Part 22

1143 Kata
Dero : Maaf, ya. Jangan ngambek dong     Dyra menghela napas dengan kasar. Dero telah berkali-kali mengirimkannya pesan hanya untuk meminta maaf. Tetapi, Dyra berusaha tidak peduli. Apapun yang terjadi, ia sudah bertekad untuk mendiamkan Dero seharian ini. Dyra melirik Dea sekilas. Rekannya itu tengah sibuk mengerjakan soal fisika. Berbeda dengan Dyra yang sudah selesai sejak tadi. Guru fisika berhalangan hadir hari ini, dan sebagai gantinya. Sang guru fisika meninggalkan mandat soal beranak yang harus dikerjakan dan dikumpul. Dyra bisa saja membantu, tetapi tadi Dea sudah berpesan jika ia ingin mengerjakannya sendiri.     Terbesit tanya di hati Dyra mengenai hubungan Dea dengan Rudra. Dea memang tidak mengetahui perasaan Dyra terhadap Rudra. Tidak ada yang tahu, kecuali Dyra dan Tuhan. Dyra melirik sekeliling. Teman-temannya sudah tidak secerewet tadi pagi. Saat di introgasi, Dyra hanya mengatakan dirinya dan Dero sedang dalam masa pendekatan. Dyra bahkan merutuki dirinya sendiri yang bisa mengelak dengan ucapan seperti itu.     "Ada, Pak." Dyra mendongak ketika mendengar suara Sukma. Sukma duduk di dekat pintu sehingga kadang para guru akan bertanya kepada Sukma terlebih dulu. Benar saja, ada Pak Kunto di sana. Dyra segera bangkit ketika Pak Kunto menyuruhnya untuk pergi ke ruang seni. Tidak perlu dipertanyakan, ini pasti berkaitan dengan lomba teater yang akan diadakan sebentar lagi.     "Dea. Gue ke ruang seni, ya." Dea mengangguk tanpa menoleh. Ia tampak masih fokus mengerjakan rumus fisika.     Tidak lupa, Dyra membawa ponselnya dan melangkah ke luar kelas. Dyra sedikit bersyukur saat ini jam kosong. Setidaknya ia tidak perlu meninggalkan pelajaran untuk melatih para adik kelasnya.                                                                                          --------     "Kita langsung aja, ya." ajak Dea sembari meletakkan tasnya di punggung.      "Pake seragam sekolah?" tanya Rudra.      Dea mengangguk pasti. Rudra baru saja menyusulnya ke kelas karena ia menyelesaikan tugas yang diharuskan dikumpul hari ini juga. Alhasil, Rudra menghampiri Dea ketika keadaan kelas benar-benar sepi.     "Temen lo kemana?" tanya Rudra ketika melihat tas yang terletak di atas kursi. Hanya tas itu yang tersisa, sedangkan pemiliknya entah kemana.     "Dyra? dia tadi dispen sampe jam terakhir. Lagi ngelatih anak teater di ruang seni."     "Tasnya nggak lo bawain?" tanya Rudra.     "Entar dia nyariin."     "Kita anterin aja ke ruang seni. Mumpung lewat." Dea menganggukkan kepalanya.     "Ya udah, deh."      Dea dan Rudra melangkah menuju ke luar kelas. Mereka akan singgah ke ruang seni terlebih dahulu untuk mengantarkan tas milik Dyra. Mereka melangkah berdua menuju ruang seni. Melewati setiap koridor. Kebetulan mereka melihat Dyra dari kejauhan. Dyra yang tengah sibuk memainkan ponselnya tidak menyadari kehadiran Dea dan Rudra.      "Dyra!" Dea berteriak hingga berhasil membuat Dyra mendongak. Gadis itu memang mendongak namun menghentikan langkahnya. Dea memilih menghampiri Dyra kemudian memberikan tasnya.     "Nih, tas lo." Dea memberikan tas milik Dyra.     "Tadinya mau dianterin ke ruang seni. Tapi berhubung kita ketemu di sini-"     "Makasih." Dyra berusaha tersenyum meski sebenarnya saat ini ia sedang kesal. Dero telah menantinya di depan gerbang SMA Cakrawala. Sedangkan ia tadi datang ke sekolah dengan mengendarai taksi online. Ia sengaja tidak membawa motor sebagai bentuk kekesalannya kepada Dero. Karena motor milik Dyra adalah kado dari Dero saat ia berulang tahun. Kado yang dibeli dengan uang Papanya, namun mengatasnamakan Dero sebagai pemberi hadiah.     Getar di ponsel Dyra membuat Dyra seketika menunduk. Ia membuka pesan yang baru saja muncul. Dero : Lo pasti ngambek biar gue jemput, kan? Ayo ke luar. Nanti gue traktir sebagai bentuk permintaan maaf. Lo kalo ngambek gini nggak lucu banget, sumpah!!!     "Kalo gitu gue duluan ya, Dyr." Dyra mendongak dan seketika mengangguk. Dea dan Rudra pun melangkah meninggalkannya. Kini Dyra harus memutar otak bagaimana caranya agar ia bisa ke luar tanpa dilihat oleh Dero. Ia sudah bertekad untuk mendiamkan kembarannya hari ini. Dyra tidak ingin usaha untuk membuat Dero jera menjadi gagal total.     Dyra membalikkan tubuhnya dan menatap Dea serta Rudra yang tengah berjalan menyusuri koridor. Tidak mungkin baginya meminta tolong kepada mereka. Sikap Rudra yang dingin juga rasa canggungnya terhadap Dea seolah menjadi tembok pembatas bagi Dyra. Ia memutuskan berlari lewat belakang gedung untuk menuju parkiran. Mungkin ada beberapa orang baik hati yang bisa dia tumpangi. Meski Dyra tahu bahwa keadaan sekolah sudah sangat sepi.                                                                                                 --------     Dyra mengatur napasnya ketika tiba di pakiran. Ada dua motor yang tersisa. Dan bisa dipastikan, satu dari motor itu adalah milik Rudra. Dyra tidak tau siapa pemilik motor ini. Yang jelas, ia akan menumpang lalu meminta diturunkan di dekat perempatan. Hanya untuk menghindari Dero. Ya, menghindari kembarannya.     "Dyra?" Dyra menoleh dan mendapati Tama tengah menatapnya dengan lekat.     "Lo ngapain nungguin motor gue?" tanya Tama.     Dyra bernapas lega ketika tahu bahwa motor yang tersisa ini adalah milik Tama. Setidaknya ia bisa mengandalkan teman sekelasnya yang satu ini.      "Gue boleh nebeng, kan?" tanya Dyra dengan wajah dibuat memelas. Tama menaikkan satu alisnya.     "Tadi gue berangkatnya naik taksi. Nebeng cuma sampe perempatan doang, kok." Tama mengerutkan keningnya.     "Sebentar."      Dyra menatap Tama bingung.     "Dero udah nungguin lo di depan gerbang. Tadi dia nanyain lo ke gue." Dyra membulatkan matanya. Bagaimana Dero bisa bertanya kepada Tama, apakah mereka saling mengenal?     "Maaf ya, Dyr. Bukannya nggak mau. Tapi Dero udah jemput, lo."     Dyra berdecak sebal.     "Ayolah, Tam. Please.. Cuma sampe perempatan doang."     "Lo lagi marahan ya sama Dero?" tanya Tama.     "Enggak."     "Kalo enggak, kenapa lo menghindar? Semalem juga, si Dero ngebahas lo waktu di live instagram."     Dyra terkejut bukan main. Ia merasa menyesal kemarin tidak mengawasi Dero ketika live streaming.     "Dia ngomong apa aja?" tanya Dyra dengan cepat. Masalah akan bertambah jika Dero mengatakan yang tidak-tidak.     "Lo tanya aja sama dia."     Kamprett!     "Nanti gue tanya. Tapi sekarang gue nebeng, ya."     "Oke deh. Tapi, lo jawab pertanyaan gue dulu ya."     "Pertanyaan apaan?" Dyra mulai merasa tidak sabaran.     "Lo pacaran sama Dero?"     "Enggak."     "Terus kenapa kemarin Dero bilangnya iya?"     Dyra membulatkan matanya. Dero benar-benar mencari gara-gara.     "Dia ngaku-ngaku."      "Jawab jujur aja sih, Dyr." Tama menatap Dyra lekat.     "Gue belum pacaran, cuma lagi pedekate'an aja."     "Yakin?" tanya Tama.     "Iya lah!"     Tama mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memutuskan memperbolehkan Dyra untuk menebeng. Setidaknya ia sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Dyra segera naik ke motor Tama. Ia juga memakai topi untuk penyamaran. Saat sampai di pintu gerbang. Ia dan Tama ke luar bersamaan dengan Rudra yang membonceng Dea. Namun, Dyra memilih membuang muka. Karena ada mobil Dero yang bertengger di sebelah kanan. Dan Dyra merasa beruntung karena ia duduk menghadap kiri sehingga tidak perlu bersusah payah menutupi wajahnya.     "Tam. Gue turun di perempatan ya," ujar Dyra dengan menepuk bahu Tama.     "Sekalian aja gue anterin lo pulang, Dyr."     "Eh, jangan." Dyra menggigit bagian bawah bibirnya. Bisa kacau jika Tama mengetahui alamat rumahnya.     "Kenapa? Hampir tiga tahun gue sekelas sama lo. Gue belum tau alamat rumah lo. Bahkan, satu kelas enggak ada yang tau."     "Soalnya gue mau ke mall dulu." Dyra tidak berbohong. Ia memang berencana pergi ke mall untuk membeli sesuatu. Setelah itu, ia akan pergi ke rumah sakit jiwa untuk mengunjungi Bu Rahayu. Selain untuk menghindar dari Dero, Dyra juga merasa rindu karena telah beberapa hari tidak bertemu dengan beliau.     "Kalo gitu sekalian aja. Gue juga mau ke mall." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN