Hal yang paling sulit dimengerti adalah ketika hatimu tahu kamu marah tapi bibirmu kelu karena sadar marahmu tidak akan ada artinya. Ya ... Alya memang marah. Tapi disisi lain ia sadar, posisinya saat ini berawal dari sebuah kesalahan. Alya tidak menyalahkan siapapun. Tidak menyalahkan Deva lagi. Ia yang salah. Salah karena dengan bodohnya ia mengklaim bahwa ia berhak atas Deva padahal hak itu tidak pernah diberikan padanya sejak awal mereka menikah. Alya sadar diri. Memang benar Deva yang mengajaknya ke desa itu, tapi ia tahu betul ... jika saja ia tidak teriak waktu itu ... Alya ... Deva ... mereka masih berada di dalam dunia mereka sendiri tanpa masalah apapun. Sekarang Alya menyadarinya. Kenyataan bahwa ia adalah istri Deva hanya sebuah gelar yang diberikan untuknya. Tapi hanya gelar

