"Aku hanya ingin selalu bersamamu karena hanya bersamamu aku merasa normal." Ajeng tak memberikan jawaban apa pun. Dia mendadak lemas. Wajahnya terlihat pucat. Pandangannya menjadi berpendar-pendar. Rama panik dan menuntunnya untuk duduk bersandar di bawah pohon. Sementara hujan masih mengguyur dengan derasnya. "Ajeng sayang, kamu kenapa?" Tanya Rama sambil menggoyangkan pelan bahu kekasihnya itu. Dia juga tak lupa menyeka air hujan yang banjir di wajah Ajeng. "Mukamu pucat banget. Kamu masih sakit, ya?" Dengan mata yang nyaris terpejam, Ajeng mencoba menggerakkan telapak tangannya ke pipi Rama. Dia mengelus-elus pipi cekung itu. Dia sangat cinta dengan wajah ini. "Makasih, ya, Rama, kamu udah sayang sama aku yang penuh dengan kutukan ini. Sekarang aku yang kena kutukan celanaku sendir

