CHAPTER 12 : THE DARKEST DESIRE

1632 Kata
"Dan kau, Sayang. Kau akan segera mendapatkan hukuman dariku, Nyonya Hemlock. Akan ku buat kau tidak bisa bangkit dari ranjang selama seminggu karena sudah memanggilku dengan sebutan yang ku larang."imbuh Nathan dengan setengah merajuk. Tak menyadari wajah istrinya yang sudah pucat pasi lantaran melihat kulit sang suami yang kini mulai menghitam. Bercak-bercak hitam itu merambati setiap jengkal dari kulit putih pucat milik Nathan tanpa ia sadari. "Ayo, cepat kita pulang."ajaknya sembari berjalan terhuyung menghampiri Alexa yang dengan sigap memapah tubuh sang suami yang langsung bersandar lemas di pundaknya. "Kau kenapa, Nath? Apa yang terjadi padamu?"tanya Alexa beruntun. Namun, ia tak mendapat jawaban selain gumaman tak jelas dari suaminya. Alexa berusaha memapahnya, mencegahnya agar tak jatuh ke tanah. Akan tetapi, gumaman tak jelas masih terus terdengar dari suaminya. Karena berat tubuhnya yang tak seimbang, Alexa akhirnya mencoba menidurkan sang suami di tanah. Begitu ia berhasil membaringkan tubuh Nathan, tiba-tiba saja tengkuknya di tarik kasar, lalu Nathan menciumnya dengan ganas dan basah, seolah tak ada hari esok. Kedua mata Alexa membola terkejut atas tindakan impulsif suaminya itu, karenanya ia tak dapat berbuat banyak selain mencoba mengimbangi keganasan sang suami meski rasa bingung yang hebat melanda benaknya. Seolah tak cukup hanya dengan ciuman liar itu, kini Nathan mengurung tubuh Alexa di bawahnya. Alexa merasa semakin aneh dengan pola tingkah tak biasa suaminya, apalagi melihat kejadian sebelumnya di mana Nathan nampak sangat lemah tak berdaya dengan bercak hitam yang menjalari hampir di setiap jengkal kulitnya tersebut. Tetapi Nathan yang sekarang nampak sangat kuat dan beringas saat menciumi tiap jengkal tubuh Alexa disertai hisapan-hisapan kecil. Alexa bahkan nyaris melenguh akibat sentuhan memabukkan itu. "Aku harus melakukan ini, Sayang. Aku membutuhkan mu untuk membantuku memulihkan energiku."lirihnya pelan dengan pancaran putus asa di kedua matanya yang menatap kedua mata Alexa intens. Alexa pun seketika terkejut di buatnya, suaminya sedang putus asa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, benak Alexa tersadar ketika memperhatikan lebih intens setiap gestur aneh yang diperlihatkan suaminya. "Baiklah. Ambillah sebanyak yang kau perlukan, Nath. Aku tidak akan keberatan sama sekali."balas Alexa lembut seraya mengusap pelan kepala Nathan. "Ini karena jantung iblis yang...ku...makan...tadi..."desahnya dengan nafas yang terputus-putus, membuat Alexa kalang kabut. "Cepat ambil energiku, Nath. Aku tak ingin kau kenapa-kenapa... Cepat ambil sekarang." desak Alexa penuh khawatir ketika melihat nafas suaminya yang sudah terputus-putus itu. Melihat kekhawatiran kental di wajah sang istri, membuat Nathan tersenyum miring sedikit. Ia tak menyangka jika dikhawatirkan oleh wanita yang dicintai rasanya sebahagia ini, apalagi setelah melihat wajah penuh tekad milik Alexanya, membuatnya semakin tak tahan untuk tidak melahap bibir merah ranum itu sekali lagi. Lalu, tanpa ditahannya lagi ia pun meluapkan segenap kebahagiaan itu dalam bentuk ciuman manis yang lembut dan dalam. Namun ketika Alexa juga membalas ciumannya dengan penuh perasaan juga, Nathan hampir kehilangan kendali dirinya. Ia merasa tak cukup, kedekatan yang intens itu masih belum cukup untuknya. Ia butuh merasa lebih dekat lagi. Suara erangan lembut yang mengalun merdu semakin membuatnya tak bisa mengendalikan gejolak hasrat miliknya. Tanpa aba-aba, ia pun merobek gaun yang dikenakan Alexa seraya terus mencium dan menghisap setiap jengkal kulit seputih salju miliknya. Meninggalkan banyak jejak merah panas disana. Alexa terbuai oleh sentuhan memabukkan yang membuatnya mengeluarkan suara lenguhan dengan cukup keras, ketika Nathan menggigit tanda miliknya yang berada di ceruk lehernya. Tanda berbentuk kepala tengkorak dengan lilitan duri mawar di sekelilingnya itu pun bereaksi dengan cepat oleh gigitan Nathan, bagaikan tersengat listrik tubuh Alexa tersentak pelan sebelum kembali rileks. Sedangkan aliran energi yang menghambur keluar segera dihisap Nathan tanpa sisa. Setelah selesai, Nathan menjilat kembali bagian itu agar lukanya tertutup dengan cepat. Alexa yang merasa tubuhnya bak berada di lautan kapas yang lembut, tanpa sadar mendesah dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Nathan dan mengendus ceruk lehernya. Nathan yang paham betul akan reaksi Alexa yang akan jadi seperti itu, segera membopongnya lalu membawanya pergi dari tempat itu. Sebuah lubang berukuran besar yang cukup untuk mereka berdua muncul tepat di belakang Nathan, sebuah portal dimensi yang akan membawa mereka kembali pulang ke pondok tempat mereka menghabiskan waktu bulan madu. **** Gumpalan-gumpalan kapas lembut yang berada di sekeliling ku, membuatku enggan terbangun dari tidur nyenyak ku. Ini semua begitu lembut dan nyaman. Tak pernah ku rasakan kenyamanan seperti ini sebelumnya, bahkan sepanjang hidupku baru kali ini aku merasakan kenyamanan seperti ini. Rasanya seperti tertidur di antara gumpalan awan yang begitu tebal dan amat lembut. Tubuhku terasa begitu ringan, dan aku benar-benar mengantuk. Untuk sesaat segala macam pikiran dalam benakku luluh lantak, bak kertas kosong yang siap diisi. Lalu tiba-tiba, coretan demi coretan dari tinta hitam itu mulai terukir menciptakan kilatan memori samar. Mulai dari awal mula pertemuan ku dengannya, lalu segala sikap tak masuk akalnya yang pada akhirnya berhasil menjeratku ke dalam jaring cinta miliknya, membuatku menerimanya dengan suka cita sebagai pasangan sehidup semati ku. Sampai kemudian, kilatan memori itu sampai di satu waktu, di mana aku terus berusaha lari dari kejaran sebangsanya yang lain, iblis yang mengaku bernama Behemoth, yang menculik ku dan memisahkan ku darinya. Meskipun aku telah berjuang sekuat tenaga, namun tipu muslihat iblis itu tak kunjung berakhir, hingga diriku kemudian sampai di titik batas ku, lalu saat itulah ia muncul dan menolong ku. Tatapannya yang menatap ku dengan intens, membuat tenggorokan ku terasa kering entah karena apa. Lalu ciumannya yang tiba-tiba seketika membuat diriku merasa sangat haus. Aku pun membalas pagutannya dengan lebih dahsyat. Menghapus setiap jengkal batasan yang melilit kami. Ini begitu aneh, karena menciumnya bagai sebuah kebutuhan untuk ku. Layaknya oksigen yang wajib ku hirup. Akan tetapi ciuman itu masih belum cukup untuk ku. Rasa haus ini sama sekali belum terpuaskan. Namun, ia malah pergi menjauh dari gapaian ku. Tangannya yang terjulur seolah menginginkan aku untuk mengejar nya. Di dorong oleh rasa haus yang teramat sangat, aku pun berusaha mengejarnya. Namun, mengapa ia justru semakin menjauh dariku? Setiap aku berlari untuk menggapainya, ia selalu terasa semakin menjauh. Membuat nafasku mulai tersengal dan tubuhku yang mulai terasa lemas tak bertenaga. Di tambah dengan rasa haus yang semakin menjadi, bahkan tenggorokan terasa amat perih meski hanya digunakan untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Aku menjulurkan tangan ku dalam upaya terakhirku untuk menggapainya. Namun, sosoknya malah menghilang di telan kabut cahaya putih yang nyaris membutakan mataku. Lalu, aku pun menjerit sekencang-kencangnya. **** Tubuh Alexa tersentak bangun, dengan tangan yang masih terjulur ke depan, ia pun menoleh ke sekeliling dengan bingung ketika mendapati dirinya telah berada di atas ranjang pondok tempat mereka berbulan madu. Pakaiannya pun kini telah berganti dengan piyama yang nyaman. Namun, saat ia menoleh ke sisi kirinya, ia tak menemukan suaminya disana. Cahaya matahari yang menelusup masuk lewat jendela, membuat kamar itu terlihat lebih luas dan lebih hangat. Semua ini berbeda dengan apa yang ia alami sebelumnya. Kamar ini terlihat lebih manusiawi dan hangat. Jadi ia pun berkesimpulan, jika dirinya telah berhasil bebas dari sarang Monster itu dan kembali ke pondok tempatnya menginap selama berbulan madu. Dengan semangat ia pun bangkit dari ranjangnya untuk menemui suaminya, sedikit hadiah terima kasih ia rasa wajib diberikan kepada sang suami yang telah menyelamatkannya. Sembari bersenandung ceria, Alexa kemudian berkeliling pondok untuk mencari keberadaan suaminya itu. Lalu saat ia melewati ruang perpustakaan yang sekaligus merangkap sebagai tempat kerja sang suami, ia pun menemukannya. Nathan sedang serius membaca sebuah buku bersampul tebal di tangannya. Sesekali tangannya itu beralih membetulkan letak kacamata baca yang ia kenakan. Sebenarnya ia tak tahu mengapa ia ingin sekali memakai kacamata baca yang bahkan tak terlalu berpengaruh pada penglihatannya yang masih baik-baik saja di umurnya yang sudah tak muda, entah mengapa ia hanya ingin memakainya kali ini. Alexa mematung di tempat melihat pemandangan itu. Suaminya terlihat sangat imut dan manusiawi ketika sedang membaca dengan ekspresi seserius itu. Kaca mata baca yang ia kenakan justru menambah kadar ketampanan yang dimilikinya. Lalu seketika itu juga rasa haus yang sebelumnya sempat ia rasakan, kini kembali muncul dengan lebih parah. Ia tak sanggup menahan dorongan untuk segera menghambur ke dalam pelukan Nathan dan menciumnya dengan keras. Tanpa aba-aba, Nathan terkejut ketika bibirnya diserang oleh ciuman-ciuman yang membabi buta. Namun rasa manis dari ciuman itu membuat Nathan tak segan-segan membalasnya dengan lebih beringas. Ia kemudian mendudukkan sang istri di atas meja kerjanya sembari masih saling memagut. Ciuman basah itupun perlahan turun ke rahang Alexa, lalu turun semakin ke bawah. Ia merobek piyama yang dikenakan oleh Alexa dengan kasar, sebelum kembali mendaratkan ciuman-ciuman panas di setiap inci kulit mulusnya yang seputih s**u. Sebelah tangannya menangkup p******a Alexa dan meremasnya pelan, sedangkan yang lainnya berusaha keras melepaskan celana piyama yang Alexa kenakan. Pagutan mereka semakin panas tiap detiknya. Alexa pun dengan kasar membuka ikat pinggang serta celana yang dikenakan Nathan dengan terburu-buru, sedangkan Nathan membantu Alexa dengan melepaskan kaos polo hitam yang ia kenakan. Ciuman dan sesapan itu semakin terasa panas, bagai kucing yang kelaparan, Alexa pun melahap setiap jengkal yang bisa dijangkaunya. Hingga suara desahan parau pun keluar dari bibir ranumnya yang membengkak, ketika Nathan berhasil menerobos masuk ke dalam miliknya dalam sekali hentak. Kali ini Nathan tak bisa lagi berhenti untuk mereguk kenikmatan itu berdua dengan istrinya, miliknya. Ia tak bisa berhenti menggumamkan kata-kata itu di sela pergulatan mereka yang hampir mencapai klimaksnya. Tak butuh waktu lama ketika mereka berdua mencapai puncak klimaks secara bersama-sama, dan saat itulah Nathan tertegun ketika mendengar kalimat yang selama ini ia tunggu-tunggu akhirnya terucap juga dari bibir sang istri. Meskipun hanya bisikan samar, namun sanggup membuat perasaannya tak karuan. "I love you, Sayang. I love you, suamiku. I love you so much.", itu hanya kalimat sederhana yang dibisikkan Alexa dalam pelukannya, akan tetapi hal itu langsung membuat perasaan Nathan benar-benar tak karuan. Namun, ada satu perasaan yang timbul secara dominan di sana, rasa serakah. Perasaan serakah yang begitu menggebu, setelah pada akhirnya kini Alexa telah menjadi miliknya seutuhnya. "Itu artinya tak akan ada lagi yang bisa memisahkan kami berdua." ucapnya dalam hati seraya tersenyum lebar namun kedua netra birunya justru menampilkan kilatan aneh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN