Part 25

919 Kata
    Dyra melangkah dengan cepat, mengabaikan bisikan para penggosip sekolahnya. Berusaha tidak memikirkan ucapan pedas mereka yang membuat telinga Dyra panas.     "Eh, fotonya Dyra dihapus loh sama Dero. Kayaknya Dyra cuman jadi pelarian aja deh."     "Numpang tenar banget sih tu orang."     "Orang nggak tau malu lewat!"     "Jadi cewek kegatelan banget sih, sok-sokan deketin Dero!"     "Rasain sekarang dicampakkin sama Dero!"     Serta masih banyak ucapan pedas lainnya.     Awas aja lo, Bang!     Dyra mengepalkan tangannya dengan kuat. Wajahnya memang terlihat santai, namun tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya saat ini. Sebelumnya ia merasa kehidupannya sangat tenang. Namun sekarang, ia benar-benar merasa risih karena setiap orang yang ia temui memandangnya dengan tatapan tidak suka. Ia benci dijelek-jelekkan seperti itu. Selama ini ia sudah mati-matian menutupi kehidupannya agar tidak ada yang tahu mengenai kehidupan Dyra. Tidak ada yang tahu keluarga Dyra, alamat rumah Dyra, dan siapa Dyra sebenarnya. Dyra berusaha  menutupi itu semua termasuk hubungannya dengan Dero. Berharap ia bisa menjalani kehidupan dengan tenang tanpa gangguan dari para penggemar Dero. Namun nyatanya kini Dero menghancurkan semuanya. Membuat Dyra kesal bukan main.      Seharian ini ia sudah berusaha menghindar dari keramaian. Berangkat sekolah paling awal, tidak keluar kelas kecuali ke kamar mandi untuk buang air kecil saat pelajaran berlangsung. Dan pulang paling belakang. Namun tetap saja ia bertemu dengan para penggosip yang lebih memilih duduk bergerombol dibandingkan pulang ke rumah.     "Eh, lo!"     Dyra mengabaikan seseorang yang memanggil dirinya. Ia hanya mempercepat langkah. Berharap agar dengan segera dapat tiba di depan motornya dan langsung mengendarai motor meninggalkan sekolah.     "Lo budeg, ya!"     "Aw.." Dyra meringis ketika seseorang menarik pergelangan tangannya dan dengan kasar mendorong tubuh Dyra hingga terbentur dinding. Dyra membulatkan matanya ketika melihat Gebby, ketua komunitas penggemar Dero di SMA Cakrawala.     "Gue udah panggil baik-baik, sok nggak denger!"     Baik-baik? Teriakan bikin gendang pecah gitu dibilang baik-baik?     Dyra menggerutu dalam hati. Ia saat ini dihadapkan pada lima siswi yang merupakan penggemar berat Dero. Dan sepertinya ia dilabrak, lagi.     "Ada apa?" Dyra berusaha bersikap santai. Meski sebenarnya nyalinya sedikit ciut mengingat yang ia hadapi adalah rekan seangkatannya. Gebby merupakan siswi kelas XII IPS satu, dia satu kelas dengan Rudra.     "Ada apa?" Gebby mengangkat satu alisnya, terlihat mencemooh.     "Lo masih tanya ada apa? Sok polos banget sih lo! Lo tau kan kita dari komunitas Peberola!"     Penggemar Berat Dero dari Cakrawala.     "Iya, tau."     "Lo tau kan, dalam komunitas Peberola anak SMA Cakrawala dilarang berkhianat. Dilarang menjadikan Dero sebagai pacar! Dan fix, anak SMA Cakrawala lebih setuju kalau Dero jomblo!"     "Enggak. Kan gue bukan anak Peberola. Jadi gue nggak tau. Dan aturan sampah itu nggak berlaku buat gue!" Dyra berucap datar. Entah harus bersikap bagaimana agar ratu cabai ini menutup mulutnya. Dyra bahkan heran, bagaimana bisa ia terpilih sebagai ketua Peberola. Dan yang lebih mengherankan lagi bagi Dyra, bagaimana bisa pesona kembarannya begitu kuat hingga sekolah elit seperti sekolahnya memiliki komunitas alay.     "Lo berani bilang itu aturan sampah?" Gebby menunjuk Dyra dengan geram.     "Kenapa? Mau marah? Siapa sih lo? Bentak-bentak gue." Dyra merasa kesal ditunjuk-tunjuk seperti itu.     "Lo nggak tau siapa gue? Ck. Asal lo tau ya, gue itu ke-"     "Oke ketua fans alaynya Dero, ada keperluan apa anda menghampiri saya?" Dyra menyilangkan tangannya di depan d**a, berusaha terlihat santai padahal debaran jantungnya terasa begitu cepat.     "Gue mau peringatin lo kalau jadi cewek itu jangan kegatelan. Jangan sok caper sama Dero! Apalagi sampe deketin dia."     Dyra berdecak kesal kepada Gebby. Ia tidak habis pikir atas dasar apa Gebby berhak melarangnya.     "Emang lo siapanya Dero? Istrinya? Dero aja betah tuh deket-deket gue."     "Lo pake pelet apa sih sampe Dero mau sama cewek gatel kayak lo?" Gebby menatap Dyra dengan tajam.     "Bukannya sombong, ya. Emang dasarnya gue aja yang terlalu cantik sampe Dero klepek-klepek sama gue." Dyra mulai menyombongkan diri, berharap ucapannya akan menghentikan ucapan Gebby.     "Kepedean banget sih, lo. Cantikan juga gue!"     "Yakin?"     "Pokoknya gue ingetin ya sama lo. Lo jauhin Dero, karena Dero itu milik Peberola!!"     "Lagian. Dero juga udah nyampakkin lo, kan. Jadi nggak usah belaguk!" Gebby dengan sengaja menginjak kaki Dyra yang tertutupi sepatu. Meski Gebby bisa dibilang cukup kurus. Tapi jangan kira injakan kakinya tidak terasa berat.     "Cabut, guys."     Dyra menatap tajam kepergian Gebby dan rekan-rekannya. Sepertinya Dyra akan benar-benar membenci komunitas alay dari sekolahnya itu. Itu karena Dyra paling tidak suka direndahkan. Selepas menatap tajam kepergian Gebby. Dyra membalikkan tubuhnya. Ia harus segera pergi ke parkiran, sebelum wakil ketua Peberola atau bendahara Peberola atau sekretaris Peberola yang datang untuk melabraknya.     "Aaaaaa...mazing!" Dyra berjengkit kaget ketika berbalik dan mendapati Rudra di hadapannya dengan sorot wajah datar.     "Rudra.."     "Gue mau ngomong."     Dyra menatap Rudra. Bukankah laki-laki itu sudah bicara. Jadi untuk apa melaporkan hal yang sudah dilakukan.     "Ngomong aja."     Dyra mulai bergidik ngeri akan tatapan Rudra yang berubah menatam, setajam silet. Apakah ada yang salah dengan ucapannya. Atau Rudra juga ingin melabrak Dyra.     "Tapi lo harus ikut gue." kini tatapan Rudra telah dingin kembali.     "Kemana?"     "Suatu tempat." Dyra mengernyitkan keningnya. Apakah ia sedang berhalusinasi, atau ia sedang bermimpi saat ini. Jika ia bermimpi, itu artinya adegan dimana Gebby melabraknya tidaklah benar-benar terjadi.     "Aw.." Dyra mencubit tangannya, dan terasa sakit. Itu artinya itu nyata. Dyra mulai menatap Rudra dengan detail. Ia juga melambai-lambaikan tangannya sendiri di hadapan wajahnya.     "Ayo." Rudra melangkah lebih dulu meninggalkan Dyra yang masih merasa bingung. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana sembari melangkah.     "Bentar, lo mau ngajak gue kemana? Dan lo mau ngomong apa? Kenapa nggak ngomong disini aja." baru saja Rudra tiga kali melangkah, Dyra sudah mengintrupsinya dengan pertanyaan. Rudra berbalik. Menatap Dyra dengan tersenyum.     "Kencan. Ayo." Detik itu juga, mata Dyra hampir melompat dari tempatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN