bc

SIR HEMLOCK II (Killer Clown From The Past Is Mine)

book_age18+
168
IKUTI
1K
BACA
love after marriage
dominant
goodgirl
witch/wizard
twisted
bxg
mystery
female lead
supernatural
special ability
like
intro-logo
Uraian

Sir Jonathan Alfred Hemlock pada akhirnya berhasil mempersunting sang pujaan hati, Alexandra Deora Quenzel. Namun, benarkah kisah mereka sudah mencapai happily ever after, apalagi setelah adanya serentetan kejadian yang menguji kekuatan Cinta mereka. Juga sebuah rahasia gelap lainnya yang tiba-tiba saja terungkap, tentang misteri pembunuhan adik Alexa, Audrey Ainsley Quenzel, sepuluh tahun silam yang justru tanpa sengaja membawanya ke dalam sejarah kelam keluarganya yang tak pernah ia tahu. Berhasilkah mereka berdua melewati semua itu dengan Cinta yang masih tetap utuh ketika hadirnya orang ketiga dalam hubungan mereka?

Lalu bagaimana kisah Lily selanjutnya setelah ia mendapatkan hadiah berupa kesempatan untuk hidup kedua kalinya? Berhasilkah ia menebus semua kesalahannya di masa lalu dan hidup bahagia seperti yang ia impikan saat justru ia malah terikat oleh takdir yang sama sekali tidak ia inginkan. Benang takdir yang tiba-tiba mengikatnya dengan sebuah entitas lain yang membuat hidupnya kembali terasa seperti sedang menaiki roller coaster paling menyeramkan di dunia. Akankah ia kembali terluka dan hancur lagi atau kali ini ia berhasil mendapatkan kebahagiaan yang ia idamkan?

chap-preview
Pratinjau gratis
CHAPTER 1 : THE RED LINES IN THE SKY
Perempuan itu berlari di dalam hutan tanpa menengok ke belakang. Matanya terbuka lebar, keringatnya bercucuran di dahi hingga ke pipinya, jantungnya berdentum memekakkan telinga. Ia harus keluar dari sini, sejauh mungkin. Semuanya bagaikan mimpi buruk, namun sangat nyata. Ia berhenti dan memasang telinga. Hanya suara deru nafasnya yang tak beraturan yang terdengar. Ayo terus, ia mencoba menyemangati dirinya di tengah kepanikan. Teruslah berlari tanpa suara sebisa mungkin, di bawah rimbunnya pepohonan hutan dan sesemakan. Ia tak boleh sampai tertangkap. Namun, ia kemudian menyadari dirinya tersesat di hutan luas ini, tapi ketidaktahuan di mana ia berada bukanlah masalah, yang menjadi masalahnya sekarang adalah bagaimana mencari jalan keluar, mencari bantuan. Hutan ini pasti ada ujungnya, entah di mana, dan di sana pasti ada rumah penduduk, sebuah desa. Ia akan aman di sana. Maka perempuan itu pun terus berlari, di antara pepohonan, menembus semak-semak dan melalui ranting-ranting patah yang remuk di pijaknya. Andai saja ia bisa menemukan seseorang yang bisa menolongnya. Ia melihat ke depan dan sekelilingnya, mencari-cari, sambil terus berlari. Tiba-tiba jalanan hutan yang penuh daun dan ranting kering, kini berganti menjadi jalanan beraspal mulus berwarna abu. Jalanan itu terlihat sangat sepi, berlatarkan langit senja dengan garis kemerahan di atas sana, serta hutan yang lebih lebat di sisi lain jalan. Langkahnya tertatih dengan tubuh lemas yang hampir kehabisan daya. Beberapa jam yang lalu semuanya masih baik-baik saja, ia baru saja akan pulang cepat karena guru-guru memutuskan untuk mengadakan rapat dadakan mengenai ujian akhir, sampai tiba-tiba seseorang menariknya masuk secara paksa ke dalam sebuah mobil, lalu membekap mulutnya. Ia kemudian berontak hebat di dalam mobil itu, apalagi ketika tahu siapa yang tengah mencoba membawanya, namun kepalanya malah dipukul hingga ia pingsan. Ketika ia terbangun, ia sudah berada di dalam sebuah pondok kayu usang. Karena ketakutan, ia pun berusaha untuk kabur dari pondok kayu itu. Ia menjebol paksa jendela pondok yang di tutupi oleh susunan papan kayu dengan menggunakan sebuah kerangka payung yang sudah rusak yang menjadi satu-satunya benda yang ada di pondok lusuh itu. Dengan mengerahkan segenap tenaga yang ia punya, di dukung oleh rasa marah, takut dan panik, papan-papan kayu yang menutupi jendela itu akhirnya berhasil ia jebol. Setelahnya, ia segera keluar dari sana dan berlari ke dalam hutan. Meski sempat tersesat sebelumnya, ia sungguh hampir menangis lega ketika akhirnya menemukan sebuah jalan raya. Jalan raya yang sepi. Ia menyeret paksa tubuhnya, berjalan gontai di pinggir jalan raya yang sepi itu sembari berharap sebuah mobil lewat sehingga ia dapat meminta bantuan pada sang pengendara. Langit senja di atasnya perlahan mulai menggelap, malam hampir tiba. Tetapi, perempuan itu masih belum menyerah. Dengan seragam sekolah yang sudah kusut dan sobek di beberapa bagian, penampilannya sudah pasti sangat berantakan. Ia memeluk dirinya sendiri demi menghalau dinginnya hembusan angin yang menerpanya serta menerpa beberapa luka lecet di sekujur tubuhnya. Hingga kemudian ia mendengar suara deru mesin mobil dari arah belakangnya. Sorot lampu mobil itu mengenai dirinya, membuat penglihatannya sempat buta selama beberapa detik. Beberapa detik mengerikan di mana hal selanjutnya yang terjadi adalah ia jatuh terlentang di atas aspal yang dingin. Bahu, kepala dan sekujur tubuhnya terasa sangat sakit hingga membuat setiap helaan nafas yang ia ambil bagaikan ia sedang memotong nyawanya sendiri. Langit senja di atasnya mulai mengabur, seiring dengan rasa sakit di kepalanya yang semakin menjadi. Ya Tuhan, sakitnya... Telinganya kemudian mendengar suara pintu mobil yang terbuka dan menutup, di susul oleh suara langkah kaki yang begitu mengintimidasi baginya dalam kondisi rentan seperti ini. Lalu sebuah bayangan gelap menjulur di atasnya, menutupi pemandangan langit senja. Antara sadar dan tidak, ia melihat iblis itu di atasnya. Menatapnya dengan sepasang abunya yang dingin. Iblis yang telah membawanya paksa ke tempat antah berantah ini. Tatapan itu begitu datar, tanpa gejolak emosi, berbanding terbalik dengan sikapnya yang penuh hati-hati mengangkat tubuh perempuan tak berdaya itu ke pangkuannya. Lalu, dengan lembut mengusap jejak darah yang mengalir di dahinya, juga di pinggir mulutnya. Oh Tuhan, sakitnya semakin tak tertahankan, rasanya seperti organ-organ dalamnya sedang digiling paksa. Sekarang ia sudah benar-benar tak berdaya. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Iblis itu telah berhasil menangkapnya. Pastilah hidupnya tak akan lama lagi, karena iblis itu pasti akan segera membunuhnya setelah ini. Di tengah cengkraman rasa takut dan ketidakberdayaannya itu, sang iblis membisikkan suatu perintah mutlak padanya. "Tunggu dan bersabarlah, aku akan mencari cara untuk melepaskan mu dari semua ini. Kau pasti mengerti kalau aku melakukan ini demi dirimu, My Little Lily." ujarnya dengan nada rendah mengancam, mengirim teror mimpi buruk ke dalam benak perempuan itu sebelum benaknya di renggut oleh kegelapan, dan pikirannya pun menjadi kosong. **** Awan mendung dan langit kelabu seharusnya tak menjadi latar suasana persiapan bulan madunya. Alexa menoleh ke arah pintu kaca balkon yang berada tak jauh dari tempatnya, tangannya berhenti memasukkan pakaiannya ke dalam tas koper miliknya, lalu memandang isyarat langit kelam dengan pikiran yang ikut tertular mendung. Satu jam yang lalu, semuanya masih baik-baik saja, ia begitu bersemangat pada rencana bulan madu mereka. Di tambah sang suami mengatakan bahwa ia memiliki kejutan spesial untuknya dengan tatapan yang belum pernah Alexa lihat. Tatapan itu mengisyaratkan cinta dan rasa syukur yang begitu besar, membuat rona merah muda segera menjalari pipi Alexa. Oleh sebab itu, ia menjadi sangat bersemangat menyiapkan semuanya, mulai dari baju-baju apa saja yang akan ia bawa. Menurutnya, penampilan adalah yang paling penting, ia ingin membuat suaminya terkesan padanya. Akan tetapi, ketika angin dingin tiba-tiba berhembus dan menimbulkan suara derak aneh pada dahan-dahan ranting pohon ek yang berdiri di samping balkonnya, semangat itu pun perlahan mulai lenyap, digantikan dengan perasaan tak nyaman di dadanya. Sengatan rasa tak nyaman itu terasa semakin menjadi manakala sang suami, Mr. Hemlock, masuk sembari membawakan setumpuk novel kesukaannya, beserta barang-barang kebutuhannya yang lain. Alexa tahu bahwa seharusnya ia langsung memberikan senyum lebar ketika sang suami dengan begitu perhatiannya mau repot-repot membawakan beberapa bacaan agar ia tak merasa bosan selama di perjalanan, namun yang ia tampilkan malah senyum getir nan pahit. Melihat ekspresi muram di wajah sang istri, Mr. Hemlock segera berjalan mendekati wanita itu lalu menaruh barang-barang yang ia bawa di atas ranjang sebelum mengalihkan atensinya pada sang istri. "Ada apa? Apa kau merasa tak enak badan?" tanyanya dengan wajah yang sedemikian khawatir. Binar khawatir di kedua birunya membuat Alexa semakin merasa tak enak hati karena hampir menghancurkan rencana bulan madu mereka hanya karena moodnya sedang tak baik. Jadi, ia pun tersenyum sebelum membalas pertanyaan sang suami. "Tidak. Aku baik-baik saja. Hanya saja mendung di luar nampaknya akan segera berubah menjadi hujan lebat." ujarnya seraya kembali menoleh ke arah pintu kaca balkon yang menampilkan pemandangan kelabu di langit. Mendengar hal itu, Mr. Hemlock pun merangkul istrinya dengan sayang, mengusap-usap punggungnya untuk meredakan kekhawatiran sang istri. "Tenanglah, tidak akan terjadi badai hari ini." ucapnya disertai senyum menenangkan. Alexa pun mengangguk seraya memeluk tubuh hangat suaminya, berharap dengan begitu dapat mengusir perasaan gelisah yang masih senantiasa bergelayut di hatinya. Namun, meski begitu perasaan kecewa kini malah menghantamnya lantaran kedua orangtuanya tak dapat datang seperti yang dijanjikan. Alexa selalu benci dengan alasan sibuk yang selalu didengarnya dari sang ibu yang memang sedari dulu adalah juru bicara tak resmi sang ayah. Bahkan setelah pesta perayaan pernikahan mereka kemarin, kedua orangtuanya itu memutuskan untuk langsung pulang kembali ke rumah mereka seolah tak pernah ada apapun hari itu. Meski begitu, Alexa berusaha untuk berpikiran positif lantaran tak ingin menghancurkan rencana bulan madu impiannya. Alexa bersikap santai saat sang suami melirik khawatir ke arahnya. "Well...mungkin mereka benar-benar sedang sibuk. Tapi, tentu aku tidak akan membiarkan hari ini jadi berantakan hanya karena masalah sepele. Jadi...bukankah sebaiknya kita segera berangkat? Sepertinya cuaca akan cukup bersahabat nantinya." ujar Alexa sembari tersenyum cerah, diam-diam mencoba menyemangati dirinya sendiri. Tapi apa mau dikata, senyum cerah yang terlukis di wajah cantiknya, perlahan harus luntur lantaran guyuran hujan deras disertai angin yang cukup kencang menyerbu kota London hari itu. Hujan itu terus mengguyur mereka bahkan sampai mereka berhasil keluar dari hiruk-pikuk kota dan mulai memasuki jalanan yang di kiri dan kanannya dipagari oleh hutan-hutan lebat. Mr. Hemlock berusaha mengendarai mobilnya dengan hati-hati mengetahui jalanan pastilah licin akibat hujan deras itu. Tirai air hujan sedikit memburamkan kaca depan mobil. Mobil yang mereka kendarai melewati jalanan yang berkelok-kelok. Di tambah dengan cuaca muram dan hujan yang begitu lebat, membuat Alexa merasa was-was. Ia mengatakan pada suaminya untuk lebih berhati-hati karena jalanan semakin gelap dan licin yang diangguki langsung oleh sang suami. Namun, tepat di kelokan di depan, mereka dikagetkan dengan kemunculan seseorang yang tiba-tiba berlari keluar dari dalam hutan. Lalu semuanya terjadi begitu cepat dan mendadak terdengar bunyi hantaman keras disertai bayangan tubuh yang menggelinding jatuh dari atas kap mobil. Mr. Hemlock pun segera menginjak keras pedal rem berbarengan dengan suara jeritan kaget Alexa yang menggema hingga keluar mobil. Mereka terdiam kaku sejenak karena syok. Di luar, bunyi suara hujan yang memukul-mukul atap mobil menjadi semakin bising. Tak ada yang berani bersuara ataupun bergerak, mereka tak percaya bahwa mereka baru saja menabrak seseorang. Akan tetapi, Mr. Hemlock tiba-tiba saja turun dari mobil dan berjalan ke arah bagian depan mobil, kemudian mematung tak bergerak di sana. Kedua matanya terbeliak, dan hal itu membuat Alexa akhirnya memutuskan untuk ikut turun dan melihat. Segera, Alexa terkesiap dan menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika mengetahui ternyata seorang gadis berseragam SMA lah yang mereka tabrak. Mulut gadis itu mengeluarkan darah, beserta dahi dan kepalanya. Di tengah guyuran hujan deras yang membuat pakaiannya basah kuyup ia segera berjongkok untuk mengecek tanda-tanda kehidupan sang gadis. Denyut nadinya masih terasa walau samar, jadi Alexa langsung berteriak pada sang suami dan memintanya untuk menggendong gadis itu ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit terdekat. "Gadis ini masih hidup. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat." teriaknya sekencang yang ia bisa demi menghalau bisingnya bunyi air hujan. Namun, sedetik kemudian sepasang tangan berlumuran darah menarik wajah Alexa ke bawah. Membuatnya melihat sepasang mata melotot yang menatap balik dirinya. Sepasang tangan berlumuran darah itu adalah milik si gadis yang tertabrak barusan yang bagaikan bangkit dari kematian. Kedua mata Alexa terbelalak ngeri ketika melihat secara perlahan wajah gadis itu berubah menjadi wajah adiknya, adiknya yang telah lama hilang. Dengan terbata, gadis itu mencoba mengatakan sesuatu kepada Alexa. "Kakak... Mengapa kau tak pernah mencari ku lagi?" ucapnya lirih dengan mulut yang selalu mengeluarkan darah setiap ia berusaha untuk berbicara. Alexa mulai tersedu-sedu ketika melihat pemandangan itu serta suara familiar yang begitu ia rindukan. Sembari tersedu, ia hendak menyentuh wajah sang adik saat tiba-tiba kedua mata gadis kecil itu berputar ke arah dalam lalu berubah warna menjadi merah menyala. Gadis kecil itu mulai berteriak marah dengan suara yang serak, menyemburkan darah merah dari dalam mulutnya tepat ke wajah Alexa. "Kau tak pernah mencari ku!" "Kau sudah melupakan ku!" "Mengapa kau melupakanku, Kak?!" "Mengapa tak pernah mencari ku?!" "Mengapa?!" "Mengapa?!" "MENGAPA?!" Jeritan putus asa itu masih menggema sampai Alexa tersentak bangun dengan tatapan melotot ngeri dan nafas yang berkejaran menatap langit-langit kamar di atasnya. "Cuma mimpi..." desahnya lemah seraya mengusap peluh di wajahnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu memejamkan matanya seraya berusaha menetralkan dentuman liar jantungnya yang tak henti memukul-mukul dadanya. Tubuhnya masih gemetar dan menggigil. Mimpi itu terlalu nyata untuk sekedar dianggap mimpi. Namun, hal yang paling aneh adalah mengapa ia tiba-tiba memimpikan sang adik? Setelah sepuluh tahun berlalu tanpa adanya petunjuk, bahkan selama itu ia hampir tidak pernah memimpikan sang adik, serindu apapun ia saat itu sehingga ia sangat berharap dapat bertemu adiknya di dalam mimpi. Tapi, mimpi itu bahkan tak pernah datang. Meskipun dulu ia selalu menangisi sang adik setiap sebelum ia tidur karena semua usaha yang ia lakukan selalu berujung pada jalan buntu. Lalu, mengapa sekarang ia tiba-tiba memimpikannya? Di tambah, itu bukanlah mimpi yang baik. Gadis kecilnya itu tertabrak dan terlihat sekarat di atas aspal yang penuh dengan genangan air hujan yang telah tercampur dengan darahnya, dan yang menabraknya tak lain dan tak bukan adalah ia dan suaminya. Seketika itu juga matanya langsung terbuka lebar, perasaan janggal tiba-tiba mengusik benaknya. Alexa mulai merasakan kegelisahan setiap pikirannya memutar kembali mimpi itu. Mungkinkah itu sebuah petunjuk? Namun, mau dilihat bagaimana pun, mimpi itu terlalu ganjil untuk disebut sebagai sebuah petunjuk. Tetapi, mengapa mimpi semacam itu baru muncul sekarang setelah sepuluh tahun berlalu? Andaikan itu hanya sekedar mimpi buruk biasa, tapi rasa dari sentuhan sang adik terasa begitu nyata bagi Alexa, bahkan bau darahnya tercium begitu pekat di hidungnya. Hati kecilnya yakin bahwa mimpi itu bukanlah sekedar mimpi buruk biasa, melainkan sebuah pertanda untuknya. Di tengah kemelut pikirannya, ia mendengar suara ketukan di jendela. Alexa menoleh dan terkejut ketika menyadari bentuk jendelanya berbeda dengan bentuk jendela mansionnya. Bentuknya terlihat lebih tinggi dan lebih besar, hanya ada satu jendela di dalam kamar itu, tak ada pintu balkon seperti di mansion. Tersentak kaget, Alexa langsung turun dari ranjang dan berlari ke pintu. Ia membukanya sedikit ketika mengetahui bahwa pintu itu ternyata tak dikunci, lalu mengintip dari celah yang tercipta. Ruangan itu terlihat lebih sederhana, lantainya terbuat dari kayu dan bukannya marmer antik berwarna putih. Ini jelas-jelas bukan mansion Hemlock. Lalu, ia mendadak teringat dengan rencana bulan madu mereka kemudian menepuk kepalanya karena merasa bodoh sudah sempat merasa panik sendiri dan berpikiran buruk bahwa ia telah diculik. Alexa pun menutup kembali pintu itu dan berjalan kembali ke ranjang sembari terkekeh kecil menertawakan kebodohannya barusan. Betapa mimpi buruknya barusan dapat langsung membuatnya menjadi paranoid sendiri. Ia kemudian berdiri di depan jendela, menatap langit senja kemerahan yang sebentar lagi akan berubah menjadi gelap. Sedikit demi sedikit ia pun dapat mengingat rencana bulan madu mereka di sebuah pondok milik sang suami yang berada di sebuah pulau terpencil di seberang dataran Inggris. Mereka berencana menetap selama dua minggu di tempat ini. Lalu, Alexa pun teringat pada sang suami yang mengatakan bahwa ia sedang menyiapkan kejutan untuknya dan memintanya untuk menunggu di kamar. Ia pasti sudah ketiduran selama menunggu. Tapi, mengapa suaminya belum datang juga, batinnya dalam hati. Setelah berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar untuk waktu yang cukup lama, Alexa pun tak tahan lagi. Ia memutuskan untuk turun dan mengecek. Diraihnya cardigan miliknya yang tersampir di kursi meja rias. Ia lalu menghambur cepat keluar dari kamar. Setelah sampai di lantai bawah, seketika ia mencium aroma masakan dari arah dapur. Bergegaslah ia menuju ke sana, lalu menemukan pemandangan paling manis dari suaminya yang sedang memakai celemek berwarna merah muda. Tangannya sibuk memotong dan menggoreng. Aroma yang tercium dari sana sangat menggiurkan hingga Alexa tanpa sadar berjalan mendekat ke arah suaminya, kemudian memeluknya dari belakang. "Aku tak tahu kalau kau sangat lihai dalam urusan dapur, Sayang." ujar Alexa yang membuat Mr. Hemlock seketika tertawa kecil. Pria itu kemudian meletakkan spatula yang ada di genggamannya dan mematikan kompor sebelum mengelapkan tangannya ke celemek. Ia lalu berbalik menghadap sang istri, melihatnya tersenyum lebar memesona yang membuatnya menjadi ikut tersenyum lebar pula. "Bukankah sudah ku bilang untuk menunggu di kamar sampai semua ini selesai, hm? Aku tak tahu kalau kau cukup pembangkang juga, istriku, hm?" Mr. Hemlock berseru sembari menggesekkan hidung mancungnya pada hidung mancung Alexa dan tertawa kecil ketika melihat rona kemerahan di pipi istrinya itu. "Jadi, kejutan yang kau maksud adalah memasakkan makan malam untukku?" balas Alexa dengan kerlingan jahil di kedua matanya. "Hanya itu? Ku pikir kau akan memberikan kejutan spesial untuk malam pertama bulan madu kita?" ucapnya sembari mengerling sensual pada sang suami. Sontak saja kini giliran sang suami yang memerah kedua pipinya, dan meledak lah tawa Alexa yang mati-matian ia coba tahan ketika ia melihat sang suami mencoba menyembunyikan wajahnya dengan kikuk. "Ini...baru pembukaannya saja. Aku hanya ingin memberikan kesan manis di malam pertama kita, dan....membuatmu terkesan." cicitnya di akhir kalimat. Alexa bahkan harus mengatur nafasnya sendiri yang mendadak terasa sesak akibat serangan keimutan sang suami secara tiba-tiba barusan. Ia pun lalu berdeham singkat karena tiba-tiba saja tenggorokannya juga ikut terasa kering. "Aku tak menyangka kau memikirkan perasaanku sampai seperti itu...?" ujar Alexa seraya berjalan mendekati suaminya. "Tentu saja, kau kan istriku...sekarang." balas Mr. Hemlock cepat sebelum terkesiap kaget ketika salah satu tangan sang istri sudah bertengger manis di dadanya, membuat nafasnya mulai tersendat-sendat. Jantungnya langsung berdegup cepat di dalam sana. "Kalau begitu," ujar Alexa sembari menggeser tangannya ke arah tengkuk sang suami, kedua tangannya kini sudah bergelayut manja di sana. "...kurasa lebih baik kita langsung ke bagian intinya saja, hm?" tambahnya disertai kerlingan menggoda. "Sekarang, aku akan sangat terkesan kalau kau mau menciumku dengan segenap cintamu, suamiku." tandasnya seraya tersenyum miring sensual. Lalu mengecup lembut bibir suaminya. Mereka pun saling memagut setelahnya dengan sangat intens. Sayangnya keintiman itu harus terinterupsi oleh sebuah geraman marah dari seekor serigala hitam raksasa yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Alexa. Refleks Mr. Hemlock pun seketika menarik Alexa untuk bersembunyi di belakang punggungnya, sementara satu tangannya yang lain dengan sigap menahan cakar besar milik sang serigala yang nyaris saja mencabik-cabik istrinya tadi. Alexa yang terkejut segera terbelalak ketika melihat seekor serigala sebesar itu berada sangat dekat dengan mereka. Tak terbayangkan apabila cakar raksasanya itu tadi berhasil mengenai dirinya, mungkin ia sudah tercabik-cabik menjadi serpihan sekarang. Tetapi...dari mana serigala sebesar itu bisa masuk? Mr. Hemlock dengan cepat menangkis serangan-serangan lain dari sang serigala, membuat mereka akhirnya terpojok di sudut dapur. Menyadari bahwa hal ini dapat membahayakan sang istri, ia segera meminta Alexa untuk pergi ke kamarnya sampai ia berhasil membereskan gangguan tak terduga ini. "Pergilah dulu ke kamar sekarang, biar aku yang akan membereskan hal ini. Ayo, aku akan melindungi mu." ujar Mr. Hemlock seraya menahan serangan sang serigala besar yang mencoba menerkam Alexa. Lalu, saat tiba-tiba serigala itu melompat dan berhasil menindih tubuh Alexa, Mr. Hemlock langsung mengamuk marah. Dalam sekejap, sosok iblis bertubuh besar dengan kulit merah menyala serta sepasang tanduk melengkung di kepalanya muncul di tempat Mr. Hemlock berdiri sebelumnya. Matanya yang bagaikan lubang hitam tak berujung dengan titik merah menyala di bagian tengah, menatap nyalang pada sang serigala. Tangannya yang besar dan bercakar tajam terjulur, dengan cepat menancap dalam di tubuh sang serigala. Kemudian menarik sang serigala dan melemparnya ke luar melalui pintu dapur yang terbuka. Seketika, ia teringat bahwa dia lah yang membuat sang serigala itu berhasil masuk ke dalam pondok dan menyerang mereka dengan membiarkan pintu belakang pondok terbuka karena ia sedang sibuk menyiapkan acara makan malam romantis di halaman belakang pondok untuk sang istri. Setelah mengecek sang istri yang untungnya baik-baik saja dan memberi isyarat mata padanya untuk bersembunyi di kamar untuk sementara waktu, pria itu pun kemudian beralih pada serigala yang tengah mencoba bangkit dari reruntuhan makan malam romantis yang telah susah-susah ia siapkan. Sepasang netra kelamnya memandang benci pada sang serigala, mengutuk ulah monster itu yang sudah mengganggu malam romantisnya bersama sang istri. Ia kemudian segera berlari cepat ke arah sang serigala dan menyerangnya dengan membabi buta, menyalurkan kemarahan dan kebencian yang meledak di dalam hatinya. Malamnya telah hancur lebur, jadi ia pun harus meremukkan pula orang yang telah menghancurkannya. Serigala hitam besar itu harus mati di tangannya. Melompat cepat, ia pun mendarat tepat di atas tubuh sang serigala yang belum sempat bangkit. Tangan besarnya yang penuh dengan cakar-cakar tajam dengan cepat mencengkeram leher sang serigala, lalu meremasnya kuat. Cahaya kemerahan segera muncul dan menyelimuti tangannya, cahaya merah itu pun kemudian menjalar hingga ke seluruh tubuh serigala hitam itu. Membuatnya terbakar habis di dalam kobaran api merah yang melahap seluruh tubuhnya dalam sekejap. Sisa-sisa abu dari sang serigala beterbangan di udara bersamaan dengan tatapan dingin di wajah sang iblis. Matanya segera menyipit tajam ketika merasakan sumber energi lain yang. Sumber energi yang sudah dengan lancangnya mengirim sang serigala ke pondoknya. Kira-kira siapakah yang tak suka rencana bulan madunya? Kemungkinan yang ada hanyalah satu orang, tapi seingatnya sosok itu masih tertidur di dalam kuburannya selama kurun waktu dua puluh tahun lebih ini. Tetapi, ia sama sekali tak memiliki masalah dengan iblis lainnya, jadi sudah pasti dialah orangnya. Ia melirik pada langit malam dan juga sekelilingnya, mencari jejak-jejak keberadaan sang pelaku. Sementara itu, Alexa yang sudah sampai di ambang pintu kamarnya dikejutkan dengan suara pintu lemari baju miliknya yang tiba-tiba berderit terbuka. Ia pun menoleh dan mengernyit bingung menatap lemarinya itu, lalu tiba-tiba muncul siluet kepala gadis kecil yang mengintip dari dalam lemari tersebut. Alexa terlonjak kaget saat melihat wajah gadis kecil itu yang berlumuran darah, dengan mata yang seluruhnya berwarna hitam kelam menatapnya dengan tatapan dingin. Rambut cokelat terangnya yang dikepang terlihat sangat berantakan. "KAKAK...HELP ME!!" Tiba-tiba saja gadis kecil mengerikan itu berteriak dengan suara serak yang begitu nyaring dan menyakitkan telinga, sebelum pintu lemari baju itu terbanting menutup dengan sendirinya. Seketika Alexa langsung berteriak histeris dan jatuh lemas ke lantai. Mr. Hemlock yang mendengar teriakan sang istri langsung berlari ke dalam rumah dengan membabi buta, khawatir jika sang istri terluka atau kembali diserang. Sesampainya di lantai atas, ia melihat sang istri yang sedang sesenggukan sembari duduk bersimpuh di lantai. Dengan sigap, ia langsung memeluk sang istri dengan sangat erat, mencoba menenangkannya. Mereka tak menyadari jika ada sosok misterius yang sedang bersembunyi dan mengintip mereka dari kegelapan di balik pintu gudang loteng, yang tepat berada di ujung lorong yang langsung menghadap ke arah kamar yang ditempati Alexa dan Mr. Hemlock. Sosok misterius itu terkikik kecil sebelum menghilang di telan kegelapan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.1K
bc

Troublemaker Secret Agent

read
59.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.5K
bc

Chiko, Let's Play!

read
23.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook