Hatinya pilu, tak lagi candu, tak lagi madu karena cinta yang kini telah layu. Kini hanya satu pengobat rindu yaitu diam membisu larut dalam sayu. Semua telah berlalu. Semua sudah tak lagi syahdu. Hampir setengah jam sudah Ajeng berdiri di bawah pohon itu. Belum saatnya untuk menumpahkan segala rasa dalam butiran airmata. Dia yakin Rama akan datang untuk menjelaskan semuanya. Bahkan dia tetap yakin bahwa semua ini hanyalah mimpi atau senda gurau belaka. "Andika yang ngasih tahu gue tadi," seru Rama mendadak dari arah belakang Ajeng. "Katanya lo tungguin gue di belakang kantin di dekat kolam kangkung. Gue rasa tempat ini bakal jadi tempat yang bersejarah buat kenangan kita." Ajeng menoleh dengan antusias, tapi dia tahu mendekati Rama bukanlah tindakan yang tepat lagi. Meski baginya belum

