"Kamu punya dua pilihan, Rama, mau tetap bertahan menjadi kekasihnya Ajeng dan melihat Ajeng kehilangan nyawa karena kutukan celana yang besar itu atau kau akan menjauhinya dan melihat Ajeng tetap dengan nyawanya?" "Tapi--" "Tak perlu alasan apa pun untuk itu. Cinta yang sejati akan selalu memilih kebahagiaan untuk pasangannya." Rama menggeleng yakin. "Om, aku serius cinta sama Ajeng. Aku nggak peduli walau harus terkena kutukan celananya yang kata Om barusan merupakan kutukan yang besar itu. Aku nggak peduli, Om." Darsan merengkuh lengan Rama kuat. Bahkan ia terkesan telah menyakiti lengan kurus itu. Wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. "Aku nggak mau kamu dekat sama Ajeng lebih jauh dari sekarang. Aku mau kamu putusin dia. Selama ini nggak pernah ada yang berani dekat-dekat

