Alya duduk di sofa sambil memainkan ipod miliknya. Ia sedang melihat-lihat barang-barang cantik di online shop. Deva menuruni tangga sambil menerima sebuah telepon. Wajahnya sangat bahagia. Tidak seperti biasanya. Tidak mungkin telepon dari dekan atau orang penting lainnya, karena yang Alya ingat, wajah pria itu akan berubah sangat serius dan tidak seceria ini. Mungkin tidak aneh jika Alya hanya melihatnya sekali. Dalam satu hari, Deva melakukan hal yang sama sebanyak tiga kali. Saat setelah bangun tidur, pulang dari kampus dan malam sebelum tidur. Alya menebak jika itu adalah orang yang sama. Sebenarnya Alya tidak terlalu penasaran, tapi setiap ditanya siapa sang penelepon, Deva hanya mengatakan, "Bukan orang penting."
Apakah kalian akan merasa kesal sekaligus penasaran jika diposisi Alya? Baru saja mereka memulai untuk membuka diri satu sama lain, namun Alya masih sering dibuat kesal.
Di kampus pun begitu. Tidak seperti biasanya, Alya sudah jarang dipanggil Deva ke ruangannya. Sudah lebih dari dua minggu Deva mulai bertingkah berbeda. Terkadang, Alya hampir tidak mengenali suaminya sendiri. Tapi meskipun begitu, bukan berarti Deva tidak memperdulikannya. Deva tetaplah Deva yang peduli dengan caranya.
Alya dan Silvy hendak mengembalikan buku ke perpustakaan. Ia berjalan sambil sesekali mengobrol hal-hal sepele yang tentunya berakhir tawa. Tawa mereka berhenti ketika melihat Reyna dan Deva yang sedang tertawa bersama tak jauh dari keduanya. Mata Alya menyipit. Ia bisa melihat senyum yang sama seperti saat Deva menerima telepon. Apakah mungkin?
"Sil, gimana caranya tahu kalo orang itu lagi bohongin kita?"
Silvy nampak terkejut dengan pertanyaan Alya yang tiba-tiba, namun sedetik kemudian ia terkekeh. "Lo harus jadi cenayang dulu."
"Ck, serius gue."
Silvy berdeham. "Biasanya mulut bisa bohong tapi mata enggak. Lo lihat aja mata orang itu, kalo matanya gak fokus berarti dia bohong. Liat juga ekspresinya."
"Tahu dari mana lo cara ini? Ngasal, ya?"
"Lo udah minta pendapat bukannya terima kasih malah nuduh."
Saat keduanya sudah berada dekat dengan Deva dan Reyna, Alya mengambil langkah cepat dan berdiri di hadapan keduanya. "Pak Deva."
Deva menoleh. "Iya, Alya?"
"Antarin saya pulang," katanya dengan nada rengek.
"Sudah selesai kelas?"
Alya mengangguk. "Tapi saya ada—"
Belum sempat Deva melanjutkan ucapannya, Alya langsung mengangguk. "Oke." Gadis itu melenggang pergi meninggalkan Deva dan Reyna. Silvy yang melihat Alya pergi tentu saja ikut berlari menyusul Alya. Deva menatap punggung Alya yang mulai menjauh. Pria itu mengepalkan tangannya agak kuat. Ia menghela napas berat.
Silvy menghalang jalan Alya, membuat gadis itu berhenti. "Kenapa lo minta antar pulang Pak Deva? Kan, kita masih ada satu matkul lagi."
"Gak ada. Gue cuma asal ngomong aja."
"Lo ada masalah sama laki lo itu?"
Alya menghela napas. "Enggak tahu, lah. Akhir-akhir ini Pak Deva aneh. Dia sering dapat telepon tiga kali sehari kaya minum obat aja. Terus ketawa-ketawa gitu. Lah gue heran, dong. Dan yang anehnya, ketawanya persis kaya tadi Pak Deva ketawa bareng Kak Reyna."
Silvy mengangguk sambil memahami cerita sahabatnya. "Terus lo curiga sama Kak Reyna?"
Alya memutar bola mata malas. "Masa bodo, lah. Suka-suka Pak Deva."
***
Alya mengambil es krim miliknya dari dalam kulkas. Ia membawa cup es krim itu ke depan TV. Ia menyetel salah satu saluran TV favoritnya. Volumenya cukup besar, membuat Deva yang baru pulang langsung mengerutkan dahinya. "Alya, kecilin suaranya!" kata Deva sambil menaruh sepatunya di rak.
Alya bukannya tidak mendengar, ia memang sengaja tidak mengecilkannya meskipun sudah mendapat teguran Deva. Untuk kedua kalinya, Deva menegur, "Alya! Saya bilang kecilin suaranya!"
Alya mengambil remote TV lalu mematikan layar persegi itu. Alya bangkit dari sofa dengan es krimnya, lalu berjalan menuju halaman belakang. Deva memijat pelipisnya yang agak sakit. Hari ini ia lelah sekali. Pikirannya kacau. Ia memutuskan untuk mandi dan berendam di air hangat selama 20 menit. Semua sendinya yang kaku langsung sirna. Setelah rapi dengan piamanya, Deva turun ke bawah. Ia bisa melihat Alya yang masih duduk di halaman belakang dekat kolam sambil memainkan ponselnya. Deva berjalan menghampiri gadis itu. "Alya, udah mau magrib, gak baik di luar."
Alya menoleh sekilas, lalu kembali lagi menatap ponselnya. "Alya, Mama mau datang ke sini."
"Mama siapa? Mama saya atau Pak Deva?" Setelah diam saja sejak tadi, Alya akhirnya bicara.
"Mama saya."
Alya tidak menyahut. "Alya, saya—" Saat itu ponsel Deva berdering. Alya melirik sebentar. Pasti Kak Reyna. "Iya, Halo?"
Alya bangkit membawa cup es krim yang sudah kosong itu lalu berjalan melewati Deva begitu saja. Baginya, tidak masalah jika Deva berhubungan dengan Reyna sedekat itu. Tapi apa tidak bisa lihat kondisi? Memangnya tidak bisa jika tidak di depan Alya? Kan, Alya jadi bete.
Sily—Mama Deva datang setelah azan magrib. Sily bilang, ia habis dari rumah temannya dan ingin mampir sebentar untuk salat. Alya membantu Sily merapikan makanan yang Sily bawa dari rumah temannya itu. "Ini banyak banget, Mama Sily."
"Iya. Jadi teman Mama Sily habis bikin syukuran Dia masak banyak banget. Ya udah, lah, Mama Sily bungkus. Kebetulan ingat Alya, jadi mampir ke sini. Alya suka salad buah, kan?"
Alya mengangguk senang. "Suka, Mama Sily. Terima kasih."
"Deva mana? Ayo, panggilin. Kita makan malam sama-sama."
"Deva di sini, Ma." Deva datang menghampiri keduanya di meja makan. Alya dan Deva duduk bersebelahan sedangkan Sily duduk menghadap mereka. Sily menyendokkan salad buah kesukaan Alya. "Ini untuk mantu Mama Sily yang cantik. Semoga cepat kasih Mama Sily cucu, ya."
Deva yang mendengar itu langsung tersedak. Alya memutar bola mata malas. "Biasa aja, kali, Pak. Gak usah kaget," bisik Sily saat memberikan segelas air pada suaminya itu.
"Kalian ini kalo dilihat-lihat, mirip, ya?"
Alya tertawa hambar. "Mama nanti Deva antar pulang, ya."
"Enggak usah. Mama naik taksi aja. Kasihan Alya nanti sendiri di rumah."
Deva tersenyum, lalu mengangguk. "Alya gapapa, Ma. Biar Mama diantar Pak Deva aja."
Sily terkekeh. "Kalian ini. Nikah sudah 3 bulan lebih tapi manggilnya masih kaya mahasiswa sama dosen,” kata Alya.
"Mama, nikah sama Ayah udah 26 tahun masih manggil Ayah ‘Om Dokter’," sela Deva yang disusul tawa renyah Sily. Wanita itu menggaruk belakang kepalanya malu. Alya yang melihat itu tak bisa menahan tawanya. Namun, tiba-tiba saja ia merasakan sakit di kepalanya. Alya berusaha menahannya karena masih ada Sily. Ia tidak mau membuat mertuanya itu khawatir. Tahu sendiri, Sily akan seheboh apa. Setelah makan, Alya membereskan piring-piring kotor yang ada di atas meja. Sily ada di ruang tamu, mengobrol dengan Bi Ina.
Alya menumpuk piring-piring itu lalu hendak membawanya ke wastafel. Namun baru beberapa langkah, tubuhnya langsung hilang keseimbangan. Hampir saja ia terjatuh jika saja Deva terlambat menahannya. "Kamu gapapa?" tanya Deva khawatir. Tangannya memegang erat bahu Alya, membiarkan gadis itu bersandar pada tubuhnya. Tangannya yang satu lagi membantu menahan piring yang Alya pegang. Alya tersenyum samar, lalu melepaskan pegangan Deva pada bahunya.
"Iya," jawab Alya singkat. Ia melangkah menuju wastafel dengan kepala yang terasa berdenyut. Ketika tanggannya hendak menyalakan keran, Deva menahannya. "Biar Bi Ina aja."
Alya menurut saja. Ia berbalik. Kini tubuhnya menghadap Deva. Pria itu menyipit kala melihat wajah istrinya yang agak pucat. Tangannya terulur menyentuh dahi Alya. Tidak panas. Aneh sekali. "Kamu sakit?" tanya Deva memastikan.
"Pak Deva antar Mama Sily pulang, sana. Udah malam." Begitu mengatakannya, Alya langsung pergi meninggalkan suaminya. Entahlah. Mood Alya sangat buruk hari ini. Sejak kejadian di kampus tadi, Alya jadi malas bicara dengan Deva. Padahal bisa saja prasangkanya salah. Bisa saja hanya kebetulan Deva tertawa bersama Reyna seceria itu. Ia tidak ingin memikirkan lebih jauh. Sakit yang menyerang kepalanya sungguh membuatnya ingin tidur saja.
***
Alya tetap ke kampus meski tubuhnya sedang tidak dalam keadaan baik. Ia bosan di rumah. Hari ini adalah jadwal Deva di kelasnya. Kalian harus tahu ... Jadwal Deva ditambah, dan tentunya tidak hari senin saja Alya dapat bertatap muka dengan Deva di kelas, tapi juga selasa dan rabu. Deva memulai kelasnya dengan tugas. Kepala Alya sudah sakit, bertambahlah rasa sakitnya. Ia seringkali menghela napas berat, membuat Silvy jengah juga.
"Kalo sakit gak usah masuk, Al. Sok jagoan banget, lo. Udah berguru sama Maxlorad, lo, sampe bisa nahan sakit?"
Maxlorad adalah salah satu karakter dari film sci-fi yang sedang booming akhir-akhir ini. Ya, tentunya karakter super hero yang bisa menahan rasa sakit meski terluka parah. Alya terdiam agak lama sambil memejamkan matanya. "Nanti kalo gue mati, tolong bilang Kak Aldo jangan ngerusuh di kamar gue," kata Alya, asal bicara. Silvy hanya membalasnya dengan gumaman singkat.
"Kalau sakit, gak usah ikut kelas, Alya." Suara bariton itu, Alya mengenalnya. Malas sekali harus membuka mata melihat siapa yang kini berdiri di dekat mejanya.
"Saya gak sakit."
Deva mengecek suhu tubuh Alya lagi. Dingin. Itulah yang dirasakannya. "Silvy, tolong antar Alya ke puskesmas yang ada di dekat kampus."
Silvy mengangguk. "Iya, Pak. Ayo, Alya!"
Silvy membopong Alya keluar dari kelas. Meski wajah Deva tetap datar seperti biasa, namun dalam hatinya ia khawatir setengah mati. Jika bukan karena harus menyembunyikan status mereka, Deva akan membopong Alya dan membawanya sendiri ke puskesmas.
Meskipun puskesmas dekat, mereka tetap pergi menggunakan taksi. Tidak mungkin harus berjalan, karena jika berjalan kaki, Alya bisa tumbang duluan di perjalanan. Di dalam taksi, Alya bergumam. "Sil, gue pengin—"
Huekk! Alya memegangi mulutnya. Ia meminta supir taksi untuk menghentikan mobilnya. Alya keluar dengan buru-buru. Ia memuntahkan isi perutnya begitu saja. Silvy memijat belakang kepala Alya. "Lo makan apa, sih?"
"Gue belum makan dari tadi pagi."
"Ck, pantesan aja! Bandel banget, sih, lo! Mau makan dulu, gak?"
Alya menggelangkan kepalanya. "Gak usah. Ke puskesmas aja beli obat."
Setelah sampai, Silvy langsung membawa Alya ke ruang dokter. Dokter yang memeriksanya ramah sekali. Andai Deva seperti itu. "Mual sejak kapan?"
"Sebenarnya dari kemarin. Tapi parahnya baru tadi."
"Kamu belum sarapan?"
Alya menggelangkan kepalanya pelan. Dokter itu mengangguk. "Lain kali sarapan, ya. Memang sarapan hal yang sepele, tapi kalau perut kamu kosong, mualnya akan terus kerasa."
"Tapi biasanya saya gak pernah mual kalau belum sarapan, Dok."
Dokter itu tertawa pelan. "Tentu. Biasanya kamu sendiri. Sekarang, kan, berdua."
Alya mengerutkan dahi. Ia nampak kebingungan dengan ucapan sang dokter barusan. "Berdua?"
"Iya, berdua. Kamu dan janin yang di kandungan kamu."
Alya membeku. Otaknya berhenti berputar. Seketika saja di telinganya hanya ada satu kata, "Kamu dan janin di kandungan kamu."
Alya masih mencoba memahami kondisi. Ia tertawa sumbang. "Janin? Maksud dokter saya hamil?"
"Iya. Kamu hamil. Usianya 3 minggu."
Alya memijat pelipisnya. Ia tersenyum sembari mengucapkan terima kasih pada sang dokter, kemudian pergi membawa resep obat yang tadi diberikan. Silvy yang menunggu di luar langsung menghampiri Alya. "Udah dapat resep obatnya?"
Alya mengangguk. "Apa kata dokter? Lo gapapa, kan?"
Alya mengangguk lagi. "Kok, lo, ngangguk doang, sih? Lo gak lagi sariawan, kan?"
Kini Alya menggelangkan kepalanya. "Al, ngomong, dong!"
"Sil," panggil Alya dengan tatapan kosong, "Gue hamil."
Silvy mengernyitkan dahinya. Satu detik ... dua detik, Silvy langsung menepuk lengan Alya. "Ya ampun, gue kira lo kenapa. Ya, bagus, dong, kalo lo hamil. Terus apa masalahnya? Lo hamil, kan, ada suaminya. Kecuali gue yang hamil, baru salah."
Alya tertawa pelan. "Tapi gimana kalo Pak Deva gak ingin anak ini?" Entah dorongan dari mana Alya bisa mengatakan hal itu. Kalimat itu keluar begitu saja.
"Eh, lo, jangan ngadi-ngadi! Mana mungkin Pak Deva gak ingin darah dagingnya sendiri? Jangan mikir aneh-aneh, deh, Al."
"Bisa aja, kan? Bisa aja Pak Deva gak ingin."
Silvy tidak mempermasalahkan ucapan Alya. Ia memaklumi, mungkin bawaan ibu hamil emosinya tidak terkontrol. Dan mungkin juga karena efek Deva dan Alya sama-sama masih muda. Alya hanya berpikir terlalu jauh.
"Ya udah, ayo! Gue antar lo ke rumah."
"Gue mau ke rumah orang tua gue."
Silvy mengangguk. "Iya, gue antar ke sana."
Alya menyuruh Silvy untuk tidak memberitahukan perihal kehamilannya pada siapapun untuk saat ini. Alya hanya tidak ingin saja. Ketika sampai di rumah, Alya langsung memeluk Nayla sang Mama. "Eh, kenapa ini? Tiba-tiba meluk gini?"
"Alya hari ini nginap di rumah Mama, ya?" pinta Alya.
"Loh, Deva ke mana? Kalian lagi ada masalah?"
Alya menggelang cepat. "Enggak. Kami baik-baik aja. Alya lagi pengin nginap di rumah Mama aja. Boleh, ya?"
"Sudah bilang Deva?"
"Nanti Alya bilang, kok. Pak Deva masih ada di kampus."
"Ya udah, malam ini kamu nginap di sini."
Alya tersenyum. Ia kembali memeluk sang Mama.
***
Deva yang diberitahu Silvy jika Alya di rumah orang tuanya langsung saja ke sana. Ketahuilah, Alya tidak menepati perkataannya untuk mengabari Deva. Gadis itu langsung tertidur begitu selesai memeluk sang Mama. Saat ini pukul 7 malam. Alya bahkan masih tertidur pulas di kamarnya.
Deva dengan wajah khawatirnya datang menemui sang mertua. "Alya di mana, Ma?"
"Di kamar. Bukannya Alya udah kasih tahu kalau mau nginap di sini?"
"Mungkin Alya lupa," jawab Deva.
"Ya sudah, sana ke kamar. Alya belum bangun dari tadi sore. Gak biasanya dia tidur selama ini. Bangun-bangun cuma salat magrib habis itu tidur lagi. Mood nya kayanya lagi gak bagus. Tumben banget, anak Mama pendiam kaya gitu. Mama kira kalian ada masalah, tapi tadi Alya bilang kalian baik-baik aja. Kamu tahu dia kenapa?"
"Alya tadi sakit, Ma. Deva suruh temannya antar ke puskesmas. Kayaknya karena gak enak badan."
"Mungkin aja. Ya udah, kamu mandi dulu sana. Habis itu kita makan malam di bawah."
"Iya, Ma."
Deva pergi menuju kamar Alya. Sejak menikah, ini kali pertamanya masuk kamar Alya. Kamar yang mendominasi warna merah muda dan juga boneka beruang yang tertata rapi di meja sudut ruangan. Deva menaruh tasnya di atas nakas, lalu berjalan mendekati Alya yang tengah tertidur dengan pulas. Deva suka sekali melihat wajah tenang Alya saat tertidur. Tangannya terulur mengusap pipi Alya pelan. "Kamu kenapa hari ini? Saya khawatir, Alya."
"Jangan sakit, saya gak suka lihat kamu sakit."
Deva mencium kening Alya agak lama, lalu setelahnya ia pergi ke kamar mandi. Ia meminjam pakaian Aldo karena tidak sempat membawanya dari rumah. Setelah diberitahu Sily, ia langsung datang ke ruamh mertuanya.
Setelah selesai makan malam tanpa Alya, Deva mengambil makanan milik Alya lalu membawanya ke kamar. Ia menaruhnya du atas nakas. Tangannya menyentuh pipi Alya untuk membangunkan gadis itu. "Alya, ayo makan," kata Deva dengan suara lembutnya.
"Alya, kamu harus makan."
Alya mengerjapkan matanya. Betapa terkejutnya ia melihat Deva ada di kamarnya. Alya langsung bangkit dan menjauh dari Deva. "Pak Deva ngapain di sini? Ah, salah, kenapa bisa ada di sini?"
"Kamu kenapa, Alya?" tanya Deva frutrasi. "Kamu marah sama saya? Saya ngelakuin kesalahan apa? Atau karena kemarin saya gak bisa antar kamu pulang? Atau karena kemarin saya marahin kamu nonton TV dengan volume besar?"
Alya menggelangkan kepalanya pelan. Ia menundukkan kepalanya. "Saya ke sini karena gak mau lihat Pak Deva," kata Alya dengan isak tangisnya. Ah, jangan tanya kenapa Alya menangis. Ia mana tahu. Aneh saja rasanya ia ingin menangis. Padahal ia tidak merasa sedih. Apa pembawaan ibu hamil?
"Kamu gak mau lihat saya?" tanya Deva dengan menaikkan sebelah alisnya.
Alya terdiam. Sekarang justru ia tidak bisa bicara lagi. "Tolong kasih tahu apa salah saya, Alya."
"Siapa yang suka telepon Pak Deva dari pagi sampai malam?"
Deva menggaruk alisnya. Ia menghela napas. "Reyna."
Benar, kan, dugaan Alya. Ia pasti tidak salah mengira. Sudah pasti itu Reyna. "Kalian ada urusan apa?"
Deva diam tak menjawab. Namun karena tatapan tajam Alya, akhirnya Deva menjawab, "Itu cuma urusan yang gak penting. Kamu gak perlu tahu."
"Kenapa saya gak boleh tahu?" Kini nada bicara Alya sedikit meninggi. Ia kesal bukan main. Kenapa ia tidak boleh tahu? Memangnya setidak penting apa urusannya?
"Alya, kenapa kamu jadi emosian gini?"
"Kenapa?! Kenapa gak mau kasih tahu?! Kenapa?!" Suara bentakan Alya mampu membuat Deva terkejut. Bahkan sampai terdengar ke ruang makan. Nayla, Anggara, dan Aldo langsung menoleh ke arah kamar Alya.
"Mereka lagi berantem, Ma?" tanya Aldo dengan wajah terkejut.
Nayla juga sama terkejutnya. Namun ia langsung melanjutkan aktifitasnya membersihkan meja. "Biarkan mereka selesaikan urusan mereka. Jangan ikut campur."
Anggara menggelangkan kepalanya lalu mengehela napas. "Dasar anak muda."
Disisi lain, Alya menatap Deva dengan wajah kesal. "Alya, apa begitu cara kamu bicara sama suami kamu?!" kata Deva yang juga meninggikan nada bicaranya, meskipun tidak setinggi Alya saat membentaknya.
"Kenapa? Pak Deva marah? Ayo, marah! Marah aja! Pak Deva lebih milih marah sama saya ketimbang kasih tahu saya soal Kak Reyna. Segitu privasinya, ya, hubungan kalian?"
"Alya, kamu cemburu?"
Sungguh jawaban yang tidak Alya inginkan. Bisa-bisanya Deva malah mengatakan itu. Padahal jelas sekali ia memang cemburu. Alya tidak ingin menjawabnya. Ia memilih beranjak dari tempat tidur dan hendak keluar kamar, namun Deva menahannya. "Alya, saya lagi bicara sama kamu!" bentak Deva.
"Pak Deva, tuh—Akhh!" Alya memegangi perutnya yang terasa kram. Deva membelalak matanya.
"Alya, apa yang sakit?" tanya Deva panik bukan main.
Darah segar mengalir di kaki Alya. Ia meringis kesakitan dan detik berikutnya, pandangannya menghitam.
"Mah! Pah! Aldo!" teriak Deva dari kamar. Ia mengangkat Alya dan menggendongnya keluar kamar.