Bab 01 (Kejadian yang tidak diinginkan)
Malam hari
“Ya Allah, ini masih pukul tujuh malam tapi kenapa jalanan terlihat sepi?” gumam Humairah
Safiyah Humairah Az-Zahra, sosok perempuan cantik berusia 24 tahun yang tinggal di sebuah Kota besar. Humairah memiliki wajah bulat serta lesung pipi di sebelah kiri jika tersenyum, hal itu menambah kesan manis di wajahnya. Humairah adalah putri tunggal dari pasangan Fathir Ahmad dan Amira Az-Zahra.
Humairah berjalan seorang diri menuju rumah teman Ibunya. Ia diminta sang Ibu untuk mengantar sebuah makanan ke rumah teman beliau. Berulang kali Humairah menggosok lengannya untuk mencari kehangatan. Udara malam ini cukup dingin.
“Huftt..” Humairah menghela nafas
“Yang mana ya rumahnya?” gumamnya
Humairah menatap sekeliling. Tidak ada satupun orang lewat, hanya ada dirinya. “Komplek elit seperti ini kenapa sepi sekali? Orang-orangnya pada kemana?”
“Ya Allah, dingin sekali!” ucapnya sembari menggosok lengannya berulang kali
Humairah menatap satu per satu nomor rumah di komplek tersebut. Ia mencari rumah teman Ibunya. “Yang mana ya?”
“Nah, itu dia rumahnya!”
“Alhamdulillah.. akhirnya ketemu juga.” ujar Humairah sembari tersenyum
Humairah berjalan memasuki perkarangan rumah itu. Ia berdiri tepat di depan pintu lalu menekan bel rumah tersebut. “Tapi kok sepi banget rumahnya. Apa nggak ada orang?” gumamnya
Ceklek
Humairah sedikit terkejut mendengar suara pintu terbuka. Ia tersenyum tipis menunggu teman Ibunya. Namun seketika senyumnya hilang dan langsung menunduk ketika melihat seorang laki-laki yang membuka pintu.
“Cari siapa?” tanya laki-laki itu
“Em.. saya mencari Tante Naura.” ujar Humairah dengan nada gugup
Bukannya menjawab laki-laki itu justru menatap Humairah dari atas sampai bawah. Tatapannya terlihat sayu, bahkan penampilannya berantakan. Rambutnya acak-acakan seolah ia baru selesai menghadapi perang dunia.
“Apa…”
Srett
“Astagfirullah’haladzim.” pekik Humairah
BRAK
Tiba-tiba laki-laki itu menarik tangan Humairah membawanya masuk ke dalam rumah. Setelahnya ia mendorong pintu cukup kuat. Tubuh Humairah bergetar karena ketakutan. “Apa yang anda lakukan?”
“Saya ingin keluar!”
“Aarrgghh..” pekik Humairah
Tanpa menjawab laki-laki itu menggendong Humairah seperti karung beras. Ia membawanya menuju ke suatu tempat. Humairah tidak tinggal diam. Ia memberontak, bahkan memukul punggung laki-laki itu berulang kali. Namun sepertinya pukulan yang ia berikan tidak memberikan efek sama sekali.
BUGH
BUGH
“LEPASIN SAYA!”
“TOLONG!” teriak Humairah
Mata Humairah berkaca-kaca menahan tangis. Saat ini ia benar-benar ketakutan. Apalagi mereka hanya berdua di dalam rumah. Apa ia salah rumah? Tapi Alamat yang diberikan Ibunya sesuai dengan rumah ini.
“Ya Allah, lindungi Humairah!” Doa’nya dalam hati
“Saya mohon lepasin saya!”
Ceklek
Laki-laki itu membawa Humairah masuk ke dalam kamar. Jantung Humairah berdetak cepat. Ia semakin ketakutan. Pikiran buruk seketika berputar di kepalanya. Humairah semakin kencang memukul punggung laki-laki itu berharap dia melepasnya. Namun sayang, usahanya tidak membuahkan hasil.
Brugh
“Astagfirullah.”
Laki-laki itu melempar Humairah ke atas tempat tidur. Dan setelahnya ia melepas kaos yang ia kenakan. Humairah menggelengkan kepalanya pelan. Kedua pipinya sudah dibanjiri oleh air mata.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” ujar Humairah dengan suara bergetar
Laki-laki itu tersenyum smirk. “Kita nikmati pagi ini dengan suasana penuh kehangatan.”
“Astagfirullah. Saya tidak mengenalmu.”
Humairah berniat pergi namun dengan cepat laki-laki itu menahannya. Ia mendorong tubuh Humairah membuatnya jatuh terlentang. Dan secepat kilat ia menindih tubuh Humairah. Ia menggenggam kedua tangan Humairah membuatnya tidak bisa berkutik sedikitpun.
“Hikss.. jangan lakukan apapun pada saya!”
“Saya mohon.” ujar Humairah dengan nada memohon
Tatapan laki-laki itu berkabut. Ia sudah dikuasai oleh obat yang tanpa sengaja dirinya minum. Hal itu membuat ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. “Sstt.. jangan berisik, sayang!”
“Aku tidak akan menyakitimu selama kamu menurut denganku.” ucapnya dengan nada berbisik
“Enggak. Aku tidak akan menurut denganmu.”
Humairah benar-benar ketakutan. Bercucuran air mata menjadi saksi betapa takutnya ia saat ini. Apalagi selama ini ia tidak pernah bersentuhan ataupun berkomunikasi dengan lawan jenis dengan jarak yang begitu dekat.
“Lepasin! Aku mohon.” pinta Humairah
“Aku tidak akan melepasmu, sayang.”
“TOLONG!” teriak Humairah
“SIAPAPUN TOLONG SAYA!”
“Sstt.. diamlah! Tidak akan ada orang yang menolongmu. Di rumah ini hanya ada kita berdua.”
“Aku nggak mau. Lepasin saya!”
Humairah terus memberontak berusaha melepaskan diri, meskipun terasa begitu sulit. Tubuh laki-laki itu begitu berat membuatnya susah bergerak. Ia mendekatkan wajahnya pada Humairah namun dia langsung berpaling.
“Hei, ayolah.. Jangan munafik tidak mau aku sentuh.”
“Demi Allah, aku tidak rela melakukan ini denganmu.”
“Aku mohon lepaskan aku!” berulang kali Humairah memohon berharap ada keajaiban.
Humairah sangat membutuhkan pertolongan Allah saat ini. Ia takut laki-laki itu melakukan sesuatu padanya. Apalagi saat ini ia terkurung di dalam dekapannya. Ia sama sekali tidak bisa berkutik.
“Hikss..”
“Ya Allah, tolong Humairah! Hamba sangat membutuhkan pertolongan-Mu saat ini.” Doa’nya dalam hati
“TOLONG!” Humairah kembali berteriak
“DIAM!” bentak laki-laki itu
Dan seketika Humairah langsung terdiam. Bentakan laki-laki itu membuat nyalinya sedikit menciut. Namun di satu sisi, ia harus bisa melepaskan diri darinya. “Kalau kamu tidak bisa diam aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah kamu bayangkan sebelumnya.” ancam laki-laki itu
“Hikss..”
Humairah menangis dalam diam. Ia tetap memberontak meskipun mulutya diam. Dan…
Cup
“Astagfirullah.” ujar Humairah dalam hati ketika laki-laki itu berhasil mencium pipinya
“Tataplah aku!” ujar laki-laki itu
“Aku tidak sudi.”
“Aku ingin mencium bibirmu!”
Reflek Humairah menatap laki-laki itu. Ia tidak terima dengan perkataannya. “Jangan lancang kamu! Aku…”
Cup
“Hmptt..” belum selesai bicara laki-laki itu membungkam mulut Humairah dengan menyatukan bibir keduanya. Ia telah berhasil menciumnya.
“Ya Allah, apa ini?” ujar Humairah dalam hati
“Hikss..”
Tetes demi tetes air mata membasahi pipi Humairah. Ia benar-benar merasa jijik dengan laki-laki itu maupun dengan dirinya sendiri. Humairah menyesal datang ke rumah ini. Niat baiknya justru mendatangkan mala petaka.
“Abah, Umma, Humairah membutuhkan bantuan kalian.”
“Humairah tidak ingin ini semua terjadi.” ucapnya dalam hati
“Tolong Humairah, Abah, Umma!”
“Emhh..” laki-laki itu justru terlihat sangat menikmati perbuatannya.
Tangannya beralih menangkup wajah Humairah karena perempuan itu terus memberontak. Bahkan ia tidak memberikan nafas padanya. Tubuhnya hilang kendali membuat ia tidak menyadari siapa sosok perempuan yang saat ini berada di bawahnya.
“Lewpasinn!” berontak Humairah
“Jangan terus memberontak, sayang. Setelah ini aku akan melakukan sesuatu yang membuat kamu merasa terbang ke atas awan.”
Kali ini Humairah benar-benar pasrah. Ia sudah berusaha namun belum ada tanda-tanda pertolongan. Bahkan suaranya hampir habis karena terus berteriak.
Next?