Mata kami berserobok saat ini. Entah bagaimana perasaanku saat ini. Namun satu hal yang ku inginkan. Aku ingin pulang secepatnya. Aku tak bisa memikirkan alasan terlogis satu pun itu. Bahkan kepalaku terlelalu lelah barang untuk memikirkan hal itu. Firasatku benar. Dila seolah paham apa yang sedang terjadi saat ini. Bahkan dia mengajak budenya untuk masuk terlebih dahulu. Heh! Bagaimana bisa aku menganggap bahwa orang - orang di sekitarku itu semuanya berwajah asli. Maksudku, bukankah setiap orang mempunyai topengnya masing - masing, yang akan mereka gunakan di situasi yang tepat dan di hadapan orang yang tepat pula, menurut mereka. Entah apa yang sudah perempuan itu rencanakan. Sejurus kemudian, lelaki yang sejak tadi menatapku itu, berjalan ke arahku dan menggenggam tanganku dan entah

