Sampai kelas terakhir selesai pun, Dila masih terlihat berbeda dari biasanya. Seolah ada banyak hal yang sedang ia pikiran saat ini. Aku berkali-kali memanggilnya--yang keluar begitu saja tanpa menoleh atau mendengar panggilanku padanya--dia hanya melangkah entah mau kemana sehingga ia terlihat begitu terburu-buru. Aku berjalan menuju kantin fakultas, sekadar untuk membeli roti dan minuman kesukaanku. Suasana kantin masih terasa sama. Ramai dan berisik. Hampir setiap sudut kantin sudah ditempati oleh mahasiswa/i yang entah hanya untuk makan atau sekadar duduk sambil menikmati wi-fi kampus atau menunggu seseorang. Aku memilih duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari jalan keluar kantin setelah berhasil membayar minuman dan roti yang baru saja ku beli. Aku meneguk minumanku sedikit dan

