"Kalau Ajeng beneran sayang sama Rama, buka celana Ajeng!" "Demi cinta, Ajeng bakal buka celana. Tapi jangan di sini, dong, Sayang!" Rama mengecup lembut pinggiran bibir Ajeng. Dia belum berani mencium bibir itu seutuhnya. Padahal Ajeng sendiri sudah pasrah Rama akan mengecup bibirnya. Sejak awal, dia memang tak bisa menolak cowok yang selalu membuatnya nyaman itu. Ketika Rama menjauhkan bibirnya dari pinggiran bibir Ajeng, entah kenapa tangan-tangan Ajeng justru menarik pinggang Rama untuk semakin mendekat, seolah dia sendiri yang minta agar bibirnya dicium. Namun Rama tak paham akan isyarat tangan itu, sehingga ia bersikokoh untuk meletakkan ujung hidungnya ke ujung hidung Ajeng. Mereka dapat merasakan napas yang bergelora cinta. "Maaf, ya, Sayang!" Kata Rama pelan. "Maaf karna aku

