"Alya, woy! Bayar baksonya!" teriak Raka dari kejauhan. Yang dipanggil hanya tersenyum lalu menjulurkan lidahnya. "Jangan gitu, dong. Gue kan lagi ulang tahun. Bayarin kenapa, sih. Pelit banget, lo." Raka melongo mendengarnya. "Lo ulang tahun 4 hari lalu, Alya! Emang ulang tahun lo ada hari tasyriknya?!" tanya Raka, emosi. Alya menunjukkan cengirannya. "Ya udah. Gue minjem duit lo dulu, deh. Dompet gue ketinggalan di kelas. Nanti gue ganti. Serius, gak bohong." Raka menghela napas. Kalau sudah begini, terpaksa pria itu lagi yang membayar, meskipun ia tahu Alya tidak akan mengganti uangnya. Memang harga bakso tidaklah mahal. Tapi jika setiap hari ia yang membayar bisa bangkrut. Alya menghampiri Silvy yang menunggu di pintu kelas. "Gimana? Raka yang bayar?" Gadis itu mengedipkan sebela

