Aku baru saja keluar dari cafe setelah selesai meeting soal proyek pembangunan bersama Arga. Beberapa menit yang lalu, aku meminta Bunda untuk merayu calon istriku agar ia bersedia mengirimkan fotonya saat mengenakan gaun pengantin yang ia pilih. Sebenarnya, aku tak cukup yakin, jika Nur mau mengirimkannya. Maksudku dia bisa saja sungkan untuk mengirimkan foto dirinya padaku.
"Zain? Langsung ke kantor atau mau menyusul untuk fitting baju juga?" Tanya Arga dengan fokus yang masih tertuju ke depan. Pasalnya sahabatku ini sedang menyetir. Bagiku Arga itu bisa jadi apapun untukku, ia bisa jadi sahabat yang baik, rekan kerja yang baik, bahkan sopir yang dengan senang hati mengantarku tanpa aku minta.
"Ke kantor saja, Ga. Aku fittingnya besok, sama Kak Azam." Arga hanya mengangguk tanpa protes apapun. Sebelum aku berhasil membuka pesan di ponselku, Arga kembali bersuara, "sejak kapan kau menggunakan panggilan itu pada Azam?" Tukasnya seraya menoleh sebentar ke arahku lalu kembali fokus memandang jalanan. Aku tersenyum pelan, "sejak kemarin lusa? Entahlah, aku hanya mencoba menjadi adik ipar yang layak."
"Memangnya Azam berpikir kau belum layak?"
"Sepertinya?" Jawabku asal.
"yang benar saja. Apa yang tak ia sukai dari dirimu? Kau CEO perusahaan yang eksistensinya tak perlu diragukan. Kau tampan dan baik hati. Lalu, kau juga cukup religius untuk seorang lelaki yang sibuk bekerja, namun kau tak pernah lupa ibadah. Jangankan lupa, telat saja kau bisa murung dan merasa bersalah. Aku tak habis pikir jika ada saja orang yang tak suka padamu."
"Hahaha ... ayolah Ga, pujianmu itu membuatku bergidik ngeri."
"Kalau kau lupa, aku ini masih straight, ok?!"
"Yaya, untungnya sih begitu. Eh asal kau tau, Ga, di dunia ini akan ada saja orang yang tak menyukaimu, meski kau sudah berbuat dan bersikap sebaik apapun itu. Kau tau kenapa? ... Sebab Allah ingin, agar kita selalu ingat, bahwa tujuan kita hidup itu, untuk beribadah dan mengharapkan RidhoNya saja. Kita hidup, bukan untuk menyenangkan dan disukai oleh semua orang."
"Entah harus bagaimana aku bersyukur pada Allah, karena ia telah mengirimkan seseorang sepertimu di dalam hidupku, Zain." Lagi-lagi Arga mengeluarkan pujian mautnya. Sungguh aku tidak suka dipuji. Pujian itu melemahkan. Setidaknya itulah yang pernah ku rasakan.
"Kita sama-sama beruntung, Ga. Aku beruntung karena mempunyai sahabat sekaligus sekretaris sepertimu, dan kau pun beruntung karena memiliki atasan sekaligus sahabat sepertiku."
Selama perjalanan kami berdua saling berbicara dan tam jarang membahas masa lalu di mana persahabatan kami di uji lewat kehadiran seorang wanita. Wanita yang dulu pernah membuatku jatuh hati dan hancur sekaligus dan wanita itu adalah orang yang juga dicintai oleh Arga, tapi itu dulu.
Ku harap Arga sudah sepertiku, melanjutkan hidup dengan ataupun tanpa rasa sakit di masa lalu, kemudian menemukan sesorang yang memang layak dan pantas untuk dicintai dan diperjuangkan.
______
Ting!
Sebuah pesan masuk dari Bunda, tertera di pop up ponselku. Mungkin dugaanku benar, bahwa gadis itu belum bersedia mengirimkan foto dirinya padaku. Aku paham dan memang seharusnya begitu bukan? Kami berdua belum 'Sah'. Tak seharusnya aku mencoba untuk lebih dekat dengannya seperti ini. Aku mengembuskan nafas pelan sesaat, setelah menyelesaikan revisi kontrak yang baru saja ku terima.
Aku belum berniat untuk membuka pesan dari Bunda. Aku tau sikapku sekarang ini tak ubahnya seperti remaja labil. Tak bisa ku pungkiri, bahwa ada hasrat di mana aku begitu ingin menatap wajah gadis itu lebih dekat. Melihat senyum manisnya yang dihiasi oleh lesung pipinya yang tak banyak orang menyadari itu. Terlebih lagi ketika dia salah tingkah dan gugup seperti saat itu dia bertingkah gugup di hadapanku. Dulu, dia hanya gadis kecil yang polos dan manja sekali pada kakaknya. Tapi ternyata sekarang, gadis kecil itu sudah bermetamorfosa layaknya kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu cantik. Bagiku ia tak hanya cantik, tapi ia juga mandiri, cerdas dan masih polos. Iya! Entah kenapa ia masih saja terlihat polos. Bahkan saat bertemu denganu beberapa kali di Paris, dia sama sekali tak bertanya atau curiga. Seolah ia menganggap semua yang terjadi itu hanya karena kebetulan. Atau? Aku yang tak menyadari kecurigaannya padaku? Ah ku rasa ia tak begitu mengingat pertemuan-pertemuan singkat kami di sana waktu itu.
Hampir saja aku lupa membaca pesan dari bunda. Meski tak ada foto gadis itu, tentu saja aku harus membaca dan membalas pesan bunda secepatnya. Ku raih benda persegi panjang yang tergeletak di meja, lalu membuka salah satu pesan masuk, yaitu pesan dari bunda.
Saat layar ponsel menampakkan pesan dari Bunda, mataku serasa ingin keluar. Bagaimana tidak, bunda benar-benar mengirimkan foto calon menantunya. Hanya saja aku tak dapat melihat wajah gadis itu di foto ini. Bunda mengambil foto bagian belakang tubuhnya. Gaun pengantin yang cantik. Terlihat elegan dan mewah sekaligus. Namun tak terkesan terlalu wah, sebab modenya simple namun itulah yang menjadi terlihat semakin menarik. Lalu yang tak kalah cantik ialah si gadis yang menggunakannya. Meski aku tak dapat melihat wajahnya. Tetap saja aku merasa bahwa dia akan terlihat sangat cantik dengan gauin yang ia kenakan.
"Setahuku, pekerjaan seorang CEO itu sangat melelahkan, lalu bagaimana bisa seorang CEO Abdullah's Group sekarang sedang senyam senyum sambil menatap ponselnya. Ckckck," jangan tanya siapa yang mengomeliku sekarang. Siapa lagi kalau bukan si skretaris andalan.
"Ga? Kamu tau kan rasanya saat jatuh cinta bagaimana?" Tanyaku amsih dengan senyum yang mengembang. Murah senyum itu, kan bikin awet muda. Bonusnya lagi, kita dapat pahala.
"Oh ... jadi sang CEO sedang jatuh cinta, nih?" Arga ber-o ria seranya meledekku. Aku hanya mengedikkan bahu seraya menyusun tumpukan map yang mulai menggunung dan berjatuhan.
"Oh ya, Ga? Jangan lupa gunakan pakaian terbaikmu di hari pernikahanku nanti."
"Kayak mau sholat Jumat aja kamu, Zain. Ah iya, saat lebaran juga kita harus menggunakan baju terbaik ya," aku hanya geleng-geleng melihat respon random dari Arga.
"Lalu, menggunakan baju terbaikku di hari pernikahanmu, menurutku itu tak begitu dianjurkan?"
"Ya-ya-ya. Terserah kau saja. Asal kau datang aku pasti sudah sanngat senang."
"Jangan bilang kau masih membutuhkan sekretarismu ini bahkan di hari pernikahanmu?"
"Tentu saja tidak, Ga," dia masih menatapku penuh selidik, "di hari pernikahanku, kau adalah sahabat sekaligus saudaraku."
"Iya-iya. Aku akan jadi sehabat sekaligus saudaramu bahkan untuk puluhan tahun kedepan." Balasnya seraya terkekeh pelan.
"Kenapa tidak ratusan tahun?"
"Kau yakin masih sampai ratusan tahun?"
Kami berdua tertawa bersama saat memikirkannya. Memikirkan bahwa akankah kami masih tetap bersama bahkan untuk satu tahun kedepannya. Entahalah, hanya Sang Penggores pena kehidupan lah yang tau.
______
Ayah terlihat sedang sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya. Entah apa yang ia kerjakan dengan tatapan begitu seriusnya itu. Jika kalian pikir aku yang memegang kendali perusahaan Abdullah's Group, maka kalian salah. Sebab, aku hanya tangan kanan ayah yang menggantikan jabatannya di kantor tadi tidak dengan perannya di perusahaan. Ayah tetap memegang kendali penuh. Ayah selalu memantau segala tindak tandukku selama ini. Yaa ibarat aku ini kerja di bawah kendali sang CEO yang sebenarnya. Aku berdehem singkat saat duduk di sofa dekat meja kerjanya.
"Bicara saja," sergah ayah tanpa mengalihkan fokus matanya dari benda persegi empat itu.
"Zain besok akan menikah, Yah?" Ya, besok adalah hari pernikahanku, sedangkan Ayah masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Ayah seorang workholic parah, kronis.
"Hahahah, kau pikir Ayahmu ini sudah pikun, hah? Ayah tentu saja ingat akan hal itu,"
"Abraham dan Ayah sudah menantikan hari esok selama bertahun-tahun. Jadi, mana mungkin Ayah lupa." Kali ini sepertinya Ayah akan berbicara serius, sebab ia mengalihkan fokusnya dari benda di hadapannya itu padaku. Aku tersenyum melihat sikap Ayah yang seperti ini. Meski Ayah lebih dikenal sebagai seorang yang sedikit bicara dan kaku, namun tak jarang Ayah akan bersikap di luar kebiasaannya.
"Kamu benar-benar sudah siap, kan, nak? Ayah hanya ingin memastikan bahwa anak ayah benar-benar siap dan layak memimpin sebuah keluarga."
"Insyaa Allah, Zain siap, Yah." Jawabku mantap.
"Ayah tau, kamu lebih dari mampu untuk memimpin sebuah perusahaan, namun memimpin sebuah keluarga bahkan jauh lebih rumit dibandingkan sebuah perusahaan." Ayah mulai bercerita mengutarakan apa yang ia rasakan selama menjadi seorang pemimpin baik perusahaan maupun keluarga kecilnya ini.
"Zain? Kamu tau, Ayah tak seperfect seperti kelihatannya. Baik ketika memimpin perusahaan maupun keluarga. Banyak hal yang harus Ayah pelajari lagi dan lagi, banyak hal yang harus Ayah perbaiki selama memimpin keduanya."
"Zain tau, Yah. Ayah memang bukan pemimpin yang serba bisa, banyak hal yang Ayah harus pelajari dan perbaiki selama ini. Zain tau bahwa Ayah bahkan sekarang sedang berjuang memenangkan hati Bunda kembali. Zain harap Ayah akan berhasil." Tukasku dengan sengaja mengungkit soal Bunda yang sedang menjaga jarak dengan Ayah. Keluarga kami tak sesempurna seperti yang terlihat. Bunda juga tak setegar dan baik-baik saja, namun meski begitu, Bunda tetap melakukan yang terbaik untuk keluarga ini. Memikirkan dan menyiapkan apa-apa yang menyangkut pernikahanku dalam waktu dekat ini. Pada kenyataannya, keluarga Abdullah yang terkenal harmonis dan serba ada seperti yang publik tau. Sebab pak Abdullah tak sesempurn itu.
"Sudah, kamu siapkan diri. Jangan lupa witir dan tahajjud. Semoga Allah meridhoi langkah kita."
"Ayah belum mau tidur? Masih banyak revisi kontrak kerja?"
"Ayah akan tidur secepatnya, sedikit lagi. Sudah kamu tidur sana."
"Baiklah. Selamat malam, Yah."
Aku berjalan ke luar ruangan kerja Ayah dengan perasaan lega dan senang. Senang karena Ayah sudah banyak berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku mengembuskan nafas pelan saat sampai di kamar. Memikirkan hari esok, membuatku gugup dan harap-harap cemas sekaligus. Besok adalah hari yang bersejarah dan skaral di dalam hidupku. Aku akan menikahi seorang perempuan yang sejak dulu sudah menjadi mendapat tempat di hatiku. Perempuan yang akan menjadi tanggung jawabku di dunia bahkan akhirat. Semoga Allah memberiku kesanggupan untuk itu. Aku memutuskan untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, berniat agar aku dapat bangun di spertiga malam terakhir. Sebelum akhirnya sebuah pesan masuk di ponselku yang selanjutnya membuatku sepertinya tak dapat tidur sepeti yang ku harapkan.
______