Dyra menjinjing tas berisi boneka serta pakaian bayi yang baru ia beli. Ia berniat memberikannya pada Bu Rahayu. Ia juga sempat membelikan beberapa pakaian baru untuk Bu Rahayu. Selain itu, tadi Dyra sempat membeli makanan untuk ia berikan kepada Bu Rahayu.
"Mbak, Bu Rahayunya ada?" tanya Dyra kepada suster Nuri. Suster Nuri tersenyum melihat kedatangan Dyra. Terlebih ketika melihat gadis itu membawa beberapa barang yang sudah dipastikan akan ia beri kepada Bu Rahayu. Nuri mengantar Dyra menuju taman. Nampak Bu Rahayu tengah mencabuti rumput liar di sana. Dyra tersenyum dan mulai mendekat. Sebelum itu, Nuri mengundurkan diri untuk melanjutkan tugasnya.
"Bu."
Bu Rahayu menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"Dyra?" Bu Rahayu menunjuk Dyra dengan pandangan linglung. Dyra mengangguk sembari tersenyum.
"Dyra bawa baju buat Ayu." Dyra mengangkat tas belanjaannya, menunjukkannya kepada Bu Rahayu. Bu Rahayu tampak senang dan bertepuk tangan sembari tertawa.
"Ayo kita dandanin Ayu."
Bu Rahayu mengangguk cepat. Ia mengambil boneka bayi yang dianggapnya sebagai Ayu. Boneka yang tadinya berada di atas rumput itu kini sudah berpindah ke dalam rangkulan Bu Rahayu. Dyra mengajak Bu Rahayu duduk di kursi taman. Setelah itu ia mulai mengeluarkan beberapa baju bayi yang ia beli. Bu Rahayu yang tidak sabaran segera mengambil paksa pakaian bayi tersebut dari Dyra dan memakaikannya pada boneka yang ia gendong.
"Bu Rahayu udah makan?" tanya Dyra.
Bu Rahayu tetap asik memakaikan Ayu pakaian, namun beliau tetap menjawab pertanyaan Dyra dengan gelengan singkat.
"Dyra bawa makanan. Nanti dimakan ya sama Ayu. Biar Bu Rahayu sama Ayu enggak kelaparan."
Bu Rahayu tidak merespon ucapan Dyra.
"Dyra bawa temen buat Ayu." Dyra mengeluarkan boneka bayi yang baru saja ia beli tadi. Bu Rahayu segera mendongakkan kepalanya. Ia pun menatap boneka tersebut sejenak namun kemudian dia tersenyum kagum.
"Ayu.." Bu Rahayu mengambil boneka tersebut dan mengangkatnya ke udara.
"Ayu."
Dyra mengernyitkan kening.
"Ini temennya Ayu, Bu."
"Ayu," ujar Bu Rahayu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu Rahayu dengan segera melepas pakaian yang sudah terpasang di badan boneka lamanya, lalu memakaikan pakaian tersebut pada boneka yang diberikan Dyra.
Orang gila mah bebas
Dyra menatap langit yang mulai memunculkan semburat jingga. Hari mulai senja, sedangkan Dyra masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan sepatu dan tas.
"Dyra pulang dulu ya, Bu. Sudah sore. Nanti makanannya di makan, ya." Dyra menatap Bu Rahayu sejenak. Bu Rahayu masih tampak sibuk menatap boneka barunya dengan raut wajah bahagia. Dyra bangkit dari duduknya. Ia harus segera pulang.
"Dadaaaaa..." Dyra membalikkan tubuh dan tersenyum ketika melihat Bu Rahayu melambaikan tangan dengan semangat. Dyra pun ikut melambaikan tangan.
-----
"Gue tau lo pasti ke sini."
Dyra berjengkit kaget ketika sebuah suara menyambutnya ketika ia keluar dari gerbang. Suara tersebut adalah suara Dero. Dyra berusaha mengabaikan ucapan kembarannya. Biar bagaimanapun, ceritanya Dyra masih mendiamkan Dero. Ia melangkah melewati Dero dengan santai seolah Dero tidak berada di sana. Membuat Dero geram dan menahan lengan Dyra hingga langkahnya terhenti.
"Lo marah? Kenapa? Gue kan udah minta maaf."
Dyra berusaha melepas tangan Dero yang mencekal tangannya. Namun terasa sia-sia, tenaga laki-laki selalu lebih kuat.
"Kak, lepas."
"Enggak, sebelum lo jelasin alasan kemarahan lo."
"Ini tempat umum, Kak Dero!"
"Nggak peduli. Gue nggak mau lo ngambek karena masalah yang bahkan gue nggak tau apa."
Dyra menatap tajam ke arah Dero. Kembaran yang menyebalkan.
"Bukannya udah jelas! Lo upload foto yang menggiring opini publik. Gue jadi banyak haters. Jadi bahan gosip anak Cakrawala. Di introgasi sama temen sekelas. Bahkan dilabrak beberapa kali."
"Terus mau lo apa sekarang? Biar nggak ngambekan kayak anak kecil. Sok-sokan nggak pulang, telpon dimatiin. Gue cemas tau. Kalo lo ilang, bisa dikebiri gue sama Papa lo."
Dyra hanya terdiam. Ia menatap tangannya yang dicekal Dero.
"Lepasin gue."
"Ngelepasin lo terus lo kabur dan ngambek lagi? Enggak akan Dyra, sayang."
Dyra berdecak sebal. Jika saja kembarannya ini tidak tampan, pasti ia sudah mencakar wajahnya.
"Hapus fotonya. Dan gue nggak mau tau lo harus bersihin nama gue dari rumor pacaran sama lo. Asal jangan kalo kita kembaran."
Dero merogoh sakunya, detik kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya kepada Dyra.
"Nih, biar puas. Lo aja yang ngapus." Dyra meraih ponsel Dero dengan tangan kanannya yang terbebas. Dengan sigap ia membuka aplikasi i********:.
Dyra tampak fokus meski berada sangat dekat dengan Dero. Posisi keduanya sangat intim dan terlihat seperti orang sedang berpacaran. Dengan wajah yang hanya berjarak beberapa senti. Serta tatapan memuja yang terpancar dari mata Dero yang begitu fokus menatap Dyra.
Coba kita bukan saudara. Udah gue nikahin lo, Dyr.
-----
Rudra membelokkan kendaraannya. Rumah Sakit tempat Mamanya dirawat terletak di sebuah kompleks dimana di depan rumah sakit jiwa tersebut ada sebuah lapangan serta jalan raya. Rudra memicingkan matanya ketika melihat sosok yang tidak asing.
"Itu Dyra. Ngapain dia di situ."
Rudra memutuskan berhenti dan menepikan motornya. Ia melihat Dyra di depan pintu gerbang bersama Dero.
"Ada Dero juga," gumam Rudra.
Jadi mereka kencan."
"Kencan di depan rumah sakit jiwa. Cih."
"Pantes aja tadi ngebet pengen pulang sendiri."
Rudra memutuskan menunggu di tempat hingga Dyra dan Dero pergi. Jika saat ini Rudra melanjutkan perjalanannya, maka secara otomatis dia akan melewati dua sejoli itu. Serta Dyra serta Dero akan melihat dirinya. Rudra bernapas lega ketika akhirnya Dyra serta Dero memasuki mobil. Mobil tersebut pun mulai meninggalkan lingkungan sekitar rumah sakit.
Rudra segera memasuki gerbang. Ia memarkirkan motornya kemudian melepas helm. Dengan langkah terburu-buru Rudra memasuki rumah sakit. Setelah ia mengisi jurnal tamu. Salah seorang suster yang diketahuinya bernama Nuri, mengantarkan Rudra menemui Mamanya.
"Ma." Rudra memanggil mamanya ketika ia tiba di sebuah taman dimana mamanya tengah duduk di kursi dan sedang mengunyah makanan.
Panggilan Rudra membuat wanita paruh baya tersebut menoleh, namun dengan cepat mengabaikan keberadaan Rudra. Seperti inilah Rudra setiap mengunjungi ibunya. Ia hanya bisa menatap ibunya. Meski Rudra sering berbicara namun ibunya tidak pernah merespon ataupun menganggap keberadaan Rudra. Mamanya seolah tidak mengenali Rudra sebagai anaknya. Hal itu membuat Rudra benar-benar merasa sedih. Ia sudah cukup kehilangan adiknya. Kehilangan kasih sayang ayahnya, dan ia juga harus bisa menerima kenyataan bahwa ibunya tidak menganggapnya ada karena depresi. Rudra menatap mamanya yang kini sibuk menggendong sebuah boneka.
Boneka itu?
Rudra merasa pernah melihatnya.
"Itu kan boneka yang."
"Tadi Dyra beli." Rudra akhirnya bisa mengingat. Dan bagaimana bisa boneka tersebut ada di sini. Ia baru mengingat bahwa tadi ia melihat Dyra di depan pintu gerbang.
"Mbak. Maaf. Kalau boleh tahu boneka yang dibawa Ibu saya itu, dari siapa ya?" tanya Rudra kepada salah satu suster yang melintas.
"Maaf, Mas. Kalau itu saya kurang tau."
"Oh."
"Permisi."
Rudra berdecak frustasi. Siapa yang memberikan boneka itu pada Mamanya.
"Bu, ayo kita masuk. Sudah mulai petang." Rudra menoleh kepada suster Nuri yang tengah membujuk mamanya.
"Sus, boneka ini siapa yang ngasih?" tanya Rudra tanpa berbasa-basi.
"Oh. Itu Mbak Dyra yang kasih. Baru saja tadi dia ke sini."
"Dyra? Ke sini?" tanya Rudra tidak mengerti.
"Iya, Mbak Dyra. Dia sering ke sini jengukin Bu Rahayu."