bc

Luka Sang Bidadari

book_age18+
849
IKUTI
5.7K
BACA
love-triangle
second chance
arranged marriage
CEO
drama
single daddy
betrayal
weak to strong
teacher
like
intro-logo
Uraian

Osya yang tengah mengandung anak pertama, harus kehilangan anaknya itu karena fitnah kejam dari mertuanya. Pernikahan pertamanya gagal. Namun Osya tak ingin terus menangisi nasibnya.

Osya bangkit dan mulai berjuang sendiri untuk kehidupannya. Hingga dia akhirnya bertemu seorang anak kecil yang menginginkan dia menjadi sosok ibu pengganti untuknya.

Akankah Osya membuka hatinya kembali untuk gadis kecil itu?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Malam Itu
Terima kasih sudah memilih Luka Sang Bidadari sebagai bacaan kalian. Sebelum mulai membaca ada sedikit informasi. Jadi, dalam penyampaian cerita ini akan terdapat beberapa sudut pandang yang berbeda. Selamat membaca, semoga suka ya dengan cerita ini? ~Apa yang terlihat, belum tentu menampilkan semua kebenaran~ Suara tetesan air terdengar sayup di malam yang sunyi itu. Menetes pelan bersamaan dengan kesadaran yang mulai membangunkan seorang wanita dari tidur sakitnya. Kedua matanya mengerjap. Menganalisa tempat ia berbaring, menatap langit-langit yang ia kenali sebagai ruang rawat di rumah sakit. Tangan kanannya mencoba menggapai tas jinjing yang diletakkan di atas meja kecil, di dekat tempat tidurnya. Sebelum ia berhasil meraih tas itu, seseorang masuk ke dalam ruangan dengan tampang yang mengerikan. Menatap tajam ke arah wanita berjilbab yang masih diam di atas tempat tidurnya. Wanita itu pun menatap sendu orang yang datang itu. "Mulai sekarang aku nggak mau lihat kamu lagi," ucap orang itu dengan suara berat dan dingin. Mengoyak perasaan wanita yang baru sadar dari rasa sakitnya. "Tapi, Mas ...." cicit wanita itu sembari mencoba duduk. "Aku nggak mau lihat pengkhianat sepertimu!" ujar pria itu lagi. "Mas Radit, tolong dengerin penjelasanku dulu. Aku gak pernah mengkhianati Mas. Tolong ... percaya padaku ...." cicit wanita itu lagi mulai terisak. "Apa yang perlu kau jelaskan? Semuanya sudah jelas bahwa kamu mengkhianati pernikahan kita. Mamahlah saksinya." Pria itu masih menatap dingin istrinya. "Mas ... Tolong percayalah padaku. Itu semua fitnah, Mas. Anak yang ... anak yang sekarang sudah nggak ada ini anakmu, Mas," jelas sang wanita masih menangis mencoba meraih tangan suaminya. "Aku nggak percaya! Itu jelas bukan anakku. Hanya sebulan aku meninggalkanmu, tapi kau malah bermain di belakangku. Malu Sya! Malu!" hardik pria itu menepis tangan istrinya dengan kasar. "Tapi itu semua fitnah, Mas! Tolong percaya padaku. Semua ini hanya ... Mamah ... Mamahlah yang ...." "Apa? Mamah kenapa? Sudah jelas kamu mengkhianati suamimu. Masih saja kamu mengelak dari semua bukti yang ada," ucap seorang wanita lain yang merupakan ibu dari pria bernama Radit saat memasuki ruangan itu. Dingin dan tak berperasaan. "Mah. Mamah tolong jelasin kebenarannya sama Mas Radit, Mah," pinta sang menantu. "Sudahlah! Kamu jangan berani salahin Mamah! Mulai besok aku akan kembalikan kamu pada kedua orangtuamu," ucap Radit. Pria itu lalu menuntun ibunya meninggalkan sang istri sendirian di ruang rawat. Membiarkan wanita itu menangis tersedu-sedu. Wanita itu pun mengelus perutnya yang rata dengan lembut. Lalu memeras kain yang menutupi perutnya itu. Ia menangis pilu karena kehilangan anak pertamanya. Kembali ia teringat kejadian di sore itu. Bukan tanpa alasan ia berakhir di ranjang rumah sakit. Sore itu ia menyambut suaminya dengan suka cita. Ia sangat rindu pada pria yang telah menjadi imamnya selama sepuluh bulan ini. Kepergiannya selama satu bulan lebih telah menumbuhkan