"Kalau kamu betulan pacarnya Ajeng, berarti kamu harus siap-siap untuk menerima kutukan celana yang lebih besar." "Kamu siapa?" Teriak Darsan yang melangkah masuk. Dia menegur Rama yang kini sedang duduk menunggu Ajeng sadarkan diri di samping ranjang rumah sakit. Sebelah tangannya tak luput dari menggandeng tangan istrinya, Mena. Mereka tampak sangat khawatir. "Perasaan Ajeng nggak punya teman di sekolah. Lebih tepatnya nggak ada yang mau berteman sama dia." Rama tersenyum sembari mengangguk takzim. "Om dan Tante ini orang tuanya Ajeng, ya? Kenalin, Om," Rama berdiri, "saya Rama, pac-" Rama langsung tersadar akan sesuatu. Rasanya kurang cocok kalau saat ini dia memerkenalkan diri sebagai pacarnya Ajeng. "Saya temannya Ajeng, Om, Tante, teman satu sekolahnya." Darsan dan Mena segera

