2. Meja Hijau

1388 Kata
~Jika perpisahan adalah jalan terbaik untuk kita... Aku ikhlas~ Satu hari setelah kejadian itu, Osyana masih berada di rumah sakit. Ibu dan ayah kandungnya menunggui wanita itu. Osya sudah menceritakan tentang musibah yang menimpanya. Ismi, sang ibu sedih mendengar kabar dari anaknya. Bagaimana pun juga ia telah kehilangan salah satu cucunya. "Yang sabar ya, Nduk. Pokoknya Ibu ndak mau kamu sampai kenapa-kenapa. Sudah jangan pikirkan suamimu lagi," ujar Ismi pada putrinya. "Iya, Bu. Osya ngerti. Osya juga akan mencoba mengikhlaskan anak Osya," balas Osya dengan wajah sendunya. "Bapak ndak terima dengan semua perlakuan suami dan ibu mertuamu. Lebih baik kamu pulang saja! Jangan tinggal di rumah setan itu," ujar Salim, ayah Osya yang sudah emosi. "Iya, Pak. Osya akan pulang. Setelah urusan perceraian Osya dengan Mas Radit selesai, Osya akan ikut Bapak dan Ibu lagi. Maafkan Osya karena sudah membuat kalian khawatir dan kecewa sama Osya," cicit wanita itu sembari memeluk sang ibu. "Ndak. Kamu ndak salah. Ibu tahu kamu ndak mungkin melakukan hal hina seperti itu. Kalau sampai Ibu tahu siapa yang menyebarkan fitnah itu, Ibu ndak akan segan-segan buat seret dia di jalanan." Ismi ikut emosi. Beruntung Osya mempunyai dua orangtua yang selalu percaya padanya. Setidaknya masih ada tempatnya untuk pulang. "Mbak Osya," panggil Bi Wiwin saat memasuki kamar rawat wanita itu. "Ya, Bi?" "Saya cuma mau kasih tahu, Mbak. Semua pakaian dan barang-barang Mbak Osya sudah saya kemasi," jelas Bi Wiwin. "Makasih, Bi. Maaf merepotkan," ujar Osya. "Sama sekali tidak, Mbak. Saya yang harusnya minta maaf karena nggak bisa membantu Mbak." Bi Wiwin menatap murung majikannya. Wanita itu sudah menganggap Osya seperti anaknya sendiri. Pasalnya saat ia bekerja di rumah Radit, Osya selalu menghormatinya meski dirinya hanyalah seorang asisten rumah tangga. "Tidak apa-apa, Bi. Semua ini sudah jadi takdir buat saya," tutur Osya mencoba tabah. "Makasih ya, Bi Wiwin. Bibi sudah mau menemani anak kami," sambung Ismi. "Sama-sama, Bu Ismi. Emmm. Anu ...." Bi Wiwin tampak ragu. "Kenapa, Bi?" Ismi menatap heran pada wanita itu. "Saya ... Saya akan berhenti kerja di rumah Nyonya Nia dan Pak Radit," jawab wanita itu membuat Osya terkejut. "Kenapa, Bi?" tanya Osya heran. "Saya nggak mau berada di sana lagi. Sudah cukup saya melihat perlakuan buruk Nyonya Nia," jelas Bi Wiwin. "Maksud Bi Wiwin?" tanya Ismi tak mengerti. "Apa yang dilakukan wanita itu pada anakku?" tanya Salim cemas. Osya menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar Bi Wiwin tak menceritakan kebenaran tentang perlakuan buruk ibu mertuanya pada dirinya. "Sa-saya nggak betah saja kerja di sana. Apalagi sekarang Mbak Osya juga nggak tinggal di sana lagi. Saya jadi nggak ada temannya," jawab Bi Wiwin. "Oh begitu." Ismi dan Salim tampaknya percaya dengan alasan wanita itu. *** Setelah wanita itu diizinkan pulang, ia segera menghadiri sidang perceraiannya dengan sang suami. Mungkin inilah jalan terbaik untuknya. Meski wanita itu sangat mencintai suaminya itu. Namun, ia tak bisa hanya mengandalkan rasa cinta saja. Osya bukanlah wanita yang hati dan mentalnya terbuat dari baja. Ia hanyalah manusia biasa yang hatinya tercipta dari segumpal darah. Tak mau lagi menerima perlakuan buruk dari ibu mertuanya. Fitnah kejam itu sudah cukup mengoyakkan perasaannya. "Aku nggak mau lihat kamu lagi!" hardik Radit pada sang istri ketika mereka berpapasan di luar gedung persidangan. Tak lupa dengan matanya yang menyalak benci. Pria itu sudah dibutakan oleh bukti, tanpa mau meneliti fakta yang asli. "Kamu ndak pantas berkata seperti itu pada anakku!" Ismi ikut dongkol. "Sudah, Bu. Sudah!" Salim mencoba menenangkan istrinya. Tampak di sana sang ibu mertua tersenyum puas. Sidang pun berlangsung dengan lancar. Palu sudah diketuk. Menandakan bahwa kedua insan itu sudah resmi berpisah secara hukum. Jika ditanya secara agama? Radit sudah menalak istrinya bahkan sampai lima kali setelah kepulangannya dari luar kota. Osya menerima keputusan itu dengan lapang d**a. Setidaknya ia sadar bahwa cinta Radit hanyalah sebatas di awal saja. Wanita itu kini sudah resmi menjadi janda. Waktunya berdiam diri di rumah menghabiskan masa 'idahnya. Sebelum ia pulang ke kampung halaman, Osya menemui mantan suaminya untuk terakhir kali. "Kenapa kamu masih berani mendekati anakku?" sungut Nia tak senang. Osya menatap sendu wanita yang sangat ia hormati seperti ibunya sendiri. Wanita yang justru membalas rasa hormatnya dengan rasa benci. "Aku cuma mau mengucapkan terima kasih sama Mas Radit dan Mamah. Makasih karena sudah membebaskan Osya dari neraka dunia. Jika perpisahan ini jalan yang terbaik untuk kita, aku ikhlas," ujar wanita itu mencoba tabah. "Apa maksudmu?" tanya Radit sembari memicingkan kedua matanya. "Mas ingat ini baik-baik. Meski Mas Radit memohon sekalipun agar aku kembali, aku tak akan mau. Hubungan kita sudah cukup sampai di sini," tutur Osya menatap kedua mata mantan suaminya. "Dan satu hal lagi yang perlu dan harus Mas Radit tahu. Mas seharusnya membuka mata hati Mas Radit. Lihatlah dan carilah kebenaran meski itu sangat sulit. Jangan terlalu percaya pada bukti yang terlihat nyata," imbuhnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Permisi. Assalamu'alaikum," ucap Osya sebelum kedua orang di hadapannya membalas ucapannya. Wanita itu pun langsung pergi meninggalkan mantan suami dan mantan ibu mertuanya. "Wa'alaikumussalam," jawab Radit menatap punggung mantan istrinya yang semakin menjauh. Radit dan ibunya kembali pulang ke rumah mewah mereka. Nia tampak senang dengan kepergian menantunya itu. Sang asisten rumah tangga ternyata sudah menunggu kepulangan kedua majikannya. Wanita itu menunggu waktu yang tepat untuk berbicara pada mereka. "Sekarang kamu paham kan maksud Mamah? Osya itu wanita nggak baik. Tampilannya aja yang alim, tapi aslinya busuk," ucap Nia sembari duduk pada sofa ruang tamu. Radit ikut duduk di samping ibunya. "Iya, Mah," balas pria itu. "Kamu itu anak Mamah sama Papah satu-satunya. Kamu seharusnya menikah dengan wanita yang sama denganmu. Wanita yang juga satu strata dengan kita. Bukan wanita biasa seperti Osya. Lihat dia sekarang? Dia malah mengkhianatimu seperti itu. Seharusnya dulu almarhum Papahmu juga mau mendengarkan Mamah." "Iya, Mah. Maafin Radit karena nggak percaya sama ucapan Mamah. Tapi, Mah. Apa benar anak yang kemarin ada di kandung Osya bukan anak Radit?" tanya sang anak menatap kedua mata ibunya. Nia terdiam untuk sepersekian detik. Lalu wanita itu mengalihkan pandangannya ke samping. "Memangnya kamu masih percaya padanya setelah apa yang dia lakukan padamu?" tanya Nia tanpa menatap anaknya. "Astaghfirullah. Begitu ya, Mah? Maaf," ucap Radit sembari mengusap wajahnya. "Kamu nggak perlu minta maaf. Harusnya si mantan istrimu itu yang minta maaf pada kita," celetuk Nia. Bi Wiwin yang telah melihat kesedihan Osya mulai mendekati Radit dan Nia. Wanita itu sudah tak tahan mendengar ucapan dari majikannya. Dialah saksi satu-satunya yang melihat kebenaran di dalam rumah itu. "Ada apa, Bi?" tanya Nia beralih menatap asisten rumah tangganya. "Saya mau berhenti bekerja di sini. Nyonya nggak perlu kasih pesangon sama saya." Bi Wiwin menatap wanita di hadapannya. Meski berjilbab, Nia memiliki mulut yang pedas ketika menghina orang. Terutama menantunya. "Kenapa berhenti, Bi?" tanya Radit heran. "Saya nggak mau lagi bekerja di sini. Saya sudah cukup melihat Mbak Osya menahan rasa sakit hatinya," jelas Bi Wiwin. "Maksud Bi Wiwin?" tanya pria itu lagi. "Oh. Baguslah kalau kamu pergi sekalian. Kamu sama Osya sama aja. Sana! Pergi jauh-jauh kalau perlu. Masih ada kok orang kompeten yang mau bekerja di sini," usir Nia dengan angkuhnya. "Maksud Mamah?" "Dia ini sekongkol sama mantan istrimu itu. Dialah yang suka membantu perbuatan kotor wanita itu," ucap Nia sembari menunjuk Bi Wiwin. "Astaghfirullahah'azim. Nyonya benar-benar tega ya nuduh saya sama Mbak Osya. Semoga Allah segera memberikan peringatan sama Nyonya biar Nyonya sadar!" balas Bi Wiwin tak terima dengan tuduhan itu. "Ck. Sudahlah. Sana pergi dari rumah ini! Atau kamu memang mau berniat memisahkanku dengan Radit begitu? Biar Radit benci padaku?" tanya Nia sembari berdiri dan berkacak pinggang. "Benarkah begitu? Bi Wiwin tega sekali. Padahal Bi Wiwin sudah seperti keluarga di sini. Kenapa Bibi tega memfitnah Mamah?" ucap Radit ikut berdiri. "Astaghfirullahah'azim. Pak Radit sudah dibutakan oleh fitnah. Ya sudah saya pergi saja dari sini. Semoga suatu saat Pak Radit menyesal dengan keputusan Bapak ini," balas Bi Wiwin sembari berjalan meninggalkan rumah mewah yang sudah menjadi tempatnya bekerja selama kurang lebih delapan tahun. Setelah mengucap salam, wanita itu sudah menghilang di balik pintu. Nia kembali duduk menyandarkan bahunya pada sofa ruang tamu. Wanita itu menatap wajah putranya. "Kamu percaya kan sama Mamah?" "Iya, Mah. Radit percaya sama Mamah." Di tempat lain, Osya sudah kembali pulang ke rumahnya yang terbilang sederhana. Rumah itu hanya memiliki satu lantai. Namun cukup luas sebagai tempat tinggal. Kamarnya saja ada tiga. Kini wanita itu kembali ke kamar lamanya. Beristirahat untuk menyandarkan lelahnya. ***bersambung***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN