Sandiwara tapi nyata terus berlangsung sepanjang resepsi pernikahan kami yang palsu, rasanya cukup melelahkan harus berpura-pura bahagia di depan orang. Dan yang paling mengejutkan adalah kedatangan anak-anak yatim, anak-anak jalanan, dan para pengemis di akhir Resepsi kami. Semuanya datang naik keatas pelaminan, semula di larang oleh sekuriti tapi aku mencegah sekuriti itu agar tidak menghalangi mereka yang ingin memberikan selamat padaku. "Selamat kak, kami turut bahagia atas pernikahan kakak." ucap mereka satu persatu sambil menyalamiku, jumlah mereka sekitar dua puluh orang, pakaian mereka juga baru, aku sampai meneteskan air mata atas kedatangan mereka, entah siapa yang melakukan ini, tapi hanya dua orang yang mengetahui anak-anak ini adalah duniaku, yang pertama adalah Sean dan ya

