22. Dia Istimewa

1370 Kata

Bima tiba di bengkel lebih siang dari biasanya, tubuhnya terasa berat namun entah bagaimana juga lebih ringan. Bekas-bekas malam yang dihabiskan dalam pelukan Calista masih terasa seperti hantu yang hangat di kulitnya. Bahkan mandi bersama di pagi hari tadi, di balik pancuran yang mengucur deras, tak sepenuhnya bisa membersihkan sensasi itu, hanya mengubahnya menjadi kenangan lembap yang semakin menempel. Calista sempat merengek, tangannya yang licin oleh sabun melingkari lehernya, berbisik bahwa dia bisa absen hari ini. Namun Bima menolak. Bukan hanya karena tanggung jawab pada pekerjaan, tapi juga karena dia perlu jarak. Dia perlu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada dunia lain di luar sana, selain apartemen mewah dan tubuh Calista yang memabukkan itu, dia punya dunia yang terbuat dar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN