POV Shena
Aku Shena seorang mahasiswi paring populer di sebuah Universitas Negeri yang terkenal di negeri Konoha ini. Tak tanggung-tanggung kepopuleran ku tidak pernah pudar meskipun ribuan mahasiswa baru datang mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikan di universitas ini.
Siapa yang sanggup menandingi kepopuleran ku, kecantikanku berada di level para bidadari yang turun ke bumi, belum lagi kekayaan ayahku yang sudah pasti tidak akan habis tujuh keturunan, semua itu di tunjang dengan kepintaran yang tentunya aku dapatkan dari berbagai cara kecuali belajar.
Seluruh nilai-nilai akademis ku berkisar A dan B pada setiap mata kuliah, sejauh ini aku bahkan mampu mengalahkan nilai si paling pintar di kampus ini, aku juga mampu mengalahkan nilai si kutu buku dan kutu-kutu yang lainnya, semua ku dapatkan dengan berbagai cara, mulai dari menjilat para dosen, menyuap para dosen dengan uang, menyuap dengan makanan, dan yang paling sering ku lakukan adalah menyihir mereka dengan kecantikanku yang paripurna ini.
Bahkan para mahasiswa yang pintar selalu menjadi garda terdepan untuk membantuku mendapatkan nilai sempurna, itu semua karena apa? tentu saja karena uang!.
"Si kutub utara itu tidak menerima proposal ini, dia minta segera di revisi!" Aku menyodorkan proposal yang sudah kubawa kesana kemari kepada Firdaus, dia rela berkorban membuatkan ku proposal demi ku bayarkan uang sidang dan wisudanya.
"Apa masalahnya?" Alisnya yang tebal mengkerut seketika.
Aku mengangkat bahu.
Firdaus segera memeriksa segala lembaran proposal.
"Tidak ada catatan?" tanya Firdaus pada ku, aku menggeleng.
"Si misterius itu hanya menyajikan dua pilihan, di revisi atau buat ulang."
"Apa? Ini proposal udah paling keren Shen, udah paling jelas dan lengkap, masa mau di ulang, gak masuk akal tu pak Gentala! tapi kenapa gak pake jurus seperti biasanya?" Firdaus menggerakkan alisnya keatas kebawah.
"Sudah kulakukan, gak mempan! Kayaknya dia tidak tertarik dengan kecantikanku, malahan si Gentala b******k itu akan melaporkanku ke rektor, gila gak tuh dosen?" Aku mengadu pada Firdaus, laki-laki berkaca mata tebal ini salah satu penyumbang terbesar nilai sempurnaku hingga mencapai IPK hampir 4,00 setiap semesternya, kami bagaikan simbolis mutualisme, Firdaus membentuk nilai-nilai indahku, akupun membentuk hidupnya lebih manusiawi, dulunya tidur di masjid sekarang sudah ku berikan tempat tinggal berupa kos-kosan yang berada di belakang kampus, kosan itu merupakan usaha kecil-kecilan ku yang ku bangun sejak kuliah, namun sepeserpun aku belum menerima rupiah dari usahaku, karena apa? karena aku selalu berbaik hati pada para mahasiswa yang kurang beruntung seperti salah satunya si Firdaus ini.
"Wow!" seru Firdaus.
"Apanya?"
"Maksudku baru sekali ini aku mendengar ada laki-laki yang tidak tertarik pada bidadari sepertimu"
Firdaus benar, dia saja yang berkaca mata tebal masih bisa melihat kecantikanku, bagaimana mungkin si Gentala bermata tajam tidak tertarik sedikitpun denganku.
"Akh!" Aku frustasi.
"Pokoknya kamu selesaikan proposal itu."
"Tapi apanya yang mau di revisi?" Firdaus menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Otaknya yang perlu di revisi!" seru sebuah suara besar berjenis bariton bersumber dari belakang ku dan Firdaus, kami segera menoleh, sosok tinggi tegap sudah berdiri di belakang kami.
"Pak Gentala?" Firdaus syok dengan kehadiran Gentala diantara kami, akupun sama.
"Sa-saya dan Shen-Shena sedang diskusi Pak." Firdaus mencoba menjelaskan apa yang terjadi diantara kami.
"Iya Pak, Firdaus ini mahasiswa paling pintar Pak, saya minta masukan sama dia!" Aku menyambung akting saudara seperjuangan ku.
"Mulai sekarang jangan bantu dia lagi, atau akan saya persulit kamu!" Gentala sialan itu bagaikan roket yang bermagnet, sangat canggih sehingga mampu mengunci setiap sasarannya, dan sekarang akulah sasarannya.
"B-baik Pak!" Firdaus mengangguk sambil menunduk.
"Fir!" Aku kecewa dengan jawaban Firdaus, seharusnya dia tidak langsung menjawab setuju, takut banget sama si manusia yang namanya seperti jembatan ini, apa sih hebatnya dia, baru juga jadi dosen sudah belagu!.
"Maafkan aku Shena." Firdaus mengembalikan proposal ke pangkuanku lalu dia berlalu.
Dadaku bergemuruh hebat menatap kepergian Firdaus, ancaman dosen sialan itu memang tidak berlaku padaku, tapi berlaku pada seluruh teman-temanku yang mempunyai nyali ciut.
Tanganku terkepal kuat, aku harus mengungkapkan kemarahan ini sebelum menjadi gondok di tubuhku, aku berdiri lalu ku balikan tubuh kebelakang dengan mata yang terpejam.
"Maunya Bapak apa sih? Apa untung buat Bapak mempersulit tugas akhir saya? Apa Bapak akan jadi kaya hah?"
"Shena! Kamu kenapa?" Aku langsung membuka mata karena suara yang ku dengar berbeda dari yang tadi, nada bicaranya sehalus kain sutra.
"Rangga?"
Rangga, kekasih hatiku yang sedang berjuang untuk mendapatkan gelar dokter, sedang mengerjakan tugas akhirnya sebagai koas di rumah sakit pemerintah, Rangga adalah kakak tingkatku yang berhasil memenangkan hatiku dari sekian banyak mahasiswa yang mendamba cintaku.
Rangga sangat istimewa di hatiku, dia mampu membuat hari-hariku terasa bewarna, perhatiannya, kelembutannya, dan kasih sayangnya membuat aku menjadi b***k cinta Rangga, bahkan Rangga sangat sering memberikanku kejutan-kejutan kecil meskipun aku sedang tidak ulang tahun membuat cintaku tidak pernah luntur untuknya.
"Kamu kenapa sayang? Ada masalah? Sama dosen?" Ekspresi khawatir sangat kentara pada wajah Rangga.
Aku hanya mengangguk lesu, tapi bagaimana ceritanya ya pergantian peran begitu cepat, rasanya baru saja si kutub utara itu berdiri di sini, kok tiba-tiba berubah menjadi surga? kemana si kutub itu, apakah sudah meleleh, baguslah! itu artinya aku tidak bertemu dengannya lagi.
"Tumben, biasanya rukun aja sama dosen." Alis tebal Rangga bertaut.
"Yang ini dari dunia ghaib, makhluk tak kasat mata!" seruku sambil menghempaskan p****t pada kursi panjang yang semula telah ku duduki, Rangga mengambil posisi duduk di sebelahku.
"Dosen baru? Siapa namanya?" Rangga menyodorkan ku salad buah.
"Gentala" Jawabku singkat sambil mencomot salad buah buatan Rangga, rasanya seperti biasa, sangat nikmat dan segar, biasanya Rangga memang sangat perhatian padaku bahkan cemilan pun di jaganya, alasannya agar aku selalu sehat.
"Ha? Om Gentala?"
"Apa? Om?" Mulutku berhenti mengunyah saat Rangga menyebut Si Gentala adalah om.
"Iya, Om Gentala adalah pamanku, kamu sudah bertemu dia, syukurlah!"
Bagaimana mau bersyukur, aku bahkan di timpa kesialan setelah Gentala di tetapkan menjadi dosen pembimbing skripsiku, dan yang paling aku tidak terima adalah jika si Gentala adalah paman dari kekasih hatiku.
"Om tiri kan? Atau om angkat?" Aku ingin tau bagaimana mereka bisa menjadi satu silsilah.
"Om beneran Shen, ganteng kan?"
Ya Tuhan, bahkan Rangga orang yang paling mendukungku dalam setiap hal, pun ikut mengagumi kutub Utara itu, apa sih yang menarik dari laki-laki bernama Gentala itu, yang kulihat hanya kedinginan dalam pancaran matanya.
"Masalahnya om mu itu menjadi dosen pembimbing skripsiku."
"Bagus dong!"
"Bagus apanya, songong begitu."
"Hm!" Aku dan Rangga langsung melemparkan pandangan kepada yang berdehem, aku menelan Saliva melihat laki-laki yang berdiri tepat di depan kami.
Matanya tajam menatap aku dan Rangga bergantian.
"Ini yang ketiga kalinya!" Aku terdiam, pita suaraku seakan putus, tentu saja karena ucapannya, tiga kali aku kepergok mengatainya macam-macam! mungkin kali ini tidak akan selamat.