45. Cemas

1013 Kata
Bima berlari cepat menuju rumah Arga, ia sampai di depan rumah Arga, pintu rumahnya terlihat terbuka, Bima langsung masuk ke sana. Ia melihat rumah Arga sangat berantakan dan banyak barang-barang pecah tercecer di lantai, ia mengedarkan pandangan pada sekeliling ruangan. "Ar?" Bima memanggil Arga seraya mengedarkan pandangannya. Bima membelalakan matanya saat melihat Arga terbaring di sudut ruangan dengan tubuh penuh luka bersimbah darah. Bima langsung berlari menghampirinya, "Arga! Hei, Ar, sadarlah!" Bima menempuk-nepuk pipi Arga. Namun, Arga masih tidak sadarkan diri. Hampir semua lubang di tubuhnya mengeluarkan darah. Mulut, hidung, mata, dan telinga, semua mengeluarkan darah. Sepertinya organ dalam Arga terluka sangat parah. Bima langsung menyentuh leher Arga untuk merasakan denyut nadinya. Denyut nadinya terasa masih berdetak namun sangat lemah. Bima kemudian meletakkan jarinya di depan lubang hidung Arga untuk merasakan nafasnya, namun dia tidak bernafas sama sekali. Dengan cepat Bima mengangkat tubuh Arga lalu menyandarkan di punggungnya. Ia tidak peduli dengan darah di tubuh Arga mengotori bajunya. Ia langsung berlari cepat menuju ke rumahnya, berharap neneknya memiliki sesuatu untuk menyelamatkan Arga. "Bertahanlah, Ar, kumohon bertahanlah." pinta Bima dalam hatinya. Batin Bima seakan dicambuk dengan kuat. Kenangan susah dan senang bersama Arga sudah melekat dalam ingatannya. Arga merupakan hal penting dalam hidupnya. Karena hanya bersama Arga, ia bisa menjadi dirinya sendiri dan lebih terbuka. Tapi teman satu-satunya itu kini berada di antara hidup dan mati. Perasaan Bima kalut. Rasa marah, khawatir, sedih, bercampur menjadi satu, kini ia hanya fokus memikirkan keselamatan Arga. Sementara itu, di suatu tempat, "Kau sudah membunuhnya?" tanya seorang pemuda di sana. "Iya, sesuai perintahmu," balas pria di belakangnya. "Kerja bagus! Kita lihat apakah itu bisa membuatnya marah. Jika itu terjadi, kita tidak perlu mendatanginya, karena dia akan datang sendiri ke sini." Pemuda langsung tertawa lebar. Ia menoleh ke samping—memperlihatkan mata biru bersinar. *** Bima baru saja sampai di rumahnya. "Nek! Nenek!" Bima berteriak memanggil Ling. Nenek Bima keluar, "Ada apa, Thera?" Ling terlihat terkejut. "Nek, apa kau bisa menyelamatkannya?" ujar Bima menoleh sedikit pada Arga yang berada di punggung. Nenek Bima menatap pada Arga yang sudah bersimbah darah. "Apa yang terjadi padanya? Cepat bawa dia masuk!" ujar Ling kemudian melangkah masuk. Bima langsung berlari masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuh Arga di lantai ruang tengah. Lalu Nenek Bima keluar dari kamarnya sambil membawa secangkir cairan. "Nek, apa dia bisa selamat?" tanya Bima dengan wajah khawatir. Ling tidak menjawab, dia langsung duduk di samping Bima. "Buka bajunya!" titah Ling sambil mencelupkan jarinya ke dalam cairan itu. Dengan cepat Bima mencengkram bagian tengah baju Bima lalu merobeknya menjadi dua—dan terlihatlah badan Arga yang dipenuhi luka sayatan semacam luka cakaran. Luka itu terus mengeluarkan darah segar. Nenek Bima mulai membalurkan cairan yang dia bawa ke badan Arga hingga darah yang menutupi lukanya hilang dan luka ditubuh Arga terlihat jelas. Nenek Bima membelalakan matanya saat melihat sayatan yang membuat sebuah simbol dan dia tahu persis bahwa itu adalah Simbol dari Klan Serigala. "Siapa yang melakukan ini padanya?" tanya Ling seraya menoleh pada Bima. "A—Aku tidak tahu, Nek. Saat aku datang ke rumahnya, dia sudah dalam keadaan seperti ini," balas Bima. "Hm ... Tidak salah lagi, ini pasti ulah mereka," gumam Nenek Bima. "Nek, apa kau bisa menyelamatkannya?" tany Bima lagi. Ia sangat khawatir. Raut wajahnya gelisah. "Aku butuh konsentrasi penuh, bisakah kau keluar dulu, Thera!" pinta Ling. Bima mengangguk cepat. "Ba—Baiklah." Bima langsung keluar dari rumah dan menunggu di teras depan. Hatinya tidak tenang, khawatir pada kondisi Arga. Ia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya dengan kuat, ia sangat marah. Ia bertekad untuk membalas dendam pada orang yang telah melukai Arga. Setelah cukup lama, Nenek Bima keluar menghampiri Bima dengan raut wajah datar tanpa ekspresi. Tangannya terlihat dipenuhi darah yang mulai mengering. Bima yang mendengar suara langkah lantas berbalik dan menatap Ling. "Nek, bagaimana keadaan Arga?" tanya Bima dengan wajah penuh harap. "Aku sudah mengobati luka luarnya, tapi luka dalamnya sangat parah, butuh waktu untuk sel tubuhnya beregenerasi," balas Ling. Ia meletakkan kedua lengannya di belakang tubuhnya. "Dan juga, temanmu itu mempunyai luka dalam yang cukup parah sebelumnya. Apa temanmu itu petarung?" lanjut Ling bertanya. Luka dalam yang dikatakan Nenek Bima adalah bekas pertarungannya dengan Dion beberapa waktu lalu. "Aku tidak tahu, yang kutahu dia selalu menghindari pertarungan." "Aku khawatir tubuhnya tidak bisa menanggung luka dalam yang ia alami. Suatu keajaiban jika dia bisa selamat." Bima hanya menatap kosong, ia tak mampu berkata-kata lagi. Arga terlalu berharga dalam hidupnya. Ia menyalahkan dirinya karena tidak bisa menyelamatkan Arga, ia menyalahkan dirinya karena memilih membiarkan Arga menanggung rasa sakitnya sendiri. Waktu berlalu dan malam pun tiba, Bima tidak bisa tidur, ia berlatih keras semalaman, ia masih merasa bersalah atas peristiwa yang menimpa Arga. Esok paginya, di Akademi Bima mencari beberapa orang yang pernah bertemu dengan Arga. Rasa emosinya membuat ia tidak mampu mengontrol dirinya, ia mencurigai beberapa orang yang pernah bertemu dengan Arga. Bima berjalan cepat di koridor dengan tatapan dingin. Ia langsung masuk ke dalam ruangan kelas yang berada paling ujung dimana itu adalah kelas 1-1 yang merupakan kelas Byron. Pemuda yang sebelumnya pernah terlibat suatu kejadian dengan Arga. Bima mengedarkan pandangannya pada sekeliling kelas untuk mencari Byron. Pandangan berhenti pada sebuah kursi dimana ada satu pemuda yang tengah tertidur dengan pulasnya. Bima melangkah menghampirinya. "He—Hei, kau bukan anak kelas sini, kan?" Ucap salah satu pemuda di sana. Bima menatapnya, "Apa disini ada yang namanya Byron?" "Ah, iya, dia di sana, yang sedang tertidur." Bima melangkahkan kakinya kearahnya. "Hei, aku sarankan jangan membangunkannya, saat tidurnya terganggu dia akan mengamuk seperti beruang yang masa hibernasinya terganggu, saat dia tertidur tidak ada berani yang membangunkannya." Bima tidak menanggapi ucapan pemuda itu, ia melanjutkan langkahnya menuju ke kursi Byron. Saat berada di hadapannya, Bima menatap sesaat Byron sebelum menggebrak mejanya. Perlahan Byron mulai mengangkat kepalanya lalu menatap Bima dengan tatapan marahnya, terlihat dari matanya yang merah. "Apa kau yang membuat Arga seperti sekarang?" tanya Bima datar. Byron tidak menjawab, ia masih menatap Bima dengan mata merahnya. "Jangan pernah mengganggu saat aku sedang tertidur!" ucap Byron datar lalu mulai berdiri dengan tangan terkepal dan rahang yang mengencang geram.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN