Alexa seketika langsung terbelalak tak percaya ketika dirinya kini berpindah tangan ke sosok berjubah hitam yang kali ini giliran menyeretnya lari. Namun, sebelum itu ia menoleh ke arah Mr. Hemlock yang terlihat terhuyung-huyung karena luka di bahunya akibat belati yang menancap disana. Alexa yang tadinya masih syok dan bingung kemudian tersadar dan mencoba membebaskan diri dari cengkraman sosok berjubah hitam itu.
"Lepaskan aku, Mom!"sentaknya kemudian melepaskan diri.
"Kau tidak pernah mengatakan padaku jika suami mu adalah Asmodeus, sang iblis hawa nafsu." ujar sang ibu terdengar marah.
"Ap-apa—...", Alexa pun seketika tergagap saat di hadapkan dengan pernyataan tiba-tiba itu.
"Banyak hal yang perlu kau jelaskan padaku, jadi jangan membantah dan ikuti saja aku." desis sang ibu sembari kembali menarik Alexa bersamanya. Alexa pun terpaksa mengikutinya.
Gelapnya langit malam di atas mereka kini diwarnai dengan cahaya kilat berwarna merah, suara gemuruhnya membuat Alexa terlonjak menoleh ke atas langit. Kilatan-kilatan merah yang ada di atas langit bak lengan-lengan gurita raksasa berwarna merah yang sedang menggeliat di tengah-tengah gumpalan awan hitam. Ditambah gumpalan kabut tipis yang melayang di sekeliling mereka membuat suasana terasa mistis yang mendirikan bulu roma. Dan entah mengapa firasat Alexa langsung merasa buruk.
Mereka kemudian berhenti di depan sebuah rumah megah namun nampak suram dan tak terawat. Sang ibu menjelaskan padanya bahwa rumah itu adalah rumah lama milik keluarga ibunya. Halaman depan rumah itu ditumbuhi ilalang yang sudah meninggi bak pagar yang mengelilinginya, menyembunyikan keberadaan rumah itu dari dunia luar. Menara-menara beratap lancip menjulang mengapit sisi-sisi kanan dan kiri rumah mewah itu. Jendela-jendela yang berukuran raksasa bak sekumpulan mata hitam yang mengawasinya di kegelapan.
Alexa meneliti areal sekitar rumah mewah itu. Pintu depan ganda dengan gantungan papan kayu bertuliskan "BLACK MANOR" benar-benar asing baginya. Mengernyit bingung karena setahunya marga sang ibu sebelum menikah dengan sang ayah adalah Osborne, baru saja ingin bertanya sang ibu sudah menghilang dari sisinya. Salah satu pintu ganda di depannya sudah terbuka lebar. Ia pun kemudian mengintip ke dalamnya, dan menemukan ibunya yang sudah berjalan lebih dulu ke dalam. Meskipun enggan, namun ia tak memiliki pilihan lain selain mengikuti sang ibu masuk ke dalam rumah itu. Tetapi sebelum itu, tanpa sadar ia menoleh ke belakang, ke sekumpulan ilalang yang tingginya melebihi tinggi tubuhnya tengah bergoyang diterpa hembusan angin. Suara desirannya mengisi keheningan malam itu. Akan tetapi sebuah siluet hitam tiba-tiba saja terlihat berdiri beberapa meter jauhnya dari pintu masuk manor terbengkalai itu, membuat Alexa seketika terbirit masuk. Jantungnya langsung berdegup dengan amat kencang ketika ia merasakan tatapan tajam yang menghujamnya.
Disambut oleh kegelapan yang pekat, kedua netranya membutuhkan waktu untuk membiasakan diri. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk menutup rapat pintu itu lantaran firasat nya yang semakin terasa tak enak. Bertepatan dengan pintu yang tertutup, lampu-lampu di dalam manor itu tiba-tiba menyala, memancarkan cahaya hangat kekuningan ke sekelilingnya. Seketika ia langsung dibuat takjub dengan kemewahan yang ada di dalam manor itu, tanpa menyadari bahwa manor itu hanyalah salah satu tipuan sihir hitam lainnya.
Berbagai furniture mewah, mulai dari meja yang dipernis, sofa antik yang terlihat sangat elegan, juga lampu-lampu kristal indah yang menggantung di langit-langit manor. Sebuah hal yang tak terduga jika melihat bagian depan manor yang tak terawat, berbanding terbalik dengan isi di dalamnya. Namun ada satu hal aneh yang baru disadari Alexa, deretan cermin dari yang besar dan kecil memenuhi setiap bagian dari dinding manor itu. Alexa mencoba melangkah mendekati salah satu cermin, tapi tak menemukan keanehan apapun dari cermin itu. Cermin-cermin itu nampak seperti cermin biasa, akan tetapi Alexa masih tak paham untuk apa cermin sebanyak itu di pasang di setiap bagian dinding yang ada di manor itu.
Suara sang ibu yang memanggilnya, seketika membuyarkan lamunannya tentang cermin-cermin tersebut. Lalu dengan langkah cepat, ia segera menghampiri asal suara yang memanggilnya tadi. Tak butuh waktu lama, ia pun berhasil menemukan sang ibu yang sedang berdiri di tengah-tengah manor, membelakanginya. Terdapat dua jalur anak tangga di depan mereka, masing-masing mengarah ke sebuah pintu ganda lagi yang berada di lantai atas. Mereka kini sedang berdiri di tengah-tengah ruangan luas yang sepertinya adalah aula dari manor tersebut.
Sang ibu yang masih berdiri diam membelakanginya membuat Alexa dengan leluasa memperhatikan interior sekitarnya. Namun di detik berikutnya tubuhnya langsung menegang kaku sembar menatap ke sebuah kaca berukuran besar yang tertempel di salah satu bagian dinding manor, memantulkan bayangan mereka berdua.
Akan tetapi, alih-alih wajah sang ibu yang terpantul disana, justru sosok lain yang terlihat di cermin itu. Alexa pun tanpa sadar langsung beringsut mundur saat melihat seringai miring yang perlahan terbit di wajah dingin itu. Berbagai pikiran buruk berkecamuk di kepalanya, memukulnya dengan kesadaran penuh. Lampu manor yang tiba-tiba padam seluruhnya, seakan bagai celah baginya untuk melarikan diri. Tetapi terlambat, karena cekalan kasar di pergelangan tangannya menahannya kuat. Kuku-kuku tajam nan hitam itu menancap kuat, merobek kulit seputih s**u miliknya, menciptakan goresan perih yang membuatnya meringis sakit.
Lalu dalam hitungan detik, dirinya sudah berada di dalam dekapan makhluk itu yang membelit tubuhnya erat dari belakang. Hembusan nafas hangatnya menyapu bagian tengkuk Alexa hingga meremang. Pikirannya kacau lantaran ia sangat bingung ketika mendapati dua sosok yang sama persis di waktu yang hampir bersamaan. Hembusan suara seraknya hampir membuat Alexa terlonjak saat sosok itu berbisik tepat di telinga Alexa. Kalimat yang membuat Alexa segera tersadar kalau sosok yang sedang memeluknya kini lah yang merupakan sosok monster sebenarnya.
"Sekarang larilah...You better hide or I'll catch you." gumamnya lagi sebelum melepaskan pelukannya dari tubuh Alexa dan mundur selangkah menjauh. Alexa terpaku di tempatnya, tubuhnya seakan kaku tak mampu digerakkan. Namun, suara hitungan mundur yang menggema di kegelapan membuatnya tak memiliki pilihan lain, ia pun segera berlari secepat yang ia bisa, menembus kegelapan manor yang hanya diterangi oleh cahaya-cahaya kilat yang masuk melalui celah jendela. Memanfaatkan setiap detik yang ada dengan sebaik-baiknya agar tak tersesat atau bahkan tersandung jatuh menabrak barang-barang disekitarnya. Sedangkan di belakangnya, sosok itu juga ikut mengejar.
****
Ini benar-benar seperti mimpi buruk yang menjelma menjadi nyata. Satu Mr. Hemlock saja sudah membuat tubuhku meremang takut, tapi kali ini ada dua Mr. Hemlock yang tengah mengincar ku. Betapa beruntungnya diriku!
Cahaya merah yang berasal dari kilat di langit justru membuat atmosfer di sekitarku menjadi semakin mengerikan. Apalagi ketika cahaya kemerahan itu memantul di dinding, membuatnya bagai cipratan noda darah yang menyala dalam kegelapan. Untungnya aku mengingat rute jalan keluar dari manor ini, aku hanya tinggal berbelok di tikungan di depan sana, lalu berlari lurus mengikuti lorong, tepat ketika lorong berakhir aku pun akan segera menemukan pintu ganda menuju keluar.
Suara desisan tawa sinting di belakangku terasa semakin mendekat, bersamaan dengan itu kedua netra ku menemukan pintu ganda yang merupakan pintu keluar manor itu. Mempercepat lariku, tanganku ku julurkan dan mendorong pintu ganda itu terbuka. Tawa lega terbit di bibirku. Namun itu tak berlangsung lama, karena beberapa meter di depanku sosok itu telah berdiri menghadang jalanku dengan seringai lebar khas nya yang menyambutku penuh sukacita. Membuatku segera menukik cepat untuk menghindarinya. Membuatnya mendesis marah lalu ikut mengejar ku. Kata "Lari", menggema di benakku bagai alarm tanda bahaya yang berbunyi dengan sangat nyaring. Namun sayang, perjuanganku harus digagalkan oleh sesuatu yang menjegal kakiku dan membuatku terjatuh menghantam tanah dengan telak. Ketika ku tolehkan kepala, ku rasakan aliran dingin yang dengan cepat merangkak naik dan menyebar ke seluruh tubuhku, membuatku membeku ditempat.
Ia berhasil memerangkapku kali ini. Tubuhku tak dapat berkutik di bawah kungkungan nya. Dengan jari jemarinya yang sedingin hembusan angin malam, ia menyentuh pipi kiriku selembut bulu. Kedua mataku mencoba mencari celah di kedua matanya yang tengah menatapku dengan tatapan menilai. Nafasku berkejaran ketika jari jemari dingin itu meluncur turun, menelusuri lekuk tubuhku dengan seksama diiringi senyum liciknya yang seakan sedang menikmati setiap ekspresi ketakutan di wajahku.
Lalu kalimat itu pun meluncur keluar begitu saja darinya."Sudah ku katakan lebih baik kau bersembunyi atau aku akan menangkapmu, Sayang."
Dan sebuah ide paling beresiko tiba-tiba terlintas begitu saja di benakku. Namun, semua kesempatan layak untuk dicoba di saat-saat seperti ini. Jadi, ku beranikan diriku, menatap kedua matanya dengan tatapan sepolos yang ku bisa. Dan aku pun membalas perkataannya dengan sehalus mungkin, mencegah dirinya curiga.
"Bagaimana jika aku memang ingin tertangkap?" mula ku sembari menyentuhkan jari jemariku dengan lembut di wajahnya yang amat mirip dengan milik suamiku itu. Pupilnya terlihat membesar, dan aku pun terkejut ketika mengetahui bahwa peniru sepertinya juga dapat terkejut. Dengan perlahan dan sehalus mungkin ku dekatkan wajah kami, member isyarat seolah aku ingin menciumnya. Ia pun tak melakukan perlawanan apa-apa selain menikmati apa yang ku lakukan. Saat bibir kami nyaris bersentuhan, aku segera meraup telinga kanannya dan menggigitnya hingga berdarah. Lalu, ketika dirinya sedang meraung kesakitan, aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Lari sejauh yang ku bisa, diiringi raungan kesakitan makhluk itu yang kemudian berubah menjadi tawa sinting yang menggema. Mengirim gigil dingin ke sekujur tubuhku.
"Lari lah...!!! Sebelum aku menangkap mu!!!"
Dengan itu, aku pun berlari seperti orang kesetanan, lari sejauh mungkin agar tak tertangkap.
"Lari!!! Lari!!! LARI!!!" batinku menggema dengan panik.