BAB 11 - Over thinking?

1016 Kata
Insomnia adalah kondisi di mana sesorang mengalami kesulitan untuk tertidur. Waktu tidur bagi orang-orang yang normal yaitu tujuh jam sampai delapan jam sehari, sedangkan aku? Untung-untung bisa terlelap dengan nyaman walau cuma tiga sampai empat jam saja. Mengkhawatirkan, memang. Parahnya, malam ini aku bahkan tak dapat memejamkan mataku. Nur! Kamu bahkan tidak tidur seharian ini! Pekik hatiku karena lelah harus memaksakan mata ini untuk terlelap. Ini semua gara-gara Bang Azam. Bagaimana bisa, dia mengatakan fakta yang membuatku benar-benar merasa paling bodoh dalam hal perjodohan ini. Zain. Lelaki yang akan dijodohkan denganku adalah sahabat Kak Azam, anak rekan bisnis Papa dan anak sahabat Mama. Lalu aku? Hanya aku tak tau apa-apa di sini! Menyebalkan rasanya. Aku yang akan dijodohkan, tapi aku yang tak tau apa-apa mengenai lelaki yang akan dijodohkan padaku. Apa itu masuk akal? Terserah! Aku benar-benar ingin marah. Ngambek mode on✔ Tok!tok!tok! "Nur! Kamu udah tidur?!" "Kakak mau cerita," "Kakak tau, kamu pasti kaget dan marah. Tapi Abang gak bermaksud buat bikin kamu nngerasa dibodohi." Bagaimana bisa aku tak marah. Semuanya seperti sudah direncanakan dengan matang. Hanya saja aku adalah pihak yang terlalu naif yang tak menyadari semua kebetulan-kebetulan antara aku dan Zain. Tanpa ku usir, ternyata Kak Azam sudah beranjak pergi dari depan pintu kamarku. Ya Allah? Apakah ini memang takdirku? Apakah aku dengannya memang ditakdirkan bersama? Jika iya? Ku mohon, lapangkanlah d**a ini Ya Rabb. Baiklah, jarum jam yang terletak di atas nakas samping tempat tidurku, sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jika mata ini memang tak ingin terlelap, maka aku akan memanfaatkannya dengan baik selama ia masih ingin terjaga. Setelah selesai berwudhu, tanganku beralih mengambil sajadah yang terlipat lalu membentangkannya. Bukankah selalu ada hikmah di balik sebuah musibah sekalipun? Seperti malam ini. Jika saja mataku tak terjaga, mungkin aku belum tentu bisa sholat malam bahkan di sepertiga malam terakhir sekalipun. Setelah salam kanan dan kiri. Ku angkat kedua telapak tanganku lalu merapatkannya kedua sisinya. Menengadah di atas awang awang, berharap setiap doa yang aku lantunkan malam ini dapat menembus langit lalu mengetuk pintu-pintu di sana. Agar Yang Maha Mengabulkan doa, akan mengabulkan setiap doa yang aku langitkan. Berharap agar hatiku diberi kelapangan untuk menerima setiap ketentuan dan ketetapan yang Allah tetapkan untukku. *** Aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa? Zain, lelaki itu selalu mengelilingiku di setiap kesempatan. Apa dia memang sepossesif itu? Tak ingin aku dekat dengan lelaki manapun selain dia? Memikirkannya membuatku bergidik ngeri. Kenapa ia seperti seorang penguntit menurutku? Apa aku yang terlalu berlebihan menyikapi semua ini? Entahlah! Rumus-rumus yang terpampang di papan tulis whiteboard terasa bergerak-gerak kesana kemari. Bahkan di saat mata kuliah pertamapun, mata dan pikiranku sudah tak fokus. Kepalaku berdenyut-denyut hebat sampai menimbulkan sensasi pusing dan berat bersamaan. Apa ini efek overthinkingku akhir-akhir ini? Ditambah jam tidurku semakin berkurang setelah tau akan semua fakta yang membuatku tak dapat tidur nyenyak. "Nur! Kamu gak pa-pa kan?" Aku menggelang pelan saat Dila--sahabatku di kelas yang duduk di sampingku--menepuk bahuku pelan. "Tapi muka kamu pucet banget! Kelas kedua nanti izin aja, ya?" "Hmm. Nanti tolong izinin aku, ya, Dil?" pintaku dengan suara yang lirih. "Siap." balasnya dengan senyum kecil tercetak di wajah manisnya. Setelah jam pertama berakhir, aku benar-benar memutuskan untuk pulang karena kepalaku makin tak dapat dikondisikan. Berat sekali sampai rasanya aku tak sanggup jika harus menggerakkannya lebih banyak lagi. "Ini benaran gak ngerepotin?" Tanyaku pada Dila. Pasalnya sekarang kami bertiga--aku, Dila dan sepupunya---sedang berdiri di samping mobil berwarna pink polos yang ku tebak adalah mobil Dila. "Enggak sama sekali Nur! Udah kamu masuk!" tukasnya gemas karena aku merasa tak enak hati karena merepotkannya kali ini. "Maaf ya gak bisa nganterin kamu sampai rumah. Aku percayaain kamu sama Reno," Aku tersenyum kecil dan menggeleng pelan sebagai balasan bahwa aku tidak keberatan. Kemudian Dila menatap sepupunya yang baru ku tahu namanya Reno itu, "Ren, tolong anterin Nur, ya? Gue percaya sama Lo. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut!" "Iya!iya! Bawel banget yaelah! Gue berangkat nih! Assalamu'alaikum." pamit Reno pada sahabtku. Aku pun mengucapkan salam dan berterima kasih sekali lagi, atas kebaikkan yang Dila berikan. Aku memilih duduk di kursi penumpang. Sebab berada di mobil ini hanya berdua, saja sudah salah apalagi jika aku harus duduk berdampingan dengannya. Mungkin ini agak tidak sopan, tapi syukurlah Reno tak mempermasalahkannya. Aku tak punya pilihan lain, selain menerima kebaikan Dila dan Reno yang bersedia mengantarku pulang. Sebab, ponselku dalam keadaan baterai lemah, membuatku tak dapat menghubungi sahabatku, Fatimah. Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menemani kami. Baik aku maupun Reno tak ada yang berani memulai pembicaraan. Aku terlalu sibuk memijat kepalaku yang semakin lama semakin berat. Rasanya seolah - olah ada beban berat yang bergelatutan di sana. "Rumah kamu di jalan Merdeka kan?" Tanya Reno memastikan alamat rumahku benar. Ia menoleh sebentar, lalu kembali pada fokusnya pada jalanan di depan. "Iya." Jawabku sekenanya. Ponselku benar-benar mati ternyata. Membuatku menghela nafas berat. "Kamu masih kuat? Gak bakalan pingsan, kan?" Tanyanya lagi, memastikan aku masih mampu mempertahankan kesadaranku. "Insyaa Allah, kuat kok." Syukurlah aku masih mampu mempertahankan kesadaranku sampai mobil pink yang dikendarai Reno berhenti di depan rumahku. Aku tak menyangka kalau Reno akan turun dari kursinya, lalu membukakan pintu untukku. Sebab awaknya kupikir dia tipe lelaki yang tak begitu peduli akan hal kecil seperti ini. "Kamu beneran kuat buat jalan?" Lagi-lagi dia bertanya saat aku sudah berdiri di depan pagar. Jujur, aku tak merasa cukup kuat, namun aku terlalu sungkan untuk mengataknnya. Aku benar - benar mereka tak enak hati dan takut kalau - kalau aku akan lebih merepotkannya. "Iya! Kuat kok. Makasih banyak ya, Ren? Maaf merepotkan jadinya." cicitku pelan seraya menahan nyeri yang menyerang kepalaku saat ini. "Santai aja kali! Gue gak ngerasa direpotin kok. Malah seneng hehe." tukasnya ramah dan terdengar tulus. Aku hanya tersenyum tipis melihat tanggapannya yang seperti ini. Namun malang, denyutan di kepalaku semakin tak dapat aku tahan dan detik itu juga, yang ku ingat hanya suara Reno yang memanggil namaku. Setelahnya, hanya ada kegelapan dan keheningan. Ternyata aku tak mampu mempertahankan kesadaranku lebih lama lagi. Aku pingsan! ______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN