tubuh mereka ke belakang tubuhnya. Alhasil, mereka tertarik kuat ke depan dan menabrak Dion yang berada di belakang Arga. Mereka bertiga merintih kesakitan. Dion mendengus kesal dan menatap Arga dengan tajam. Rahangnya mengeras dan giginya merapat geram. Dia mendorong tubuh kedua temannya—menyingkirkan mereka dari hadapannya. Mereka berdua berjalan sempoyongan ke arah Arga. Saat sudah cukup dekat, Arga melompat dan langsung menendang da.da mereka dengan kedua kakinya sampai mereka terpental ke belakang. Punggungnya membentur keras westafel di belakang. Mereka pun ambruk di lantai. Meringis kesakitan seraya memegangi punggungnya. Karena benturan yang cukup keras, kedua orang itu langsung terbatuk hebat. Nafasnya mulai terasa berat dan da.danya terasa sesak. Dalam keadaan terkapar mereka terus mengatur nafasnya agar kembali stabil—dan berusaha agar tetap terjaga. Arga menyunggingkan bibir sembari menatap kedua pemuda itu. Benturan di punggung mereka sudah cukup untuk membuat keduanya tidak berdaya. Kini, Arga hanya perlu membereskan satu orang lagi, Dion. Dia memindahkan pandangannya—menatap Dion sambil tersenyum miring. Dion mendengus remeh kemudian berjalan ke arah Arga dengan tatapan kebencian. Kini jarak mereka sangat dekat. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja. Dion tersenyum miring. "Sudah merasa senang, hah? Baru mengalahkan dua orang itu kau sudah merasa senang, Sial*n?" ujar Dion seraya menunjuk kedua temannya yang sedang terkapar di lantai. Dion memegang telinga Arga. "Dengarkan aku, Sial*n! Aku sengaja memberimu kesempatan untuk memukulku tadi. Aku hanya memberimu kesenangan sesaat sebelum menghajarmu. Kau pikir, kau bisa mengalahkanku dengan mudah, hah?" berondong Dion sambil menyeringai. Arga hanya diam—tidak menjawab. Dia tidak mengeluarkan kata sedikit pun. Hanya hembusan nafas tenang yang terdengar darinya. Matanya hanya menatap datar pada Dion. Sesaat kemudian, suara batuk dari kedua temannya merusak suasana mencekam di antara Dion dan Arga. Dion mendengus kesal. "Acuhkan saja mereka! Kedua orang itu tidak berguna!" ujar Dion. Arga menyunggingkan bibir—melayangkan senyum remeh pada Dion. "Bukan dua," ucapnya seraya mengangkat dua jari tangannya. "Tapi tiga," lanjutnya menambah satu jari lainnya. "Ada tiga orang tidak berguna di sini. Kau," ucap Arga seraya menunjuk Dion tepat di depan wajahnya. "Dan kedua temanmu," sambungnya memindahkan jarinya—menunjuk ke arah kedua teman Dion tanpa memalingkan wajahnya—matanya masih menatap Dion. Dion mendengus remeh. Sedetik kemudian, raut wajahnya berubah. Dion menyeringai seraya melayangkan tatapan tajam. Arga hanya tersenyum miring. Tidak ada sedikit pun ketakutan di wajah Arga. Ia hanya tenang dan menikmati ekspresi Dion yang mulai tersulut emosi. Sepersekian detik kemudian, Dion langsung melayangkan pukulan yang mengarah pada wajah Arga. Pukulan keras itu menghantam rahang bawah Arga—membuat pemuda itu terjengkang beberapa langkah ke belakang. Dion kembali menyeringai melihat itu. "Kau lihat 'kan, Sialan? Kau bukan tandinganku! Sekarang bersiaplah untuk mati di sini, Sampah!" seru Dion dengan lantang kemudian melangkah mendekati Arga. Arga mengusap tepi bibirnya yang berdarah akibat pukulan Dion—benturan di rahangnya begitu keras. Arga merasa sedikit pening ketika pukulan itu menghantam rahangnya. Sesaat kemudian, Arga menatap Dion sambil menyeringai. "Maaf saja, tapi aku tidak mau mati hari ini!" balas Arga juga melangkahkan kakinya ke arah Dion. Setelah saling berhadapan, mereka langsung melayangkan serangan bersamaan—Arga dan Dion sama—sama melayangkan sebuah pukulan. Dion menepis tangan Arga dan langsung melayangkan pukulan keras yang mengarah pelipis kanannya, namun Arga dapat menghindarinya dengan mudah. Dion tidak membiarkan Arga menghela napas, ia langsung melayangkan serangan beruntunnya, membuat Arga cukup terdesak. Kecepatan serangan Dion terasa tidak asing di mata Arga. Benar, ini adalah kecepatannya saat bertarung dengan Bima tempo lalu. Mungkin saat itu, Dion bukan tandingan Arga dan mungkin saja saat itu, Arga akan mati jika bertarung dengan Dion. Tapi, saat ini keadaan sudah berubah. Arga bukanlah pemuda lemah lagi, kemampuannya sudah jauh meningkat, bahkan melebihi kemampuan Dion. Ia mampu menghindari semua serangan Dion. Satu pukulan keras dari Arga menghantam tulang hidung Dion-membuat pemuda itu terhempas ke belakang. Dion mendengus kesal. "Sial*n, kenapa orang itu cepat sekali?" gumam Dion merasa tak percaya dengan kemampuan Arga saat ini. Dion kembali melesat cepat, menyerang Arga dengan pukulan mentahnya. Arga menghindar dengan mudah. Matanya menangkap satu titik vital Dion yang terbuka tanpa penghalang—Dion sedikit lengah. Dia membiarkan titik vitalnya terbuka tanpa pertahanan sedikit pun. Bersamaan dengan hembusan nafas, Arga melayangkan pukulan keras—menghujam ke atas, tepat mengenai rahang bawah Dion, membuat pemuda itu terhempas ke atas dan melayang di udara untuk beberapa saat. Sesaat kemudian, tubuhnya jatuh ke lantai sampai menghasilkan bunyi nyaring yang terdengar renyah di telinga. Dion langsung tak sadarkan diri akibat pukulan itu. Arga menatapnya sesaat lalu mengalihkan pandangan pada kedua temannya yang tengah menatap Dion dengan mata terbelalak dan mulut menganga lebar. Tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat, seorang Dion—yang dikenal memiliki kemampuan hebat dan cukup ditakuti di Akademi Bach, dapat dikalahkan dengan mudah oleh Arga, seorang pemuda yang bahkan tidak banyak dikenal. Tidak ada yang tahu kemampuannya berkembang begitu pesat. Raut wajah Arga kembali berubah—tatapan mata datar tanpa ekspresi. Ia melangkah dengan tenang—keluar dari tempat itu, meninggalkan Dion dan kedua temannya di dalam kamar mandi. Pertarungan tadi sudah cukup untuk membuktikan bahwa Arga sudah berubah, kemampuannya tidak bisa dianggap remeh. *** Waktu berlalu begitu cepat. Siang berlalu berganti sore. Langit biru cerah sudah berganti menjadi kuning menyala. Perasaan gelisah muncul tatkala menatapnya. Sore itu, kelas sudah selesai. Seperti biasa, ada dua orang yang masih berada di kelas ketika semua orang sudah melangkah keluar. Ya, kedua orang itu adalah Arga dan Bima. Dua orang teman yang hubungan pertemanannya akhir—akhir ini terlihat renggang. Arga menggeser kursinya—sedikit mundur ke belakang, memberi lututnya ruang untuk berdiri. Dia kemudian melangkah menuju pintu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bahkan untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Bima pun tidak ia lakukan. Bima menatap punggung Arga—memandangi kepergiannya. Saat di bibir pintu, langkah Arga terhenti saat Bima memanggilnya. Arga hanya berdiri di sana, tidak menyahut atau pun membalikkan badannya untuk sekedar menoleh pada Bima. "Hei, mau ke rumahku dulu?" lontar Bima dari tempatnya. "Aku punya tehnik baru. Kita bisa—" "Tidak," sela Arga membuat Bima terdiam. "Aku hari ini tidak akan datang ke rumahmu. Aku harus melakukan beberapa hal malam ini. Maaf...." Setelah berkata demikian, Arga melangkah keluar—pergi meninggalkan Bima. Bima yang masih duduk di kursinya hanya menghela nafas dalam. Ia sangat merasakan perubahan sikap yang terjadi pada Arga. Namun, ia sangat tahu alasannya. Arga masih sangat terpukul atas tragedi yang baru saja menimpanya. Tidak semudah itu bangkit dari permasalahan hidup yang dia alami, terutama menyangkut keluarga. *** Sepanjang perjalanan pulang, Arga hening. Tatapannya kosong menatap jalan setapak di depannya. Desis angin yang menerpa dedaunan menambah kesunyian perjalanannya. Jarak menuju rumah Arga masih cukup jauh. Dia pun terbesit untuk menguji kecepatannya—dia akan berlari menuju rumahnya. Arga menghentikan langkahnya dan mulai mengambil ancang—ancang. Matanya menatap lurus ke depan. Dia menghela nafas dalam kemudian bersamaan dengan hembusan nafasnya, dia melesat cepat—berlari menuju rumahnya. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya dan memusatkan kekuatan pada otot kakinya. Tanpa ia duga, kemampuannya sudah jauh lebih meningkat dari sebelumnya. Kini Arga benar—benar bisa dikatakan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan yang mumpuni. Sepanjang perjalanan Arga berpikir, jika saja kedua orang tuanya tahu dia sudah memiliki kemampuan seperti ini, mereka pasti akan sangat bahagia—dan Arga pun berhasil mengabulkan keinginan kedua orang tuanya. Namun, saat itu sudah terjadi, kedua orang tua Arga malah pergi. Kemampuan yang Arga memiliki terasa tidak berguna tanpa pujian kedua orang tuanya, karena merekalah satu—satunya alasan Arga melatih dirinya. Tidak butuh waktu lama untuk Arga sampai ke rumahnya. Dalam hanya hitungan menit Arga sudah berhasil menempuh perjalanan dengan jarak yang cukup jauh. Hal itu tentu cukup menguras tenaganya. Sesampainya di depan rumah, Arga mengedarkan pandangannya—menatap sekeliling, kemudian melangkah masuk. Ketika sampai di kamarnya, Arga langsung melempar tasnya dan membuka bajunya. Terlihatlah serat otot yang terpampang di sekujur tubuhnya. Arga berdiri menghadap dinding kamar, lalu mulai melayangkan pukulan demi pukulan pada dinding itu. Pukulan demi pukulan terdengar nyaring—suaranya menggema memenuhi ruangan. BUGH! BUGH! BUGH! Saking kerasnya pukulan Arga, dinding kamarnya hampir saja roboh dibuatnya. Saat sudah terlihat retakan di sana, Arga segera pindah ke sisi lain. Memukuli setiap sudut tembok sampai terlihat bercak darah menempel di sana. Arga menghentikan pukulannya lalu melihat kepalan tangannya. Ada sedikit luka di sana yang mulai mengeluarkan darah. Arga memandanginya beberapa saat, kemudian kembali melayangkan pukulannya. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan luka di tangannya ataupun rasa sakit yang dia rasakan. Ia hanya fokus pada kemampuannya. Jangan sampai saat pembunuh itu kembali datang ke rumahnya, kemampuan Arga masih belum siap. Ia harus terus berlatih agar bisa membalaskan kematian ayah ibunya. Arga terus berlatih sampai malam menjelang. Bahkan, ia masih melakukan latihan disaat orang lain sudah terlelap tidur. Sepanjang malam, Arga terus bermandikan keringatnya. Ia tidak peduli dengan orang lain yang saat ini sedang berbaring di kasur dan berbalut selimut hangat—tidur dengan nyenyak. Ia hanya fokus pada tujuannya. Terus berlatih dan menjadi kuat. Semakin lama, pukulan Arga kian melemah. Ia sudah tidak kuasa untuk mengangkat tangannya lagi. Kakinya mulai gontai—lemas dan tidak bertenaga. Pandangannya mulai pudar dan semakin gelap. Matanya perlahan sayu dan semakin tertutup rapat. Beberapa saat kemudian, Arga pun tumbang—pingsan karena kelelahan. *** Pagi harinya, Arga tersentak bangun. Ia membuka matanya kemudian bangun dengan cepat—mendudukkan tubuhnya. Arga memalingkan pandangan—menatap jam dinding yang tergantung di dinding sebelahnya. Waktu sudah menunjukkan jam masuk Akademi. Harusnya dia sudah berada di Akademi sekarang. Duduk di kelasnya dan mengikuti pelajaran. Arga bisa saja bangun dan bergegas berangkat ke Akademi, tapi ia tidak melakukannya. Ia memutuskan untuk melanjutkan latihannya dan memilih untuk bolos Akademi hari itu, hanya untuk sehari. Ya, sehari saja. Arga melakukan latihan keras di rumahnya. Tempaan demi tempaan membuat sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa, namun itu membuat kemampuannya berkembang dengan pesat. Daya tahan tubuh yang ia miliki semakin kuat. Latihan keras yang ia jalani tidak sia-sia. Arga menggunakan waktu yang ia miliki dengan sebaik-sebaiknya. Sambil menunggu orang itu datang, ia terus mempersiapkan dirinya. Tidak terasa, sudah seminggu lebih Arga tidak pergi ke Akademi. Ia masih tetap fokus mengembangkan kemampuan dirinya. Arga kini sudah tidak peduli lagi pada pendidikannya. Dia merasa aktivitasnya di Akademi hanya membuang waktunya saja, toh alasan dia bersekolah di Akademi Bachalpsee hanya untuk menyenangkan hati orang tuanya saja. Lebih baik ia terus mengasah kemampuannya agar tujuan balas dendamnya dapat tercapai. Dan akhirnya hari itu tiba, Jak—pembunuh kedua orang tua Arga kembali mendatangi rumahnya untuk melanjutkan tujuannya yang tertunda, yaitu membunuh Arga. Tanpa membuang waktu, Jak langsung melangkah masuk ke dalam rumah Arga yang tidak dikunci. Ia mengedarkan pandangannya—memutar badan dan melihat keadaan sekitar. Pandangannya berhenti di tangga rumah. Ia melihat seorang pemuda sedang duduk di sana sambil menatapnya dengan datar. "Mencari sesuatu?" lontar Arga dingin. Jak menyunggingkan bibirnya. "Ya. Aku mencarimu, Anak Muda," balas pria tersebut. Arga bangun dari duduknya kemudian melangkah mendekati Jak. "Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menunggu sejak lama, Brengs*k!" Setelah berkata demikian, Arga langsung melesat cepat ke arah Jak seraya berteriak lantang. "Berdoalah, Anak Muda. Semoga saat kau mati, kau bertemu dengan kedua orang tuamu di sana," ujar Jak masih terlihat tenang. Ia tidak berpindah tempat atau bergerak sedikit pun. Ia hanya menatap kedatangan Arga sambil menyeringai. "Tutup mulutmu, Brengs*k!" Arga langsung melayangkan pukulan keras yang mengarah langsung ke wajah Jak. Jak menghindari pukulan Arga dengan menyampingkan tubuhnya, sehingga pukulan Arga hanya melesat melewatinya saja. Arga langsung menghentikan pergerakannya dan menghantam punggung Jak dengan tendangannya. Jak terpelanting ke depan dan hampir tersungkur. Ia mengusap punggungnya lalu berbalik menatap Arga. Pria itu menatap Arga seraya menyeringai menyeramkan. "Kau mau tahu bagaimana aku membunuh orang tuamu?" lontar Jak. Ia berniat menyerang mental Arga dengan membuatnya emosi—dan sepertinya caranya berhasil. Arga terlihat semakin murka. Tatapan matanya setajam pedang dan sorot matanya bersinar bak halilintar. "Jangan mengatakan apapun lagi!" ucap Arga terdengar dingin. "Aku membunuh mereka dengan—" "Sudah kubilang berhentilah bicara, Brengs*k!" Arga kembali melesat cepat ke arah Jak dengan emosi yang meledak-ledak. "Kemarilah, Bocah Bodoh!" seru Jak dengan senyum lebarnya. *** Sementara itu, di Akademi Bachalpsee, Bima yang sudah seminggu lebih tidak melihat Arga merasakan firasat buruk. Ia duduk di kursinya dengan hati yang gelisah dan raut wajah kebingungan. Ia tidak tahu alasan pasti mengapa Arga tidak datang ke Akademi selama berhari—hari. Apakah kesedihannya masih begitu berat? Atau jangan-jangan telah terjadi sesuatu pada Arga? Rasa gelisah semakin menghantui perasaan Bima. Akhirnya, Bima memutuskan untuk pergi ke rumah Arga sepulang dari Akademi. Tapi, sebelum itu, dia memutuskan untuk bertanya lebih dulu kepada orang yang cukup dekat dengan Arga. "Apa akhir—akhir ini kau melihatnya?" tanya Bima pada Leona, perempuan yang terlihat akrab dengan Arga. "Tidak, Bim. Aku sempat bertemu dengannya seminggu yang lalu. Saat itu dia tidak bersamamu. Saat aku mengajaknya berbicara, aku melihat raut wajahnya berbeda dari biasanya. Sikapnya juga berubah." Bima terus memikirkan keadaan Arga. Ketika ia tengah berjalan di koridor, ia melihat seseorang yang tidak asing di matanya. Ia segera berjalan menghampirinya dengan langkah cepat. Saat melihat kedatangan Bima yang terlihat berjalan ke arahnya, Dion dan kedua temannya bergegas pergi dari sana, namun Bima lebih dulu mencengkram bahunya dengan kuat. "Tunggu sebentar! Aku ingin bertanya padamu," ujar Bima. Dion memalingkan wajahnya. "Apa urusanku denganmu, Sial*n?" dengus Dion terlihat kesal. "Dimana Arga?" lontar Bima. Dion menyunggingkan bibirnya. "Kenapa kau bertanya padaku? Bukannya kau temannya?" balas Dion. Bima mengencangkan cengkramannya, membuat Dion meringis kesakitan. "Jangan membuat ini menjadi sulit. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku saja." tegas Bima. "Ba—Baiklah—Baiklah. Aku akan menjawabnya. Tapi, lepaskan dulu tanganmu!" pinta Dion terbata-bata. Bima pun melepaskan cengkramannya dari bahu Dion. "Kau melihat Arga?" tanyanya lagi. "Sudah seminggu lebih aku tidak melihat anak itu, tapi aku tidak tahu kemana dan dimana dia. Aku tidak peduli, bukan urusanku," tutur Dion terlihat acuh. "Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?" tanya Bima lagi. "Seminggu yang lalu," jawab Dion. "Dimana?" "Di toilet Akademi." Bima mengernyitkan kening. "Apa yang kau lakukan dengannya?" lontar Bima penasaran. "Itu ... aku tidak ingin menceritakannya kepadamu." Dion memalingkan pandangannya. "Aku tidak punya banyak waktu. Katakan!" seru Bima yang membuat Dion gelagapan. "A—Aku bertarung dengannya di sana," jawab Dion cepat. "Bertarung?" Bima langsung mencengkram kerah Dion dan menatapnya dengan tajam. "Kau mengeroyoknya?" tanya Bima dengan geram. Dion tersentak kaget. "Apa? Tidak! Aku ... Kami dihajar olehnya." Dion menoleh pada kedua temannya. "Benarkan?" tanya Dion pada mereka untuk meyakinkan Bima apa yang sebenarnya terjadi. Kedua temannya mengangguk dengan cepat dan meng—iyakan perkataan Dion. Bima terdiam sesaat, matanya menatap kosong. Sesaat kemudian, Bima langsung melepaskan cengkeramannya dari kerah Dion dan langsung pergi dari sana—berjalan cepat ke arah awal kedatangannya. Ia melangkah keluar dari Gedung Akademi kemudian berlari cepat menuju rumah Arga. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bima berlari menembus hutan, mencari jalan tercepat untuk segera sampai ke rumah Arga. Rahangnya mengeras kencang dengan tatapan menatap lurus ke depan, namun perasaannya gelisah. "Semoga kau baik-baik saja, Ar!" gumam Bima merasa khawatir—raut wajahnya menggambarkan kecemasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN