bc

Nada, Anakku bukan Anakku

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
family
HE
kickass heroine
heir/heiress
like
intro-logo
Uraian

Tiba-tiba dijodohkan dengan lelaki yang kamu sukai selama bertahun-tahun adalah sebuah anugerah. Nada mengalami itu.Ia mengagumi sosok Arman Mahesa, menyukai lelaki itu sejak keduanya sama-sama duduk di bangku kuliah. Seperti impian yang terwujud dan semesta mengabulkan doa nya, Nada di landa kebahagiaan yang tidak terkira. Sampai,,, fakta menyakitkan itu terbongkar setelah beberapa tahun menikah. Nada akhirnya tahu, bahwa Arman tidak mencintainya, juga lelaki itu memiliki seorang anak dari wanita lain. Lantas apakah Nada akan tetap bertahan?Atau memilih berpisah?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Kamu memang jodohku
Menikah dengan seseorang yang sudah kamu sukai sejak lama adalah sebuah anugerah. Nada Isyana mengalami hal itu. Ia menyukai Arman Mahesa sejak keduanya sama-sama berkuliah di salah satu universitas ternama di negeri ini. Hanya saja, di tengah masa perkuliahan, lelaki itu tiba-tiba pindah ke luar negeri dan dalam jangka waktu beberapa tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu. Nada sempat mengira perasaan itu akan hilang seiring berjalannya waktu, namun ternyata tidak. Malam ini, mereka kembali dipertemukan dalam sebuah acara makan malam keluarga dan yang lebih mengejutkan, pertemuan itu bukan sekadar kebetulan. Kedua keluarga mereka ternyata telah lama mengenal satu sama lain. Bahkan tanpa sepengetahuan Nada, orang tua mereka sudah membicarakan sebuah perjodohan. Nada yang sejak tadi hanya berusaha menikmati makan malam, mendadak tersedak saat mendengar ucapan ayahnya. "Jadi, maksud Ayah dan Om... kami akan dijodohkan?" Nada menatap kedua orang tua mereka secara bergantian. Wajahnya langsung memanas, apalagi ketika tanpa sengaja matanya bertemu dengan tatapan Arman. Lelaki itu terlihat jauh lebih tenang. Terlalu tenang. Berbeda dengan Nada yang sejak tadi jantungnya berdetak tidak beraturan. "Kenapa? Kalian sudah saling mengenal, kan?" tanya ibu Ratih, ibu Arman. Nada menelan ludah. "Mengenal..." gumamnya pelan. Tentu saja mereka saling mengenal, bahkan Nada masih mengingat dengan jelas bagaimana dulu Arman sering duduk di bangku paling belakang di perpustakaan kampus. Bagaimana lelaki itu selalu membawa kopi hitam tanpa gula. Bagaimana ia sering tersenyum tipis ketika berbicara dengan teman-temannya. Nada mengingat semuanya. Sementara Arman? Nada tidak tahu apakah lelaki itu masih mengingat dirinya. "Kami pernah satu kampus," jawab Arman akhirnya. Suaranya terdengar lebih berat dari yang Nada ingat. Nada menatapnya lagi dan saat itulah ia menyadari bahwa Arman yang ada di hadapannya sekarang bukan lagi pemuda yang dulu ia kagumi diam-diam. Arman telah berubah. Rambutnya dipotong rapi. Tubuhnya terlihat lebih tegap. Wajahnya semakin tegas dengan rahang yang tampak lebih maskulin. Tatapannya juga jauh lebih dalam dan sulit ditebak. Nada buru-buru mengalihkan pandangan. Ia tidak boleh terus menatap Arman seperti itu, meskipun dalam hati, ia ingin melakukannya. "Kalau begitu, kalian tidak benar-benar asing," ujar ayah Nada. "Lagipula, keluarga kita sudah lama dekat. Arman juga sudah kembali dan akan menetap di sini." Nada kembali menatap Arman. "Menetap?" "Ya," jawab Arman singkat. "Untuk selamanya?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Arman mengangkat alisnya sedikit, seolah terkejut dengan pertanyaan Nada. "Sepertinya begitu." Sepertinya. Nada mengulang kata itu dalam hati. Sementara kedua keluarga mereka masih terus membicarakan rencana perjodohan, tanggal pertemuan berikutnya, bahkan kemungkinan untuk segera melangsungkan pertunangan, Nada hanya bisa duduk diam dengan wajah yang semakin panas. Ia tidak pernah membayangkan bahwa setelah bertahun-tahun menyukai Arman dari kejauhan, lelaki itu justru akan kembali ke dalam hidupnya dengan cara seperti ini. "Nada." Suara Arman membuatnya tersentak. "Hm?" "Sejak tadi kamu terus melihatku." Nada langsung membelalakkan matanya. "Aku,,tidak!" Arman menatapnya dengan ekspresi datar. "Kamu yakin?" Nada menggigit bibirnya. "Tentu saja." "Kalau begitu, kenapa wajahmu merah?" Nada terdiam. Arman kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ada senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. Senyum yang dulu pernah membuat Nada jatuh hati. Senyum yang ternyata masih memiliki kekuatan yang sama. "Kamu masih sama seperti dulu," ujar Arman. Nada menatapnya bingung. "Mudah gugup." Nada semakin salah tingkah. "Kamu masih ingat?" "Beberapa hal." "Contohnya?" Arman tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berpindah pada wajah Nada, membuat perempuan itu semakin gugup. "Kamu dulu sering duduk di bangku dekat jendela di perpustakaan." Nada membeku, Arman masih mengingatnya? "Kamu juga selalu membawa buku yang sama selama berbulan-bulan." Nada mengerutkan kening. "Buku apa?" Arman tersenyum samar. "Aku tidak tahu." Nada menatapnya tidak percaya. "Lalu bagaimana kamu bisa tahu aku selalu membawa buku yang sama?" "Karena aku sering melihatmu." Untuk beberapa detik, Nada hanya terdiam. Jantungnya kembali berdebar. "Kamu... sering melihatku?" Arman tidak menjawab, ia hanya mengangkat gelasnya dan meneguk air mineral dengan tenang. Namun bagi Nada, satu kalimat itu sudah cukup untuk membuat malamnya berubah menjadi sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan. Karena selama ini, Nada selalu mengira hanya dirinya yang menyimpan perasaan. Ia mengira hanya dirinya yang diam-diam memperhatikan Arman. Ia mengira hanya dirinya yang mengingat semua hal kecil tentang lelaki itu. Namun ternyata, Arman juga pernah melihatnya dan untuk pertama kalinya, Nada mulai bertanya-tanya. Apakah mungkin selama ini, perasaannya kepada Arman bukanlah sesuatu yang hanya bertepuk sebelah tangan?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
765.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
993.2K
bc

A Warrior's Second Chance

read
367.7K
bc

Not just, the Beta

read
352.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook