Jasmine yang sangat mengenali suara di dalam sambungan teleponnya ini menghela nafasnya kasar. Jasmine ingin pergi dari pria satu ini saja sulit sekali rasanya. Bagaimana nanti mereka harus hidup bersama setelah menikah? Jasmine tidak bisa membayangkan kehidupan pernikahan yang seperti apa nantinya yang akan ia jalani bersama Abi. “Bukan urusan, Anda.” Jawab Jasmine ketus. “Kita sudah ada janji dengan orang katering kalau kamu lupa.” “Kalau saya nggak mau bagaimana?” “...” “Anda kan malu punya calon istri yang GANJEN dan MURAHAN seperti saya.” Lanjut Jasmine menekan setiap kata-katanya. Sebab Jasmine tidak mendengar adanya jawab dari pria itu. “Saya akan kirim alamat keteringnya. Kamu, bisa menyusul.” “Tidak mau!” Jasmine langsung memutuskan sambungan telepon tersebut. “Dia piki

