Deva melangkah mendekati Alya yang masih berbaring tak sadarkan diri. Ia duduk di kursi yang disediakan di sebelah ranjang. Deva meraih tangan istrinya, lalu menangis dalam diam. Air matanya sudah tidak mampu lagi ia tahan. Bibirnya seakan kelu, entah ingin mengatakan sesuatu saja rasanya tidak sanggup. Deva menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Alya. Ini semua salahnya. Deva mengulurkan tangannya ke arah perut Alya yang datar dan dingin. Air mata kembali jatuh membasahi pipi putihnya. "Maafin, Ayah. Kamu pasti kaget, ya?" kata Deva dengan hati sesak. Ya ... dokter memberitahu bahwa Alya tengah mengandung dengan usia kehamilan 3 minggu. Deva merutuki dirinya sendiri kala mendengar hal itu. Hampir saja ... ia kehilangan keduanya. "Maaf Ayah marahin Mama." Tangan Alya ber

