Anak haram

1164 Kata
Nana meringkuk setelah sang ibu pergi dari kamarnya. Ia kembali memikirkan apa yang sudah diucapkan oleh ibunya. Benar, mungkinkah ia bisa menyikapi anak tirinya jika terus-menerus bertemu? Sedangkan saat ini ia tidak bisa mengontrol emosinya di hadapan sang suami. Hari ini ia tak ingin melakukan apapun karena suasana hatinya sedang buruk. Terkadang ia berpikir, bagaimana caranya agar bisa membalaskan dendam terhadap sang suami, yang telah tega berselingkuh darinya hingga memiliki anak. Sedangkan ia masih sangat rapuh, saat berhadapan langsung dengan Bian dan juga anak tirinya. Ia yang dulu dikenal sebagai wanita yang lembut dan penyabar, kini sudah berubah 180 derajat, menjadi wanita yang dingin dan arogan. * Sedangkan di sisi lain Bian dan Billy baru sampai di kediamannya. Pria itu menggendong Sang putra yang sudah terlelap sejak di perjalanan tadi. Sesampainya di dalam rumah, Billy terbangun karena merasakan pergerakan tatkala sang ayah meletakkannya di tempat tidur. "Apa ayah membangunkan mu, sayang?" Tanya Bian saat melihat Sang putra membuka mata sambil meraih tangannya. "Apa ibu membenciku, ayah?" Tanya Billy sambil menatap Bian penuh penasaran. Sang ayah pun tersenyum dengan lembut, untuk meyakinkan putranya, bahwa semua akan baik-baik saja. "Tidak, sayang. Ibu tidak membenci Billy. Ibu hanya kesal karena ayah tidak mematuhi ucapan ibu. Maka dari itu, Billy harus jadi anak yang patuh dan jadi anak yang baik, agar ibu tidak marah lagi pada Billy dan juga pada ayah. Apa Billy mengerti?" Bian bertanya pada Sang putra, yang langsung dijawab sebuah anggukan. "Tapi kenapa, ibu tidak ingin pulang bersama kita? Aku lihat tadi ibu berbicara kasar, dan marah padaku, juga pada ayah." Billy berkata dengan menampilkan wajah polosnya, sambil memelas. Sungguh, Bian tidak akan pernah menyangka hari yang menyakitkan ini akan terjadi pada putranya. Putranya yang begitu polos, dengan tetapan binar mengharapkan kasih sayang seorang ibu, yang mungkin saja tidak akan pernah ia dapatkan dari Nana. "Tidak, nak. Ibu memang marah pada ayah, tapi tidak dengan Billy. Semuanya salah ayah, jadi Billy tidak perlu khawatir lagi, karena ibu pasti akan tetap menyayangi Billy." "Ayah, memangnya anak haram itu apa? Bukankah tadi ibu berbicara, bahwa aku ini Anak haram?" Dengan polosnya anak itu bertanya pada sang ayah, hingga ayahnya langsung memeluk Billy dengan erat. Tanpa Billy sadari, Bian sudah meneteskan air mata, di balik punggung Sang putra. "Ayah kenapa? Apa ayah menangis?" Lagi dan lagi, Billy bertanya hingga membuat Bian tak kuasa menahan Isak tangisnya. Rasanya tak cukup jika ia hanya menyalahkan dirinya sendiri, karena yang menjadi korban bukanlah ia seorang, melainkan putranya juga ikut menderita. Andai saja waktu bisa terulang kembali ia tidak akan pernah mengambil resiko seberat ini. Tidak, bukan ia tak mensyukuri keberadaan Billy, tapi jika ia bisa memilih, maka ia menginginkan Billy dengan cara yang benar. Tanpa harus menyakiti siapapun. Andai, andai, andai. Ia hanya mampu berandai-andai akibat kesalahannya sendiri. "Tidak, nak. Ayah tidak menangis. Itu tidak penting sayang, jadi Billy tidak perlu memikirkan hal itu lagi." Bian menjawab pertanyaan Sang putra dengan berusaha menahan Isak tangisnya kembali. Namun, hanya saja tubuhnya bergetar karena hal itu. Ia tidak bisa membayangkan kehidupan Billy kedepannya, karena harus menanggung kesalahan yang ia perbuat. Sedangkan ia juga tidak bisa berpisah dengan Nana, karena ia sangat mencintainya. Tak peduli seberapa besar kebencian wanita itu, ia akan tetap menerimanya. * Setelah menitipkan Billy kepada bi Surti, akhirnya Bian berangkat ke kantor untuk bekerja. Hari ini ia tidak memiliki jadwal penting, maka dari itu ia sedikit bisa bersantai dan meluangkan waktu untuk pergi ke rumah keluarga Abraham tadi pagi. NB group adalah perusahaan yang ia bangun bersama istrinya, Nana. Perusahaan yang baru ia kelola atas persetujuan dari mertuanya yaitu keluarga Abraham. Ya, ia memang dibantu oleh keluarga Nana untuk mendirikan perusahaan, dengan alasan agar Nana tidak terlantar dan tidak kekurangan biaya kehidupan. Meskipun perusahaan yang ia kelola, tidak sebesar perusahaan milik keluarga Abraham. Ia memang sangat beruntung, bisa menikahi Putri bos besar di mana ia dulu bekerja. Namun, ia justru membalasnya dengan penghianatan. Sangat tidak tahu malu, dan ia mengakui hal itu. Bahkan, ia mencoba untuk menutupi skandal, hingga akhirnya terbongkar karena sebuah kecelakaan. "Hai bro, kusut amat tuh muka!" Tiba-tiba saja seorang pria menyapanya dengan candaan. Entah itu candaan atau ejekan, yang jelas Bian tidak akan peduli. "Doni, apa ada pekerjaan yang belum diselesaikan?" Tanya Bian ada sosok pria tersebut yang bernama Doni. Pria berusia 30 tahun seorang asisten sekaligus sekretaris Bian, di kantor. Pria itu juga sahabat Bian, omong-omong. Maka dari itu, mereka bisa berbicara santai ketika tak ada pekerjaan atau di waktu-waktu tertentu saja. "Bapak hanya perlu menandatangani dokumen-dokumen yang ada di atas meja saja," jawab Doni dengan formal, karena sadar jika sang bos sedang tidak ingin bercanda. Terdengar suara helaan nafas dari arah Bian, hingga membuat Doni merasa tak enak hati, sekaligus iba dengan kehidupan sohibnya. Doni tahu kejadian yang telah menimpa kehidupan rumah tangga Nana dan Bian yang di ambang perceraian. Sekaligus keputusan Bian yang membawa Billy bersamanya. Jujur saja, Doni juga merasa ikut bersalah terhadap Nana, karena ikut menyembunyikan rahasia besar ini, selama bertahun-tahun lamanya. Andai saja, dulu ia bisa mencegah Bian menikahi Mela secara siri, mungkin kehidupan rumah tangga sahabatnya tidak akan hancur berantakan. "Mau minum sesuatu?" Tanya Doni pada Bian, yang masih fokus dengan pekerjaan. Mungkin juga memikirkan masalah yang tengah ia hadapi. "Kopi tanpa gula!" Kopi tanpa gula? Doni tahu jika Bian tidak menyukai kopi apalagi tanpa gula. Pria itu hanya akan meminum apa yang tidak ia sukai, saat suasana hatinya mulai buruk. Sekarang ia tahu, jika Bian tengah merasa gelisah dengan suasana hatinya yang jelek. Namun, meskipun begitu, Doni tetap menyiapkan kopi untuk sang bos. Beberapa menit kemudian, Doni datang dengan segelas kopi yang Bian minta sebelumnya. Bian menoleh sesaat, lalu kembali fokus dengan pekerjaannya. "Jangan memaksakan diri. Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja." Bian yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah sahabatnya. "Nana memberikan ku waktu 1 minggu untuk menunggunya membuat keputusan. Menurutmu keputusan apa yang akan dia ambil? Bertahan atau perceraian?" Tanya Bian, penasaran terhadap respon dari sahabatnya tersebut. "Mungkin perceraian," jawab Doni dengan asal, hingga membuat Bian mendengus dengan kesal. "Lalu apa yang harus kulakukan?" "Hanya bisa menunggu." Doni terkekeh saat melihat raut wajah Bian setelah mendengar jawaban darinya. "Maaf," sambung Doni, yang kini menampilkan raut wajah merasa bersalah. Bian kembali menoleh pada sang sahabat. "Tidak, ini bukan salahmu. Ini semua terjadi karena keegoisanku sendiri. Kau tidak bersalah sedikitpun dalam hal ini. Justru aku berterima kasih, karena kau sudah mau membantuku selama beberapa tahun terakhir, termasuk menjaga rahasiaku dari Nana." "Kali ini kau pasti harus berjuang lebih keras lagi," ucap Doni sambil menepuk bahu Bian. Pria itu hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan dari sang asisten sekaligus sahabatnya itu. "Ya, aku harap ini bisa berhasil. Meskipun aku sendiri mengatakan hal itu adalah hal sulit. Tuan Abraham sudah murka. Bukan tidak mungkin, ayah mertuaku itu akan menggulingkan perusahaan ku dalam sekejap, saat Nana menceraikan aku dan kau akan menjadi gelandangan seperti diriku." Bian terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Apalagi saat melihat ekspresi Doni yang melotot tajam, saat mendengar jadi gelandangan. "Damn!! Kau tidak ingin ingin bercerai karena perusahaan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN