BAB 15 - Firts Night?

1558 Kata
Aku akan menikahi seorang perempuan yang sejak dulu sudah menjadi mendapat tempat di hatiku. Perempuan yang akan menjadi tanggung jawabku di dunia bahkan akhirat. Semoga Allah memberiku kesanggupan untuk itu. Aku memutuskan untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, berniat agar aku dapat bangun di spertiga malam terakhir. Sebelum akhirnya sebuah pesan masuk di ponselku yang selanjutnya membuatku sepertinya tak dapat tidur sepeti yang ku harapkan. ______ Apa yang takutkan akhirnya terjadi. Ketakutan akan adanya seseorang di masa lalu yang bisa saja menyebabkan kesalahpahaman dan hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti saat ini, kenapa bisa perempuan yang paling aku hindari malah terang-terangan menghubungiku. Ah seharusnya ku blokir dari dulu saja agar tak ada cela seperti sekarang ini. Namun itu malah akan membuat seolah aku terlihat masih belum move on dari masa lalu dan berusaha menghindar, itu bukan perbuatan yang baik. Padahal kenyataannya bukan begitu. Aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun lagi pada perempuan itu. Sama sekali tak ada. Mungkin dulu sempat ada, mungkin. Ku lihat layar ponselku tak henti-hentinya menampilkan notifikasi pesan dari seseorang yang ku maksud tadi. Perempuan itu mengirimkan pesan spam, From : Vi Kau benar-benar akan menikah? Besok? Kenapa tak pernah memberitahuku selama ini? Apa dia perempuan yang cantik? Aku tau aku tak berhak bertanya seperti ini, namun aku tak mampu menahan terus-menerus Setiap kali bagian dari diriku merindukanmu, aku harus apa? Selain mencoba menghubungimu, Katanya, tadi siang kamu gak ngantor karena menyiapkan pernikahanmu yang jatuh di hari esok, Semua orang tau, dan aku baru tau saat semua orang di kantor membicarakannya. Ku pikir, kau tak akan mengundangku di hari bahagiamu, tapi ternyata aku salah. Buktinya aku masih mendapat undangan pernikahan kalian, (Sebuah foto undangan) Yaa, walaupun hanya sebagai karyawan kamu. Gak lebih dari itu. Aku turut bahagia Za, sebagaimana kamu dan dia bahagia. Aku sudah muak sebelum membaca pesan lainnya yang ternyata masih banyak. Aku sudah melupakannya dan semua hal yang berhubungan dengan perempuan itu, sudah ku tinggalkan di masa lalu. Tanpa ada sedikitpun yang ku bawa di masa depan. Tidak. Pesan-pesan darinya sama sekali tidak berarti apa-apa bagiku. Seperti yang ia katakan, dia hanya karyawan yang bekerja di perusahaan di mana aku bekerja. Tidak lebih dari itu. Maka dari itu, aku memilih menutup layar benda persegi panjang itu, lalu kembali melanjutkan tidurku yang sempat tertunda. ______ Maa sya Allah ... TabaarakAllah ... Aku masih tak menyangka bahwa hari ini akan tiba. Hari di mana aku mengucapkan kalimat sakral yang akan mengubah banyak hal baik di hidupku maupun hidup perempuan yang aku cintai yang ada di sampingku kini. Dia tersenyum sangat cantik dan lembut. Matanya teduh namun tegas. Kedua sudut bibirnya sentiasa terangkat setiap kali para tamu menyalami dan memberikan doa terbaik mereka untuk kami. Pernikahan kami dilaksanakan secara sederhana menurutku, tak begitu mewah. Para tamu undangan pun adalah orang-orang dari keluarga besar kami dan selebihnya sahabat-sahabat ku maupun Nur. Aku sangat bahagia, entah bagaimana mengutarakannya. Menurutku tak ada kata yang pas untuk mendeskripsikan rasaku sekarang. Aku sangat bahagia, sampai aku melihat sosok perempuan yang sebenarnya tidak ku harapkan untuk ada di sini saat ini. "Selamat, Za, aku tau kau sebenarnya tak menginginkan kehadiranku. Tapi karena aku sudah diundang, aku tak mungkin tak datang bukan?" Aku hanya mencoba mengangkat kedua sudut bibirku dengan terpaksa. Apa yang membuatnya harus berbica sepanjang itu. Tidakkah kata-katanya itu dapat menimbulkan kesalahpahaman? Terlebih aku takut Nur akan berpikir yang tidak-tidak. Aku tak dapat mengartikan ekspresinya itu, perempuan disampingku itu sekarang tersenyum pada Viona yang sekarang masih membiarkan tangannya mengawang di udara, sebab aku tak mungkin menerima tangan itu. "Ehem, terima kasih sudah datang. Oh iya, ini isteriku. Cantik bukan?" Selaku agar menghilangkan kecanggungan di tengah-tengah kami bertiga. "Iya, cantik. Aku tau, sebab tipemu memang yang seperti itu." Oh ayolah, lagi-lagi dia berkata seolah paling tau akan diriku. Aku hanya diam tak berniat membalas ucapannya. "Selamat, ya. Aku harap kamu bahagia bersama dengan Za," tuturnya seraya menyalami dan memeluk Nur dengan lembut. Entah itu perlakuan yang tulus atau bukan. Terlalu banyak ketidaktulusan yang perempuan itu lakukan dulu. Aku benar-benar berharap Viona akan segera pergi dan tak pernah datang lagi. Aku sudah cukup dan sangat bahagia saat ini. Ku harap kebahagiaan ini akan bertahan, setidaknya tak berakhir dalam waktu yang singkat. Akhirnya setelah drama singkat yang dibuatnya, dia kemudian berlalu meninggalkan kami berdua--yang kembali sibuk menyalami tamu undangan satu persatu. Ku harap ia meninggalkan gedung ini. Tidak, kalau bisa ku harap dia meninggalkan semua hal yang berhubungan denganku. _____ Di dunia ini, banyak orang menganggap hal-hal yang baru pertama kali dilakukan atau dirasakan, itu merupakan ssesuatu yang akan sangat bermakna dalam hidup. Cinta pertama, pacar pertama, lalu malam pertama, misalnya. Aku tak begitu yakin jika semua hal yang dilakukan pertama kali akan membuatnya menjadi sesuatu yang bermakna, sebab tak sedikit hal-hal yang pertama kali dilakukan atau dirasakan oleh orang-orang berkahir dengan ketidak-inginan terulangnya hal yang sama untuk kedua kalinya. Iya, banyak hal yang ketika dilakukan pertama kali dalam hidup, itu malah membuat seseorang menyesal dan berjanji untuk tak akan dan tak ingin mengulanginya. Aku tak pernah mengira bahwa malam pertamaku dengan perempuan yang aku cintai akan menjadi malam pertama yang... failed? Mungkin. Mengingatnya membuatku ingin tertawa tiap kali aku mencoba memandangnya lebih lama malam itu, dia semakin merasa gugup dan was-was. Kenapa ku katakan malam pertama kami gagal? Itu karena di malam pertama kami hanya melakukan pendekatan, iya, pendekatan satu sama lain. Seorang perempuan yang biasa menjaga jarak dari laki-laki yang bukan mahramnya, tentu saja akan merasa aneh jika harus berhadapan bahkan berada di satu ruangan yang sama dengan lelaki baru yang ada di hidunya. Azam pernah bilang, bahwa dulu Nur kecil bahkan tak ingin dekat-dekat dengan lelaki manapun selain Papanya dan Azam sendiri. Gadis kecil itu bahkan akan menangis kejar saat ada tetangga yang mengajaknya bermain dan tetangganya itu laki-laki. Aku merasa gemas dan geli sekaligus, saat menatapnya yang sibuk memainkan ujung khimarnya. Aku berdehem singkat, membuatnya menoleh padaku sebentar, lalu kembali pada fokusnya pada ujung khimar yang ia gunakan. "Kamu gak panas,?" Akhirnya ku beranikan untuk membuka percakapan lebih dulu. "Kamu gak mau lepas khimarmu?" Tanyaku lagi tanpa mendekat ke arahnya yang kini duduk di sisi kanan kasur. "I-itu, Nur gak biasa buka khimar di depan orang lain. Ma-maaf." Cicitnya pelan sekali bahkan ia tak sadar telah menggigit bibir bagian bawahnya dengan kuat. Membuatku khawatir kalau dia bisa saja melukai bibirnya. "Jangan digigit!" "Bibirmu, jangan digigit begitu. Nanti luka gimana?" "A-ah iya, ma-maaf gak sengaja." Setelah mengatakan kalimat yang lagi-lagi membuatku ingin tertawa karena tingkahnya itu. Sekarang matanya sibuk mengerling tak ingin menatap mataku yang sengaja menatap ke arahnya dengan intens. Kenapa juga ia harus meminta maaf. Oh Zain! Bagaimana bisa kau tahan melihat istrimu ini. Aku tau, dia pasti belum siap melakukannya. Bagaimana bisa ia melakukannya, sedangkan untuk menatap mataku saja ia tak cukup berani. "Kamu tidur saja di sini. Aku lihat matamu sudah ngantuk, sepertinya." "Aku akan tidur di bawah. Tenang, aku gak akan ngapa-ngapain kalau kamu belum siap." "Eng-gak apa-apa, kamu bisa tidur di kasur. Aku yang akan tidur di bawah." Tukasnya dan sudah bersiap mengambil satu bantal, namun seketika tanganku menahannya. "Tidur di sini, atau, aku akan tidur di luar dan orang rumah akan tau yang sebenarnya." Ancamku padanya. Seketika matanya membulat dan wajahnya menunduk dalam-dalam. "Ma-maaf," ujarnya kemudian membuatku mengembuskan nafas lemah. Bagaimana bisa perempuan bahkan membuat seorang laki-laki merasa bersalah bahkan saat perempuan itu yang melakukan kesalahan. Makhluk Allah yang satu ini memang benar-benar istimewa dan rumit. "Sudah. Tidur saja di sini." Tunjukku pada kasur big size di sampingnya. Aku beralih mengambil satu bantal dan menggelar selimut yang tadinya ku ambil dari dala lemari. Di sisi lain, dia sudah berbaring di kasur menghadap ke kanan. Tentu saja bukan menghadap ke arahku. Aku pun mengambil posisi berbaring menatap ke arah punggungnya. Mengamatinya dari belakang. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, atau dia sudah masuk ke dunia mimpi aku tak tau. Sampai beberapa menit kemudian terdengar suara dengkuran halus yang berasa dari perempuan yang sejak tadi menjadi atensiku. Sepertinya ia sudah tidur. Entah kenapa, tubuhku ingin beranjak dari posisi berbaring lalu berdiri melangkah ke arahnya.  Ku tatap wajah cantiknya yang terbingkai indah dengan satu tahi lalat kecil di sudut mata kirinya, membuatku menyadari bahwa ia tak hanya cantik tetapi juga terlihat sangat manis. Bibir kecilnya kemerahan dan ranum itu, seolah menarik diriku untuk merasakan betapa lembutnya bibir itu. Ku dekatkan wajahku hingga menyisakan jarak hanya beberapa senti antara bibirku dan bibirnya, dengan perlahan ku dekatkan sampai bibir kami bertemu.  Ku sesep bibir kecilnya dengan begitu lembut dan perlahan. Sampai aku sadar bahwa perlakuanku tadi menimbulkan sensasi yang asing di dalam tubuhku. Membuat darahku berdesir hebat dan jantungku ... jantungku sudah berdegub tak karuan. Ku harap perlakuanku ini tak membuatnya terbangun tiba-tiba dan menamparku saat itu juga karena sikap lancangku ini. Kalau ia sadar dalam keadaan seperti ini, sudah pasti ia akan berpikir betapa mesumnya suaminya ini. Ayolah! Lelaki mana yang bisa menahan gejolak yang ada di dalam dirinya saat ia berduaan saja dengan seorang perempuan yang halal untuknya? Aku lelaki normal dan ku akui cukup sulit menahan gejolak yang ku maksud. Selama beberapa detik aku masih setia merasakan sensasi aneh itu, sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke tempatku dan mencoba untuk tidur. Mengertilah Zain, dia belum siap untuk melakukannya. Aku tak boleh egois dengan hanya mementingkan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaan perempuan yang aku cintai. Iya, aku mencintainya. Sangat. ______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN