Dyra menatap Dero setajam mungkin yang ia bisa. Kembarannya itu benar-benar membuatnya kesal. Dero berbuat ulah dengan memposting foto mereka berdua dengan caption yang akan menambah rumor keduanya berpacaran.
"Bang, hapus fotonya!" pekik Dyra memperingatkan.
"Udah banyak yang liat juga."
Dyra berkacak pinggang. Menatap Dero yang lebih tinggi darinya. Setelah tadi mereka sempat berkejaran karena Dyra ingin merebut ponsel milik Dero. Dan kini Dero berakhir dengan berdiri di atas kasurnya. Sedangkan Dyra masih berdiri di atas lantai menatap Dero.
"Gue bisa dibully satu sekolah!"
"Lo tinggal catet namanya. Nanti gue yang labrak balik mereka."
Dyra menghembuskan napas kasar. Entah bagaimana caranya memaksa Dero. Disaat seperti ini, saat tidak ada orang tua mereka di rumah. Dyra hanya bisa pasrah karena tidak akan ada yang bisa mengatur Dero. Papanya yang tengah bertugas di Singapura membuat Dero dan Dyra hanya tinggal bersama Mamanya. Sedangkan kini Mamanya justru sedang bertugas ke Palu. Tersisalah Dero, Dyra dan pembantu mereka di rumah. Dyra tidak bisa membayangkan betapa sulitnya dia akan mengendalikan kembarannya itu.
"Satu." Dyra mulai menghitung. Kebiasannya pertanda saat keinginnya tidak terpenuhi, maka dia akan mendiamkan siapapun yang tidak mengabulkan permintaannya.
"Dua." Dero mulai menatapnya. Terlihat berpikir sejenak dan sempat melirik ponselnya. Setahunya, Dyra tidak akan betah mendiamkannya beberapa hari. Lagipula hanya ada mereka di rumah. Siapa lagi yang akan Dyra mintai tolong jika bukan kembarannya. Dan dapat dipastikan bahwa besok pagi Dyra bersikap seperti biasa.
"Tiga!" Dero memutuskan mengabaikan ucapan Dyra. Dan benar saja. Setelah menyelesaikan hitungannya, Dyra segera melangkah ke luar kamar Dero. Kesabarannya sudag habis. Dan ancamannya benar-benar tidak membuat Dero mengikuti keinginannya.
Dero berjengkit kaget ketika Dyra membanting pintu dengan keras.
"Kebiasaan kalo ngambek. Ck!" gumam Dero.
----
Dyra membanting pintu kamarnya sendiri. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Benar juga kata kembarannya. Jika pun postingan Dero dihapus, tetap saja tidak akan menyelesaikan masalah. Sudah terlanjur banyak yang melihat foto tersebut. Serta sudah terlalu banyak opini yang berkembang.
"Tapi seenggaknya mencegah lebih banyak orang yang ngeliat."
Dyra mengusap wajahnya. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Semenjak pulang dari menjemput Dero di bengkel, ia mencharge ponselnya yang lowbat. Dan bisa dipastikan grup chat kelasnya akan benar-benar ramai. Benar saja. Ketika mengaktifkan ponselnya serta menghidupkan data ponsel. Beragam notifikasi memenuhi ponselnya. Mulai dari i********: dan w******p. Yang mengejutkan adalah pesan di grup kelasnya mencapai 156 pesan. Belum lagi chat personal dari teman satu kelasnya. Dyra mulai membaca pesan di grup kelasnya, satu persatu.
Maman :
Hits
Meli :
Dyra kalo pacaran ngaku aja sih!
Sukma :
Fans Dero pada koar2 di socmed. Alay semua!
Dwi v :
Pj woy, pj
Yuda :
Soto di Kantin Kita kayaknya lumayan.
Bagus :
Lumayan buat dimakan?
Ayu :
Dyranya mana? Kok gak muncul? Mana ignya rame haters.
Boss :
Dyr, klarifikasi dong. Fans kecewa
Keyla :
Dyra?
Yuda :
Dyra?
Bagus :
Dyra?
Maman :
Dyra ? (4)
Boss :
Nongol, jangan cuma read chat'an kita Dyr!
Dyra menghela napas. Ia tahu teman satu kelasnya akan menjadi rempong seperti ini. Tapi yang Dyra tidak habis pikir, adalah tingkah Tama. Ketua kelas itu biasanya akan cenderung cuek terhadap obrolan yang menyimpang di grup. Biasanya ia akan menanggapi jika itu memang penting. Namun obrolan menyimpang seperti kehidupan pribadi anggota kelas, bukan urusannya. Tama tidak akan muncul jika itu bekaitan dengan hubungan pribadi.
Meli :
Tumben boss nongol klo beginian.
Dyra keluar dari percakapan grupnya. Ia memutuskan membuka aplikasi i********:. Ia berusaha bersabar ketika banyak pesan yang masuk. Sebagian besar berisi teror dari para penggemar Dero. Ada yang meminta follback. Ada juga yang mendukung hubungannya dengan Dero.
"Sok baik," gumam Dyra ketika membaca pesan tersebut. Ia membuka profilnya. Rupanya kini jumlah pengikutnya naik drastis. Bahkan foto terakhirnya dipenuhi banyak komentar.
Tidak ingin ambil pusing, Dyra memilih menggembok akunnya. Lalu mematikan fitur komentar di setiap foto yang pernah ia posting. Ia lantas membuka akun milik Dero. Melihat foto profil kembarannya itu, membuat ia merasa semakin kesal. Foto yang diupload oleh Dero tadi sudah dibanjiri puluhan ribu like dan ribuan komentar.
"Eh, dia live." Dyra otomatis menekan foto profil Dero untuk ikut bergabung menyaksikan siaran langsung tetangga kamarnya itu. Ia hanya ingin tahu apa saja yang akan Dero katakan di siaran langsungnya.
"Gila, yang nonton 13000"
Dyra menyaksikan wajah Dero yang tengah tersenyum. Melihat Dero yang tersenyum ke arah kamera membuat Dyra semakin bertambah kesal.
"Wah. Yang lagi ngambek, nonton juga."
Dyra mendelikkan mata ketika ia mendengar ucapan mencemooh Dero. Dan jangan tanyakan berapa banyak komentar yang masuk karena ucapan Dero tersebut.
"Buat yang lagi ngambek, maaf ya."
"Minta maaf tapi lewat live streaming, padahal kamar sebelahan!"
"Iya sayang, gue denger kok."
Dyra mendelik menatap layar ponsel. Ia berbalik menatap pintunya. Pintunya masih terkunci dengan rapat. Apakah Dero sesakti itu bisa mendengar ucapannya dengan volume kecil?
"Kak Dero sma cwek di foto itu pcrn ya?"
"Jangan ngambek, ya. Nanti cantiknya hilang."
"Ini orang, mau live apa curhat sih!"
Dyra memutuskan keluar dari aplikasi instagramnya. Ia benar-benar merasa kesal dengan Dero. Entah bagaimana besok ia harus menjalani hari-harinya. Yang jelas, ia harus menyiapkan 1001 alasan untuk teman sekelasnya. Dan jangan lupakan mengenai para penggemar Dero di sekolahnya. Ia pasti akan dilabrak habis-habisan besok.
"Mending besok gue berangkat pagi, biar nggak denger gosip murahan." Dyra lantas menyiapkan buku untuk pelajaran besok dan memasukkannya ke dalam tas. Ia lantas pergi tidur. Daripada pusing memikirkan Dero yang akan membuatnya semakin kesal.
-----
Dyra melangkah dengan tenang. Tidak sia-sia dia bangun pagi untuk datang lebih awal. Nyatanya, keadaan sekolah benar-benar sepi. Bahkan saat Dyra berangkat tadi, pintu kamar Dero masih tertutup rapat. Dyra melangkah menuju kelas dengan langkah santai. Ia bersenandung ria kemudian berbelok ke kelasnya.
"As-em!" Dyra terpekik kaget ketika mendapati Rudra dan Dea ada di dalam kelas. Ia memegangi dadanya karena terkejut. Ia kira ia adalah siswi pertama yang tiba. Namun opininya itu ternyata salah karena Dea dan Rudra telah tiba sebelum dirinya.
"Dyra." Dea menoleh ke arah Dyra. Rudra yang sebelumnya fokus ke arah ponselnya kini mengalihkan pandangan. Menatap Dyra sejenak. Dyra juga menatap Rudra. Laki-laki itu tengah duduk di bangkunya. Di sebelah Dea.
"Gue kira nggak ada orang." Dyra menyengir kuda. Ia merasa seperti orang polos yang masuk begitu saja dan terkesan menganggu dua sejoli di dalam kelas.
'Tapi kayaknya mereka nggak pacaran.'
Dyra yang ditatap lekat oleh si Pluto mulai merasa salah tingkah.
"Siapa suruh nyelonong." Rudra berucap dengan dingin kemudian kembali memusatkan pikirannya pada ponsel.
"Rudra!"
Dyra bingung harus berkata apa. Ia juga tidak tahu harus melakukan apa. Jika ia ke tempat duduknya, otomatis ia akan mengusir Rudra. Padahal, si Pluto itu tampaknya terlalu nyaman hingga tidak juga berpindah tempat ketika pemilik bangku datang. Dan sahabatnya, Dea. Dea hanya diam saja, tidak menyuruh Dyra menghampirinya ataupun berbicara lagi. Dyra hanya mematung di dekat pintu. Berusaha menahan rasa kesalnya. Tangannya mengepal hingga buku-buku tangannya memutih. Di pagi hari yang sejuk ini, hatinya terasa terbakar.