BAB 13 - Sadness and Happiness

1775 Kata
Bagiku, kak Azam itu tak hanya berperan sebagai kakak, lebih dari itu kak Azam juga bisa menjadi seorang sahabat yang dengan senang hati mendengar segala curhatanku meski kadang isinya itu-itu saja. Mungkin karena itulah aku terlihat begitu manja saat bersamanya. Dia akan dengan senang hati menuruti permintaanku yang kadang membuatnya harus memarahiku lebih dulu, sebelum mengabulkannya. "Kamu itu baru aja sakit Nui! Sa-kit, demam! Lalu sekarang kamu minta dibelikan es krim? Yang benar saja. Pokoknya kamu gak boleh makan es krim sebelum benar-benar membaik." Coba saja saat dia bicara dengan pasiennya, dia akan bicara dengan lemah lembut dan kalem. Bukan seperti saat ini, dia mengomeliku dengan nada ngengasnya. Membuatku tanpa sadar mendengus pelan. "Gak usah sok pasang muka sedih! Gak mempan!" Saat ini kami masih setia duduk di sofa ruang tengah. Menikmati tontonan favorite kak Azam, film berlatar dunia kedokteran. Iya! Dia menikmatinya sedangkan aku pusing dan sibuk searching istilah-istilah yang asing bagiku yang muncul dalam dialog tokohnya. Aku bisa saja bertanya padanya. Namun, sebelum itu aku lebih suka mencari tau sendiri. Pertemuan dua keluarga besar kami--aku dan Zain--telah selesai setengah jam yang lalu. Pernikahan kami sepakat dilaksanakan bulan depan, bulan April. Selama menunggu, kami akan menyiapkan segala keperluan dan segala macam yang berhubungan dengan itu. "Kak? Ya! ya? Kali ini aja. Nanti kalau aku nikah kakak susah loh ngabulin permintaan aku. Jangankan itu, buat ketemu aja aku harus selalu izin Zain dulu loh." Kak Azam hanya memutar bola matanya bosan melirikku sekilas lalu kembali menatap layar televisi. "Fyi nih ya, Zain itu sahabat kakak sejak SMA. Lagian dia juga harus lewatin tantangan buat bisa dapat restu kakak buat khitbah kamu! Jadi mana berani dia gak izinin." Tuturnya dengan begitu pede dan berhasil membuatku bertanya-tanya. Tantangan apa yang harus lelaki itu lalui sebelum bisa mengkhitbahku. Awas saja jika tantangan dari kak Azam aneh-aneh apalagi menyulitkan Zain. Memangnya kenapa Nur? Apa jangan-jangan kau sudah menyukainya tanpa sadar? Tentu saja aku menyukainya. Iya kan? Kami akan menikah dan wajar saja jika rasa suka itu sudah ada. Sebab dari informasi yang aku dapat dari Mama, Papa maupun kak Azam sama-sama menyatakan bahwa Zain lelaki yang baik dan sholeh. Pokoknya Husband Material banget lah. "Kak?" Tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi kak Azam hanya berdehem ria. "Hmm?" "Menurut kakak, Zain melamarku itu, karena apa? Ok aku tau kalau kami sudah bertemu tanpa aku sadari. Tapi, maksudku apa yang membuatnya begitu yakin kalau aku pantas untuk mendampinginya?" Ayolah, Zain itu lelaki tampan, berkarisma, dan juga mapan. Bagaimana bisa ia dengan semua kelebihannya itu berakhir memilihku yang bahkan belum menyelesaikan S2 ku ini. Apakah aku sedang merasa insecure? Jawabannya tidak juga. Aku cukup bangga dan mensyukuri semua yang ada pada diriku. Aku hanya penasaran ok! "Sebab ia sudah jatuh cinta sejak lama dengan kepribadianmu. Baginya kamu adalah perempuan yang satu-satunya yang dapat mengalihkan dia dari rasa sakitnya waktu itu dan selamanya hanya kamu orangnya." Aku tak mengerti apa yang kak Azam bicarakan. Ia bicara seolah-olah aku dan Zain sudah lama saling mengenal. Padahal aku tau beberapa hal mengenai lelaki itu baru-baru ini kan? "Maksud kakak? Jatuh cinta sejak lama maksudnya Zain dan Nui sudah pernah bertemu jauh sebelum ia melamar Nui?" "Sudah lupakan. Biar Zain saja yang menjelaskan semuanya sama kamu. Toh kalian akan menikah dan berbicara lebih banyak hal dan mengenal satu sama lain lebih dalam." "Kak? Jangan menghindar! Nui jadi penasaran maksud kakak bicara kayak tadi itu apa?" "Kalau kamu mau jawabannya sekarang, kakak bisa telepon Zain untuk menjelaskannya. Gimana?" Tawarnya yang membuatku mendengus sebal. "Gak usah!" Tentu saja akan aneh jika aku menanyakan hal itu langsung pada Zain sekarang. Aku bahkan terlalu gugup jika harus berhadapan langsung dengan lelaki itu. Kak Azam menghindari pertanyaanku karena tau bahwa aku tak berani meminta Zain untuk menjelaskan langsung sekarang. Apa yang akan laki-laki itu pikirkan jika aku tiba-tiba meminta penjelasan mengenai perasaanya? Tidakkah dia berpikir bahwa aku perempuan narsis yang seolah dia telah mengejarku sejak lama. Heh? Sadar Nur! Kau tidak seistimewa itu sampai-sampai membuat lelaki sekelas Zain mengejarmu sejak dulu hingga sekarang. Seolah kau itu tokoh utama perempuan yang sudah diincar oleh seorang lelaki possesif sejak belia. Khas novel-novel kesukaan remaja. Lupakan! ______ Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika tak ada semacam WO (Weding Organizer) di era modern ini, kurasa akan sangat melelahkan karena harus menyiapkan segala keperluan pernikahan yang tak hanya menguras dompet tetapi juga tenaga dan pikiran ini seorang diri. Hari ini aku akan fiiting baju pengantin yang nantinya akan ku gunakan di hari saat akad dilangsungkan. Mama, aku dan Bunda sudah memasuki ruangan di mana baju pengantin dengan berbagai motif dan mode di pajang di sini. Ada yang lengan pendek, ada lengan panjang ada juga yang hanya sebatas d**a. Warnanya juga sangat beragam, ada warna putih, pink pastel, biru muda, bahkan peach dan hijau toscapun ada. Masih begitu banyak macam warna yang tak begitu aku pahami sebutannya. "Nui, nanti kalau udah nemu baju yang cocok jangan lupa difoto ya, nak. Zain pingin liat katanya." Pinta Bunda saat aku sedang mengedarkan pandangan seraya menelisik beberapa baju yang cukup menarik atensiku saat itu. Bunda tersenyum penuh arti saat menatap layar handphonenya. Entah apa yang sedang Bunda lihat di sana. "Bunda dulu penasaran banget loh Nui. Seberapa cantik sih, gadis yang mampu membuat anak bunda begitu menyukainya sampai-sampai dia tak mampu menggantikannya dengan wanita manapun? Namun setelah Bunda tau, kalau perempuan yang berhasil mencuri separuh hati Zain dan membuatnya tak dapat menatap wanita lain, itu kamu ... Bunda langsung mengerti. Kamu perempuan yang luar biasa Nui. Mandiri dan tidak manja apalagi hanya mengandalkan kedudukan Papamu, kamu bahkan tak banyak menutut saat anak seusiamu menuntut orang tuanya ini dan itu. Bunda bangga dan bersyukur karena kamu mau menerima Zain sebagai teman hidupmu nantinya." Aku tercengang, takjub, bingung dan bahagia sekaligus. Bagaimana tidak, banyak hal yang Bunda katakan mengenai Zain dan diriku yang bahkan aku sendiri tak tau. Dulu? Kata dulu bukannya mewakilkan kejadian di masa lalu? Lalu apa yang terjadi di masa lalu yang tidak aku ketahui? Aku hanya tersenyum kikuk saat Bunda menyelesaikan kalimat panjangnya. Apakah aku mengidap amnesia sesaat atau apa? "Bunda gak akan anggap kamu sebagai menantu loh Nui. Sebab, bagi Bunda kamu itu sudah seperti putri bunda sendiri. Bunda udah lama pengen punya anak perempuan. Tapi Qadarullah, sampai di usia setua ini Bunda hanya memiliki Zain seorang." "Malah harusnya Nui yang sangat sangat bersyukur dan bahagia karena Ibu Zain, itu, Bunda, bukan wanita lain. Bunda yang begitu baik dan tulus." Bunda memelukku dengan erat seraya mengusap pucuk kepalaku yang dibalut khimar. Pelukan yang tak kalah hangat saat Mama memelukku. "Wah Mama juga mau dong dipeluk!" Entah sejak kapan Mama berada di sini dan menyaksikan aku dengan Bunda yang sedang berpelukan, yang pasti aku benar-benar ingin memeluk Mama saat ini. Aku berhambur ke pelukan Mama tanpa aba-aba. Mama bahkan kaget karena pelukan erat yang ku lakukan saat ini. "Maa ... Nui boleh kan? nginep di rumah dulu sebelum nantinya ke rumah Bunda?" Aku mendongak menatap wajah mama yang sudah bekaca-kaca entah kenapa. Mama hanya menganggukkan kepala seraya memejamkan mata indahnya. Apa saat ini mama sedang menahan tangisnya? “Sekali lagi maafin Nui, ya, Ma? Nui banyak salah sama Mama. Nui sering bikin Mama kecewa dan sedih bahkan khawatir. Mama hanya menggeleng dan terus mengusap pucak kepalaku dengan lembut. Selanjutnya tak ada balasan apaun atas kalimat yang ku layangkan tadi. Aku hanya merasakan getaran yang berasal dai tubuh mama. Apa mama menangis? "Maafin mama, ya, nak?" kalimat itulah yang selanjutnya ku dengar sebelum akhirnya mama semakin terisak dalam tangisnya, "Mama belum bisa jadi ibu yang baik buat kamu. Banyak hal yang harus kamu lakukan dan lalui sendirian selama ini. Mama terlalu sibuk dengan urusan mama tanpa mengerti kalau kamu sangat membutuhkan mama. Bahkan, di saat anak seusiamu belum bisa makan sendiri, mengganti baju sendiri dan bahkan tidur sendiri, kamu sudah bisa melakukannya sebab kamu sudah terbiasa tanpa pehatian mama. Ma-Mama benar-benar ibu yang buruk. Wajar saja jika memilih kamu ingin menikah." Mama melepaskan pelukan kami dan mulai duduk bersisian dengan Bunda yang sedari tadi hanya tersenyum menyaksikan. Penjelasan mama tak sepenuhnya benar. Pada kenyataannya mama pernah menemaniku tidur saat kecil, meski kadang tiba-tiba harus meninggalkanku lagi karena kesibukannya. Toh, sekarang aku tumbuh menjadi gadis yang cukup mandiri dan tidak begitu bergantung pada mama ataupun papa. Sebab ada kak Zain yang menemaniku entah waktu kecil atau bahkan sampai sekarang. "Ma? ... Mama udah ya, nangisnya. Nui nikah bukan mau ninggalin mama papa dan kak Zain kok. Lagian kan, mama juga yang pertama kali nawarin ke Nui, kan. Mama adalah mama terbaik bagi Nui. Setiap manusia kan punya kurang dan lebihnya masing-masing, bahkan saat sudah menjadi seorang ibu sekalipun. Mama juga sibuk karena hal penting, kan. Udah ah, Ma, jangan nangis lagi ya. Nui akan sering-sering berkunjung kok. Bunda bakalan izinin, kan, Bun?" Tanyaku pada bunda lalu bunda mengangguk sambil tersenyum dengan tulus. _____ Setelah selesai dengan kesibukkan fitting baju dan semacamnya. Kami bertiga memutuskan untuk makan bersama di rumah Bunda. Fyi, bunda pinter masak. Baik masak kue bahkan masakan lauk pauk. Aku jadi takut kalau-kalau bunda akan kecewa saat tau menantunya ini gak jago masak. Kak Zain pernah bilang kalau dulu saat dia dan Zain masih sering main bareng kadang suka main ke rumah Zain dan ditawarin makan bareng gitu. Kak Azam bilang, masakan bunda itu enak banget gak kalah dengan masakan koki hotel bintang lima. Selagi bunda dan mama bebincang sambil masak aku lagi-lagi teringat perkataan kak Zain dan bunda. Baik kak Azam maupun bunda sama-sama membicarakan masa lalu yang menyatakan bahwa Zain sudah menyulaiku sejak lama. Apa benar-benar tak ingat kapan aku bertemu dengan Zain di masa lalu. Apa pernah? Atau ... Zain adalah lelaki yang pernah kak Azam bawa ke rumah waktu mereka masih sekolah menengah atas? Aku ingat waktu itu kak Azam punya sahabat yang cukup dekat dengannya. Akan tetapi wajahnya tak mirip dengan Zain. Mungkin mirip, namun aku tak cukup yakin bahwa lelaki itu Zain. "Nui?" Suara bunda berhasil membuyarkan lamunanku. Aku bahkan tak sadar kalau sejak tadi telur yang ku kocok sudah bebusa dan saat itu juga aku merasa sangat malu pada bunda karena ketauan melamun sejak tadi. "B-Bun, maafin Nui, ya. Nui tadi gak sengaja keinget kata-kata bunda dan kak Azam yang bilang, kalau Nui dan Zain itu udah kenal lama. Tapi sampai sekarang Nui gak ingat. Apa Nui amnesia, ya, Bun? Ma?" entah apa yang salah dari ucapanku barusan. Tapi sekarang, baik mama maupun bunda hanya tersenyum penuh arti. Membuatku lagi-lagi berpikir, kalau mereka sudah berkonsipirasi sebelumnya. Atau bahkan sudah sejak lama? _____
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN