6. Kasih untuk Ana

1036 Kata
~Setiap orang mempunyai ujiannya masing-masing~ Pagi ini aku bersiap untuk mengajar. Aku sangat bersyukur karena bisa diterima mengajar di TK Semesta. Sebuah taman kanak-kanak yang letaknya sekitar tiga sampai empat kilo meter dari rumah. Senang rasanya karena cita-citaku yang tertunda selama ini dapat aku gapai. Meski hanya sebagai guru bantu sementara. Saat perjalanan menuju tempat mengajar, aku teringat kembali dengan Mas Radit. Mantan suamiku. Jujur saja aku masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Apa lagi aku harus kehilangan anak pertamaku yang sudah kunanti hampir satu tahun setelah pernikahan kami. Aku pun kembali tersadar dari lamunanku ketika aku sudah hampir sampai di tempat tujuan. "Pak! Kiri, Pak!" seruku pada sang supir angkot. Mobil angkot berwarna merah itu pun berhenti tepat di depan gerbang TK Semesta. Aku segera membayar ongkos dan turun dari angkot. Jam tujuh lebih sepuluh menit aku sudah tiba di sekolah. Kulihat sudah ada beberapa anak-anak yang datang diantar orangtua mereka. Termasuk Ana yang sudah duduk di ayunan. Aku langsung tersenyum menyapa anak-anak yang lucu-lucu. "Assalamu'alaikum," sapaku dengan senyuman ramah. "Wa'alaikumussalam," jawab anak-anak itu membuatku gemas. Mereka pun menyalamiku dengan antusias. Aku sangat senang melihat binar keceriaan pada wajah mereka. Anak-anak kecil itu pun masuk ke dalam kelas. Kecuali Ana. Gadis itu turun dari ayunan dan menghampiriku. "Assalamu'alaikum, Ana," sapaku pada gadis kecil itu. "Wa'alaikumussalam, Bu Ocha," balas Ana sembari tersenyum. "Ana sudah datang dari tadi, ya?" tanyaku ramah. Gadis kecil itu hanya mengangguk sembari tersenyum. "Ya sudah. Yuk masuk ke kelas!" ajakku pada Ana. Sebelum memasuki kelas, pertama aku menuju ke kantor guru dan kepala sekolah. Memberitahukan bahwa aku benar-benar sudah siap mengajar. Sebenarnya aku gugup karena sudah lama aku tak berhadapan dengan anak-anak. Akan tetapi, aku mencoba menepis kegugupanku agar aku bisa lebih dekat dengan anak-anak yang akan menjadi muridku. Senang rasanya bercengkrama dengan anak-anak kelas Mentari. Ternyata mereka sangat antusias dan mau menerimaku dengan senang hati. Bahkan pada hari pertama mereka senang sekali kuajari mengaji. Termasuk Ana. Gadis kecil pemalu yang aku temui tempo hari. Hingga beberapa hari lamanya aku mengajar di TK Semesta, aku semakin betah berada di sini. Bu Sinta dan Bu Riska juga baik padaku. "Mbak. Alhamdulillah berkat Mbak Osya anak-anak jadi semangat mengaji tiap pagi. Bahkan para orangtua juga ikut senang dengan kegiatan mengaji ini," ucap Bu Sinta padaku saat kami sedang mengawasi anak-anak yang sedang bermain pada waktu istirahat. "Alhamdulillah, Bu Sinta. Saya di sini hanya membantu sebisa saya, Bu." Aku tersenyum menatap wanita berusia sekitar lima puluh tahunan itu. Beliau benar-benar terlihat sangat dewasa dan berwibawa. Bahkan beberapa hari ini aku dapat menilai bahwa beliau juga bisa mengatasi anak-anak. "Oh iya. Bagaimana dengan Ana?" tanya Bu Sinta menatapku. "Ana? Dia agak pendiam ya, Bu? Tapi Ana itu anak yang cerdas. Dia cepat sekali memahami pelajaran," jawabku. "Iya, Mbak. Ana itu anaknya memang pemalu. Berbeda dengan teman-temannya. Dia juga agak sulit untuk bermain bersama teman-teman yang lain," tutur Bu Sinta menatap Ana yang bermain ayunan seorang diri. "Kalau boleh tahu, kenapa ya, Bu? Apa ada yang menjahilinya?" tanyaku penasaran. "Bukan, Mbak. Alhamdulillah anak-anak kelas Mentari bukanlah anak-anak yang nakal." "Lalu?" "Ana itu sudah kehilangan ibunya sejak dia lahir, Mbak. Mungkin karena itu dia jadi pendiam dan tidak percaya diri," jawab Bu Sinta. "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un. Saya baru tahu, Bu," balasku. "Lalu ... Ana tinggal dengan neneknya saja?" tanyaku lagi. "Sama nenek dan ayahnya, Mbak," jawab Bu Sinta. "Oh begitu. Saya jadi ikut sedih mendengarnya. Anak sekecil Ana sudah kehilangan ibunya," ujarku. Aku jadi teringat dengan anakku yang sudah tiada. Andai saja anakku masih ada dalam rahimku, mungkin saja nanti saat ia terlahir ke dunia, dia akan mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mungkin. Tapi itu hanyalah angan saja. Allah sudah memberikan takdir yang lain untukku. *** Sudah genap dua minggu aku mengajar di TK Semesta. Kini aku semakin akrab dengan anak-anak kelas Mentari. Terutama Anaya Putri. Gadis itu termasuk anak yang penurut. Melalui pendekatan yang aku lakukan, Ana mau menunjukkan rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit. Seperti pagi ini. Ana sudah mau memimpin berdoa di depan kelas. Senang aku melihatnya. Meski aku tahu gadis kecil itu menahan rasa gugupnya. Setiap pulang sekolah Ana selalu menunggu sang nenek menjemputnya. Jika saja kami satu arah, aku akan mengantarnya sekalian. Ana selalu terakhir pulang. Namun, waktunya selalu sama. Setiap pukul sebelas lebih empat puluh lima, sang nenek selalu tiba di depan gerbang. "Wah. Terima kasih ya, Bu. Sekarang Ana jadi ada yang menemani," ucap Bu Rinah, nenek kandung Ana dengan ramah. Wanita berjilbab itu selalu tersenyum. Meski wajahnya sudah tak muda lagi, beliau tetap terlihat cantik. Mungkin karena aura yang terpancar dari dalam hatinya. "Sama-sama, Bu. Saya juga senang menemani Ana," balasku tak lupa sembari memasang senyuman yang sama ramahnya. "Nenek. Bu Ocha tadi ngajarin Ana buat mimpin berdoa di depan kelas loh," ucap Ana dengan wajah polosnya yang berbinar. "Iya? Wah hebat dong cucu nenek. Sekarang sudah berani memimpin doa," balas Bu Rinah senang. Aku ikut tersenyum melihat kebahagiaan mereka. "Terima kasih ya, Bu Osya. Sejak diajar Bu Osya, Ana jadi tambah percaya diri. Bahkan di rumah dia selalu bercerita tentang Ibu," tutur Bu Rinah menatapku dengan tatapan lembut. "Sama-sama, Bu Rinah. Itu sudah menjadi tugas saya. Ana juga anaknya penurut, Bu. Cepat paham juga kalau diberi materi baru," balasku. "Terima kasih. Sejak dia sudah paham dengan keadaan sekitar, dia sering menanyakan keberadaan ibunya. Jadi, mau tak mau kami mengatakan yang sebenarnya. Dan karena itulah Ana jadi tidak percaya diri. Tapi akhir-akhir ini Ana sudah menunjukkan perkembangannya. Padahal dulu guru sebelumnya sudah mencoba mendekati Ana, tetapi mereka selalu gagal. Terima kasih, Bu Osya," jelas Bu Rinah. Aku tersenyum lembut. Rasanya tak pantas menerima sanjungan itu. Semua ini karena Ana sendiri lah yang mau berusaha. "Terima kasih kembali, Bu. Semua ini karena semangatnya Ana sendiri. Saya hanya membantu sebisa saya," balasku. "Bu Ocha benar-benar cantik seperti bidadari kan, Nek?" tanya Ana sembari menatapku dengan senyumannya yang lugu. "Kamu yang cantiknya seperti bidadari," balasku mencubit pelan hidung gadis kecil itu. "Ya sudah. Itu angkotnya sudah kelihatan, Na. Bu Osya, kami pamit pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum," ujar Bu Rinah undur diri. "Wa'alaikumussalam. Iya, Bu. Hati-hati di jalan." Ana pun mencium punggung tangan kananku. Lalu kubalas dengan mengusap pucuk kepalanya dengan lembut. Kedua orang itu pun pergi meninggalkan sekolah. ***bersambung***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN