BAB 10 - Kecewa

1143 Kata
Bagaimana jadinya, jika kamu, bertemu dengan orang yang sama di berbagai tempat yang berbeda. Tak hanya sekali, dua kali. Entah ini sudah berapa kali, aku lagi-lagi bertemu dengan lelaki ini. Saat ini. Dia tersenyum kikuk kepadaku, setelah kudapati dia, baru saja keluar dari ruangan kerja kakakku. Aku ulangi, dia baru saja keluar dari ruangan kak Azam. Ok. Aku baru saja berkeliling rumah sakit karena mencari kak Husna. Sebelumnya aku menemui kak Azam sebentar, namun siapa sangka aku akan menemui lelaki ini lagi di sini. What?! Ku bilang apa barusan?! Bagaimana mungkin?, Belum sempat aku memikirkan kemungkinan apa saja yang dapat menjelaskan kenapa dia berada di sini, dia sudah membuka mulutnya dan berkata sesuatu. "A-Assalamu'alaikum" sapanya kemudian. Tentu saja aku menjawab salamnya. "Bukankah ka-kamu si penghuni hotel, si pengantar makanan, dan penjaga kasir di minimarket, bukankah kamu menetap di Paris? Lalu, bagaimana mungkin ka-kamu di sini?" Anggap saja aku perempuan lancang yang tak tau malu, tapi, maksudku. Bagaimana mungkin aku dapat menahan semua pertanyaan itu hanya di kepala ku. Bukankah aku sudah cukup bersabar untuk tidak menanyakan kenapa dia bisa berada di sekitarku terus menerus? Ketika aku di Paris, it's ok. Mungkin memang sebuah kebetulan yang didukung oleh semesta alam. But, ini di Indonesia, dan aku lagi-lagi bertemu dengannya, dan dia di hadapanku. Sekarang. Sepertinya dia sedang berpikir keras, mencoba mencari beberapa jawaban yang cukup masuk akal, yang mungkin dapat ia lontarkan kepadaku. "A-aku, baru saja menemui dokter Azam untuk berkonsultasi masalah kesehatanku. Ka-kamu di sini sedang apa? Kebetulan sekali kita bertemu lagi. Ah soal aku tinggal di Paris, maaf sebelumnya, ceritanya panjang, dan aku tidak bisa menjelaskannya sekarang." Sejurus kemudian, aku merutukki diriku sendiri. Maksudku, bagaimana mungkin aku begitu lancang dan tak berpikir sejauh itu. Yah, bukankah dia mungkin saja melalui berbagai hal, sehingga mengaruskannya berada di sini sekarang. Bukankah dia bisa saja berada di sekelilingku karena memang kebetulan. Bukankah banyak orang di dunia ini mengalami berbagai kebetulan yang tak terduga, yang tak dapat dijelaskan secara ilmiah. "A-ah tentu saja, hhehe. Ma-maaf sebelumnya, karena saya sudah begitu lancang." Sepertinya hanya kata-kata itu yang mampu lolos dari mulutku. Itupun terbata-bata. Memalukan. "Tidak apa-apa kok. Kalau ada waktu, nanti Insyaa Allah saya akan jelaskan semuanya." Jawabnya kemudian berlalu setelah mengucapkan salam. Tunggu Berdasarkan jawabannya tadi, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa, dia seakan-akan berkata seperti ini "oh soal itu? Nanti juga kamu tau kok kenapa aku bisa di sekeliling kamu. Kita kan bakalan ketemu lagi". Ok baiklah mungkin aku yang ke-geeran. Istighfar Nur, bukankah sebagian prasangka adalah dosa. Maka dari itu, jangan terlalu banyak berprasangka pada orang lain. Aku beristighfar berkali kali. Berharap sebagian prasangkaku tadi, tak dicatat sebagai dosa. ______ Aku memutuskan untuk mengetuk pintu yang ada di hadapanku. Lalu mengucapkan salam, sebelum akhirnya masuk dan menyerbu orang yang ada di dalamnya, dengan beberapa pertanyaan yang harus aku tanyakan. Kak Azam terlihat sedikit terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba. Aku tidak tau kenapa ia bereaksi seperti itu. Mungkin dia pikir aku orang asing yang tiba-tiba mengunjunginya. "Nui udah ketuk pintu kok tadi" seperti dapat membaca pikirannya, aku langsung berkata demikian. Aku mendudukan diriku di salah satu kursi yang tersedia di ruangan ini. "Tadi teman kakak baru saja keluar dari ruangan. Makanya kakak kaget, pas kamu tiba-tiba saja masuk. Kakak kira dia balik lagi. Oh iya, kamu ngapain cari Husna?" Jelas kak Azam sambil menyusun tumpukan kertas yang tergeletak di mejanya. Aku hanya ber-o ria seraya menganggukan kepala. Sebelum menjawab pertanyaannya. Tunggu, kak Azam bilang apa? Teman? "Hah, laki-laki yang tadi keluar dari sini, teman kakak?!" Seperti baru sadar akan apa yang baru saja kak Azam katakan. Aku bertanya dengan nada tak percaya. "Kamu ngapain cari Husna, Nui?!" Ulangnya sambil menghentikkan aktivitas tangannya. Pikiranku seakan bersusah payah mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut kak Azam. "Jawab dulu pertanyaan Nui, kak! Laki-laki tadi, teman kakak itu. Apakah ia pernah bicara kalau ia pernah ketemu sama Nui?" Seakan tau apa yang sedang aku pikirkan, kak Azam menghentikan aktivitasnya dengan kertas-kertas itu, lalu menatapku. "Iya, lelaki itu, teman kakak. Dia baru saja berkonsultasi masalah kesehatannya. Sepertinya, pernah" Entah kenapa, perasaanku mengatakan bahwa kak Azam sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Tidakkah dunia ini terasa begitu sempit. Oh tidak, bukan dunia yang sempit, namun pergaulan manusialah yang sempit hingga ia bertemu dengan orang itu-itu lagi. Dia si lelaki misterius. Zain Abdullah. Si penjaga kasir. Pengantar makanan. Tetangga di gedung apartemen di Paris. Dia-adalah-teman-kak-Azam! Tidakkah kak Azam tau sesuatu mengenainya? Tentu saja. Lelaki itu, kan temannya. "Tunggu, nui ingat kalau pertemuan Nui sama lelaki itu adalah saat di Paris, pas nui liburan waktu itu. Apa jangan-jangan, ada sebuah konspirasi di balik pertemuanku dengannya?" Jelasku menggebu-gebu, namun kak Azam hanya menanggapi dengan santainya, lalu manggut-manggut saja. Apa jangan-jangan. "Gak usah mikir berlebihan deh, Nui! Kenapa memangnya kalau kalian pernah bertemu sebelumnya?" kenapa? Hah? Kak Azam! Asal kakak tau, adikmu ini hampir saja berprasangka yang tidak-tidak pada lelaki tadi. Sebab lelaki itu seperti mengelilingi duniaku. Ok. Bukan hampir. Namun, aku sudah berprasangka yang tidak-tidak padanya. Jawaban santai dari kak Azam tentu saja membuatku jadi tidak santai. Aku yang akhir-akhir ini memikirkan semua hal mengenai lelaki misterius itu, sedangkan kak Azam, dia hanya merespon keluhanku dengan terlalu santai, menurutku. Baru saja aku ingin menguapkan semua rasa penasaranku terhadap lelaki itu, dengan bertanya pada kak Azam segala sesuatu tentangnya. Kak Azam sudah terlanjur mengatakan kalimat yang di dalamnya terdapat tiga kata yang membuatku kaku, tidak percaya, marah, dan kurasa aku tak akan tidur nyenyak untuk malam ini, malam esoknya, esoknya lagi, lagi dan lagi, sampai seseorang menjelaskan semuanya padaku. "Iya. Lelaki yang kamu maksud itu, namanya Zain. Zain Abdulllah. Lelaki yang melamarmu." Lelaki yang melamarmu Lelaki yang melamarmu Lelaki yang melamarmu Lelaki yang melamarmu Lelaki yang melamarmu Layaknya kaset rusak yang terus menerus mengulang suara yang sama. Kepalaku mengulang-ulang perkataan kak Azam. Sampai rasanya aku ingin bangun saja. Tidakkah ini semua adalah mimpi? Katakan padaku kalau ini semua hanya mimpi! Tolong, siapapun, bangunkan aku dari mimpi penuh misteri ini. Apa aku yang terlalu bodoh dalam menyikapi semua kejadian ini? Aku ingat kak Azam mengatakan kalau ia pernah bertemy dengan lelaki yang ingin melamarku. Ta-tapi dari jawabannya itu sama sekali tidak menggambarkan bahwa lelaki itu temannya. Tunggu- Papa dan Mama juga bilang kalau mereka pernah bertemu dengan Zain, kan? Jangan bilang kalau mereka semua tau siapa Zain sebenarnya, lalu- lalu hanya aku yang tak tau apa-apa di sini?! Tidakkah ini menyebalkan? Tidakkah mereka jahat padaku karena beritingkah seolah mereka baru tau akan Zain. Padahal mereka sudah tau betul siapa lelaki itu. Ku ingin marah! Melampiaskan! Tapi ku hanyalah ... sendiri di sini. Ingin ku tunjukkan! Pada siapa saja yang ada. Bahawa hatiku ... ke-ce-wa. Tidak ini tidak lucu. Aku benar-benar kecewa. _____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN