Aku terbangun dari mimpiku saat tangan seseorang menepuk wajahku pelan dan mengusapnya dengan lembut. Sisa air mata masih terasa hangat di pipi, namun aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Wajah yang ada di hadapanku sekarang adalah wajah seorang lelaki yang benar - benar ingin ku hindari. "Dek? Kamu mimpi buruk, ya?" Tanyanya dengan cemas seraya menyentuh keningku yang terasa panas. Apa mungkin yang ku alami hanyalah mimpi? Sejak kapan aku tertidur? Tapi kenapa rasa sakitnya benar - benar nyata. Bahkan masih terasa di hatiku sampai saat ini. Tidak! Semuanya nyata. Bahkan terlalu nyata untuk bisa ku katakan sebagai mimpi. Tidak mungkin. Mataku menyapu ke seluruh ruangan di mana aku berada saat ini, dan benar, aku sedang di kamarku. Tadi malam aku pulang ke rumah ini karena aku mu

