Bima menatap datar. "Aku tidak punya banyak waktu. Apa yang kau ketahui tentang kejadian yang menimpa Arga?" tanya Bima.
"Hei, apa kau tidak mendengar ucapanku?" balas Byron terlihat marah.
Bima hanya menatap dingin pada Byron kemudian ia mendengus kesal. "Aku tidak punya waktu untuk ini." Bima berbalik dan hendak melangkah.
Byron memegang bahu Bima untuk menahannya, "Mau kemana kau? Aku belum selesai denganmu," ujar Byron seraya mencengkram kuat bahu Bima.
Perhatian seisi kelas mulai tertuju pada mereka berdua. Sepertinya perkelahian akan terjadi.
"Lepaskan tanganmu," pinta Bima sambil menoleh—memandangi lengan Byron yang menempel di bahunya
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" balas Byron terdengar menantang.
"LE—PAS—KAN!," titah Bima lagi dengan penuh penekanan. Ia sengaja memberi jeda pada setiap suku kata yang keluar dari mulutnya.
Byron tidak melepaskan tangannya dari bahu Bima. Ia semakin mencengkram bahu Bima dengan kuat. "Selesaikan dulu urusanmu denganku karena kau telah mengganggu tidurku," ujar Byron.
"Selesaikan? Baiklah jika itu maumu." Bima mulai mencengkram tangan Byron yang ada di bahunya lalu meremasnya dengan kencang sampai Byron meringis kesakitan. Perlahan Bima mengangkat tangan Byron—terlepas dari bahunya lalu menghempaskannya dengan kuat. Ia mulai melangkah lagi.
Namun Byron berjalan ke arahnya lalu melayangkan pukulan keras selagi Bima membelakanginya.
Saat pukulan itu tinggal beberapa inci dari kepalanya, Bima memiringkan kepalanya, membuat pukulan Byron meleset. Byron membelalakan matanya. "Bagaimana bisa dia menghindari pukulanku tanpa melihat kedatangannya?" pikirnya.
Byron langsung memeluk kencang tubuh Bima dari belakang dan langsung mengangkatnya. Kaki Bima mulai melayang—tidak lagi menapak lantai. Tenaga Byron mampu dengan mudah mengangkat tubuhnya. Byron membuat ancang-ancang, ia menaik—turunkan tubuh Bima. Lalu, dalam satu hentakan, Byron mengangkat tubuh Bima tinggi—menghempaskan tubuh Bima keatas sambil terus mengunci tubuhnya. Byron menjatuhkan tubuhnya ke belakang—membuat gerakan kayang. Tujuan utamanya adalah membuat kepala Bima terbentur lantai.
DUGH!
Terdengar bunyi nyaring di akhir gerakan Byron, membuat pemuda itu menyunggingkan bibir. Ia mendongak ke atas—melihat keadaan Bima. Matanya membelalak saat melihat keadaan Bima yang dengan tenangnya menahan tubuhnya dengan kedua lengannya. Rupanya, gerakan Byron belum sempurna. Tubuhnya masih sedikit melayang di udara. Bima berhasil bertahan dari serangan Byron menggunakan kekuatan tangan dan kelenturan tubuhnya. Posisinya saat ini adalah lengan menempel di lantai—menahan tubuhnya dan kaki lurus ke atas, seimbang dan stabil.
Tehnik yang digunakan oleh Byron biasa ada dalam pertarungan gulat. Tujuan serangan ini untuk melumpuhkan lawan dengan cepat dengan menyerang langsung kepala bagian atas atau belakang. Lawan yang terkena serangan tersebut biasanya akan langsung tidak sadarkan diri karena benturan yang keras di tulang tengkorak.
Mereka berdua bertahan dalam posisi itu untuk beberapa saat. Sesaat kemudian, Bima mengayunkan kakinya ke depan dan langsung menghantam perut Byron dengan tendangan menghujam tepat di ulu hatinya. Tubuh Byron langsung jatuh ke lantai. Ia langsung memegangi perutnya sambil terbatuk-batuk. Setelah itu, Bima langsung bangkit—mendirikan tubuhnya.
Byron bangkit sambil memegang perutnya, napasnya mulai terasa berat. Ia membunyikan ruas tulang lehernya lalu menatap Bima dingin. "Kau tidak memberiku pilihan lain. Jika sesuatu terjadi padamu, jangan dendam padaku!"
"Coba saja."
Byron berlari kearah Bima dengan cepat lalu melayang satu pukulan keras, bima membentuk pertahanan menggunakan tangannya. Namun pukulan Byron terlalu keras yang membuat Bima terhempas ke belakang sampa membentur dinding.
Byron memutar-mutar pergelangan tangannya. Sedangkan Bima mulai menegakan tubuhnya. Ia mulai merubah sorot matanya.
Byron menghela nafas dalam kembali berlari kearahnya. Bima tahu pertarungan ini tidak akan berakhir sampai ada yang kalah diantara mereka.
Saat Byron datang dengan pukulannya, Bima merekatkan kepalan tangannya dengan kuat lalu melayangkan pukulan yang sama, pukulan mereka berdua bertemu.
Saat pukulan mereka beradu, hembusan angin kencang menerpa isi kelas sampai kursi disana beterbangan dan orang-orang disana ikut terhempas. Sedangkan dua orang itu masih berdiri dengan tangan masih beradu.
Byron menatap tidak percaya, ada orang yang mampu menahan pukulannya dengan pukulan juga.
"Pertarungan ini tidak ada artinya, hentikan."
"Kau benar."
Mereka berdua menarik kepalan tangan mereka dan mulai menatap satu sama lain.
"Apa tujuanmu datang kesini dan menggangu tidurku?"
"Aku minta maaf soal itu, aku hanya ingin bertanya padamu tentang Arga."
"Arga? Bukannya dia temanmu?"
"Ya, sesuatu yang buruk telah terjadi padanya."
"Hmm ... Maaf, Bung, tapi aku sama sekali tidak tahu tentang temanmu. Tapi, kau bisa tanyakan pada orang yang berada di kelas sebelah. Sepertinya cukup dekat dengan temanmu."
"Siapa?"
"Aku lupa lagi namanya, mungkin Hermas, Herman, atau Hendra ya? Ah entahlah, yang jelas namanya tidak jauh dari namanya sudah kusebutkan tadi."
Bima terdiam sejenak mencoba mengingat, lalu ia kembali teringat kejadian di gunung beberapa waktu lalu saat ia dan Arga bertemu seorang pemuda bernama Hestra.
"Hestra ...."
"Nah, iya betul katamu, nama orang itu Hestra."
Dengan cepat Bima berlalu dari sana dan keluar dari kelas Byron.
Byron hanya menatap kepergiannya, sat Bima sudah hilang dalam pandangannya, ia meringis kesakitan sambil memegang tangannya. "Astaga, sakit sekali tanganku. Tidak kusangka pukulannya sekuat itu. Sepertinya tanganku remuk karena beradu dengan tangannya, seharusnya aku tidak berpura-pura kuat."
Sementara itu, Bima mulai memasuki kelas yang berada di sebelah kelas Byron yaitu kelas 1-2.
Bima menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Hestra, tatapannya terpaku pada seorang pemuda yang duduk dibangku paling belakang. Tidak salah lagi, ia masih mengingat jelas wajah pemuda yang ia temui saat di gunung, itu adalah Hestra.
Bima berjalan cepat kearahnya, Hestra yang menyadari kedatangan Bima langsung menatap padanya.
"Hei,bukankah kau yang waktu itu di gunung? Namamu Bima, 'kan?"
"Ya, aku tidak punya waktu untuk basa basi, apa kau bertemu dengan Arga beberapa hari ke belakang?"
"Arga? Tidak. Setelah dari gunung, aku tidak bertemu dengannya lagi. Memang kenapa? Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Ya, sesuatu yang buruk terjadi padanya."
"Astaga,bagaimana keadaannya sekarang?
"Aku belum dapat memastikan, kalau begitu aku pergi dulu." Bima langsung berlalu dari sana meninggalkan Hestra.
"I—Iya, semoga keadaan Arga membaik."
Bima yakin kedua orang yang baru ia temui tidak mengetahui apa-apa. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya, kini ia buntu.
Lalu seorang pemuda terlihat keluar dari kelasnya untuk menuju ke toilet. Saat ia melewati Bima, ia mengenalinya. "Bukannya kau Bima ya?
Bima membuka telapak tangannya. "Siapa kau?"
"Aku Axel, aku pernah bertemu dengan kalian sebelumnya. Ngomong-ngomong, dimana temanmu yang bernama Arga itu?"
Bima kembali menyandarkan tubuhnya tanpa menjawab pertanyaan Axel.
Axel menatapnya, "Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Ya."
"Astaga, benarkah, padahal 2 hari yang lalu aku bertemu dengannya."
Bima membelalakan matanya, "Kau bertemu dengannya?"
"I—Iya."
"Ceritakan padaku!"