rindu di hati wanita itu. Benda kecil ia sembunyikan dengan tujuan untuk memberi kejutan pada suaminya. "Selamat datang, Mas," sambut sang istri senang sembari mencium punggung tangan kanan sang suami. "Hm," balas pria itu dengan nada dingin. Karena tak sabar ingin menunjukkan benda kecil yang ia sembunyikan, wanita itu pun menuntun sang suami ke dalam kamar mereka. "Mas. Aku punya kejutan buat, Mas," ucap sang istri sembari memasang senyuman. Pria di hadapannya hanya menatap dingin pada sang istri. "Akhirnya aku hamil, Mas. Sebentar lagi kita akan segera punya anak," seru wanita itu sembari menunjukkan sebuah test pack yang sedari tadi ia sembunyikan di dalam kantong gamisnya. Wanita itu pun menunggu respon dari sang suami. Berharap pria itu akan memeluknya dengan hangat dan mesra. Penantian mereka selama hampir satu tahun akhirnya membuahkan hasil. Plak Tanpa disangka pria itu malah menampar keras wajah istrinya. Tatapannya yang dingin berubah menjadi penuh emosi. Marah. Pria itu marah pada istrinya. Wanita itu pun meringis sembari memegangi pipinya. "Kau pikir aku akan senang mendengar berita ini? Ha?" ucap pria itu sembari melempar test pack dari tangan istrinya. "Kenapa, Mas?" tanya sang istri dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. "Itu bukan anakku. Kau pikir aku akan percaya begitu pada ucapanmu?" tanya pria itu sembari mencengkeram kedua bahu istrinya dengan erat. "Kenapa Mas bilang begitu? Ini jelas anak Mas Radit, anak kita," jelas sang istri menatap tak percaya pada perlakuan kasar Radit. Pria itu tak menjawab. Ia meraih ponsel dari kantong jasnya, lalu menunjukkan sebuah foto. "Ini! Apa maksudnya? Ha?" cecar Radit pada istrinya. Kedua mata wanita itu membulat seketika ketika melihat foto di depannya. Foto itu menunjukkan dirinya bersama seorang pria. "A-apa ini, Mas? I-ini ...." "Jangan mengelak kamu! Ini jelas fotomu dengan seorang pria. Siapa dia?" "I-itu tamunya Mamah, Mas," jelas wanita itu. "Jangan bohong! Kalau tamunya Mamah kenapa dia menyentuhmu? Dia selingkuhanmu, kan?" hardik Radit penuh amarah. "Astaghfirullah. Bukan, Mas. Bukan. Dia bukan selingkuhanku," jelas istrinya lagi. "Halah! Aku sudah muak padamu, Sya! Mulai sekarang aku talak kamu!" seru pria itu sembari mengangkat dan mendorong tubuh istrinya hingga terduduk di atas kasur. Sang suami meninggalkannya dengan wajah yang sudah merah padam. Hingga malam hampir menjelang, sang suami masih betah mendiamkan istrinya. Wanita itu hendak mengambil air untuk wudhu. Ingin ia menjadi makmum di barisan belakang sang suami. Namun, pria itu ternyata sudah sholat lebih dulu. Meninggalkan makmumnya. Ketika sudah sampai di dalam kamar mandi, wanita itu pun merasa sedikit pusing. Nampaknya ia lupa tidak makan pada sore itu. Karena kepalanya berkunang-kunang, akhirnya wanita itu tak dapat menahan keseimbangan tubuhnya. Dia jatuh terduduk dengan cukup keras. Tak cukup rasa pusingnya, kini ditambah dengan rasa nyeri yang luar biasa dari bawah perutnya. "Astaghfirullah ...." rintih wanita itu menahan sakit. "Mas! Mas Radit!" Wanita itu memanggil suaminya. Namun, tak ada jawaban. Darah segar pun mengalir dari sela-sela kakinya. Perutnya yang masih rata merasakan rasa sakit yang luar biasa. Sembari menahan tangis dan sakitnya, sebisa mungkin wanita itu mencoba berdiri dan berjalan keluar kamar mandi. "Tolong!" teriak wanita itu. Seorang asisten rumah tangga yang mendengar teriakan seseorang langsung menghapiri wanita itu. "Mbak Osya. Kenapa, Mbak? Astaghfirullahal'azim. Darah?" ucap sang asisten rumah tangga tatkala melihat darah mengotori gamis wanita itu. "Mari ke rumah sakit, Mbak!" ajak sang asisten rumah tangga. "Makasih, Bi Wiwin," balas wanita bernama Osya itu dengan wajah yang mulai pucat. "Tapi tolong ambilkan ponsel dan dompet saya di atas meja kamar, Bi," imbuhnya. "Baik, Mbak. Tahan sebentar ya, Mbak." Sang asisten rumah tangga langsung berlari ke kamar majikannya, lalu meraih tas selempang serta memasukkan ponsel dan dompet yang sudah ada di atas meja rias. Bi Wiwin pun kembali menghampiri sang majikan. Dengan tergopoh, Osya berjalan keluar rumah sembari memegangi perutnya. Ia melihat suaminya malah sibuk dengan ponselnya. Melihat istrinya itu berjalan melewati ruang keluarga membuatnya berpindah ke ruangan lain. Tak mempedulikan rintihan kesakitan dari sang istri. "Mas Radit. Tolong aku, Mas. Sakit," rintih wanita itu. Namun, tak dipedulikan oleh suaminya. "Mas!" panggil Osya lagi. Radit pun menoleh dan menatap tajam ke arahnya. "Itu bukan anakku! Urusi saja sendiri!" hardiknya. "Astaghfirullahal'azim. Mas Radit! Ini anak kandungmu. Kenapa Mas nggak percaya?" tanya Osya menatap pria di depannya. "Cukup!" balas Radit sembari berjalan pergi. Masuk kembali ke dalam kamarnya. "Sudah, Mbak. Sabar. Sekarang kita ke rumah sakit dulu," ajak Bi Wiwin dengan tatapan sedih. Wiwin pun memapah majikannya keluar rumah. Lalu menelpon taksi dengan telepon genggamnya. Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di depan rumah mewah itu. Bi Wiwin menuntun majikannya masuk ke dalam taksi. Seseorang pun menatap kedua wanita itu dari dalam rumahnya dengan tatapan puas. "Sebentar lagi kamu akan segera pergi dari rumah ini, Osya," gumam seorang wanita yang menatap kepergian Osya dan Wiwin. "Sabar, Mbak. Sabar," hibur Wiwin tak mampu menahan tangis. Bagaimana pun juga, wanita paruh baya itu sangat menyayangi majikannya. Hingga perempuan bernama Osya itu tak mampu menahan rasa sakitnya. Ia pun hilang kesadaran. Hingga ia berakhir sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit. Sikap dingin suami dan ibu mertuanya juga menambahkan rasa sakit pada hatinya. "Mbak Osya," panggil seorang wanita paruh baya saat mendapati wanita itu tengah menangis. Wanita yang dipanggil pun kembali dari lamunannya. "Bi Wiwin," balas Osya dengan tatapan sayunya. Segera asisten rumah tangga itu memeluk majikannya. "Sabar ya, Mbak. Semua ini ujian dari Allah." Bi Wiwin mengelus punggung wanita itu. Ia sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. "Iya, Bi. Saya sudah ikhlas. Tapi ... tapi kenapa hal ini sampai terjadi pada saya, Bi? Apa salah saya sama Mamahnya Mas Radit? Kenapa Mamah begitu benci pada saya?" tanya Osya masih terisak di pelukan Bi Wiwin. "Apa karena Osya hanyalah wanita yang dijodohkan oleh Papah? Apa karena Osya bukan menantu pilihan Mamah?" tanya Osya lagi. "Jangan bicara seperti itu, Mbak." "Tapi kenapa, Bi?" "Sudah, Mbak. Sekarang Mbak Osya harus istirahat," ucap Bi Wiwin memberi saran dan hanya dibalas anggukan lemas oleh Osya. Wanita itu pun merebahkan tubuhnya. "Besok setelah saya keluar dari rumah sakit, Mas Radit akan menceraikan saya, Bi," ucap Osya menatap kosong langit-langit. "Mungkin ini jalan terbaik untuk kami. Saya sendiri sudah tak kuasa lagi dengan semua fitnah ini," imbuhnya. "Mbak harus sabar ya. Saya akan membela Mbak." "Tapi Mas Radit tak akan mau percaya. Mas Radit hanya percaya sama Mamah," tukas Osya menatap sendu wajah Bi Wiwin. Asisten rumah tangga itu menahan tangisnya. Ia merupakan saksi kehidupan Osya di rumah mewah milik keluarga Radit. ***bersambung***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

TERNODA

read
199.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
74.3K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook