Saat kesadaranku kembali, hal pertama yang tertangkap oleh mataku ialah ekspresi cemas dan khawatir dari seorang lelaki, yaitu kakakku, Kak Azam.
Aku menoleh menatap jam dinding-- bulat berwarna biru dengan latar karakter kartun Doraemon yang terpatri di sana--ternyata ini sudah malam, entah berapa lama aku pingsan aku tak tau. Tubuhku terasa begitu lemas dan tak bertenaga, kepalaku masih berdenyut namun tak senyeri sebelum kesadaranku hilang tadi.
Uhuk!
Aku terbantuk. Rasanya ternggorokkanku begitu kering dan gatal. Aku ingin minum, namun jangankan bergerak mengambil minum, menggeser kepalaku sedikit saja rasanya kepalaku akan terlepas.
"Dek! Kamu haus?!" Kak Azam begitu cemas dan buru-buru mengambil secangkir air yang langsung ku minum ketika ia memnyodorkannya padaku.
"Bantalnya kakak tinggiin dulu, ya. Biar kamu bisa duduk, terus makan." Seraya memposisikan bantal di belakangku kak Azam bercerita bahwa aku pingsan cukup lama.
"Kamu kok gak hubungin kakak sih? Kenapa tadi malah diantar cowok. Kamu bisa bayangin gak, gimana perasaannya kalau tadi Zain liat?"
"Makasih ya Kak."
Aku terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan kak Azam yang lagi-lagi membicarakan lelaki itu, Zain.
Aku menghabiskan bubur hangat yang entah siapa yang memasaknya. Aku cukup yakin bahwa bubur ini baru pertama kali hadir di sini dan rasanya tak asing di lidahku. Rasanya enak, tak begitu asin versiku--sebab aku tak begitu suka masakan yang asin--rasanya mirip dengan bubur yang sering ku beli di kantin kampus. Sangat tidak mungkin bahkan mustahil jika bubur ini berasal dari sana. Sebab ini sudah malam dan kantin kampus bahkan ditutup sebelum pukul enam, terlebih lagi bubur ini masih hangat. Bukan karena dihangatkan tetapi memang seperti baru dimasak.
***
Aku telah menghabiskan sepiring bubur hangat dan nikmat tadi. Kak Azam sangat senang karena aku begitu lahap menyantap bubur tadi, tanpa banyak bertanya dan protes.
Aku masih dalam posisi duduk bersandar dengan bantal empuk yang menyanggah punggungku. Kak Azam mulai bercerita,
"Tadi Zain ke sini. Ingin membahas soal pernikahan kalian. Tepat saat kamu pingsan di pelukan lelaki lain!" Aku tau kak Azam dan bahkan mungkin lelaki itu-- Zain marah dan kesal padaku. Karena mendapatiku bersama lelaki lain.
Bukankah aku tak kuasa menolak takdirku? Aku pusing, lalau Dila membantuku, handphoneku dalam keadaan baterai lemah--tak bisa menghubungi siapapun-- aku tak cukup kuat untuk meminjam handphone Dila karena aku juga tak hafal nomor siapapun. Kemudian, Dila meminta bantuan sepupunya untuk mengantarku. Lalu apakah aku harus menolak, saat menjaga kesadaranku saja aku sudah tak kuat. Reno berbaik hati ingin mengantarku. Bukankah semua itu takdir? Aku bahkan lebih memilih tak merepotkan siapapun jika aku bisa. Namun, aku tak kuasa menolak semuanya. Sebab aku hanya makhluk.
"Kak? Bisa gak jangan nekan aku saat ini? Aku akan jelasin semuanya. Kenapa aku pulang sama Reno, kenapa aku pingsan dipangkuannya atau apalah. Aku akan jelaskan. Tapi bisakah tidak berpikir buruk lebih dulu?"--aku berkali-kali mempertahankan suaraku agar tak bergetar, ku hela dan embuskan nafas lelah berkali-kali. Entah kenapa rasanya begitu sakit seakan hatiku dihantam sesuatu yang keras dengan kuat, saat orang-orang yang aku cintai tak mempercayaiku.
"Akhir-akhir ini aku gak bisa tidur nyenyak--enggak, bahkan aku gak bisa tidur sama sekali. Alasannya? Karena memikirkan perjodohan, lamaran atau apalah yang berhubungan dengan Zain. Lelaki itu begitu abstrak, aku tak tau ia seperti apa. Kenapa ia melamarku? Kenapa kalian semua tahu akan dia, sedangkan aku tidak? Kenapa dia terus-menerus mengelilingi kehidupanku?"--aku mengembuskan nafas lelah lagindan lagi, sebelum melanjutkan kalimat panjangku.
"Maafin kakak. Maafin kami semua yang gak jelasin apa-apa ke kamu." Sela kak Azam dengan wajah melunak. Tak seperti saat dia menyindir dan menyalahkanku tadi. Namun hatiku sudah terlanjut terluka.
"Aku terlalu sibuk memikirkan semuanya yang terasa begitu acak dan membingungkan. Dari semua hal yang kupikirkan, aku paling tak mengerti kenapa aku menerimanya? Aku sudah meminta petunjuk dan berusaha yang terbaik sebelum menjawab khitbahannya. Aku tak ingin salah karena terlalu cepat memutuskan dan aku juga takut jika membuatnya menunggu jawabanku terlalu lama. Namun lambat laun aku mulai yakin. Tepatanya Allah membuatku yakin untuk menerimanya, ta-tapi--" aku tak kuasa menahan cairan bening yang sejak tadi sudah terkumpul memenuhi mataku, membuat apa yang kulihat mengabur karena terjalangi cairan itu, cairan yang kini sudah tumpah ruah membasahi kulit wajahku.
"Aku merasa ragu saat kalian semua menutupi fakta mengenai Zain. Aku kecewa saat tau bahwa hanya aku yang tak tau apa-apa mengenai lelaki itu."
"Kakak, Mama maupun Papa sama sekali gak bermaksud buat menyembunyikan fakta yang menurut kakak tak begitu penting untuk kamu tau, Nui. Bukannya kamu harusnya senang? Keluarga Zain sudah mengenal baik keluarga kita. Lalu Zain melamarmu. Tak ada yang salah dengan itu bukan? Kakak mohon kamu jangan sakit seperti ini hanya karena memikirkan hal yang gak seharusnya kamu pikirkan."
Aku tau, kak Zain begitu mengkhawatirkanku. Sangat terlihat dari tatapan menyesalnya padaku.
"Bukankah semuanya malah bagus? Tak ada yang salah dengan ini semua."
Aku bergumam di dalam hati. Hah? Tak ada yang salah. Iya! Tak ada yang salah! Sepertinya hanya aku yang berpikir berlebihan.
***
Sepekan sudah waktu berlalu semenjak aku pingsan karena semua masalah yang akhir-akhir ini kuhadapi.
Hari ini juga keluarga Zain akan datang ke rumah untuk membicarakan mengenai masalah pernikahan kami.
Apakah aku baik-baik saja? Tentu! Aku harus baik-baik saja. Seperti yang kak Azam katakan, bukankah aku harusnya senang?
"Dek?" lelaki dengan cengiran khasnya itu menyembulkan kepalanya di balik daun pintu. Menatapku, "kakak boleh masuk?" Tanyanya lagi seraya berjalan masuk dan duduk di pinggiran tempat tidurku. Sebelum aku mengizinkannya.
"Kan belum diizinin masuk, Kak?" sindirku menatap tajam ke arahnya yang hanya ia balas dengan dengusan kecil. "Masih marah ni?" Goda seraya menaikturunkan alis hitam tebalnya itu. "Udah tau! Gak usah nanya deh." Namun bukan kak Azam namaya jika tak membuatku luluh dan memaafkannya dengan cepat.
"Kakak traktir cokelat kesukaanmu sebanyak yang kamu mau. Tapi jangan cuekkin kakak lagi, ya?" Wajah cemberut dan kesal yang susah payah ku pasang jadi rusak seketika saat mendengat penuturan kak Azam.
"Hahah ... Mmphuahaha," kak Azam berdecak sebal lalu melempariku dengan bantal doraemon yang ada di dekatnya. "Dibaikin malah ngelunjak, awas aja gak bakalan kakak kasih cokelat satu gigitpun!"
"Anak laki gak boleh gak nepatin janji! Awas aja gak jadi beliin Nui cokelat. Ku kasih tau Kak Husna biar
kakak di blacklist dari daftar calon imamnya!" Ancamku balik seraya memeletkan lidah mengejeknya. Sebelum kak Azam menyiksaku-- dengan memusak rambutku hingga terlihat seperti sarang burung di pohon yang gak terawat--aku terlebih dulu bangkit dan berlari keluar kamar. Fyi, Kak Husna adalah perempuan cantik dan seorang Coas di rumah sakit tempat kak Azam bekerja. Beberapa kali aku tak sengaja melihat kak Azam memarahi kak Husna karena sesuatu yang tak aku mengerti. Iya, kak Azam itu Aneh. Saat ia menyukai seorang perempuan sebisa mungkin ia akan menutupinya dengan sikap sok ketus dan dinginnya itu.
"NUI! AWAS AJA KALAU HUSNA MIKIR MACAM-MACAM? GAK KAKAK AKUIN KAMU SEBAGAI ADIK!"
"Ketauhan kan kalau naksir kak Husna?! Sok sok-an jutek tiap ketemu, cihh! Awas aja ntar ditinggal nikah!" Aku sudah menyarankan kak Azam untuk segera mengambil langkah konkrit. Melamar kak Husna misalnya. Katanya lebih baik aku yang menikah duluan agar ada yang menjagaku. Jika kak Azam menikah duluan maka ia akan kerepotan karena menjaga dua perempuan cantik sekaligus. Alasan saja.
"Adek durhaka! Sini kamu!" Aku tertawa seraya menuruni anak tangga menuju ruang tamu.
Kak Azam benar. Aku tak boleh bersedih dan overthinking seperti sebelumnya. Begitu banyak hal yang seharusnya aku syukuri tanpa tapi, begitu banyak hal yang harus aku terima tanpa syarat.
________