1. Comeback Home
“Ayolah, Bi..”
“Ayah sudah tua. Waktunya pensiun dan kamu yang akan menggantikan ayah..” Ujar Susilo kepada sang anak yang saat ini tengah melakukan panggilan video call.
“Ayah, belum terlalu tua..” Jawab Abimana memutar matanya malas. Dia sudah beberapa kali disuruh untuk segera pulang ke indonesia dan menggantikan sang ayah sebagai CEO di perusahaan ayahnya.
“Ck! Kamu ini. Ayah kan juga ingin menikmati hari tua bersama dengan bundamu. Kamu juga harus segera memikirkan tentang pernikahan, Abi..”
“Apa kau akan terus hidup sendirian sampai tua tanpa seorang istri dan anak?” Kali ini suara Susilo terdengar tegas dan matanya menyiratkan sebuah keseriusan. Sang anak yang sudah berusia 35 tahun ini masih saja memilih untuk sendiri, tanpa pernah sekalipun berniat untuk mengenalkan seorang perempuan kepada kedua orang tuanya.
“Kalau memang takdirnya begitu. Apa boleh buat.” Jawab Abi enteng sembari mengedikkan bahunya.
“Itu bukan takdir bodoh! Kau saja yang tak berusaha.” Sentak Susilo kesal karena sang anak seolah tak peduli jika berakhir dengan kesendirian sampai tua.
“Sudahlah Yah. Disini sudah masuk tengah malam. Besok Abi ada pertemuan penting di kantor. Sudah dulu teleponnya, Bye yah bun..” Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya, Abis langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
“Lihat anak mu!” Tunjuk Susilo kepada sang istri.
“Sudahlah mas, Biar nanti aku coba untuk ngobrol sama Abi ya.. Anak kita itu memang gak bisa terlalu ditekan..” Ranty berusaha menenangkan suaminya yang masih kesal atas kelakuan anak mereka.
Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan S2nya di Stanford University. Abi enggan untuk kembali ke tanah air, ia lebih memilih memulai karirnya di negeri paman sam ini. Bukan tanpa alasan, ia ingin melupakan luka dimasa lalu. Sebenarnya pada saat itu Abi tidak ingin melanjutkan pendidikan S2 tapi karena kejadian yang sangat melukainya begitu dalam itulah ia memilih untuk pergi jauh dari sumber lukanya. Dengan cara melanjutkan pendidikannya di negeri paman sam.
**
Disinilah sekarang Abi berada, di dalam pesawat perjalanan menuju jakarta. Abi akhirnya memutuskan pulang ke tanah air setelah mendapat kabar dari bundanya bahwa sang ayah saat ini sedang berada dirumah sakit. Terhitung 3 hari setelah percakapan video callnya kemarin, sang ayah masih terlihat baik-baik saja tidak terlihat dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Abi sempat berpikir bahwa ini hanyalah akal-akalan kedua orang tuanya saja supaya Abi segera pulang ke indonesia. Tapi jika dipikir-pikir kembali tidak mungkin orang tuanya main-main perihal kesehatan.
Setelah hampir menghabiskan waktu kurang lebih 20 jam perjalanan dari Los Angeles menuju jakarta. Akhirnya Abi sampai di bandara Internasional Soekarno Hatta, saat ini pria yang memiliki tinggi badan 185 cm itu sedang menunggu seseorang yang katanya akan menyambut kedatangannya di bandara.
“Den Abi, maaf saya terlambat. Sedikit macet dari pintu gerbang masuk bandara den..” Seorang lelaki paruh baya berjalan terpogoh-pogoh menghampiri Abi. Orang tersebut adalah Asep yang ia kenal sebagai supir pribadi sang ayah.
“Oh iya pak Asep tak apa. Jakarta memang selalu macet.” Jawab Abi sambil memberikan kopernya kepada Asep agar pria tersebut bisa segera memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil. Dan ia pun bisa mengistirahatkan badannya di mobil barang sejenak.
“Kata nyonya, kita langsung kerumah sakit aja den. Bapak sama nyonya udah nunggu aden di rumah sakit.” Setelah memasuki mobil Asep segera menyampaikan pesan nyonya besarnya untuk segera membawa sang anak ke rumah sakit.
Abi hanya menganggukkan kepala.
Sambil memperhatikan kondisi lalu lintas ibukota jakarta. Tak banyak berubah, gedung gedung tinggi makin bertambah. Sebenarnya Abi jarang sekali pulang ke indonesia, terhitung selama hampir 10 tahun di Amerika Abi baru pulang 3 kali ke indonesia. Itu juga karena dipaksa untuk hadir di acara-acara besar seperti pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tua salah satunya.
Setelah menempuh waktu 45 menit akhirnya Abi telah sampai di rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Saat ini yang mengantarkan abis keruangan ayahnya adalah Asep, karena Asep yang diperintahkan oleh kedua orang tuanya untuk menjemput dan membawa Abi ke rumah sakit ini. Asep berhenti tepat di depan salah satu pintu ruangan yang tertutup. Dari luar terdengar suara ketawa yang sangat ia kenali.
“Silahkan den, bapak sama ibuk sudah menunggu.” Ucap Asep kepada Abi.
Saat membuka pintu ruang rawat inap sang ayah. Betapa terkejutnya Abi melihat kondisi orang tuanya yang katanya beberapa jam sebelumnya mengabarkan kepada Abi bahwa sakit jantungnya kumat dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Tapi faktanya matanya melihat sang ayang sangat sehat dan jauh dari kata sakit. Abi mengernyitkan alisnya sembari melangkah masuk menghampiri kedua orang tuanya yang sedang bercanda gurau.
“Oh hai anakku..” Sapa Susilo sambil menampilkan senyuman lebarnya.
“Bukannya ayah sakit? Jantungnya kumat kan? Kok bisa ketawa kayak gak keliatan orang lagi sakit gitu?” Tanya Abi menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
Ranty yang sedari tadi tertawa karena celotehan sang suami kini terdiam dan menundukkan kepalanya sambil meremas lengan sang suami.
“Anuu.. itu ayah..” Susilo tergagap. Ia lupa kalau sang anak sudah sampai dari perjalanan jauhnya. Harusnya tadi Asep mewanti-wanti mereka agar Susilo bisa mempersiapkan sandiwaranya dengan sebaik mungkin.
“Ayah sama bunda bohong ya?” Tanya Abi dengan wajah datar tapi sorot matanya tajam menampakkan bahwa ia sedang marah. Apa-apaan orang tuanya ini. Berbohong dengan alasan sakit supaya ia bisa segera pulang.
Ranty melangkah menghampiri sang anak yang masih berada di ambang pintu. Mengelus lengan sang anak dengan lembut berharap bisa meredakan emosi sang anak.
“Gak ada yang bohong. Ayahmu memang sedang sakit. Sudah kamu baru sampai, mending duduk dulu istirahat ya..” Ajak Ranty agar sang anak mau duduk di salah satu sofa yang ada di ruang inap suaminya.
Sudah bisa dipastikan bahwa Abi tertipu. Bukan tertipu dengan investasi bodong melainkan dengan sandiwara kedua orang tuanya. Lihatlah dengan tidak berdosanya sang ayah masih bisa tertawa melihat layar tv yang tersedia di kamar inapnya, sementara sang bunda sibuk dengan kegiatan mengupas buah untuk disajikan kepada sang suami.
Menghela nafas kasar. Abi memijat pangkal hidungnya yang terasa nyeri. Faktor perjalanan panjang ditambah kejutan dari kedua orang tuanya.
“Gak ada orang sakit yang masih bisa ketawa ketiwi sambil nonton tv!” Suara tegas Abi memecahkan fokus Susilo yang sedari tadi menatap kelayar tv. Ditatapnya sang ayah dengan tatapan tajam seolah tatap tersebut bisa saja melukai orang yang ditatap.
Susilo menatap sang istri sebentar lalu kembali menatap sang anak.
“Ayah memang sakit. Nih lihat nih diinfus!” Jawab Susilo sambil menunjukkan tangan kanannya yang sedang terpasang selang infus.
Belum sempat menyahut sanggah sang ayah, mereka bertiga dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar. Sontak ketiganya mengarahkan pandangan ke arah pintu.
Tok tok tok...
“Permisi selamat siang, Pak Susilo..”
***